ILUSTRASI Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk memandang diri sebagai seorang musafir di dunia. | DOK AP Vincent Thian

Khazanah

26 Jun 2022, 05:20 WIB

Dunia Ini Sementara

Dengan perkataan lain, penuhilah kebutuhan hidup di dunia ini sewajarnya.

 

 

OLEH HASANUL RIZQA

Islam mengajarkan umatnya untuk berpandangan visioner, alih-alih sempit. Dalam Alquran, ada banyak ayat yang menegaskan keutamaan akhirat dibandingkan dunia. Bagaimanapun, Allah juga mengingatkan hamba-Nya yang beriman untuk tetap mencari bagian penghidupan di dunia.

Dengan perkataan lain, penuhilah kebutuhan hidup di dunia ini sewajarnya. Sebab, segala yang ada di kolong langit pasti memiliki batas. Bagi manusia, limit yang tidak mungkin disangkal lagi adalah usia. Kalau jatah umur sudah sampai ajal, tidak berguna lagi apa pun pernak-pernik duniawi.

Nabi Muhammad SAW memberikan nasihat dan keteladanan tentang cara hidup yang ideal. Berikut ini beberapa petuah di antaranya.

photo
ILUSTRASI Zikrul maut atau mengingat kematian dapat menjadi metode untuk menanamkan kesadaran, dunia ini hanyalah sementara. - (DOK ANTARA SYIFA YULINNAS)

Menjadi Musafir

Pengembara adalah mereka yang bepergian meninggalkan kampung halamannya. Rasulullah SAW mengajarkan, seorang Muslim hendaknya memahami kehidupan di dunia ini layaknya musafir. “Aku tidak memiliki kecenderungan (kecintaan) terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut” (HR Tirmidzi).

Perjalanan yang ditempuh akan sampai pada titik kembali. Dalam Alquran, Allah menyatakan bahwa Dialah tempat kembali segala urusan. Maka, sepantasnya jatah usia seorang Mukmin di dunia dihabiskan untuk terus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sebab, saat diadili kelak di Hari Akhir, harapannya adalah berjumpa dengan kasih sayang dan ridha-Nya, bukan murka-Nya.

Ingat Maut

Imam Syafii berkata dalam sebuah syairnya, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” Menurut ajaran Islam, kematian bukanlah akhir. Ia justru menjadi awal perjalanan insan menuju kampung akhirat.

Tiap orang nanti hanya akan “ditemani” catatan amal perbuatannya. Yang tersisa hanyalah sesal dan sedih bagi mereka yang fasik, apalagi kafir. Diandaikannya bahwa raga dapat kembali utuh dan hidup, sehingga bisa berbuat taat kepada Allah.

“’Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan” (QS al-Mukminun).

photo
ILUSTRASI Sebaik-baiknya bekal adalah keimanan, ketakwaan dan amalan saleh - (DOK REP PUTRA M AKBAR)

Bekal Takwa

Warna-warni dunia kerap membuat orang lupa akan hakikat kehidupan. Padahal, dunia ini tidak lebih dari permainan belaka. “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu” (QS Muhammad: 36).

Karena itu, Rasul SAW selalu mengingatkan umatnya agar pandai dalam menyikapi hidup. Dunia sejatinya adalah ladang amal, tempat menuai bekal sebanyak-banyak dan sebaik-baiknya. Bekal terbaik hanyalah iman dan takwa kepada Allah.

“Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS al-Baqarah: 197).


1.001 Cara Menghubungi Keluarga di Tanah Air

Jamaah seperti Sofyan membutuhkan perangkat komunikasi untuk melepas kerinduan kepada keluarga.

SELENGKAPNYA

Nakes Vaksinasi PMK Harus Ditambah

Tenaga kesehatan hewan yang tersedia masih harus ditambah untuk bisa mempercepat penyuntikan

SELENGKAPNYA

Mengurai Benang Kusut Dokter Indonesia

Indonesia mengalami ketimpangan distribusi dokter atau maladistribusi.

SELENGKAPNYA
×