Direktur Teknologi & Chief Teknologi Officer XL Axiata I Gede Darmayusa (kiri) bersama Direktur & Chief Commercial Officer XL Axiata David Arcelus Oses (kanan) memeriksa jaringan 5G XL Axiata saat peluncuran di Badung, Bali, Rabu (13/10/2021). Kegiatan te | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Inovasi

13 Jan 2022, 15:10 WIB

Jalan Berliku Teknologi Baru

Konsep micro operator digagas untuk membuka ekosistem bisnis komunikasi seluler 5G masa depan.

Tahun lalu, tiga operator di Indonesia telah resmi meluncurkan layanan 5G secara komersial. Ketiga operator tersebut adalah Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata.

Ekspektasi dari hadirnya jaringan 5G pun kian tinggi, mengingat latensi dan kecepatan yang ditawarkan. Diharapkan, hadirnya 5G akan melahirkan pula berbagai implementasi teknologi solusi yang bermanfaat bagi pemulihan ekonomi di masa yang akan datang.

Koordinator Standar Telekomunikasi Radio Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia Indra Utama menjelaskan, di 2022 ini pemerintah akan menyiapkan aturan tambahan soal pengelolaan jaringan 5G yang memuat lima aspek, yakni regulasi spektrum frekuensi radio, model bisnis, infrastruktur, ekosistem perangkat, dan talenta digital.

“Semua ini harus ada regulasinya. Karena memang ada beberapa hal yang perlu regulasi yang mendukung untuk seperti, misalnya, model bisnis, spektrum, dan infrastruktur,” ujar Indra dalam webinar Menapaki Masa Depan Komunikasi Data, Selasa (11/1).

Menurutnya, dalam implementasi 5G, kolaborasi menjadi sangat penting. Dalam hal ini, Indra melanjutkan, adalah kolaborasi lima elemen atau pentahelix model, yang meliputi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, media, akademisi, dan dunia usaha.

“Pemerintah dalam hal ini mendapatkan tata kelola 5G yang efisien dan terarah. Dunia usaha mendapatkan peluang partisipasi mengembangkan usahanya, akademisi mendapatkan ruang inovasi dan studinya yang dijadikan basis pemerintah dalam mengambil kebijakan, sementara masyarakat mendapatkan layanan 5G dengan kualitas terbaik. Sedangkan, media mendapatkan akses pada informasi publik secara real-time,” kata Indra.

Meski menjanjikan pengembangan dunia digital yang kian progresif, bukan berarti kehadiran 5G akan mulus tanpa tantangan dan hambatan. General Manager Networks Strategy Planning Telkomsel Christian G Gustiana mengatakan, implementasi jaringan 5G saat ini tidak bisa terlepas dari berbagai tantangan dan hambatan.

Penggelaran 5G yang ideal bagi industri masih terganjal sejumlah masalah. Salah satunya terkait ketersediaan spektrum. “Regulator harus berusaha secepat mungkin untuk menetapkan setidaknya 100 MHz per operator di mid-bands 5G pertama dan 800 MHz per operator di pita mmWave pertama untuk mendukung layanan 5G yang optimal,” tambah Christian.

Saat ini, ia menambahkan, Telkomsel menggunakan spektrum 2,3 dan 2,1 GHz, serta telah tersedia di sembilan kota, 10 kluster residensial, 10 hotspot, empat event nasional dan internasional, termasuk World Superbike 2021 dan MotoGP 2022 Mandalika, PON XX Papua 2021, Pusat Industri Digital Indonesia 4.0, dan KTT G20 di Bali tahun ini.

Melirik Micro Operator

photo
Pekerja mencoba jaringan 5G di XL Center Medan, Sumatra Utara, Rabu (8/9/2021). PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) memperkenalkan sekaligus sosialisasi ketersediaan jaringan 5G di Medan sebagai salah satu tahapan persiapan untuk menggelar 5G secara komersial dan masif nantinya. - (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/rwa.)

Industri telekomunikasi di Indonesia, saat ini memang memiliki anomalinya tersendiri. Di tengah pesatnya digitalisasi, kondisi para operator di Indonesia justru semakin menantang untuk dijalani.

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno menyoroti kondisi operator saat ini secara global dalam menghadapi 5G. “Bukan saja revenue yang terus turun, operator juga mengalami tekanan pada cashflow, peningkatan CAPEX untuk layanan yang terus meningkat, serta EBITDA margin yang stagnan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, strategi implementasi 5G disebut sangat penting ditekankan oleh Sarwoto. Pemerintah pun telah menetapkan kerangka Peta Jalan 5G Pokja Model Bisnis sebagai strategi implementasi 5G dari 2021 sampai 2024.

Adapun strategi itu meliputi implementasi 5G di ibu kota provinsi, destinasi wisata super prioritas seperti Borobudur dan Mandalika, ibukota negara baru dan di industri manufaktur. “Itu belum termasuk strategi implementasi micro operator, dengan sejumlah skenario termasuk kepemilikan jaringan, kepemilikan frekuensi, operasional jaringan, elemen jaringan, aplikasi platform, dan penomoran,” ujar Sarwoto.

Konsep micro operator sendiri digagas untuk membangun jaringan sel kecil lokal untuk penyampaian layanan yang disesuaikan. Pendekatan ini dapat membuka ekosistem bisnis komunikasi seluler 5G di masa depan untuk memungkinkan masuknya pendatang baru ke pasar.

Micro operator, Sarwoto menjelaskan, dapat membangun dan mengoperasikan infrastruktur komunikasi sel kecil dalam ruangan dan menawarkan layanan dan konten terkait konteks lokal untuk melayani kebutuhan spesifik berbagai sektor vertikal. Tujuannya, adalah melengkapi penawaran broadband seluler tradisional yang masih terbatas.

Sedikit berbeda, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ismail mengungkapkan, meski dimungkinkan, tapi lahirnya konsep micro operator untuk makin mengoptimalisasi pemanfaatan 5G, masih harus menunggu kajian yang lebih jauh. “Saat ini, pemanfaatan spektrum yang ada masih difokuskan agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh operator,” ungkapnya, dalam webinar Digital Industri Forecast, yang digelar Rabu (12/1).

Saat ini, konsep micro operator memang telah dilakukan oleh beberapa negara atau perusahaan besar, seperti Mercedes Benz yang tertarik untuk mengembangkan 5G-nya sendiri karena ingin segera memetik manfaat dari teknologi yang dihadirkan. Namun, menurut Ismail, filosofi dari hadirnya micro operator di Indonesia bersifat ‘pintu darurat’.

Konsep ini, kata Ismail, dimungkinkan apabila operator ternyata tidak bisa lagi mengatasi tingginya permintaan akan pemanfaatan 5G di masa yang akan datang. “Untuk saat ini, konsep yang sudah dikenal di Indonesia, adalah sharing spectrum, itu pun harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah,” ujarnya menegaskan.

Harmonisasi Infrastruktur

photo
Seorang teknisi melakukan pemeliharaan perangkat Base Transceiver Station (BTS) milik XL Axiata di salah satu menara di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/4/2021). PT XL Axiata Tbk. terus berupaya menyelesaikan proyek fiberisasi di Pulau Sulawesi, tercatat sebanyak kurang lebih 500 BTS atau 25 persen dari total sekitar dua ribu BTS di Pulau Sulawesi telah terhubung dengan serat optik (fiber) sebagai upaya meningkatkan kualitas jaringan data. - (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Mengembangkan infrastruktur untuk mengadakan konektivitas di Indonesia jelas bukan hal mudah. Kondisi geografis di Indonesia, membuat pembangunan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan dalam waktu lama, dan digarap oleh semua pihak yang terkait.

Koordinator Standar Telekomunikasi Radio Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia Indra Utama mengungkapkan, tantangan utama dalam pemanfaatan 5G adalah fiberisasi dan infrastruktur pasif.

Di era 5G, BTS akan didominasi tipe yang kecil tapi sangat rapat penempatannya (small cell). Hal ini perlu didukung dengan kemudahan akses terhadap infrastruktur pasif, seperti misalnya tiang lampu jalan, tiang lampu lalu lintas, papan reklame, halte, dan lain-lain.

Untuk efisiensi dan keteraturan tata kota, dibutuhkan ducting bersama sebagai jalur arteri distribusi jaringan Fiber Optic (FO) dan eksistensinya sampai ke wilayah permukiman dan perkantoran. 

“Upaya fiberisasi perlu terus dipercepat oleh para penyelenggara telekomunikasi agar koneksi antar-BTS dan jaringan middle-mile/backhaul memiliki kapasitas transmisi yang besar dan sangat responsif,” kata Indra.

Indra menyebutkan  kedua hal ini, infrastruktur pasif dan fiberisasi, perlu dukungan dari Pemerintah Daerah. Tantangan kedua, yakni spektrum frekuensi radio.

Menurutnya, Kementerian Kominfo berharap beberapa tahun ke depan ada penambahan-penambahan frekuensi yang lain, sebagaimana target tambahan spektrum frekuensi di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) & Rencana Strategi (Renstra). Indra berharap, target akumulasi penambahan spektrum radio untuk jaringan bergerak pita lebar atau mobile broadband sebesar 1120 MHz di 2022 dan 1310 MHz di 2024 dapat segera tercapai.

Kemudian tantangan lainnya adalah migrasi pengguna eksisting di kandidat pita baru. Kondisi di mana pita-pita frekuensi yang tergolong “champion” untuk layanan 5G saat ini masih digunakan untuk layanan satelit di Indonesia. Seperti misalnya, masih ada pemain-pemain di frekuensi 2,6 GHz dan 3,5 GHz.

Indra menjelaskan, frekuensi 3,5 GHz digunakan sebagian untuk layanan 5G dan sebagian lagi untuk layanan satelit dengan koeksistensi agar kedua layanan tersebut tidak saling mengganggu.

Sementara di frekuensi 2,6 GHz, Pemerintah telah membatasi semua izin stasiun radio yang digunakan untuk layanan satelit hingga 31 Desember 2024 sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

 

 
Saat ini, pemanfaatan spektrum yang ada masih difokuskan agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh operator.
ISMAIL, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 
 


×