Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

06 Aug 2022, 03:45 WIB

Citayam Fashion Week dalam Peribahasa

Terbukti, semakin banyak ruang publik tersedia, semakin subur atmosfer untuk berkreasi.

OLEH ASMA NADIA

Cempedak berbuah nangka, mungkin ini yang dirasakan anak muda yang memotori kegiatan Citayam Fashion Week (CFW). Mereka mendapatkan sesuatu, lebih dari yang diharapkan.

Awalnya sekadar mengisi kekosongan dengan krativitas, fashion show di jalanan tanpa diduga menjadi fenomena nasional.

Sukses dalam waktu singkat bagi masyarakat menengah ke bawah merasa mendapat hadiah besar, kesempatan. Sesuatu yang awalnya bagai pungguk merindukan bulan. Namun, mereka membuktikan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Hanya dalam hitungan bulan, para penggagasnya bisa membuat CFW kegiatan viral yang mengundang perhatian jutaan orang. Pesohor dengan dana  miliaran, belum tentu berhasil menciptakan fenomena demikian.

 
Sesuatu yang awalnya bagai pungguk merindukan bulan. Namun, mereka membuktikan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
 
 

Bahkan, pemerintah dengan dana dan otoritas besar bukan jaminan mampu membuat program yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Simak saja G-20 meeting yang merupakan kerja besar, disiapkan dalam waktu panjang dan penting, seperti terkubur atau berada di bawah viralnya kegiatan yang minim dana ini. Setidaknya demikian komentar Soejiwo Tedjo dalam sebuah talk show di Youtube.

Sayangnya selalu saja ada gula ada semut. Manisnya kegiatan unjuk outfit dan lenggak lenggok di zebra cross membuat orang berdatangan. Jika yang berkerumun adalah mereka yang sekadar ingin menyaksikan atau berekspresi dalam tataran wajar, tentu masih positif.

Pertemanan berkembang. Kepercayaan diri meningkat, bahkan dengan merek lokal. UMKM melesat. Omzet thrift shop pun naik. Tidak harus baru, tidak harus branded, yang penting tampil dengan percaya diri.

Namun kreativitas selalu menuai pro dan kontra. Mereka yang tak setuju, mengeluhkan terganggunya lalu lintas dan fungsi jalan. Selain kemacetan, maraknya anak muda begadang bahkan tidur di jalan maupun sampah bertebaran, bukan sesuatu yang enak dipandang.

 
Namun kreativitas selalu menuai pro dan kontra. Mereka yang tak setuju, mengeluhkan terganggunya lalu lintas dan fungsi jalan. 
 
 

Beragam keluhan, tentu tak berarti kegiatan fenomenal di SCBD ini harus diakhiri, melainkan ditertibkan. Anak-anak remaja kita diajak menghargai prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Silahkan tampil, menjalin pertemanan, berekspresi tetapi tetap menghormati aturan dan menjaga keteraturan. Fenomena lain yang kemudian menuntut perhatian adalah mereka yang memiliki agenda tersembunyi. 

Ada udang di balik batu. Mencari kesempatan dan peluang. Mulai dari preman dadakan di area parkiran, hingga selebritas, figur publik atau pengusaha yang bergerak cepat ingin mengkooptasi kegiatan tersebut.

Wajar jika mereka melihat CFW berpotensi besar, investasi menjanjikan. Syukurlah agenda ini cepat dikoreksi. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengajak semua pihak membiarkan kegiatan ini tetap natural dan tumbuh organik.

 
Wajar jika mereka melihat CFW berpotensi besar, investasi menjanjikan. Syukurlah agenda ini cepat dikoreksi.
 
 

Bagaimanapun tak ada gading yang tak retak. Tentu ada beberapa catatan yang menuntut perhatian bersama.

“Situasi masih pandemi, kasus Covid-19 melonjak dalam sebulanan ini lebih dari sepuluh kali lipat. Jadi khawatir melihat anak-anak remaja di sana sebagian besar tak mengenakan masker. Mungkin bisa diarahkan. Apalagi mereka berada di kerumunan.”

“Sebagai ibu, saya khawatir shalatnya anak-anak itu, Mbak Asma.” Satu dua kekhawatiran wajar, sebentuk perwujudan kepedulian dan betapa kasih ibu sepanjang masa. Para pemerhati anak dan agama mengungkap kekhawatiran lain.

“Tolonglah diatur agar semua berpakaian sesuai kodratnya.”

“Jangan sampai ruang kreatif ini justru dimanfaatkan untuk menumbuhkan LGBT sejak dini.”

 
Tak sedikit remaja putra berbicara dan berekspresi seperti perempuan, berpakaian seperti perempuan, bahkan berlenggak lenggok bak  perempuan.
 
 

Fenomena lain yang terumbar dan viral di media sosial terkait ini. Tak sedikit remaja putra berbicara dan berekspresi seperti perempuan, berpakaian seperti perempuan, bahkan berlenggak lenggok bak perempuan.

“Jika LGBT pilihan pribadi seseorang, kan tidak perlu diumbar ke publik. Bisa saja mereka tetap berpakaian gagah, itu juga keren dibawa ke Citayam Fashion Week.” Komentar lain yang terdengar.

Ah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Lantas bagaimana sikap kita? Anjing menggonggong, kafilah berlalu? Sebuah saran apalagi jika untuk kebaikan rasanya bisa kita pilah dan renungkan.

Saya kira, tak ada yang mengharapkan bentuk kreativitas masif seperti CFW lalu memiliki rapor merah. Sebab, sekelompok orang menjadikannya ajang menyuarakan LGBT selain semiprostitusi.

 
Terbukti, semakin banyak ruang publik tersedia, semakin subur atmosfer untuk berkreasi. 
 
 

Menjadi harapan semua agar pihak yang menimbulkan nada minor dalam ruang ekspresi akbar anak muda kita ini tidak lalu merebut panggung kreasi anak bangsa.

Mereka yang nyaris setiap hari datang dan meramaikan CFW --lahir dari rahim pertiwi. Generasi muda, calon pemimpin bangsa yang sejatinya masih membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan penjagaan kita bersama. Maka mari kita dampingi mereka.

Terlepas itu, bagaimanapun Pemda DKI yang telah menyediakan ruang publik harus kita akui dan apresiasi.

Terbukti, semakin banyak ruang publik tersedia, semakin subur atmosfer untuk berkreasi. Maka, semoga generasi muda mampu menggunakannya dengan baik sesuai harapan, hingga tidak justru air susu dibalas air tuba.

Semoga fenomena ini mampu kita rawat, hingga ketika menular ke berbagai provinsi di Tanah Air, menjadi sesuatu yang sepenuhnya positif dan menambah daya tarik dan potensi lain wisata di Tanah Air.


Penyebab Runtuhnya Kepemimpinan

Allah memberikan isyarat bahwa ada sebab yang akan membuat sebuah kepemimpinan itu runtuh.

SELENGKAPNYA

Setoran Dividen BUMN Rp 35,5 Triliun 

BUMN berkontribusi sebesar Rp 3.295 triliun ke negara dalam 10 tahun terakhir.

SELENGKAPNYA

Cina Tembakkan Rudal di Selat Taiwan

Taiwan sejauh ini memilih menahan diri dan tidak menginginkan adanya eskalasi.

SELENGKAPNYA
×