Muhammad Natsir | Istimewa

Tokoh

06 Aug 2022, 09:00 WIB

Muhammad Natsir: Pahlawan dan Pendidik Teladan

Tidak banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai guru dan pendidik sejati.

OLEH ADIAN HUSAINI

Imam al-Syafii terkenal dengan ucapannya bahwa seseorang tidak akan dapat meraih ilmu kecuali dengan enam hal, yakni: rakus terhadap ilmu, kesungguhan, sabar, pengorbanan biaya, bimbingan guru, dan waktu yang panjang. Juga, kata Imam Syafii mengutip petuah gurunya, Waqi', ''Ilmu adalah cahaya. Dan, cahaya Allah SWT tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.''

Banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai tokoh teladan dalam politik, negarawan, dan dakwah. Namun, tidak banyak yang mengenalnya sebagai guru dan pendidik sejati. Padahal, kiprahnya dalam dunia pendidikan di Indonesia sangatlah fenomenal.

Bisa dikatakan, hampir sepanjang hidupnya, Natsir tidak pernah lepas dari aktivitas pendidikan. Selain amat concern dengan nasib pendidikan rakyat jelata yang tak punya hak pendidikan di masanya, saat menjadi perdana menteri, salah satu prestasinya adalah keputusan untuk mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.

Adalah menarik menelaah riwayat pendidikan dari sosok Pahlawan Nasional yang lahir di Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908, ini. Tahun 1916-1923, Natsir memasuki Hollands Inlandsche School (HIS), di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), di Padang. Lalu, tahun 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di Algemene Middelbare School (AMS), di Bandung.

Natsir terlahir dari pasangan suami-istri Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Kehidupan keluarganya sangat sederhana, dengan tradisi keislaman yang kuat. Hasratnya mencari ilmu agama sangat membara sehingga dengan cepat mengusai bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain.

Dalam waktu singkat, ia pun sudah bisa membaca 'kitab kuning'. Menurut Natsir, sejak kecil dirinya memang ingin menjadi seorang Meester in de Rechten (Mr), satu gelar yang dipandang hebat kala itu. 

 
Banyak orang mengenal Muhammad Natsir sebagai tokoh teladan dalam politik, negarawan, dan dakwah. Namun, tidak banyak yang mengenalnya sebagai guru dan pendidik sejati. 
 
 

Natsir sepertinya menetapi jalan pencari ilmu sebagaimana dinasihatkan Imam Syafii. Dalam sebuah memoar, Natsir menceritakan tentang pendidikannya, ''Sampai di MULO, semuanya saya lalui dengan nilai baik. Malah, dapat beasiswa dua puluh rupiah sebulan. Bisa beli buku dan keperluan lain.

Padahal, saya sekolah sambil cari kayu bakar, memasak, membuat sambal, dan mencuci pakaian sendiri. Masih sempat pula ikut pandu Nationale Islamitische Padvindrij (Natipij) dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB). Hingga akhirnya lolos masuk AMS di Bandung, juga dengan mendapatkan beasiswa sebesar tiga puluh rupiah sebulan. Di Bandung itulah saya berubah. Ternyata, yang bagus itu tak cuma meester.'' (Tempo, 2 Desember 1989). 

Menilik sejarah hidupnya, Natsir bisa dikatakan sebagai seorang yang haus ilmu. Di AMS Bandung, ia segera mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan bahasa Belanda--bahasa kaum elite terpelajar waktu itu--. Bahkan, ia juga mendapatkan angka tinggi untuk pelajaran bahasa Latin. Di AMS, tutur Natsir, ia diwajibkan membaca sekitar 36 buku dalam berbagai bahasa, hanya untuk menghadapi ujian satu mata pelajaran.

Di Kota Kembang ini pun Natsir terus mendalami agama, di samping belajar sungguh-sungguh di sekolah umum. Kegemarannya dalam membaca buku, mendorongnya menjadi anggota perpustakaan dengan bayaran tiga rupiah sebulan. Setiap buku baru yang datang, Natsir selalu mendapat kiriman dari perpustakaan.

Ada tiga guru yang memengaruhi alam pikirannya, yaitu pemimpin Persis, A Hassan, Haji Agus Salim, dan pendiri al-Irsyad Islamiyah, Syech Akhmad Syoerkati. Natsir tertarik kepada kesederhanaan A Hassan, juga kerapian kerja dan kealimannya. Selain itu, A Hassan juga dikenal sebagai ahli perusahaan dan ahli debat.

Di Kota Bandung ini pula, Natsir aktif dalam organisasi Jong Islamiten Bond (JIB). Di sini, ia sempat berinteraksi dengan para cendekiawan dan aktivis Islam terkemuka, seperti Prawoto Mangkusasmito, Haji Agus Salim, dan lain-lain. Natsir juga sempat mengikuti organisasi Partai Syarikat Islam dan Muhammadiyah. Selain dalam bidang keilmuan, Natsir juga mulai terlibat masalah politik. 

 
Sejak duduk di bangku sekolah AMS tersebut, Natsir sudah mulai terlibat dalam polemik tentang pemikiran Islam. 
 
 

Sejak duduk di bangku sekolah AMS tersebut, Natsir sudah mulai terlibat dalam polemik tentang pemikiran Islam. Pengalaman pertama terjadi ketika semua teman kelasnya diundang oleh guru gambar untuk menghadiri pidato seorang pendeta Kristen bernama Ds Christoffels, pada tahun 1929. Pidatonya berjudul "Quran en Evangelie" dan "Muhammad als Profeet".

Meskipun disampaikan dengan gaya yang lembut, Natsir melihat pidato si pendeta itu sesungguhnya menyerang Islam secara halus. Esoknya, pidato itu dimuat di surat kabar Algemeen Indish Dagblad (AID). Natsir kemudian menulis artikel yang menjawab opini sang pendeta, melalui koran yang sama.

Lulus dari AMS pada tahun 1930 dengan nilai tinggi, Natsir sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Namun, Natsir tidak mengambil peluang kuliah dan menjadi pegawai pemerintah tersebut.

Ajip Rosidi, setelah lulus AMS (setingkat SMA), menulis tentang Natsir yang telah hidup mandiri. Ia tidak mau bekerja di pemerintahan. Padahal bila bekerja di pemerintahan, ia bisa dapat gaji cukup besar saat itu (paling kecil F 130; harga beras saat itu tidak sampai F 0,05/lima sen satu kilogram). (Lihat, Ajip Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi  (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1990).

Jika dihitung dengan harga beras saat ini, sekitar Rp 5.000/kg, gaji Natsir dapat mencapai Rp 13 juta/bulan. Gaji sebesar itu tidak diambilnya. Justru, Natsir memilih terjun langsung ke dalam dunia perjuangan.

Ia pun memilih mendalami Islam dengan cara berguru kepada salah satu guru terbaik di zaman itu, yaitu A Hassan dan tokoh-tokoh perjungan lainnya. Jadi, Natsir bukanlah seorang 'otodidak', yang belajar sendiri tanpa guru. Pendidikan Natsir dilaluinya dengan berguru langsung pada guru-guru terbaik di zamannya.

Itulah kiprah pendidikan Natsir, yang haus ilmu dan kemudian mereguknya dalam-dalam dengan niat ikhlas untuk ibadah dan berjuang di jalan Allah SWT, bukan untuk mencari keuntungan duniawi.

Penulis adalah ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor. Artikel ini disadur dari Harian Republika Edisi 21 Maret 2010


Guyonan KH Hasyim Muzadi dan Zuhud Al-Ghazali

Ada penjelasan Imam al-Ghazali yang mirip penjelasan KH Hasyim Muzadi. Semuat tanda kekacauan zaman sudah terjadi.

SELENGKAPNYA

Usamah, Panglima Perang Termuda Sepanjang Sejarah

Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah.

SELENGKAPNYA
×