Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

28 Jun 2022, 03:30 WIB

Mengelola Pujian

Tergila-gila dengan pujian, sungguh kita telah kehilangan kesadaran diri.

 

OLEH ASEP SAPA'AT

Memuji dan dipuji adalah hal manusiawi. Namun, saat tergila-gila dengan pujian, sungguh kita telah kehilangan kesadaran diri. Tanpa sadar, kita akan selalu memperindah topeng agar orang lain terkesan dengan perbuatan baik atau kelebihan yang kita miliki.

Padahal sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa memuji Allah SWT. Allah SWT berfirman: ''Sesungguhnya Akulah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku'' (QS Thaha: 14).

Kadang-kadang kita tak dapat berkelit dari pujian manusia. Tatkala dipuji, hati tengah diuji. Karena pujian memang terasa nikmat di hati. Berdesir halus, menyelinap di dasar hati, lalu membolak-balik niat ke jurang kesalahan. Saat pujian datang, hati mesti dikelola.

Pertama, saat ada pujian, ucapkan alhamdulillah. “Segala puji bagi Allah, Rabb pemelihara alam” (QS al-Fatihah: 2).

Kedua, pujian dapat membangkitkan rasa sombong. Tikam rasa sombong yang berdesir menyusup di hati dengan mencurigai diri sendiri. Kita bisa berbuat baik dan memiliki kelebihan karena Allah yang memampukan kita, bukan karena kita yang hebat.

Bahkan, para salafus saleh selalu bersikap rendah hati dan merasa kurang dalam beramal agar tetap ikhlas dan terbebas dari pujian.

Salah satunya Ibnul Mubarok. Beliau mengatakan: “Aku menyukai orang saleh. Akan tetapi, aku bukan termasuk mereka. Aku membenci orang-orang yang suka maksiat. Sedangkan, aku sebenarnya lebih jelek dari mereka.” Selalu merasa diri penuh dosa dan kelemahan dapat membentengi diri agar tak terbuai pujian.

Ketiga, berdoa dan minta pertolongan Allah agar kita terlepas dari rasa harap terhadap pandangan makhluk. Sahabat Ali bin Abi Thalib RA senantiasa berdoa ketika pujian menghampirinya.

''Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang mereka tidak ketahui (soal diriku). Dan janganlah Engkau menyiksaku karena perkataan mereka. Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.''

Ketidakmampuan mengelola pujian dapat memantik rasa sombong dan riya. Tipu daya yang muncul dari penyakit hati. Semakin sukses, makin panen pujian. Maka, semakin kita lupa akan hakikat diri sebagai hamba yang bergantung dan berharap pada kasih sayang-Nya. Padahal, boleh jadi Allah SWT akan memberikan perhatian kepada kita tatkala kita pasrah total kepada-Nya.

Itulah waktu terbaik dalam hidup. Bukan saat kita sedang bergelimang kesuksesan hidup dan hujan pujian sehingga lupa pada-Nya. Seperti apa yang disampaikan Imam Ibnu Atha’illah, “Waktu terbaikmu adalah saat engkau merasakan ketergantungan dan kembali menjadi diri yang hina dina di hadapan-Nya.”

Wallahu a’lam bishawab.


Kesiapan Sarana Arafah Sudah 75 Persen

Semua tenda dan aliran listrik di Arafah sudah terpasang.

SELENGKAPNYA

Turki Kembali ke Lingkungan Arab

Turki mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya.

SELENGKAPNYA

Narkotika Musuh Bersama

Pemakai narkoba cenderung menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.

SELENGKAPNYA
×