Rak-rak penjualan keripik kentang yang kosong di supermarket Waitrose di Canary Wharf, London, Jumat (5/11/2021). | REUTERS/Kate Holton

Internasional

27 Jun 2022, 10:15 WIB

Amerika yang Kini Serbalangka

Amerika kini tengah menghadapi berbagai situasi kelangkaan.

Ada rasa bingung nan asing yang dirasakan Alana Semuels. Sudah beberapa bulan terakhir ia berkeliling di supermarket di daerah New York, Massachusetts, dan Kalifornia untuk mencari merek tampon langganannya, tapi nihil.

“Sudah beberapa bulan saya kesulitan mencari tampon, dan banyak perempuan lainnya mengeluhkan hal serupa,” ujarnya, seperti dikutip dari Aljazeera, Ahad (26/6).

Kebingungan serupa juga dirasakan Michelle Wolfe, seorang penyiar radio di Bozeman, Montana, Amerika Serikat (AS). Menurutnya, sudah sejak enam bulan terakhir, ia sulit mencari keperluan sanitasi bulanan untuk perempuan tersebut, di rak-rak supermarket tempat ia tinggal.

Kondisi ini juga diakui oleh berbagai produsen tampon di AS. Chief Financial Officer Procter & Gamble yang memproduksi Tampax, Andre Schulten, menjelaskan, saat ini produksi tampon terbilang mahal dengan kondisi pasokan yang juga tak stabil. "Saat ini sulit untuk memperoleh bahan baku yang dibutuhkan dalam produksi tampon, seperti kapas dan plastik," ujarnya.

Tampax saat ini adalah pemimpin pasar untuk produk tampon, dengan penjualan mencapai 4,5 miliar kotak per tahun secara global. Schulten melanjutkan, inflasi juga membuat produk menstruasi populer lainnya menjadi lebih mahal.

Bloomberg melaporkan, harga rata-rata untuk satu paket pembalut menstruasi meningkat lebih dari delapan persen dari awal tahun ini hingga akhir Mei 2022. Sementara harga tampon juga meningkat hampir 10 persen.

Produsen dan pengecer besar mengatakan, mereka mencoba untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Seorang perwakilan untuk Procter & Gamble mengatakan kepada The New York Times, pihaknya memahami saat ini banyak konsumen yang dilanda rasa frustasi karena kesulitan menemukan apa yang mereka butuhkan. “Kami dapat meyakinkan Anda bahwa ini adalah situasi sementara,” ungkap perwakilan tersebut, meski tak menyebut kapan kelangkaan ini akan dapat diatasi.

Kelangkaan tampon yang saat ini tengah terjadi di AS, menjadi satu dari sekian banyak daftar barang yang kini langka di Amerika. Susu formula bayi, menjadi salah satu barang langka yang memicu kekhawatiran luas, khususnya di kalangan para ibu rumah tangga.

Kondisi ini menjadi konsekuensi dari konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung hampir empat bulan. Menurut Wall Street Journal (WSJ), mengutip data dari Departemen Pertanian AS pada akhir Mei lalu, Ukraina adalah pengekspor minyak biji bunga matahari terbesar di dunia.

Banyak produsen susu bayi formula menggunakan minyak bunga matahari ini sebagai sumber lemak penting. Sementara itu, blokade terhadap berbagai pelabuhan Ukraina oleh tentara Rusia, telah membatasi ekspor minyak bunga matahari.

Pemerintahan Joe Biden pun telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan isu kelangkaan, ini. Dikutip dari VOA, Pemerintah AS memberikan dukungan logistik untuk mengimpor sekitar 16 juta botol susu formula berukuran delapan ons dari Meksiko mulai akhir pekan ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kekurangan pasokan nasional.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan juga akan berupaya mempercepat perjalanan truk yang membawa sekitar 500 kilogram susu formula bayi Gerber Good Start Gentle dari pabrik Nestlé ke para pengecer di AS. Jumlah ini hampir dua kali lipat jumlah yang diimpor ke AS selama ini.

Penerbangan kargo dari Eropa dan Australia juga dilaporkan telah membawa susu formula ke AS. Termasuk, dua putaran baru pengiriman udara yang dimulai sejak pekan lalu.

Tak hanya berhenti di tampon dan susu formula, masih banyak lagi barang yang kini sulit ditemukan di AS. Kekurangan pasokan helium global juga kini berdampak pada masyarakat yang kini kian kesulitan melakukan berbagai perayaan yang menggunakan balon. Helium adalah zat langka yang dihasilkan ketika uranium meluruh. 

Saat ini, Amerika adalah salah satu produsen helium terbesar di dunia, bersama dengan Qatar dan Aljazair. Namun, karena gangguan rantai pasokan, termasuk penutupan pabrik produksi dan embargo Qatar pada 2017, pasokan helium global sangat terpengaruh.

Salah satu dampak nyata kekurangan helium ini, terjadi pada Nebraska Cornhuskers. Pekan lalu, tim sepak bola Amerika tersebut mengumumkan, harus menangguhkan perayaan touchdown tradisional yang biasanya diwarnai dengan hujanan balon merah.

“Kami telah diminta oleh universitas untuk memberikan stok helium yang kami miliki kepada University of Nebraska Medical Center (UNMC). Mereka kini kekurangan helium untuk berbagai keperluan medis," kata direktur atletik Nebraska Trev Alberts. 

 

 
Saat ini sulit untuk memperoleh bahan baku yang dibutuhkan dalam produksi tampon, seperti kapas dan plastik.
ANDRE SCHULTEN, Chief Financial Officer Procter & Gamble 
 
 


"Berapa Sisa Ikan yang Dimiliki...", Soal 26 Juni 2022

SELENGKAPNYA

Habibie Sebagai Jawaban Kehausan Indonesia

Habibie juga menganggap lumrah perbedaan pendapat.

SELENGKAPNYA

Rumah Sakit Mulai Juli Uji Coba Kelas Standar

Pemerintah masih menghitung besaran iuran KRIS.

SELENGKAPNYA
×