IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

27 Jun 2022, 03:45 WIB

Turki Kembali ke Lingkungan Arab

Turki mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

 

 

Inilah politik: tidak ada kawan atau lawan abadi. Yang abadi kepentingan. Bisa jadi kemarin kawan, kini lawan, besok jadi kawan lagi, dan begitu seterusnya. Ingin contoh nyata, tengoklah dinamika hubungan negara di kawasan Timur Tengah.

Turki misalnya, mengalami pasang surut — baca: berbaikan-berseteru-berbaikan kembali — dalam hubungannya dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya. Juga hubungannya dengan Mesir.

Ketika Recep Tayyip Erdogan terpilih menjadi Presiden Turki (2014) — setelah konstitusi Turki berubah dari parlementer ke presidensial — dan Salman bin Abdulaziz dibaiat jadi Raja Arab Saudi (2015), hubungan keduanya langsung akrab.

Pada 2015 saja, keduanya bertemu tiga kali. Mereka sepakat menandatangani pembentukan dewan kerja sama stategis, dilanjutkan setahun kemudian dengan pembentukan Dewan Koordinasi Saudi-Turki.

Namun, berbagai peristiwa memicu ketegangan kedua negara. Salah satunya setelah Turki memihak Qatar saat dikucilkan Saudi dan negara Teluk lainnya pada 2017.

 
Salah satunya setelah Turki memihak Qatar saat dikucilkan Saudi dan negara Teluk lainnya pada 2017.
 
 

Hubungan buruk memuncak saat pembunuhan wartawan senior Saudi, Jamal Khashoggi, akhir 2018. Khashoggi dibunuh tim agen Saudi di Konsulat Saudi di Istanbul. Turki menuduh Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) di balik pembunuhan itu, yang disangkal Riyadh. Ankara ngotot 26 warga Saudi yang terlibat pembunuhan itu diadili di Turki.

Pengadilan para terdakwa diproses sejak 2020 secara in-absentia atas tuduhan membunuh Khashoggi di wilayah Turki. Saudi berkeras menolak menyerahkan terdakwa.

Hubungan Turki dengan negara Arab lainnya juga memburuk, terutama dengan Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA). Saudi, UEA, dan Mesir boleh dibilang ‘negara utama’ Arab, yang pengaruh sangat besar di kawasan.

Mereka menuduh pemerintahan Erdogan mendukung dan melindungi kelompok oposisi dan garis keras, yang menjadikan wilayah Turki basis propaganda menyerang Mesir, Saudi, dan UEA. Negara Arab tadi pun menjatuhkan ‘hukuman’ pada Turki.

Antara lain, pemboikotan seluruh produk dari Turki, pelarangan perusahaan kontruksi Turki berpartisipasi dalam proyek pembangunan di negara Teluk. Jumlah jamaah haji dan umrah dari Turki dikurangi, bahkan sebelum pandemi Covid-19.

 
Paling berat, boikot turis dari negara Teluk ke Turki, yang sangat memengaruhi pasar wisata Turki. Akibatnya, ekonomi Turki memburuk.
 
 

Paling berat, boikot turis dari negara Teluk ke Turki, yang sangat memengaruhi pasar wisata Turki. Akibatnya, ekonomi Turki memburuk. Nilai mata uang Turki, terutama terhadap dolar AS dan euro, terus merosot.

Harga bahan pokok terus naik. Angka inflasi Turki sangat tinggi, 61,14 persen disertai kenaikan harga bahan bakar dan kini diperparah dampak invasi Rusia ke Ukraina.

Negara Arab sebenarnya membutuhkan Turki dan berharap perseteruan segera diakhiri. Saudi dan UEA, membutuhkan kerja sama dengan militer Turki menghadapi serangan Houthi di Yaman. Mereka perlu Turki untuk mengurangi pengaruh Iran di negara Arab.

Apalagi, AS yang bertahun-tahun menjadi ‘pelindung’ keamanan Saudi, juga negara Teluk, tak fokus lagi ke Timur Tengah. Sejak dilantik pada januari 2021, Presiden Joe Biden lebih berkonsentrasi ke Cina dan Rusia, guna memenangkan persaingan global.

Maka, berlakulah hukum politik di mana tak ada perseteruan dan perkawanan abadi, yang langgeng kepentingan. Demi kepentingan itu, Turki rela menutup berkas kasus Jamal Khashoggi sesuai tuntutan Saudi.

 
Maka, berlakulah hukum politik di mana tak ada perseteruan dan perkawanan abadi, yang langgeng kepentingan.
 
 

Pada 7 April lalu, pengadilan Turki menutup berkas persidangan kasus Khashoggi dan memerintahkan pemindahan berkas litigasi dan investigasi ke otoritas kehakiman Saudi. Ini ditafsirkan ‘untuk menghapus penghalang terakhir’ memulihkan hubungan Turki-Saudi.

Presiden Erdogan juga melarang dan menyetop aktivitas kelompok garis keras yang menjadikan Turki basis propaganda untuk menyerang Mesir dan negara Teluk.

Langkah Turki ini, menurut para pengamat Timur Tengah, upaya memperbaiki hubungan termasuk, dengan Mesir, UEA, Saudi, bahkan Israel musuh bebuyutan Erdogan. Juga, upaya menerobos isolasi diplomatik  yang menyebabkan memburuknya ekonomi Turki.

Perbaikan hubungan Turki dengan seterunya dimulai dari Mesir, UEA, Israel, dan puncaknya Saudi.

Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan dan Presiden Israel Isaac Herzog berkunjung ke Turki dan menandatangani perjanjian di berbagai bidang dengan Presiden Erdogan. Dengan Mesir, pejabat tinggi kedua negara — Mesir dan Turki — saling berkunjung.

Kunjungan MBS ke Ankara pekan lalu disambut meriah. Meskipun putra mahkota, ia diperlakukan laiknya raja. Hujatan media Turki terhadap MBS beberapa waktu sebelumnya terkait pembunuhan Khashoggi, tampak tidak ngaruh pada kunjungan itu.

Pengamat Timur Tengah Jibril al Obaidi menilai, kunjungan MBS ke Ankara merupakan keberhasilan Presiden Erdogan memperbaiki arah kebijakan Pemerintah Turki menuju ‘nol persoalan’ (sifr mashakila) di kawasann.

Juga kembalinya Turki ke lingkungan negara berpenduduk mayoritas Muslim dan negara Arab moderat. Erdogan menyebut, langkah Turki menutup lembaran lama dan memulai persahabatan baru dengan saudara-saudara Arabnya.

Ya, pemimpin negara akhirnya tak boleh gegabah mengambil keputusan yang bisa menimbulkan penderitaan rakyat. Perseteruan para pemimpin negara justru membahayakan bangsa dan negara masing-masing.


Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA

Al-Idrisi Sang Perintis Peta Dunia

Muhammad al-Idrisi membuat peta dunia pertama yang begitu informatif yang sudah selesai dikerjakan pada 1154.

SELENGKAPNYA

Pencuri yang ‘Kecurian’

Malik bin Dinar hanya melihat pencuri dari kamar tempatnya shalat.

SELENGKAPNYA
×