Masjid Mahmud di Zurich, Swiss. Adanya menara masjid sempat diprotes sebagian warga Negeri Alpen | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

26 Jun 2022, 06:06 WIB

Islam di Negeri Alpen

Komunitas Muslim menjadi bagian dari dinamika dan masyarakat Swiss.

OLEH HASANUL RIZQA

Islam sudah menjadi bagian dari sejarah Swiss sejak abad kesembilan atau ke-10 Masehi. Ajaran tauhid saat itu dibawa oleh para pedagang Arab yang singgah di Valais, salah satu daerah (canton) setempat. Seiring dengan merosotnya kegiatan perniagaan mereka, persebaran agama tersebut pun kian jarang.

Kevakuman dakwah di Swiss terus terjadi hingga runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah—daulah yang juga menjembatani antara budaya Barat dan Timur. Islam mulai bersemi kembali ke sana pada abad ke-20, khususnya pasca-Perang Dunia II. Syiar agama tersebut didatangkan oleh para imigran Muslim yang berasal dari negeri-negeri bekas wilayah Utsmani, semisal Suriah atau Lebanon.

Di negara yang berbatasan langsung dengan Jerman, Prancis, Italia, Liechtenstein, dan Austria ini, arus kedatangan Muslimin semakin terasa sejak tahun 1970-an. Pada 1980, populasi umat agama ini di sana mencapai 56.600 jiwa atau setara 0,9 persen dari total penduduk setempat saat itu.

photo
Masjid Geneva, masjid terbesar di Swiss. Bangunan ini dapat menampung sekitar 1.500 jamaah - (DOK WIKIPEDIA)

Bersamaan dengan pecahnya Yugoslavia pada 1990-an, jumlah mereka pun semakin banyak. Para pengungsi yang beragama Islam dari Balkan terus diterima. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian meraih kewarganegaraan Swiss.

Menurut Miroslaw Matyja dalam “Swiss Democracy and the Issue of the Muslim Minority in the Switzerland” (2019), pada abad ke-21 kini Muslimin merupakan komunitas agama ketiga terbesar di Swiss.

Bagaimanapun, lanjut dia, Islam hingga saat ini belum diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah setempat. Malahan, isu islamofobia kerap mewarnai kehidupan politik dan sosial warga lokal. Sebagai contoh, maraknya kampanye “larang menara masjid” pada 2009 di sana.

photo
Umat Islam di Swiss sedang menyuarakan aksi di Bundesplatz, Bern, Swiss. Di negara tersebut, kaum Muslimin menghadapi sejumlah tantangan. - (DOK EPA PETER SCHNEIDER)

Kadang kala, sikap anti-Muslim bercampur dengan sentimen anti-migran dan anti-pengungsi. Menurut sebuah survey yang dilakukan pada tahun 2000, terdapat lebih dari 88,3 persen Muslimin yang bukan warga asli di Swiss. Sekira 11,7 persen atau 36.481 orang dari mereka memiliki kewarganegaraan Swiss.

Umumnya, mereka berasal dari kelompok etnis keturunan Balkan dan Turki. Adapun 7,7 persen di antara keseluruhannya merupakan warga naturalisasi. “Hanya” sebesar 3,9 persen dari mereka yang merupakan warga negara Swiss sejak lahir.

Konsentrasi terbesar umat Islam di negeri kaki Pegunungan Alpen itu cenderung memusat di sejumlah canton yang penduduknya berbahasa Jerman. Kantong-kantong yang memiliki populasi Muslim lebih dari lima persen adalah Basel-Stadt (6,72 persen), Glarus (6,50 persen), St. Gallen (6,13 persen), Thurgau (5,94 persen), Schaffhausen (5,80 persen), Aargau (5,49 persen), Solothum (5,39 persen), dan Zurich (5,33 persen).

photo
Pemandangan di Danau Geneva, Swiss. Negara di Eropa tengah ini merupakan rumah bagi sekira 200 ribu Muslim. - (DOK PXHERE)

Dengan latar demikian, seorang Muslim yang tinggal di Swiss memiliki tantangan tersendiri. Di negara yang berhawa sejuk itu, terdapat 260 masjid dan ruangan shalat. Jumlah itu menjadikan Swiss sebagai salah satu negara dengan rasio masjid-Muslim tertinggi di seluruh Eropa.

Yakni, satu masjid untuk 4.000 orang Islam. Sebelum tahun 1980, hanya ada dua masjid di negara tersebut, yaitu Masjid Mahmud di Zurich dan Masjid Geneva. Yang pertama dibangun komunitas Ahmadiyah, sedangkan yang lain oleh Liga Muslim Dunia.

Untuk mendapatkan makanan dan minuman halal pun membutuhkan sebuah upaya yang tidak mudah bila dibandingkan dengan kehidupan di negeri-negeri mayoritas Islam. Bukan cuma persoalan akses terhadap daging berlabel halal.

Sekalipun memiliki peternakan, katakanlah, seorang warga Swiss yang Muslim terganjal aturan yang mengharuskan adanya anestesi terhadap hewan sebelum disembelih. Karena itu, tidak sedikit dari mereka yang memilih alternatif, yakni membeli daging yang dipotong sesuai syariat Islam di negara-negara lain.

photo
Jamaah melaksanakan ibadah di Masjid Geneva, Swiss. Meskipun minoritas, umat Islam masuk tiga besar komunitas beragama di Negeri Alpen itu. - (DOK EPA Salvatore di Nolfi)

Segala tantangan itu pada faktanya tidak menjadi halangan bagi terwujudnya harmoni. Terlebih lagi, banyak orang Islam di negara konfederasi itu yang menjadi bagian dari kemajuan Swiss dalam pelbagai bidang kehidupan. Sebuah survei yang diadakan Bertelsmann Foundation, sebagaimana dikutip dari Suara Muhammadiyah, menunjukkan adanya tren positif di sana.

Hal itu berkenaan dengan integrasi komunitas Muslim dengan masyarakat Swiss secara keseluruhan. Lembaga asal Jerman itu membandingkan keadaan umat Islam di lima negara maju Benua Eropa. Di samping Swiss, ada Jerman, Prancis, Austria dan Inggris. Variabel yang diamati adalah kemampuan bahasa, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi sosial mereka di negara-negara tersebut.

Berdasarkan jajak pendapat, ternyata sebesar 98 persen Muslim Swiss merasa punya ikatan dengan negara tersebut. Ini kemudian berdampak positif pada pekerjaan. Umumnya mereka merasa dapat bermata pencaharian dengan baik di sana. Pihak pemberi kerja pun tidak menunjukkan gelagat diskriminasi terhadap mereka.

 
Berdasarkan jajak pendapat, ternyata sebesar 98 persen Muslim Swiss merasa punya ikatan dengan negara tersebut.
 
 

Yang tak kalah pentingnya, baik umat Islam Swiss maupun warga setempat pada umumnya bisa saling menerima kehadiran masing-masing. Ini merupakan modal sosial yang amat baik dalam merawat kerukunan.

Dan, tidak sedikit tokoh masyarakat (public figures) Swiss yang merupakan Muslim atau setidaknya bersimpati terhadap ajaran Islam dalam karier profesional mereka. Di antaranya adalah filsuf Frithjof Schuon, Titus Burckhardt, penjelajah Isabelle Eberhardt, dan pesepakbola Xherdan Shaqiri.


KH Achmad Qusyairi, Teladan dari Pasuruan

Ulama ini dikenal akan wawasannya yang luas dan sifatnya yang tawadhu.

SELENGKAPNYA

Pencuri yang ‘Kecurian’

Malik bin Dinar hanya melihat pencuri dari kamar tempatnya shalat.

SELENGKAPNYA

Dunia Ini Sementara

Dengan perkataan lain, penuhilah kebutuhan hidup di dunia ini sewajarnya.

SELENGKAPNYA
×