Dokter memberikan bunga dan kue kepada pasien yang baru melahirkan di RSIA Tambak, Jakarta, Selasa (22/12). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember.Prayogi/Republika. | Prayogi/Republika.

Opini

25 Jun 2022, 03:35 WIB

Mengurai Benang Kusut Dokter Indonesia

Indonesia mengalami ketimpangan distribusi dokter atau maladistribusi.

TARUNA IKRARKetua Konsil Kedokteran, Guru Besar Tetap Departmen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Lampung

 

Dalam kondisi pandemi dan berlanjutnya “endemic post Covid-19”, masyarakat membutuhkan tenaga Kesehatan, khususnya pelayanan dokter. Namun, Indonesia masih kekurangan dokter bahkan diperberat dampak pandemi karena banyak dokter menjadi korban.

Ini awal permasalahan pelayanan kedokteran. Kalau menilik jumlah dokter yang harus melayani 270-an juta penduduk, berdasarkan rasio WHO, standar minimal rasio dokter dan populasi yang dilayani di suatu negara 0,1 persen atau seorang dokter melayani per seribu penduduk.

Artinya, butuh minimal 10 dokter untuk melayani setiap 10 ribu penduduk. Namun berdasarkan laporan PPSDM, hingga 2030 kita masih kekurangan sekitar 160 ribu dokter. Selain itu, Indonesia mengalami ketimpangan distribusi dokter atau maladistribusi.

 
Indonesia masih kekurangan dokter bahkan diperberat dampak pandemi karena banyak dokter menjadi korban.
 
 

Ini terlihat dari densitas sangat tinggi di kota besar, tetapi minim di daerah perifer atau pedesaan. Ketimpangan distribusi menyebabkan ribuan pulau tak memiliki seorang dokter pun. Dewasa ini, Indonesia pun kekurangan dokter spesialis dan dokter subspesialis.

Menurut laporan Dirjen YanMed Kementerian Kesehatan, sampai 50 tahun mendatang jika produksi dokter spesialis dan subspesialis seperti sekarang yang rendah, kita tetap kekurangan bahkan krisis dokter spesialis.  

Menurut portal resmi Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) terkait jumlah dokter teregistrasi dan memiliki STR serta surat izin praktik, terlihat tiga persoalan dalam pemenuhan kebutuhan dokter di Indonesia.

 
Hingga 50 tahun mendatang jika produksi dokter spesialis dan subspesialis seperti sekarang yang rendah, kita tetap kekurangan bahkan krisis dokter spesialis.
 
 

Pertama, dokter teregistrasi dengan STR masih aktif di laman KKI sampai 22 Juni 2022, hanya 142.565 dokter umum. Kedua, distribusi dokter buruk.

Ketiga, dalam pelayanan kedokteran berdasarkan kualifikasi spesialistik, hanya ada 43.888 dokter spesialis yang sebagian kecil dokter subspesialis. Jumlah ini mencakup jenis 37 spesialistik dan subspesialistik, dengan distribusi yang timpang.

Solusi rasional

Pemerintah,  dalam hal ini KKI sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab meregulasi dokter dan stakeholder lain yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan kolegium bertanggung jawab mengurai masalah ini.

Pertama, meningkatkan lulusan fakultas kedokteran dengan pembenahan lembaga pendidikan kedokteran. Memproduksi dokter tak hanya penguasaan ilmu tetapi teknologi kedokteran, empati pada pasien termasuk kedisiplinan dan etika sebagai kompetensi seorang dokter.

Dalam kompetensi, termasuk penguasaan ilmu dan keterampilan membuat diagnosis dan mengambil keputusan ilmiah, keputusan memberikan tindakan medis yang tepat dan akurat.

Maka, sangat rasional mempertimbangkan pembukaan fakultas kedokteran baru bagi pendidikan dokter umum, program studi di fakultas kedokteran swasta terakreditasi unggul, dan moratorium di beberapa daerah termasuk terluar, tertinggal, dan terisolasi.

Kedua, mempermudah adaptasi dokter Indonesia lulusan luar negeri atau dokter diaspora. 

 
Banyak dokter diaspora berkarier di luar negeri, potensi ini perlu dimanfaatkan Indonesia
 
 

Banyak dokter diaspora berkarier di luar negeri, potensi ini perlu dimanfaatkan Indonesia, berupa transfer teknologi kedokteran, jaringan profesi dokter, bahkan kalau bisa tenaga yang sudah siap ini bisa kembali ke Indonesia. Dibutuhkan regulasi yang mempermudah mereka sehingga menjadi daya tarik kembali ke Tanah Air (Perkonsil KKI No 97/2021).

Ketiga, mengembangkan kerja sama dokter Indonesia dengan negara maju dalam transfer pengetahuan dan teknologi kedokteran. Dewasa ini, tak ada satu negara pun bisa berdiri sendiri.

Keempat, pengembangan sertifikasi bagi dokter umum dengan keterampilan tambahan, juga dokter spesialis yang ingin mengembangkan kompetensinya berupa subspesialis atau konsultan spesialis, berupa fellowship, Rekognisi Kompetensi Lampau (RKL), maupun lewat jalur normal.

Kelima, memperhatikan globalisasi dan perjanjian dengan negara lain dalam upaya memberikan wewenang praktik dokter WNA untuk mengisi kekurangan dokter di Tanah Air.  

Maladistribusi dokter dan kesenjangan penghasilan dokter, saling terkait. Ini mengakibatkan kesenjangan penghasilan yang membuat sebagian dokter bermigrasi dari daerah tertentu ke daerah lebih tinggi densitasnya seperti kota besar.

 
Maladistribusi dokter dan kesenjangan penghasilan dokter, saling terkait.
 
 

Untuk mengoptimalkan tugas dokter di perifer, dibutuhkan insentif dan memperhatikan kesejahteran dokter. Ini bisa dengan mempermudah untuk melanjutkan pendidikan spesialis, subspesialis, maupun bagi dokter yang ingin mengembangkan kompetensi tambahan.

Dengan melihat persoalan pelayanan kedokteran terkini dan mengutamakan alternatif solusi rasional, diyakini persoalan pelayanan kedokteran dapat diatasi. Sehingga, dokter Indonesia dapat memberikan pelayanan terbaik dan menjadi tuan di negeri sendiri.


Puluhan Paspampres Bersenjata Lengkap Kawal Jokowi di Kiev

Paspampres menyiapkan tim penyelamatan yang biasanya saat kegiatan tertentu tidak diikutsertakan.

SELENGKAPNYA

Gempita Holding Industri Pertahanan

Industri pertahanan nasional mampu menopang dimensi ekonomi satu negara.

SELENGKAPNYA

Selamat Datang, Ronaldinho!

Ronaldinho dijadwalkan akan mendarat di Indonesia pada Jumat (24/6) hari ini.

SELENGKAPNYA
×