Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

25 Jun 2022, 03:43 WIB

Menantu Seperti Tukang Bakso

Di Bandung, viral tukang bakso yang wajahnya disebut mirip aktor Korea, Lee Jong Suk.

OLEH ASMA NADIA

Tiba-tiba, sebagian ingatan masa kecil saya menyeruak mendengar kelakar Ibu tentang "menantu kayak tukang bakso”. Lelucon yang diamini gelak hadirin. Spontan, bergaung juga di benak, apakah ini terkait wajah atau profesi? Lalu, adakah hubungan antara wajah dan profesi?

Jika boleh saya ceritakan sedikit, di dekat rumah, dulu, setiap hari seorang tukang bakso memarkir gerobak. Banyak yang mengomentari pakaian abang penjual yang rapi juga wajah yang terbilang manis. Pelanggannya banyak, termasuk remaja putri dan ibu-ibu sekitar rumah.

Bakso kuah yang disajikan memang istimewa, didukung penampilan bersih dan wajah sang penjual yang enak dipandang, membuat gerobak yang terparkir selalu ramai pelanggan.

Masih terkait ini, ternyata tidak hanya saya, lelucon Ibu juga mengusik kepekaan masyarakat, terbukti ranah media sosial tiba-tiba kembali dibanjiri wajah tampan para penjaja bakso. Di Bandung, viral tukang bakso yang wajahnya disebut mirip aktor Korea, Lee Jong Suk.

 
Di Bandung, viral tukang bakso yang wajahnya disebut mirip aktor Korea, Lee Jong Suk.
 
 

Di Bekasi, muncul foto penjaja bakso berwajah mirip Raffi Ahmad. Ya, tukang bakso seolah mendadak seleb.

Tidak berhenti di sana, dari Pondok Kelapa, viral foto penjual bakso yang membuat netizen gagal fokus. Konon, mereka lebih sering memandangi sang penjual daripada menu yang ditawarkan.

Bojong Gede tidak mau kalah, turut memopulerkan paras pedagang yang mendekati Al Ghazali. Sementara, dari Sawangan, viral juga sosok tukang bakso berwajah tampan.

Jadi, dengan segala hormat, sepertinya sulit menghubungkan wajah dengan profesi, khususnya bagi para tukang bakso. Bagaimana dengan penghasilan? Ternyata, cukup banyak penjual bakso hidup mapan dan berkecukupan.

 
Di Lampung, ada yang sampai  berurusan dengan pajak. Sang pedagang membayar pajak Rp 150 juta per bulan.
 
 

Bahkan, di Lampung, ada yang sampai  berurusan dengan pajak. Sang pedagang membayar pajak Rp 150 juta per bulan. Padahal, menurut pemda setempat, pajak yang dia bayarkan seharusnya Rp 400 juta per bulan.

Dengan kalkulasi sederhana, siapa pun memahami, berarti penghasilan sang tukang bakso mencapai Rp 4 miliar per bulan. Sedikit tambahan, pekerjaan lain yang terkesan ‘sederhana’, kini terbukti mendatangkan omzet miliaran hingga triliunan.

Pengelola ojek yang menjadi triliuner, pedagang es teh menjelma miliarder, atau penjual martabak menjadi bilioner. 

Ungkapan lain Ibu di perjumpaan yang sama, tentang Papua dan pemilihan kata rekayasa genetika. Seketika, hal ini melemparkan benak saya pada film Australia yang mengisahkan sejarah kelam asimilasi paksa di Benua Kanguru.

Setidaknya, pada 1910 hingga 1970, lebih dari 100 ribu anak-anak suku Aborigin direbut paksa dari rumah untuk dipasangkan dengan orang tua angkat dari kalangan kulit putih. Mereka diwajibkan berbahasa Inggris dan membuang kebiasaan, adat, serta budaya masyarakat Aborigin. 

Di salah satu adegan filmnya, tampak seorang ilmuwan pada presentasinya menyampaikan apa yang terjadi ketika orang Aborigin menikah dengan warga kulit putih.

 
Disebutkan dalam pemaparan tersebut, jika kulit putih menikah dengan Aborigin, kemungkinan anak yang lahir memiliki kulit lebih terang.
 
 

Disebutkan dalam pemaparan tersebut, jika kulit putih menikah dengan Aborigin, kemungkinan anak yang lahir memiliki kulit lebih terang. Lalu, jika anak tersebut menikah lagi dengan kulit putih, besar kemungkinan menjadi lebih putih.

Butuh dua atau tiga generasi hingga akhirnya membentuk keturunan yang sepenuhnya berkulit putih. Dengan pemikiran ini, asimilasi paksa diberlakukan. Bukankah pemikiran seperti ini tidak menghargai kemanusiaan dan keberagaman, khususnya di negeri tercinta?

Semangat Bhinneka Tunggal Ika adalah semangat kebersamaan dalam keragaman, bukan dalam keseragaman. Jika pemikiran tak boleh berbeda, jika pendapat, adat kebiasaan, dan tradisi  harus sama, apalagi warna kulit pun harus serupa, sesungguhnya kita mengingkari hakikat keberadaan manusia.

Allah berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal (taaruf).”

 
Semangat Bhinneka Tunggal Ika adalah semangat kebersamaan dalam keragaman, bukan dalam keseragaman.
 
 

Taaruf atau saling mengenal berarti saling memahami, menerima perbedaan termasuk perbedaan karakteristik, budaya, warna kulit, dan sederet perbedaan lain. Menerima perbedaan sejatinya kunci persatuan.

Sejak 1928, bangsa kita mengunci pintu-pintu perpecahan saat dengan lantang mengikrarkan Sumpah Pemuda. Ibu pasti lebih memahami ini dibandingkan kebanyakan rakyat.

Wajah dan profesi, apalagi suku–selain agama-apa pun bukan materi pantas untuk guyonan. Semoga, cukup sekali ini. Apalagi, di atas itu semua, Allah pun  menegaskan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jelas dan tegas, Bu. Bukan jenis pekerjaan, keberlimpahan harta, keturunan, dan yang pasti bukan wajah atau penampilan fisik seseorang yang menjadi penentu kemuliaannya di hadapan Allah, melainkan semata ketakwaan, kebermanfaatan, dan kemaslahatan yang di antarnya bagi sesama.


Gempita Holding Industri Pertahanan

Industri pertahanan nasional mampu menopang dimensi ekonomi satu negara.

SELENGKAPNYA

Kisah Wakaf Habib Bugak dan Sayidina Utsman

Hanya sedikit aset peninggalan Habib Bugak, sosok yang mewakafkan rumah di sekitar Masjidil Haram.

SELENGKAPNYA

Tuan Rumah yang Baik

Tanpa kerendahan hati, boleh jadi Tuan Rumah pun enggan menerima kedatangan kita.

SELENGKAPNYA
×