Pekerja berjalan saat jam pulang kerja melintasi Terowongan Kendal, Sudirman , Jakarta, Kamis (16/6/2022). Pemerintah mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap Covid-19 varian baru BA4 dan BA5 yang diprediksi mengalami peningkatan jumlah kasus hingga ak | Republika/Thoudy Badai

Nasional

25 Jun 2022, 04:05 WIB

Subvarian Baru Tingkatkan Kasus Covid-19 di 21 Provinsi

Subvarian omikron itu menyerang 34 pasien yang telah menerima suntikan dosis penguat.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan melaporkan 21 provinsi di Indonesia mengalami peningkatan jumlah kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir. Kenaikan kasus seiring dengan bertambahnya konfirmasi kasus subvarian baru omikron BA.4 dan BA.5.

"Ada 21 provinsi yang mengalami peningkatan kasus dan 19 provinsi mengalami penurunan kasus," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril, Jumat (24/6).

Peningkatan laju kasus melanda tujuh provinsi di Pulau Jawa dan Bali dengan DKI Jakarta yang positivity rate-nya tertinggi, sekitar 8,6 persen. Jumlah tersebut melampaui standar WHO di bawah lima persen.

Sementara, positivity rate di Provinsi Bali 2,4 persen, Banten 3,93 persen, dan Jawa Barat 2,45 persen atau masih di bawah standar WHO. "Positivity rate nasional hingga saat ini rata-rata sekitar 3,97 persen. Jika dilihat tren kasus harian sejak 1 Juni 2022, sebanyak 368 kasus dan kenaikan tertinggi di tanggal 16 Juni 2022 sebanyak 1.243 kasus dan berangsur naik dalam dua hari terakhir sampai 1.985 kasus dan saat ini menjadi 1.907 kasus. Masih fluktuatif," ujarnya.

Jumlah kasus kematian akibat Covid-19 rata-rata nasional sebanyak sepuluh jiwa dalam kurun waktu sepekan terakhir. Syahril yang juga direktur utama RSPI Sulianti Saroso Jakarta itu mengatakan, peningkatan laju kasus nasional dibarengi dengan penambahan jumlah subvarian omikron BA.4 dan BA.5 yang dilaporkan mencapai 143 kasus atau meningkat dari pekan lalu yang hanya 20 kasus.

"Kasus BA.4 berjumlah 21 kasus dan BA.5 sebanyak 122 kasus. Domisili terbanyak di Jakarta, yakni 98 kasus, Jawa Barat 29 kasus, Banten 13 kasus, dan Bali tiga kasus," katanya.

Subvarian omikron itu menyerang 34 pasien yang telah menerima suntikan dosis penguat, sembilan lainnya penerima dosis lengkap, tiga pasien penerima dosis pertama, dan satu pasien penerima dosis keempat. "Lima lainnya dialami pasien anak yang belum menerima suntikan vaksin Covid-19 dan 90 pasien lainnya belum ada pembaruan data," katanya.

Sebanyak 38 pasien dilaporkan bergejala, sembilan lainnya tanpa gejala, dan 96 sisanya belum ada pembaruan data. "Dari klasifikasi usia, yang terbanyak dialami usia produktif 30-39 tahun, yakni mencapai 34 pasien, 29 pasien lainnya usia 20-29 tahun, sementara lansia 20 orang pasien," katanya.

Gejala yang paling dominan dialami pasien subvarian omikron BA.5 adalah batuk 30 persen, demam 25 persen, pilek 19 persen, nyeri tenggorokan 14 persen, sisanya adalah mual, sesak, dan anosmia. Sedangkan, gejala pada pasien BA.4 didominasi batuk 38 persen, demam 29 persen, nyeri tenggorokan 24 persen, pilek dan flu sembilan persen.

Kenaikan kasus membuat pemerintah mengkaji kebijakan booster sebagai syarat perjalanan. Syahril mengatakan, saat salah satu cara menekan laju penularan kasus Covid-19 adalah dengan mempercepat cakupan vaksinasi, termasuk vaksinasi dosis ketiga.

"Kita upayakan menekan laju penularan dengan booster,” katanya. Pengaturan syarat perjalanan merupakan kewenangan pemerintah pusat. Jika dirasa perlu maka akan dibuat aturannya.

Sumber : Antara


Satgas PMK Dibentuk

Model penanganan Covid-19 akan diterapkan dalam penanganan PMK.

SELENGKAPNYA

Warga Afghanistan Cari Korban Gempa dengan Tangan Kosong

Para penyintas menggali tanah dengan tangan kosong untuk mencari jalan keluar dari reruntuhan.

SELENGKAPNYA

Puluhan Paspampres Bersenjata Lengkap Kawal Jokowi di Kiev

Paspampres menyiapkan tim penyelamatan yang biasanya saat kegiatan tertentu tidak diikutsertakan.

SELENGKAPNYA
×