Panitia kurban membagi daging ke besek sebelum dibagikan di Masjid Pathok Negoro, Ploso Kuning, Sleman, Yogyakarta, Selasa (20/7). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

24 Jun 2022, 03:56 WIB

Maqashid Syariah Kurban

Mana yang lebih baik, berkurban di dekat rumah atau di daerah terpencil melalui lembaga sosial?

KAYS ABDUL FATTAH, Staf Program Aksi Cepat Tanggap

 

Hari raya Idul Adha yang akan dirayakan umat Islam seluruh dunia merupakan momen spesial bagi sebagian saudara kita. Kenaikan harga kebutuhan pokok akhir-akhir ini, membuat masyarakat semakin sulit mendapatkan bahan makanan bergizi, salah satunya  protein hewani.

Harga rata-rata daging sapi di Jakarta per 17 Juni 2022 adalah Rp 146.222/kg, daging kambing Rp 144.483/kg, dan daging ayam Rp 40.605/ekor.

Kesulitan membeli sumber protein hewani akibat naiknya harga menjadikan Idul Adha hari yang ditunggu-tunggu sebagian masyarakat untuk bisa menikmati lezatnya daging.

Namun yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih baik, berkurban di dekat rumah khususnya bagi masyakarat perkotaan atau berkurban di daerah-daerah terpencil melalui lembaga sosial?

Dalam fikih empat mazhab dijelaskan, tempat terbaik untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban adalah di rumah pekurban atau tempat yang sedang disinggahi dan disembelih pekurban sendiri. Apabila penyembelihan diwakilkan kepada orang lain, disunahkan untuk menyaksikan prosesnya.

 
Dalam fikih empat mazhab dijelaskan, tempat terbaik untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban adalah di rumah pekurban
 
 

Pembagian hewan kurban yang dianjurkan dalam Mazhab Syafii, sepertiga untuk dimakan dan disimpan (pekurban), sepertiga untuk dihadiahkan (orang mampu/tetangga), dan sepertiga untuk sedekah (fakir miskin).

Masyarakat yang memilih berkurban di sekitar rumah biasanya menggunakan argumen dari dalil pelaksanaan kurban sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Selain itu mereka berpendapat, dengan melihat langsung proses kurban dapat memberikan kepuasan batin.

Sayangnya, fenomena yang sering terjadi di kota besar ketika Idul Adha adalah menumpuknya stok daging di rumah. Bahkan saking banyaknya daging yang tersedia, sering kali menyebabkan “mabuk daging”.

Berdasarkan penelitian IDEAS pada 2021, kota-kota besar di Indonesia terutama Jabodetabek selalu mengalami surplus daging ketika Idul Adha. Jakarta menjadi kota yang memiliki surplus tertinggi karena hanya seribu ton daging yang diterima mustahik.

 
Jakarta menjadi kota yang memiliki surplus tertinggi karena hanya seribu ton daging yang diterima mustahik.
 
 

Sedangkan 21 ribu ton sisanya menjadi surplus yang diterima masyarakat mampu. Pendistribusian daging kurban di wilayah terpencil dan tempat tinggal warga kurang mampu dapat menjadi solusi atas kesenjangan konsumsi daging antarmasyarakat.

Fakta bahwa 99 persen permintaan daging hanya berasal dari lima persen masyarakat, menunjukkan betapa tinggi kerentanan masyarakat kurang mampu terhadap kekurangan gizi dari protein hewani.

Hasil riset Organization of Economic Cooperation and Development pada 2021 menunjukkan, konsumsi daging sapi dan domba per kapita di Indonesia masih di bawah rata-rata dunia dengan 2,2 kg/kapita untuk daging sapi (dunia 6,4 kg/kapita) dan 0,4 kg/kapita untuk daging domba (dunia 1,3 kg/kapita).

Sejatinya, ibadah kurban dalam hari raya Idul Adha memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Pentingnya mempertimbangkan aspek sosial berupa multiplier effect yang luas dapat menjadi pertimbangan masyarakat di kota besar dalam melaksanakan ibadah kurban.

Peran maqashid syariah (tujuan syariah dan rahasia yang dimaksudkan Allah SWT dalam setiap hukum dari keseluruhan hukum-Nya) dalam ibadah kurban di antaranya menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dapat terpenuhi jika ketimpangan dapat diatasi.

Aktivitas yang tidak hanya melihat dari kacamata hukum taklifi (mubah, sunah, wajib, dan haram) tetapi juga dari kacamata lainnya seperti sosial dan ekonomi, tentu lebih sesuai dengan maqashid syariah itu sendiri.

 
Memilih berkurban selain di lingkungan rumah bagi warga perkotaan bukan berarti menyepelekan ibadah yang bersifat sunah.
 
 

Memilih berkurban selain di lingkungan rumah bagi warga perkotaan bukan berarti menyepelekan ibadah yang bersifat sunah melainkan ada pertimbangan lain yang juga patut diperhatikan.

Apakah elok jika membiarkan saudara kita di wilayah lain yang boleh jadi sudah bertahun-tahun tidak mengonsumsi daging atau bahkan mengalami malnutrisi?

Bukankah masih banyak ibadah lain, terutama yang hanya memiliki dimensi spiritual yang dapat kita laksanakan daripada berkurban tetapi justru menghasilkan surplus yang besar?

Aksi yang dilakukan lembaga-lembaga filantropi dengan menawarkan kurban kepada masyarakat untuk didistribusikan ke berbagai wilayah yang lebih membutuhkan, menjadi sebuah solusi konkret. Ini memudahkan masyarakat mampu untuk berkurban sekaligus berbagi dengan saudara-saudara di wilayah terpencil.


Hajatan Mengurai Masalah Jakarta

Polusi udara harus menjadi program prioritas yang perlu segera ditangani Pemprov DKI Jakarta.

SELENGKAPNYA

Alarm Kewaspadaan

Kenaikan kasus positif mingguan Covid-19 ini harus menjadi alarm yang mesti diwaspadai.

SELENGKAPNYA

Syariat, Hakikat, Makrifat

Islam berada di urutan paling bawah, disusul iman, baru kemudian ihsan.

SELENGKAPNYA
×