Produk Halal diperlihatkan saat konferensi pers Indonesia Industrial Moslem Exhibition (ii-motion) di Jakarta, beberapa waktu lalu. | Tahta Aidilla/ Republika

Tajuk

16 Jun 2022, 03:45 WIB

Memimpin Produk Halal Global

Tak muluk-muluk jika kita berazam menjadi pusat produsen halal dunia pada 2024.

Populasi Muslim di Indonesia mencapai 230 juta. Angka ini merupakan 86 persen dari total penduduk. Jumlah yang tidak kecil. Bandingkan saja dengan jumlah penduduk Malaysia yang mencapai 32,6 juta jiwa atau dengan Australia yang berpopulasi 26 juta jiwa.

Namun, jumlah Muslim yang besar ini ternyata belum mampu menjadikan Indonesia memimpin produk halal global. Padahal, secara demografis, 230 juta Muslim ini modal signifikan. Apalagi, kalau dilihat dari sisi pangsa pasar.

Ceruk pasar yang sebenarnya menggiurkan bagi pemasaran produk halal, bahkan bagi negara yang Muslimnya minoritas sekalipun.

Sebagai perbandingan, data berikut menggambarkan kekuatan pangsa pasar Muslim dunia. Populasi Muslim global diprediksi bisa melampaui non-Muslim. Jika populasi Muslim tumbuh rerata 1,5 persen per tahun, populasi non-Muslim tumbuh 0,7 persen per tahun.

Bila tren ini konsisten hingga 2030, populasi Muslim bakal 2,2 miliar dari total penduduk bumi yang 8,3 miliar. Bukan tidak mungkin, jika tren ini terus bertumbuh, pada titik waktu tertentu, jumlah Muslim menguasai dunia.

 
Ceruk pasar yang sebenarnya menggiurkan bagi pemasaran produk halal, bahkan bagi negara yang Muslimnya minoritas sekalipun.
 
 

Namun, peningkatan produk dan jasa halal tak hanya dipicu jumlah penduduk Muslim yang melonjak. Ada faktor lain, yaitu kesadaran penggunaan produk dan jasa halal dalam keseharian. Faktor ini memberi andil tak kecil dalam peningkatan penggunaan produk Islami.

Sementara itu, di negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), produk domestik bruto (PDB) per kapita masyarakat Muslim diprediksi tumbuh 4,3 persen pada 2024.

Kesadaran Muslim mengonsumsi produk dan jasa halal terus meningkat. Hal ini menyebabkan mereka rela membayar lebih demi mendapatkan produk halal.

Tak heran bila nilai transaksi impor makanan dan minuman anggota OKI mencapai 184 miliar dolar AS. Namun, kebutuhan tersebut hanya 34 miliar dolar, yang bisa dipenuhi anggota OKI. Peluang terbuka lebar jika anggota OKI mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kembali ke Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar sedunia, tentu potensi besar bagi Indonesia mengembangkan produk halal. Mengoptimalkan peran menjadi pemimpin produk halal global sejatinya menemukan pembenarannya.

 
Tak heran bila nilai transaksi impor makanan dan minuman anggota OKI mencapai 184 miliar dolar AS.
 
 

Saat ini, Indonesia masih kalah dari Brasil, Australia, Amerika, Argentina, dan sejumlah negara lain dalam menghasilkan produk halal. Indonesia kurang ngebut memproduksi dan mengekspor produk halal.

Tentu kita tak ingin Indonesia hanya menjadi pasar produk halal. Ekosistem halal harus didorong pada pengembangan sektor riil, wisata dan rekreasi, digitalisasi, serta pemberdayaan ekonomi masjid dan pesantren. Ekosistem halal harus diperkuat dengan menyelaraskan potensi yang ada.

Berkaca dari narasi tersebut, gelaran Kongres Halal Internasional 2022 di Bangka Belitung, (14/6) hingga Sabtu (18/6) merupakan momentum penting bagi umat. Kongres ini sejatinya dapat menyemangati agar Indonesia menjadi lokomotif produk dan wisata halal dunia.

Apalagi, kongres tersebut mempertemukan regulator, pelaku industri, pegiat halal, dan masyarakat luas untuk bersinergi dan berkolaborasi. Karena itu, gelaran ini momentum kebersamaan umat dalam memperkuat produk halal.

Apalagi, pembicara yang diundang berasal dari 40 negara yang akan memberikan lesson learned dalam pengembangan produk halal berkelas internasional.

 
Di sektor wisata halal, Indonesia posisi keenam dunia dengan nilai transaksi 11,2 miliar dolar AS. 
 
 

Sejatinya, dukungan sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia tak kalah dari negara lain. Konsumsi produk halal Indonesia pada 2019 mencapai 114 miliar dolar AS, yang menjadikan Indonesia konsumen terbesar produk halal.

Di sektor wisata halal, Indonesia posisi keenam dunia dengan nilai transaksi 11,2 miliar dolar AS. Adapun total konsumsi sektor busana Muslim di Indonesia hingga 15 miliar dolar AS. Belum lagi kalau bicara industri farmasi dan kosmetika halal.

Indonesia peringkat ke-6 dan ke-2, dengan total pengeluaran masing-masing 5,4 miliar dolar dan 4 miliar dolar AS.

Kebutuhan terhadap produk halal bagi Muslim merupakan keniscayaan. Sebab, Allah SWT memerintahkan umat Islam mengonsumsi produk dan jasa yang halal dan baik. Tak muluk-muluk jika kita berazam menjadi pusat produsen halal dunia pada 2024. 


Merasakan Hidup dengan Inflasi 73,5 Persen di Turki

Artinya, harga naik 5,04 persen dalam waktu hanya sepekan lebih sedikit.

SELENGKAPNYA

Saudi Longgarkan Penggunaan Masker

Kebanyakan jamaah haji Indonesia terpantau masih patuh menggunakan masker.

SELENGKAPNYA

Telkom Pastikan Investasi di GoTo Patuhi GCG 

Akhir pekan lalu, Telkom mencatatkan keuntungan investasi di GoTo senilai Rp 2,74 triliun.

SELENGKAPNYA
×