Ilustrasi penggunaan teknologi. | Pixabay

Teraju

19 Jun 2022, 08:00 WIB

Gelembung Jangan Meletus

Bayang-bayang fenomena gelembung dot-com awal 2000-an kembali menghantui. 

OLEH SIWI TRI PUJI B

Setelah mengalami penurunan pertama kalinya dalam jumlahpengguna aktif harian kuartal terakhir, Facebook mengumumkan mereka akan memperlambat perekrutan untuk memangkas biaya dan menyelaraskan kembali strateginya ke depan.

Tiga hari kemudian, Uber juga menyebut "pergeseran seismik" dalam sentimen investor sebagai alasan untuk secara signifikan memperlambat perekrutannya. Saham kedua perusahaan turun masing-masing 35 persen dan 47 persen dari tahun ke tahun setelah mengalami peningkatan besar selama hari-hari awal pandemi.

Perusahaan teknologi lain tidak sekadar memperlambat perekrutan, melainkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pelacak PHK online layoffs.fyi menyebut lebih dari 20 ribu PHK terjadi pada industri teknologi dan perusahaan rintisan di AS sepanjang tahun ini, dengan lonjakan khusus pada bulan Mei. 

Di Indonesia, dalam kurun waktu sepekan, sejumlah perusahaan rintisan atau start-up juga dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Kabar pengurangan karyawan awalnya datang dari platform edutech Zenius, kemudian disusul platform keuangan digital LinkAja, hingga platform e-commerce JD.ID.

Berdekatannya jarak PHK antara ketiga perusahaan tersebut membuat sejumlah pihak beranggapan, saat ini tengah terjadi fenomena bubble burst atau ledakan gelembung start-up di Tanah Air. 

Ledakan gelembung start-up atau diistilahkan sebagai tech bubble burst sebetulnya sudah digunjing sejak tahun lalu. Desas-desus ini mulai mencuat ketika saham Tesla turun 21 persen dan kekayaan bersih Elon Musk anjlok 16,3 miliar dolar AS. Pendiri Amazon, Jeff Bezos, kehilangan 7,9 miliar dolar AS. Namun banyak pengamat pasar saat itu menyebut masih terlalu dini untuk mengatakan gelembung teknologi segera meletus.

Alan Patrick, salah satu pendiri firma analitik DataSwarm, belum menganggap kondisi ini adalah gelembung yang akan meletus. Bahkan, dengan harga saham teknologi yang masih begitu tinggi, katanya, kita mungkin hanya berada di “kaki fase gelembung”.

Menurutnya, banyak perusahaan yang mendapat untung besar dari dunia yang mengalami pergeseran fase ke dunia yang lebih digital. Ia mencontohkan Zoom, Amazon , Microsoft, Netflix, dan Apple. "Semuanya sangat diuntungkan, seperti halnya obat Covid dan perusahaan perawatan kesehatan yang sahamnya meroket,” kata Patrick.

Satu perbedaan besar antara raksasa teknologi saat ini dan dotcom pendahulunya adalah ukuran; ini adalah perusahaan besar yang, pada dasarnya, juga menghasilkan keuntungan besar. Bulan lalu, penilaian Apple melewati 2 triliun dolar AS, perusahaan AS pertama yang melewati tonggak sejarah itu. Awal bulan ini, Apple bernilai lebih dari semua perusahaan yang terdaftar di indeks FTSE 100 dari gabungan perusahaan terbesar di Inggris.

photo
Gelembung Besar Dalam Sejarah - (Istimewa)

Bisnis telah berkembang pesat untuk Apple, Amazon, Facebook dan Google bahkan ketika ekonomi AS secara keseluruhan mengalami penurunan. Teknologi, bagaimanapun, menjadi tempat berlindung yang aman. Industri ini terus bertumbuh, bahkan pada saat investor berjuang untuk menemukan keamanan atau pertumbuhan di tempat lain.

Namun hanya karena situasinya berbeda kali ini, bukan berarti tidak ada gelembung teknologi yang bisa meledak. “Semua elemen lingkungan gelembung sudah ada di tempatnya,” tulis ahli strategi Chris Senyek dari Wolfe Research dalam sebuah catatan penelitian minggu lalu. 

Menurutnya, faktor pemicu lainnya juga tak bisa dikesampingkan. “Biasanya, gelembung dilepaskan ketika The Fed mengambil kebijakan ekstrem. Namun, ini sangat tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat,” tulisnya.

Masalah sebenarnya mungkin muncul hanya ketika pandemi sudah benar-benar berakhir. Teknologi berkembang pesat saat dunia bergerak menjadi online saat pandemi. Ketika selesai, misalnya, orang bertanya-tanya: masihkan perlu sering-sering ber-Zoom?

"Dominasi teknologi saat ini mungkin juga berkurang begitu dunia kembali normal," tambahnya. Di sinilah industri teknologi ditantang untuk membuat terobosan baru. 

Seperi Kerupuk Disiram Air 

Gelembung dot-com pada awal 2000-an menjadi mimpi buruk banyak investor. Industri yang melar dengan cepat karena gerojokan dana investor melempem dengan cepat pula dihantam resesi. Seperti kerupuk disiram air; selesai dalam waktu singkat. 

Kurun ini adalah periode di mana spekulasi merajalela dan investasi bullish menyebabkan penilaian yang berlebihan (dan kehancuran berikutnya) dari industri teknologi internet di Wall Street. Juga dikenal sebagai ledakan teknologi atau gelembung internet —periode dari sekitar tahun 1995 hingga sekitar tahun 2001 -- di mana perusahaan teknologi terkait internet menarik banyak perhatian dari pemodal ventura dan investor tradisional.

Masuknya uang ini dikombinasikan dengan popularitas internet yang meledak secara umum menyebabkan sektor web berkembang pesat dalam hal penilaian selama beberapa tahun. Yang luput dari perhatian, banyak perusahaan tidak memiliki jalur konkret menuju profitabilitas. Suku bunga rendah di akhir 1990-an membuat pembiayaan utang lebih mudah diperoleh, semakin mendorong pertumbuhan industri internet yang tidak terkendali.

Akhirnya, sekitar akhir tahun 2000, aliran uang mudah ini mengering, dan industri meledak, menyebabkan banyak perusahaan teknologi bangkrut dan mempengaruhi seluruh pasar saham, bukan hanya pasar saham sektor teknologi.

Bagaimana gelembung terbentuk, tak lepas dari munculnya browser web awal 1990-an, membuat internet jauh lebih mudah diakses oleh konsumen. Komputer makin gampang diakses, dan akhirnya menjadi suatu kebutuhan. Seiring popularitas komputer dan internet tumbuh, banyak perusahaan web baru muncul.

Di akhir tahun 1990-an, suku bunga rendah membuat investasi ekuitas spekulatif lebih menarik daripada obligasi, dan pada saat yang sama, perusahaan internet yang inovatif semakin populer di kalangan investor ritel, pedagang profesional, pemodal ventura, dan investor institusi.

Ketika AS mengesahkan Undang-Undang Pembebasan Wajib Pajak tahun 1997, tarif pajak capital gain tertinggi diturunkan, memberikan insentif lain bagi spekulan ekuitas untuk menuangkan uang ke dalam industri internet yang masih baru.

Bank investasi memperoleh pendapatan besar-besaran dengan memfasilitasi IPO untuk satu perusahaan teknologi. Investor yang berbinar-binar memompa uang ke perusahaan dot-com baru (sebagian besar belum menghasilkan keuntungan) karena takut kehilangan "kue" emas digital.

Masuknya uang ini bertindak seperti embusan angin, menggembungkan industri teknologi internet yang belum teruji menjadi gelembung yang dinilai terlalu tinggi. Sangat tambun, tapi sangat rapuh. 

Selalu sulit untuk mengidentifikasi katalis tunggal yang menyebabkan pecahnya gelembung aset. Tetapi dalam kasus gelembung internet, dua faktor diindikasikan memiliki peran signifikan. 

Faktor pertama adalah kenaikan suku bunga. Federal Reserve menaikkan suku bunga dana fed fund (yang menginformasikan sebagian besar suku bunga lainnya) beberapa kali selama tahun 1999 dan 2000. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memotivasi investor untuk memindahkan uang dari aset yang lebih spekulatif (seperti saham perusahaan internet) dan menjadi aset yang membayar bunga seperti obligasi.

 

 
Satu perbedaan besar antara raksasa teknologi saat ini dan dotcom pendahulunya adalah ukuran; ini adalah perusahaan besar yang, pada dasarnya, juga menghasilkan keuntungan besar.
 
 

Faktor kedua adalah terjadinya resesi di Jepang pada bulan Maret 2000. Berita tentang resesi ini menyebar dengan cepat dan menyebabkan gelombang ketakutan yang memicu aksi jual di seluruh dunia, memindahkan lebih banyak uang dari ekuitas spekulatif ke pendapatan tetap yang lebih aman, seperti obligasi.

Kedua faktor ini, antara lain, membantu mengkatalisasi pecahnya gelembung internet yang terlalu tinggi. Saham internet mulai kehilangan nilainya, yang menyebarkan ketakutan di kalangan investor, yang pada gilirannya menyebabkan penjualan tambahan —proses yang dikenal sebagai kapitulasi -- dan aksi jual berlanjut hingga Nasdaq mencapai titik terendahnya sekitar Oktober 2002.

Tentu tak semua runtuh, beberapa bertahan melalui turbulensi dan bangkit kembali di tahun-tahun berikutnya. Menurut New York Times, sekitar 48 persen perusahaan yang terlibat dalam gelembung aset selamat dari kehancuran, tetapi sebagian besar masih kehilangan sebagian besar nilainya selama beberapa tahun berikutnya. Adobe, Amazon, eBay, dan SanDisk adalah contoh perusahaan teknologi yang tetap bertahan. 

Tentu saja, banyak yang bekerja di sektor teknologi menjadi pengangguran karena bisnis tempat mereka bekerja terseok-seok. Industri yang berdekatan, seperti periklanan, juga terpengaruh karena perusahaan teknologi yang gagal berhenti memompa uang ke dalam pundi-pundi mereka. Secara keseluruhan, pasar membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk pulih setelah dua tahun resesi dot-com.


Badan Pangan Siapkan Intervensi Harga

Distribusi gratis dilakukan dengan bersinergi bersama Kementan hingga asosiasi.   

SELENGKAPNYA

Jamaah Ditempatkan Berdasarkan Zonasi

Jamaah haji gelombang pertama dari Madinah ditempatkan di Makkah berdasarkan sistem zonasi.

SELENGKAPNYA

‘Jangan Gegabah Menangani Pengalihan Honorer’

Penghapusan tenaga honorer di instansi pemda tidak bisa dilakukan secepatnya pada 2023 dan diseragamkan waktunya.

SELENGKAPNYA
×