IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

13 Jun 2022, 08:00 WIB

Mental Kalah Arab

Yang kurang dari bangsa Arab adalah persatuan, perasaan senasib dan sepenanggungan.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Perang Enam Hari telah lama berlalu. Tepatnya, genap 55 tahun pada Ahad, 5 Juni lalu. Perang itu antara Israel dan tiga negara Arab yaitu Mesir, Suriah, dan Yordania. Waktu itu kebanyakan negara Teluk, yang kini kaya raya, masih dijajah Britania Raya.

Meski hanya berlangsung enam hari, dari 5-10 Juni 1967, perang itu meluluhlantakkan dunia Arab, terutama semangat dan mental mereka. Ingatan kalah terus menghantui bangsa Arab, yang membentuk mental kalah, hingga kini.

Para pegiat Zionis Israel menggambarkan Perang Enam hari sebagai pertarungan Daud dan Jalut. Daud adalah Israel, kecil tetapi cerdas dan penuh siasat. Jalut adalah Arab, si raksasa yang pongah. Dengan kecerdasan dan siasatnya, Daud mudah menumbangkan sang raksasa.

Hanya dalam enam hari, Israel mendapatkan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan.

 

 
Hanya dalam enam hari, Israel mendapatkan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan.
 
 

 

Wilayah Israel bertambah tiga kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang masuk ke dalam kontrol Israel di wilayah yang baru didapat. Batas Israel bertambah paling sedikit 300 km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara.

Abdul Halim Khaddam, wakil presiden Suriah (1984-2005) barangkali bisa mewakili mereka yang bermental kalah ini.

Dalam memoarnya, ia menyatakan ‘Kekalahan Juni 1967 bukan peristiwa biasa dalam sejarah Timur Tengah. Kekalahan ini menyebabkan perubahan besar dalam konflik Arab-Israel. Israel telah menjadi negara kuat.’’

Pengamat Timur Tengah dari Libya, Jibril al Obaidi serta kolomnis dan jurnalis senior Palestina Bakr Aweidah tak habis pikir, bagaimana otak Arab selalu dihantui ingatan kekalahan, bahkan setelah lebih setengah abad Perang Enam Hari itu.

Memoar Abdul Halim Khaddam tak boleh meracuni Arab. Menurut al Obaidi, Khaddam tampaknya mengabaikan kemenangan Perang Oktober 1973, yang berhasil membuat keseimbangan dalam konflik Arab-Israel.

Kekalahan Arab pada perang 1967 memosisikan Israel bisa memaksakan syarat-syarat pada yang kalah, hingga Perang Oktober 1973 dimenangkan Arab. Karena itu, kata al Obaidi, kemenangan ini seharusnya bisa menghapus kekalahan Perang Enam Hari.

 

 
Kekalahan Arab pada perang 1967 memosisikan Israel bisa memaksakan syarat-syarat pada yang kalah, hingga Perang Oktober 1973 dimenangkan Arab.
 
 

 

Sayangnya, lanjut al Obaidi, sebagian Arab masih hidup dalam ‘jilbab kekalahan 1967’ dan tak pernah mau keluar dari belenggu mental kalah.

Menurut Bakr Aweidah, kolomnis di al Sharq al Awsat, ingatan kekalahan yang kemudian membentuk mental kalah justru merugikan bangsa Arab.

Perang 1973 sering disebut Perang Oktober atau Perang Ramadhan. Israel menyebutnya Perang Yom Kippur. Perang ini berlangsung dari 6-26 Oktober 1973, antara Israel melawan koalisi negara Arab, dipimpin Mesir dan Suriah.

Hingga berakhir dengan gencatan senjata, pasukan Arab, terutama Mesir, pada posisi menang kalau tidak ada campur tangan AS. Perang 1973, dianggap kemenangan Arab, berhasil mengoreksi jalannya konflik Arab-Israel.

Israel pun sadar, tentaranya yang dianggap digdaya ternyata bisa dikalahkan. Perang Oktober memaksa Israel menerima perjanjian perdamaian yang ditawarkan Presiden Mesir Anwar Sadat, disepakati pada 1978 di Camp David, AS.

 
Hingga berakhir dengan gencatan senjata, pasukan Arab, terutama Mesir, pada posisi menang kalau tidak ada campur tangan AS.
 
 

Hasil dari pernjanjian ini, Israel harus mengundurkan diri sampai ke perbatasan internasional, wilayah Sinai menjadi daerah demiliterisasi dan diserahkan sepenuhnya kepada Mesir.

Bahkan kini Israel hidup damai dengan beberapa negara Arab lain yaitu Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko. Perang Enam Hari dan Perang Oktober seperti perang lain. Negara yang terlibat perang bisa kalah dan bisa menang.

AS bisa dikalahkan Jepang kalau tidak menggunakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mereka kalah di Vietnam dan di Afghanistan. Begitu juga pasukan Uni Soviet, kalah di Afghanistan.

Intinya, kalah ya kalah, entah itu dalam perang selama enam hari atau 20 tahun seperti dialami pasukan AS di Afghanistan. Yang tak boleh, kata al Obaidi, ingatan kalah perang menghantui mental sebuah bangsa, terutama Arab.

Sangat tidak masuk akal, Arab dihantui mental kalah dalam perang yang telah berlansung lebih dari 50 tahun lalu. Akibatnya, Zionis Israel terus berlaku seolah sebagai pemenang. Mereka terus mengendalikan nasib bangsa-bangsa di Timur Tengah. Utamanya nasib bangsa Palestina.

 
Yang kurang dari bangsa Arab adalah persatuan, perasaan senasib dan sepenanggungan. 
 
 

Padahal, selama lebih dari 50 tahun sejak kekalahan Arab pada Perang Enam Hari tahun 1967, banyak yang berubah. Negara Teluk, yang dulu masih di bawah kendali Britania Raya— Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, dan Kuwait merdeka pada awal 1970-an.

Bahkan kini mereka menjadi negara kuat, baik dalam bidang militer, ekonomi, maupun politik. Limpahan gas dan minyak menjadikan negara Teluk kaya raya, memungkinkan mereka membeli persenjataan canggih dalam jumlah berapa pun.

Yang kurang dari bangsa Arab adalah persatuan, perasaan senasib dan sepenanggungan. Bahkan, menurut al Obaidi, di antara negara Arab terjadi persaingan politik yang tak memungkinkan menggalang ‘perjanjian pertahanan Arab bersama’.

Kesamaan agama, bahasa, dan budaya tampaknya masih belum mampu mempersatukan Arab. Kalau ada persatuan, baru sebatas retorika di berbagai pertemuan di panggung Liga Arab. Wallahu a’lam. 


Misi Dinasti Murabithun Menyelamatkan Andalusia

Raja Dinasti Murabithun menerima surat permintaan tolong dari taifa-taifa Iberia.

SELENGKAPNYA

Dinasti Murabithun Penyelamat Andalusia

Dinasti Murabithun adalah gabungan suku-suku pengikut Syekh Abdullah bin Yasin.

SELENGKAPNYA

Ustaz Bendri Jaisyurrahman: Lindungi Anak dari Perilaku LGBT

Di balik pengakuan anak, sebenarnya ada kata lain yang tidak tersampaikan.

SELENGKAPNYA
×