Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Senin (25/4/2022). Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2022 menjadi 4,5 sampai 5,3 persen. | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Teraju

12 Jun 2022, 08:00 WIB

Melanjutkan Momentum Pemulihan

Laju pertumbuhan ekonomi pada 2022 bisa lebih kencang dibandingkan 2021.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

Ancaman pandemi Covid-19 terasa makin melemah. Indonesia benar-benar ingin memanfaatkan peluang ini dengan menggenjot laju pertumbuhan ekonomi lebih kencang lagi.

Saat pandemi menerjang, sepanjang 2020 ekonomi Indonesia sangat lesu. Ini terjadi karena mobilitas penduduk sangat terbatas. Akibatnya, aktivitas ekonomi seluruh sektor dan industri pun terganggu. Ujung-ujungnya, laju pertumbuhan ekonomi Republika Indonesia (RI) mengalami kontraksi hingga 2,07 persen. Ini jelas angka yang tak menguntungkan karena efeknya menjalar ke seluruh sisi kehidupan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), nyaris seluruh lapangan usaha menghadapi masalah sehingga laju pertumbuhannya terjun bebas pada 2020 lalu. Hanya lapangan usaha (1) pertanian, kehutanan, dan perikanan, (2) pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang, (3) informasi dan komunikasi, (4) jasa keuangan dan asuransi, (5) real estate, (6) jasa pendidikan, serta (7) jasa kesehatan & kegiatan sosial yang mampu menghadapi imbas pandemi Covid-19 dengan meraih laju pertumbuhan positif sepanjang 2020. Lapangan usaha lainnya, yakni

(1) pertambangan dan penggalian, (2) industri pengolahan, (3) pengadaan listrik dan gas, (4) perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor, (5) transportasi dan pergudangan, (6) penyediaan akomodasi dan makan minum, (7) jasa perusahaan, (8) administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, serta (9) jasa lainnya mengalami kontraksi berat.

Beruntung pada 2021 Indonesia mampu memanfaatkan kesempatan untuk memulihkan perekonomiannya. Kepala BPS Margo Yuwono mengemukakan, sepanjang 2021 perekonomian domestik mengalami rebound dan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,69 persen.

Laporan terkini BPS juga menunjukkan indikasi yang menggembirakan. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2022 mencapai Rp 4.513,0 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.818,6 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan I-2022 terhadap triwulan I-2021 tumbuh sebesar 5,01 persen (y-on-y).

Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 15,79 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,22 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan I-2022 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,96 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 16,54 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 50,54 persen.

Kelompok provinsi di Pulau Jawa mendominasi struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2022 dengan peranan sebesar 57,78 persen (y-on-y), dengan kinerja ekonomi yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,07 persen dibanding triwulan I-2021.

photo
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2022 - (Badan Pusat Statistik)

Melebihi negara lain

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen pada triwulan pertama 2022 dibandingkan dengan periode yang sama 2021 menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Bahkan, laju pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lainnya, termasuk mitra dagang utama RI.

Laju pertumbuhan ekonomi RI hanya sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan negara Uni Eropa yang tercatat sebesar 5,2 persen, hanya terpaut tipis 0,19 persen. Namun, dibandingkan dengan Vietnam, laju pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia lebih bagus. Vietnam hanya mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0 persen. Meski sangat tipis terpautnya dengan Vietnam, tetapi yang pasti secara realitas Indonesia sudah lebih bagus.

Cina yang selama ini terkenal sebagai negara dengan level pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata hanya mencatat angka sebesar 4,8 persen. Negara yang pernah kental dengan julukan “Negeri Tirai Bambu” ini biasanya mencatat angka pertumbuhan di atas 5,0 persen. Bahkan, sempat selama bertahun-tahun menjalani perekonomian dengan angka pertumbuhan sampai dua digit.

"Kalau bicara perekonomian global kita berfokus pada mitra dagang kita. Ada Tiongkok, share perdagangan kita 20,24%, Amerika Serikat 12,40 persen, Korea Selatan 4,4 persen, Singapura 3,72 persen, Vietnam 2,73 persen, Taiwan 2,58 persen, dan Uni Eropa 11,46 persen," jelas Margo beberapa waktu lalu.

photo
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2022 - (Badan Pusat Statistik)

Margo tetap mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar mencermati lingkungan eksternal ke depan, terutama imbas dari konflik antara Rusia dan Ukraina. Dia memperkirakan perseteruan kedua negara akan menambah gejolak ekonomi global.

Konflik tersebut bahkan membuat Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan keyakinannya terhadap prospek ekonomi sepanjang 2022. Semula IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan menyentuh level 4,4 persen pada 2022. “Tetapi merevisinya menjadi 3,6 persen", kata Margo.

Situasi global yang tak menentu juga bakal merembet pada angka inflasi. IMF tadinya hanya mematok angka perkiraan inflasi global sebesar 3,9 persen. Namun begitu muncul konflik Rusia-Ukraina, IMF langsung menaikkan perkiraannya menjadi 5,7 persen. Bahkan, IMF memprediksi angka inflasi di negara-negara berkembang bisa lebih tinggi, berada pada level 5,9 persen pada 2022 ini.

"Koreksi pertumbuhan ekonomi global dan proyeksi perkembangan inflasi bagi negara maju dan berkembang, tentu saja ke depan perlu mendapatkan antisipasi dari Pemerintah Indonesia terkait bagaimana mengelola ekonomi khususnya di tahun 2022,” ujar Margo.

photo
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2022 - (Badan Pusat Statistik)

Perkiraan BI

Bank Indonesia (BI) mengaku terus mencermati perkembangan ekonomi Indonesia dan faktor-faktor global yang bisa memengaruhi situasi domestik Indonesia. BI memperkirakan tingginya tekanan eksternal terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju dan berkembang akan memengaruhi perekonomian nasional. Karena itulah, Bank Indonesia menempuh penguatan bauran kebijakan demi ikut menjaga perekonomian Indonesia agar tetap dalam koridor yang positif.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, Bank Indonesia senantiasa mencermati arah perkembangan inflasi dan menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terkendalinya inflasi sesuai sasaran yang ditetapkan 3,0 ±1 persen pada 2022 dan 2023. Karena itulah, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendali Inflasi (TPIP dan TPID). 

Perry menuturkan, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, BI juga memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, termasuk komitmen Bank Indonesia dalam pembelian SBN sebesar Rp 224 triliun untuk pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan dalam APBN 2022. BI juga terus memperkokoh koordinasi di bawah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta koordinasi bilateral antara Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2022 tetap kuat, yakni 5,01 persen (yoy), menurut Perry, melanjutkan momentum pemulihan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,02 persen (yoy). Perkembangan ini terutama didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi bangunan, dan tetap terjaganya kinerja ekspor seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat dan permintaan mitra dagang utama yang masih kuat. 

Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh kinerja positif mayoritas lapangan usaha, seperti industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang positif terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dengan pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua), diikuti Jawa, Sumatra, Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), dan Kalimantan. 

Khusus pada triwulan II 2022, Perry mengatakan berbagai indikator dini menunjukkan aktivitas perekonomian yang terus membaik, seperti tecermin pada pertumbuhan positif penjualan eceran, ekspansi Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, serta realisasi ekspor dan impor yang tetap tinggi, yang didukung oleh meningkatnya mobilitas dan pembiayaan dari perbankan.

Dengan perkembangan tersebut, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2022 akan tetap berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia sebesar 4,5-5,3 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, menguatnya daya beli masyarakat turut mendorong peningkatan inflasi April yang bertepatan dengan momen Ramadhan dan Idul Fitri 2022. “Kondisi ini menjadi penanda bahwa daya beli masyarakat pada masa Ramadhan dan Lebaran telah kembali ke level prapandemi,” jelasnya.

Mencermati situasi terkini, tampaknya harapan menggapai pertumbuhan ekonomi positif bakal tercapai pada 2022 ini. Bila kondisi terus membaik, tak mustahil laju pertumbuhan sepanjang 2022 bakal lebih kencang dibandingkan dengan 2021 lalu. 


Erick Thohir Targetkan Dividen BUMN Rp 50 Triliun

Kementerian BUMN juga berhasil menekan utang dan modal BUMN hingga ke 35 persen .

SELENGKAPNYA

Sejumlah BUMN akan Merger Tahun Ini

Merger Damri dan PPD merupakan langkah terbaik agar kedua perum tersebut tidak tumpang tindih.

SELENGKAPNYA

Diorama Kehidupan di Multazam

Di Multazam, semua perjalanan dua tahun itu tersusun bak diorama yang menghantarkan saya ke Tanah Suci.

SELENGKAPNYA
×