Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan menyemprotkan cairan disinfektan pada sapi yang akan memasuki pasar hewan Tertek, Kediri, Jawa Timur, Senin (23/5/2022). Pemerintah daerah setempat melakukan penyemprotan disinfektan dan memantau kesehatan hew | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Ekonomi

25 May 2022, 10:53 WIB

Susah Payah Peternak Sapi Mengais Rezeki di Tengah Lockdown

Kinerja Dinas Peternakan untuk melakukan pengecekan kesehatan hewan dalam mengantisipasi PMK terbilang sangat lambat.

OLEH DADANG KURNIA 

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan aturan lockdown terhadap lalu lintas perdagangan sapi di sejumlah daerah yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur Muthowif menuturkan, kebijakan lockdown tersebut berdampak pada kerugian yang sangat besar bagi peternak.

Kerugian peternak yang kelihatan dengan nyata seperti dijualnya sapi-sapi dengan harga murah. "Padahal, peternak berharap menjelang Idul Adha bisa menjual sapi-sapinya dengan harga yang bagus dan ada keuntungan," ujar Muthowif kepada Republika, Selasa (24/5).

Menurut Muthowif, lockdown yang diterapkan seharusnya difokuskan pada pembatasan perdagangan antarprovinsi, bukan pembatasan perdagangan antarkabupaten/kota seperti yang diterapkan saat ini. Apalagi, kata dia, kinerja Dinas Peternakan untuk melakukan pengecekan kesehatan hewan dalam mengantisipasi PMK terbilang sangat lambat, bahkan tidak ada.

"Seperti untuk mendapatkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari instansi sangat sulit. Sehingga yang dirugikan adalah para peternak yang sudah mulai bergairah memelihara ternak jelang Idul Adha," kata dia.

Ia pun berharap Dinas Peternakan Jatim dan aparat keamanan menyamakan pemahaman agar pembatasan perdagangan sapi yang diterapkan difokuskan pada perdagangan antarprovinsi. Artinya, pardagangan antarkabupaten/kota tetap diperbolehkan dengan pengawasan ketat.

"Untuk mengurangi kerugian para peternak sapi. Para jagal di Surabaya yang bukan penghasil ternak juga belakangan mulai kesulitan mendapatkan pasokan sapi siap potong," kata dia.

Sementara, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, sebanyak 1.700 lebih ternak sapi di Provinsi Jawa Timur sudah dinyatakan sembuh dari PMK. Khofifah mengatakan, total populasi ternak sapi di Jatim mencapai 5,1 juta ekor dan hanya 7.000 ekor sapi di antaranya yang terjangkiti PMK.

“Sehingga ada lebih dari 5 juta ekor ternak di Jatim yang dalam keadaan sehat," kata Khofifah di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Selasa.

Oleh karena itu, kata mantan menteri sosial Republik Indonesia, menjelang Hari Raya Idul Adha 2022, Jawa Timur siap memasok kebutuhan hewan kurban masyarakat Bangka Belitung. Menurut dia, saat ini ada beberapa kabupaten di Jawa Timur berada di zona merah dan kuning PMK, tetapi masih cukup banyak kabupaten/kota di Jawa Timur yang masuk kategori zona hijau PMK.

"Kita telah menetapkan titik-titik yang dilarang untuk pemasukan dan pengeluaran ternak karena proses transmisi virus ternak ini melalui karbon yang bisa diterbangkan oleh angin," kata dia.

Ia menambahkan, pemasukan dan pengeluaran ternak di Jawa Timur hanya dilakukan di titik-titik yang masih berkategori hijau. "Ini untuk mencegah penularan PMK karena penularan virus ini melalui angin sepanjang dua kilometer dan dapat menambah jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK," kata Khofifah menambahkan.

Di Provinsi Bangka Belitung, Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Tengah mencatat ada sebanyak 752 sapi ternak yang teridentifikasi mengalami suspek PMK. "Kami sudah mengidentifikasi ada sebanyak 752 sapi suspek virus PMK dan itu terdapat di tiga kecamatan," kata Kepala Dinas Pertanian Bangka Tengah, Sajidin, Selasa.

Ia menjelaskan, dari data per 13 Mei 2022 tercatat total sebanyak 752 sapi ternak di Bangka Tengah yang teridentifikasi terjangkit PMK. "Bahkan, ada sebuah peternakan di Kampung Dul, Pangkalan Baru, yang sapi ternaknya terjangkit PMK hingga sebanyak 500 ekor," kata Sajidin.

Ia menjelaskan, sejumlah sapi ditemukan suspek PMK di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pangkalanbaru, Namang, dan Kecamatan Simpangkatis. Sedangkan di tiga kecamatan lainnya, yaitu Koba, Lubuk Besar, dan Kecamatan Sungaiselan masih tergolong aman dan belum ada laporan dari para peternak.


DMO Sawit Berlaku Bulan Depan

Menko Luhut ditugaskan membantu pelaksanaan kebijakan pengaturan ekspor CPO.

SELENGKAPNYA
×