ILUSTRASI Kemegahan Masjid Kordoba di Spanyol. Bani Umayyah mulai memaklumkan kekhalifahan baru di Andalusia pada era Abdurrahman III. | DOK MAXPIXEL

Tema Utama

22 May 2022, 18:26 WIB

Lahirnya Kekhalifahan Baru di Kordoba

Abdurrahman III memaklumkan dirinya sebagai khalifah Umayyah di Kordoba.

OLEH HASANUL RIZQA

Pada pertengahan abad kesembilan Masehi, kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia mulai tidak stabil. Para penguasa pada setiap periode cenderung kewalahan dalam menghadapi banyak gejolak. Beberapa upaya kudeta bahkan mengancam ibu kota, Kordoba.

Era kemunduran bermula sejak Muhammad bin Abdurrahman II al-Awsath naik takhta. Amir Kordoba antara tahun 852 dan 886 itu tidak semumpuni ayahnya. Dalam memerintah negeri, ia menghadapi banyak perlawanan, khususnya dari golongan Muwallad dan Musta’rib.

Yang pertama itu merujuk pada orang Islam setempat yang umumnya berdarah campuran, yakni Arab-Muslim dari garis bapak dan lokal non-Muslim dari maternal. Walaupun telah memeluk agama tauhid, mereka tetap menerapkan tradisi pra-Islam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Adapun yang kedua merupakan umat Kristen Iberia yang hidup di bawah kekuasaan Muslim Andalusia. Keberadaan mereka menjadi bukti, tidak ada pemaksaan untuk memeluk Islam atas rakyat setempat. Keadaan demikian sungguh berbeda dengan Inkuisisi Spanyol yang terjadi pada abad ke-16 M.

Dari kelompok Muwallad, terdapat Bani Qasi. Pemimpinnya, Musa al-Qasawi, mengeklaim diri sebagai “raja ketiga Spanyol”, yakni setelah amir Kordoba dan kaisar Asturia—negeri Kristen di Iberia utara. Pemberontakannya dapat dipadamkan Muhammad pada 862, tetapi masalah tidak berhenti sampai di situ.

Enam tahun kemudian, Abdurrahman bin Marwan memimpin perlawanan kaum Muwallad di Merida. Bahkan, ia sanggup menggalang dukungan dari kelompok Musta’rib setempat yang tidak puas akan kuasa Kordoba. Muhammad tidak kuasa menumpas gerakan makar ini sehingga memilih opsi perundingan. Ibnu Marwan diberi hak untuk mendirikan pemerintahan mandiri di Badajoz.

Pasca-wafatnya Muhammad, al-Mundzir menjadi penguasa berikutnya di Emirat Kordoba. Ia mewarisi keadaan negeri yang terpecah-belah dari era bapaknya. Macam-macam upaya separatis pun masih terjadi, termasuk yang dikobarkan Umar bin Hafsun.

Setelah 22 tahun memberontak, tokoh dari Malaga itu memeluk Kristen dan mengubah namanya menjadi Samuel. Peralihan iman itu dilatari keinginannya untuk mendapatkan dukungan militer dari Kerajaan Leon.

Hanya menjabat dua tahun, al-Mundzir meninggal dunia pada 888 M. Ia digantikan adiknya, Abdullah. Dalam masa kekuasaan Abdullah, Emirat masih menghadapi banyak separatisme, terutama yang dipicu gerakan pendukung Samuel.

Hingga tahun 890, sosok yang murtad itu berkuasa atas Jaen, Granada, dan Bobastro. Pemilik nama-asli Umar bin Hafsun tersebut juga disokong Bani Qasi sehingga kian menyulitkan posisi politik Kordoba.

Di lingkungan istana pun terjadi persoalan yang tidak kurang besarnya, yakni sentimen antarputra amir. Abdullah diketahui memiliki dua orang anak. Yang paling muda, al-Mutarrif, ternyata menaruh perasaan iri terhadap kakaknya yang bernama Muhammad. Dalam sebuah operasi rahasia, si sulung pun dibunuhnya.

Abdullah belakangan mengetahui kasus ini. Hukuman mati lantas dijatuhkannya kepada al-Mutarrif. Sebelum wafat pada tahun 912, Abdullah sempat menunjuk sosok penggantinya untuk memimpin Emirat Kordoba, yakni Abdurrahman. Ia merupakan cucu kesayangannya dan sekaligus putra dari Muhammad.

photo
ILUSTRASI Bagian interior Masjid Kordoba di Spanyol. - (DOK WIKIPEDIA)

Peneguh kekhalifahan

Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) menjelaskan, Kordoba kembali bangkit sejak dipimpin Abdurrahman. Tokoh tersebut bernama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman II. Karena dianggap memiliki wibawa seperti kakek buyutnya, penguasa Kordoba itu bergelar Abdurrahman III. Julukan lainnya adalah “Pembela Agama Allah", an-Nashir Li Diinillah.

Bangsawan Bani Umayyah ini menguasai Kordoba sejak kematian kakeknya, Abdullah. Ia naik ke tampuk kekuasaan saat masih berusia 22 tahun. Selama 17 tahun, ia berjuang mewujudkan stabilitas Andalusia dengan cara, antara lain, menumpas setiap usaha anti-pemerintahan yang sah. Terhadap mereka yang masih menghendaki persatuan, pemimpin yang berjiwa ksatria itu memaklumkan gencatan senjata serta perdamaian.

Pada 919, Samuel alias Ibnu Hafsun meninggal dalam keadaan non-Muslim. Kematian pemberontak yang telah 20 tahun meresahkan Kordoba itu melegakan Abdurrahman III.

Upaya sang amir untuk mempersatukan negeri menjadi relatif lebih mudah sejak itu. Berbeda dengan pendahulunya yang “hanya” bisa mengontrol kawasan Ibu Kota hingga Seville. Ia berhasil mengendalikan nyaris seluruh Andalusia.

 
Hingga tahun 928, Abdurrahman III telah merebut kembali daerah-daerah Zaragoza, Toledo, Salim, dan Pamplona.
 
 

Hingga tahun 928, dirinya telah merebut kembali daerah-daerah Zaragoza, Toledo, Salim, dan Pamplona. Yang tersisa hanyalah wilayah Andalusia yang masih dihuni kerajaan-kerajaan Kristen, semisal Leon, Castilla, Navarra, Robagorza, dan Barcelona. Masing-masing mengitari perbatasan di Iberia utara dan timur laut.

Tidak hanya menjalankan politik ekspansif, Abdurrahman III juga menerapkan pola selektif. Dalam arti, lingkaran terdekatnya dibersihkan dari anasir-anasir negatif. Menteri-menteri yang tidak kompeten dicopotnya segera. Mereka diganti dengan figur-figur yang lebih berkualitas.

Sang amir Kordoba juga memuliakan ahli ilmu. Beberapa ulama besar, apabila bersedia, dimintanya untuk menjadi penasihat. Salah satunya yang tetap di luar istana adalah Mundzir bin Sa’id, seorang khatib Masjid Raya Kordoba yang selalu vokal mengkritik penguasa.

Pada 929, Abdurrahman III memproklamasikan berdirinya kekhalifahan di Andalusia. Menurut as-Sirjani, pemakluman itu tidak terlepas dari persaingan Bani Umayyah dengan negeri-negeri Muslim lain di sekujur dunia Islam.

 
Pada 929, Abdurrahman III memproklamasikan berdirinya kekhalifahan di Andalusia.
 
 

Di timur, Bani Abbasiyah dilanda prahara politik. Elite Arab masih menduduki jabatan khalifah di Baghdad, tetapi tidak memiliki kekuasaan eksekutif apa pun. Mereka justru dikendalikan mantan budak (mamluk), yakni orang-orang Turki.

Sementara itu, kaum Syiah di Maghribiyah menggelari pemimpinnya sebagai amirul mukminin. Golongan itu bertindak lebih lanjut dengan mengeklaim terbentuknya kekhalifahan.

Maka dari itu, Abdurrahman III merasa dirinya lebih pantas menyandang titel khalifah bila dibandingkan dengan Abbasiyah dan apalagi kelompok non-ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Secara definisi, kekhalifahan dapat berarti sistem yang menghadirkan model peradaban Islam. Dalam ranah politik, entitas tersebut mengendalikan pemerintahan atas tiga tanah suci sekaligus: Makkah, Madinah, dan Baitul Makdis.

Menguasai ketiga kota suci barangkali menjadi hal di luar visi sang an-Nashir Li Diinillah. Untuk membuktikan dirinya—dan Bani Umayyah pada umumnya—pantas bergelar khalifah saat itu, tidak ada jalan selain mewujudkan Andalusia sebagai mercusuar peradaban Islam yang paling gemilang.

photo
ILUSTRASI Detail pada bagian Masjid Kordoba, Spanyol. Kota Kordoba menjadi pusat pemerintahan Bani Umayyah di Andalusia sejak kemenangan dalam Perang al Musharah. - (DOK WIKIPEDIA)

Untuk itu, Abdurrahman III mengawalinya dengan mendirikan struktur administrasi yang besar. Termasuk di dalamnya, memperbanyak jumlah kementerian dan badan. Ia juga menempatkan orang yang ahli pada jabatan sesuai bidang masing-masing.

Berbagai infrastruktur seperti pasar, jalan, jembatan, dan saluran irigasi, dibangunnya. Abdurrahman III juga mendirikan sebuah kawasan baru di dalam Kordoba, yakni Madinat az-Zahra.

Untuk mewujudkan seluruh fasilitas publik di sana, ia mendatangkan bahan-bahan dari Baghdad, Konstantinopel, Tunisia, dan Eropa barat. Istana az-Zahra yang berdiri di tengahnya sangat megah dan besar.

Berkat pembangunan yang dilakukannya, Kordoba menjadi permata kejayaan Islam di barat. Saingannya hanyalah Baghdad di sisi timur dunia Islam. As-Sirjani mengatakan, ibu kota Abbasiyah tersebut kala itu menjadi kota dengan jumlah penduduk terbanyak sedunia, yaitu dua juta jiwa. Adapun Kordoba dihuni 500 ribu orang Muslim dan sisanya non-Muslim.

Ibnu 'Adzari dalam karyanya, Bayan al-fi Akhbar al-Maghrib wa Andalus, mengungkapkan, Kordoba pada masa khalifah Abdurrahman III berkembang amat pesat. Ia menghitung sebanyak 113 ribu rumah warga setempat.

Angka itu di luar ratusan unit rumah kaum bangsawan yang berlokasi di Madinat az-Zahra. Kota tersebut juga memiliki tidak kurang dari tiga ribu masjid, ratusan madrasah dan rumah sakit, serta puluhan perpustakaan umum.

Masa keemasan Kordoba berlangsung lantaran kuatnya sektor finansial. Abdurrahman III sangat cermat dalam mengalokasikan pemasukan negara demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. As-Sirjani mencatat, baitulmal kerap mengalami surplus.

Anggaran keuangan negara mencapai enam juta dinar emas. Bila dihitung dengan nilai masa kini, 1 koin dinar dengan berat 4,25 gram dan cakupan emas 91,7 persen berkisaran Rp 3,58 juta. Artinya, kekuatan finansial Bani Umayyah di Andalusia sampai sekira Rp 21 triliun.

Menurut as-Sirjani, dana sebesar itu dipilah menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama untuk pembayaran pegawai, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain. Sepertiga yang kedua untuk kebutuhan pertahanan, termasuk menggaji tentara. Sisanya sebagai simpanan guna menghadapi masa-masa sulit.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 22 Mei 2022. Sejarah Awal Kekhalifahan Kordoba. - (Islam Digest/Republika)

Disegani Bangsa-Bangsa Eropa

Hadirnya daulah Islam di Semenanjung Iberia bagaikan cahaya di tengah pekatnya Eropa abad pertengahan. Kordoba, jantung Kekhalifahan Umayyah Andalusia, merupakan kota tiada tara di seluruh Benua Biru. Saingannya yang setara hanyalah Baghdad, nun jauh di barat, negeri Bani Abbasiyah.

Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) memaparkan, Kordoba mencapai puncak keemasan dalam era kepemimpinan Abdurrahman II al-Awsath dan cicitnya, Abdurrahman III an-Nashir Li Diinillah.

Keduanya mampu meredam api-api pemberontakan dan menghalau musuh dari perbatasan sehingga terciptalah stabilitas negeri. Dengan kondisi aman itu, peradaban Islam dapat berkembang pesat.

Semangatnya adalah menebar rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Alhasil, buah kerja keras Abdurrahman III dalam menata negeri tidak hanya dirasakan kaum Muslimin, tetapi juga semua masyarakat majemuk Andalusia.

 
Komunitas Kristen dan Yahudi dilindungi hak-haknya dalam berkeyakinan dan mendirikan tempat ibadah. Tidak ada pemaksaan sama sekali untuk masuk Islam.
 
 

Komunitas Kristen dan Yahudi dilindungi hak-haknya dalam berkeyakinan dan mendirikan tempat ibadah. Tidak ada pemaksaan sama sekali untuk masuk Islam. Kalau ada dari mereka yang menjadi Muslim, itu dilakukan secara sukarela.

Kejayaan itulah yang membuat Kekhalifahan disegani bangsa-bangsa Eropa. As-Sirjani mengatakan, kerajaan-kerajaan Kristen di utara Iberia rela mengikat perjanjian dan membayar jizyah kepada Kordoba. Duta-duta besar datang dari Jerman, Italia, Prancis, dan Inggris.

Pada abad pertengahan, Andalusia menjadi negara termakmur di benua dengan empat musim ini. Bahkan, memori tersebut bertahan hingga abad modern.

As-Sirjani mencontohkan, pada 1963 pemerintah Spanyol merayakan haul seribu tahun wafatnya Abdurrahman III. Hal itu menandakan besarnya pengakuan mereka bahwa sang penguasa Muslim merupakan pemimpin Spanyol terbesar dalam sejarah Negeri Matador.

photo
Peta wilayah Emirat Kordoba. Negeri Andalusia yang dibangun Bani Umayyah ini menjadi saingan Kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berpusat di timur sana. - (DOK WIKIPEDIA)

Reputasi Abdurrahman an-Nashir mencuat berkat dukungannya terhadap iklim intelektual. Dalam masa kekuasaannya, Andalusia menjadi tempat tumbuh suburnya aktivitas keilmuan. Sang khalifah sangat menghormati kaum ulama serta mengalokasikan dana besar untuk mendukung kegiatan riset mereka.

Abdurrahman sendiri amat mencintai ilmu pengetahuan. Bangsawan kelahiran Toledo itu merupakan seorang yang begitu hobi membaca. Wujud kecintaannya pada dunia pustaka juga terlihat pada upanyanya untuk memperbanyak jumlah buku dan memperbaiki Perpustaaan Kordoba. Alhasil, di sana terdapat tidak kurang dari 400 ribu eksemplar.

As-Sirjani menyebut beberapa nama ilmuwan yang bersisnar kala era an-Nashir. Di antaranya adalah Hassan bin Abdullah (278-334 H/891-946 M). Warga Etija itu merupakan seorang fukaha yang ahli dalam masalah penalaran sumber hukum (ra’yu).

Sang fakih juga menguasai ilmu gramatika dan sastra Arab. Sosok alim lainnya adalah Muhammad bin Abdullah al-Laitsy (wafat 339 H/951 M). Khalifah Abdurrahman mengangkatnya sebagai hakim agung Kordoba.


Sejarah Awal Kekhalifahan Kordoba

Munculnya Daulah Abbasiyah bukanlah akhir bagi Bani Umayyah. Di Eropa, mereka menjadi khalifah baru.

SELENGKAPNYA

Masjid Kapsarc, Wajah Futuristik Saudi

Masjid Kapsarc dipuji sebagai bangunan ramah lingkungan dan hemat energi.

SELENGKAPNYA

Tabrani, Komunitas Cina, dan Menteri Tahu-Tempe

Tabrani yang dari Madura dianggap lebih layak menjadi menteri karena ia telah banyak berbuat untuk warga Cina peranakan.

SELENGKAPNYA
×