Warga menerima jatah bantuan makanan dari grup kemanusiaan di Kabul, Afghanistan, Selasa (16/5/2022). | AP/Ebrahim Noroozi

Internasional

20 May 2022, 03:45 WIB

Bank Dunia Siapkan Dana Rawan Pangan Akibat Konflik

Bantuan akan difokuskan ke Afrika, Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

WASHINGTON -- Bank Dunia akan menggelontorkan 30 miliar dolar AS untuk menahan krisis pangan yang disebabkan invasi Rusia di Ukraina, Rabu (18/5). Alasannya, perang tersebut memangkas ekspor gandum dua negara itu ke pasar dunia.

Bank Dunia mengatakan, dana yang disediakan terdiri dari 12 miliar dolar AS untuk proyek-proyek baru yang berkaitan dengan pangan dan nutrisi. Serta 18 miliar dolar AS lagi untuk proyek-proyek yang sudah ada dan telah disetujui tapi belum dicairkan.

"Kenaikan harga pangan berdampak sangat menghancurkan pada yang paling miskin dan rentan," kata Presiden Bank Dunia David Malpass dalam pernyataannya, Rabu.

"Untuk menstabilkan dan menginformasikan pasar, sangat penting negara-negara segera memberi keterangan yang jelas mengenai kenaikan produksi di masa depan dalam merespons invasi Rusia di Ukraina," tambahnya. 

Bank Dunia, mengatakan proyek-proyek baru diharapkan akan membantu sektor pertanian, jaminan sosial untuk melindungi orang miskin dari kenaikan harga pangan, dan proyek-proyek air dan irigasi. Sebagian besar sumber daya itu akan diberikan ke Afrika, Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

Kawasan-kawasan tersebut yang paling terdampak pada turunnya pasokan gandum Ukraina. Negara-negara seperti Mesir sangat bergantung pada gandum Ukraina dan Rusia. Kini mereka kesulitan mendapatkan gandum karena Rusia memblokir ekspor pertanian Ukraina di pelabuhan Laut Hitam dan memberlakukan pembatasan ekspor domestik.

Rencana Bank Dunia menjadi komponen terbesar laporan rencana aksi ketahanan pangan yang dirilis Departemen Keuangan AS pada Rabu. Dalam laporan tersebut Departemen Keuangan AS mengatakan, rencana Bank Eropa untuk Pembangunan dan Rekonstruksi akan menyediakan 500 juta euro untuk ketahanan pangan dan perdagangan finansial pada produk pangan dan pertanian.

Dana itu bagian dari 2 miliar euro yang digelontorkan ke Ukraina dan negara-negara tetangganya yang terdampak perang.

photo
Ibu dan anak menanti pemeriksaan kesehatan di pusat rehabilitasi Palang Merah Internasional di Kabul, Afghanistan, Selasa (16/5/2022). - (AP/Ebrahim Noroozi)

Ukraina akan mendapatkan 200 juta euro dan negara-negara tetangganya akan mendapatkan 300 juta euro. Dana Moneter Internasional (IMF) akan memberikan bantuan finansial melalui jalur normal, artinya dibatasi kepemilikan saham dan penilaian apakah utangnya berkelanjutan atau tidak.

Upaya Guterres

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, ia terus melakukan kontak aktif dengan Rusia dan negara-negara kunci lainnya. Kontak itu untuk membahas ekspor biji-bijian di pelabuhan Ukraina dan memastikan pangan dan pupuk Rusia tetap bisa memasuki pasar global.

"Jalan masih panjang. Keamanan yang kompleks, ekonomi, dan implikasi keuangan membutuhkan niat baik dari seluruh pihak agar kesepakatan tercapai," kata Guterres, mengacu pada pembicaraan dengan Rusia, Ukraina, Turki, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan lainnya.

"Saya tidak akan mengungkap secara detil karena penyataan terbuka dapat merusak peluang keberhasilan," ujarnya.

Guterres mengatakan, level kelaparan kini mencapai tingkat tertinggi. Jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan berlipat dua kali hanya dalam waktu dua tahun. Yaitu dari 135 juta orang sebelum pandemi, menjadi 276 juta orang saat ini.

Menurutnya, lebih dari 500 ribu orang hidup dalam keadaan kelaparan. Ini meningkat 500 persen dari 2016. Guterres mengatakan, Ukraina dan Rusia memproduksi sepertiga gandum dan barley dunia. Dua negara itu juga menghasilkan separuh pasar global untuk produk minyak bunga matahari.

Rusia dan sekutunya, Belarus, adalah penghasil potash nomor dua dan tiga di dunia. Potash adalah bahan baku kunci untuk pupuk. "Tidak ada solusi efektif bagi krisis pangan tanpa mengintegrasikan produksi pangan Ukraina, pangan dan pupuk yang diproduksi Rusia dan Belarus, ke pasar dunia, meski perang terjadi," kata Guterres.

Sumber : Reuters/Associated Press


Dua Sisi Teknologi Robotik

Tak selamanya kehadiran robot menjadi ancaman bagi manusia.

SELENGKAPNYA

Netralitas ASEAN Diuji

Tekanan AS soal Rusia-Ukraina membayangi pertemuan puncak di Kamboja (ASEAN Related Summit), Indonesia (G20), dan Thailand (APEC). Bagaimana respons ketiga negara itu?

SELENGKAPNYA

Kecerdasan Artifisial Tingkatkan Kinerja LKS

LKS menjadi penggerak keuangan syariah.

SELENGKAPNYA
×