Umat Muslim mengikuti Shalat Iedul Fitri 1443H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Senin (2/5/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Islamia

20 May 2022, 08:00 WIB

Meneguhkan Kebebasan Selepas Ramadhan

Bulan suci Ramadhan adalah bulan ta’dib, yaitu bulan dididiknya kaum Muslimin.

ACHMAD RESA, Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara

Bulan suci Ramadhan selayaknya menjadi bulan untuk mendidik kaum Muslimin agar semakin sempurna keimanannya. Tujuan melaksanakan ibadah puasa sendiri tidak lain adalah agar kita bertakwa, la’allakum tattaqūn.

Para dai dan ustaz juga menyerukan kepada umat Islam agar memperbanyak amalan-amalan sunah pada bulan ini karena keutamaan-keutamaan di dalamnya. Diharapkan dengan berakhirnya Ramadhan, memuncak pula keimanan kaum muslimin. 

Akan tetapi, berkebalikan dengan tujuan mulia bulan Ramadhan yang menambah ketakwaan, konsumerisme ala neo-liberalisme nyatanya malah meningkat pada bulan diturunkannya Alquran ini. Secara logis, konsumsi pada Ramadhan seharusnya menurun frekuensi makan dalam sehari normalnya hanya dua kali. 

Namun faktanya, tidak. Pembelanjaan kebutuhan pangan meningkat sebesar 16 persen di Uni Emirat Arab, dan 25 persen di Arab Saudi. Mesir menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu 31 persen. Tidak hanya hanya kebutuhan pangan, pembelanjaan produk perawatan diri dan rumah pun meningkat di ketiga negara tersebut. 

Dilansir dari laman Digital Marketing Community, kenaikan presentasi belanja selama Ramadhan bukan hanya terjadi di tiga negara di atas, melainkan seluruh dunia secara global, tak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan survei dari Populix, pengeluaran konsumen Indonesia melonjak bahkan hingga 50 persen.

Meningkatnya daya konsumsi masyarakat beriringan dengan meningkatnya produksi sampah, termasuk sisa makanan yang terbuang. Mulai dari sampah takjil sampai sampah dapur mengalami peningkatan selama Ramadhan.

photo
Pengunjung memadati area skybridge multiguna Tanah Abang, Jakarta, Senin (28/3/2022). Menjelang bulan suci Ramadhan 1443 Hijirah, Pasar Tanah Abang mulai dipadati warga yang hendak berbelanja busana muslim. - (Republika/Thoudy Badai)

Fakta di atas bila ditinjau dari kacamata neo-liberalisme, bukanlah sebuah masalah yang berarti, melainkan justru suatu hal yang positif. Neo-liberalisme menekankan kepada kebebasan individu dalam melakukan segala hal, tak terkecuali dalam berbelanja. Meningkatnya persentase konsumsi, bagi neo-liberalisme, menandakan tercapainya kebebasan oleh setiap individu masyarakat. 

Masyarakat tidak lagi terikat dengan norma-norma tertentu dalam berbelanja. Berbelanja menjadi sebuah ekspresi akan kebebasan manusia. Lain kebebasan dari kacamata neo-liberalisme, lain pula dari kacamata Islam. Apabila masyarakat yang demikian dianggap bebas menurut neo-liberalisme, menurut Islam mereka justru terkungkung, terkungkung oleh hawa nafsunya.

Kebebasan dalam Islam 

Berbicara tentang kebebasan dalam perspektif Islam, ia tidak berarti merdeka, bebas sebebas-bebasnya, ataupun terlepas. Dalam Islam kita mengenal istilah ‘ikhtiar’. Berbeda dengan kebebasan yang merupakan sebuah keadaan, ikhtiar merupakan sebuah perbuatan. Ia berasal dari akar kata ‘kha-ya-ra’ yang juga seakar dengan kata ‘khayr’. Khayr berarti baik.

Secara sederhana, ‘ikhtiyār’ berarti memilih yang baik, yang lebih baik, atau yang terbaik dari sekian banyak pilihan.  Memilih suatu hal yang buruk tidaklah berarti kebebasan, melainkan ia adalah sebuah kezaliman terhadap diri sendiri. Jadi, dalam Islam meskipun pilihan kita tidak merugikan orang lain, apabila pilihan tersebut adalah pilihan yang buruk, paling tidak itu adalah kezaliman bagi diri sendiri. 

 
Memilih yang baik mewajibkan seseorang untuk memiliki ilmu tentang yang baik.
 
 

Memilih yang baik mewajibkan seseorang untuk memiliki ilmu tentang yang baik. Sesuatu yang baik bagi manusia adalah apa yang sesuai dengan fitrahnya, serta tidak menyelisihi kodratnya. Yang paling tahu akan hal ini tentu Sang Khalik, Allah subḥanahu wata‘ala.

Aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah subḥānahu wata‘ala tidak lain dan tidak bukan adalah untuk manusia itu sendiri. Syariat yang diturunkan oleh-Nya adalah untuk kebaikan manusia, yaitu agar ia tidak keluar dari fitrahnya. 

Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dua jiwa (nafs), yaitu al-nafs al-hayawāniyah dan al-nafs al-nāṭiqah. Al-nafs al-hayawāniyah atau jiwa kehewanan adalah daya gerak dan indera. Ia lebih cenderung kepada syahwat. Sedangkan al-nafs al-nāṭiqah atau jiwa rasional adalah daya pikir dan spiritual pada manusia. 

Jiwa rasional pada hakikatnya lebih tinggi kedudukannya daripada jiwa kehewanan. Jiwa rasional seharusnya mampu  mengatur jiwa kehewanan karena disitulah letaknya adab. Adab adalah disiplin yang memungkinkan manusia mengenali dan mengakui batasan-batasan segala hal. Jika jiwa rasional lebih dominan pada manusia, ia tentu akan bertindak sesuai dengan batasan dan takaran yang tepat.

Akan tetapi, apabila jiwa kehewanan manusia lebih dominan, ia akan dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga ia jatuh kepada tingkatan yang lebih rendah daripada binatang. Manusia yang demikian, tidak akan mampu bertindak sesuai batasan yang wajar. Ia akan bertindak sesuai dengan dorongan hewaninya.

Hal inilah yang terjadi pada banyak kaum muslimin pada Ramadhan. Belanja berlebihan, makanan yang terbuang sia-sia, pakaian lebaran yang mewah setiap tahunnya, semuanya karena kurangnya adab sehingga tidak dapat mengenali batasan perbuatannya, juga tunduk pada jiwa hewani.

Padahal, Rasulullah ṣalla‘Llāhu ‘alayhi wasallam menganjurkan agar kita makan, minum, dan berpakaian dalam batasan yang wajar. Batas kewajaran hanya akan diketahui jika adab ada pada diri manusia.

photo
Anak-anak santri Masjid At Taufiq pawai obor menyambut Idul Fitri di Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Ahad (1/5/2022) malam. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Agar adab dapat tumbuh pada diri insan, ia harus membiasakan diri dengan cara ta’dib. Ta’dib berarti penanaman adab pada manusia. Syariat merupakan cara Allah subḥanahu wata‘ala untuk menanamkan adab.

Setiap syariat-Nya adalah aturan yang tepat sesuai dengan manusia itu sendiri. Manusia pada hakikatnya sangat terbatas dalam mengetahui segala hal bahkan terkait dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allāh subḥānahū wata‘ālā menurunkan wahyu kepada manusia yang berisikan ilmu-Nya dan syariat-syariat agar manusia bertindak sesuai dengan hal-hal yang sesuai dengannya.

Ibadah-ibadah, baik wajib maupun sunah, ditetapkan untuk mendidik seorang hamba. Menurut Syekh Muhammad Thonthowi, ibadah shalat menjadikan seorang hamba menjauhkan perbuatan keji dan mungkar, puasa menanamkan ketundukan kepada Allah dan menjaga diri dari yang tidak layak baginya, dan haji bertujuan untuk saling mengenal sesama Muslim dan memupuk persaudaraan.

Mengejar Al-Nafs al-Muṭmainnah

Bulan suci Ramadhan adalah bulan ta’dīb, yaitu bulan dididiknya kaum Muslimin. Puasa yang dilaksanakan selama satu bulan penuh, harusnya dapat memberi dampak positif kepada setiap individu. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan mengendalikan jiwa hewani agar tidak menguasai jiwa rasional.

Kesadaran demikian kalau dibangun oleh setiap Muslim, Hari Raya Idul Fitri benar-benar berarti kembali kepada fitrah, bukan hanya kembali menikmati santapan pada pagi hari.

photo
Umat Muslim mengikuti Shalat Iedul Fitri 1443H di Gumuk Pasir, Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Senin (2/5/2022). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Fitrah manusia adalah keadaan sebagaimana ia diciptakan pertama kali. Manusia pada awal eksistensinya di muka bumi adalah sosok yang suci. Bahkan, sebelum ia mewujud secara fisik di dunia, ia telah mengakui Rabb-nya sebagaimana disebutkan dalam surah al-A’raf ayat 172. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa potensi asal manusia adalah mengakui Tuhannya.

Dapat dikatakan bahwa kebebasan manusia apabila ia mengarah kepada kondisi asalnya, yaitu fitrah. Namun manusia, yang merupakan tempat kesalahan dan kelalaian, kemudian lalai akan pengakuan tersebut setelah ia terlahir di dunia. Ramadhan adalah salah satu sarana agar manusia dapat kembali kepada kondisi awal, yaitu kondisi di mana ia mengakui Tuhannya. 

Pada bulan ini manusia berlatih agar jiwa hewani tidak dominan pada dirinya. Ramadhan hadir sebagai bulan pembebasan, di mana manusia terbebas dari jeratan hawa nafsu yang mengikatnya sehingga jiwanya, kembali bersih dan semakin dekat dengan Tuhannya.

Kedekatan seorang ‘abd kepada Rabb-nya meniscayakan ia kenal betul siapa Dia dan mengakui-Nya. Manusia yang benar-benar mengenali dan mengakui Tuhannya, tidak akan ditimpa kesedihan. Ia senantiasa dalam keadaan yang stabil, baik dalam kondisi mendapat nikmat maupun musibah. 

Jiwa yang seperti ini disebut al-nafs al-muṭmainnah atau jiwa yang tenang. Setelah Ramadhan, manusia diharapkan dapat mencapai tingkatan ini. Paling tidak, jika tidak mencapainya, ia semakin mendekat ke arah tersebut dan bukan malah kembali seperti sebelum Ramadhan, seakan-akan tidak pernah ada Ramadhan.

Sesungguhnya seorang manusia adalah hamba Allah subḥanahu wata‘ala, bukan hamba bulan Ramadhan.


Jalan Terjal Transformasi Energi Jerman

Ketergantungan pasokan gas dari Rusia menjadi kendala rencana transformasi produksi energi listrik di Jerman.

SELENGKAPNYA

Gereja Kutuk Arogansi Polisi Israel 

Rekaman kamera menunjukkan pasukan Israel menyerbu gedung tempat jenazah Abu Akleh disemayamkan.

SELENGKAPNYA

The Great Replacement Kaitkan Buffalo dan Christchurch

Pakar mengatakan semakin banyak anak muda kulit putih yang terinspirasi penembakan massal bermotif rasial.

SELENGKAPNYA
×