Gojek melantai di bursa efek dengan nama saham GOTO. | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Ekonomi

18 May 2022, 10:01 WIB

Bisnis Telkomsel tak Terpengaruh Saham GoTo

Kementerian BUMN menilai, penurunan saham GoTo di lantai bursa dinilai lumrah. 

JAKARTA — Penurunan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk di lantai bursa menjadi perbincangan. Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) yang berinvestasi di GoTo dinilai tak akan mengalami kerugian meski saham emiten berkode saham GoTo itu terkoreksi.

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengatakan, penurunan saham GoTo merupakan hal yang lumrah. Arya menyebutkan, Telkomsel yang juga berinvestasi di GoTo tak akan merugi akibat penurunan saham.

"(Invetasi) Telkomsel ini bisnis jangka panjang bukan jangka pendek, saham naik turun biasa, yang penting Telkomsel punya bisnis di sana," kata Arya di pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, Selasa (17/5).

Arya menyampaikan, kerja sama Telkomsel dan GoTo bersifat jangka panjang yang meliputi 11 komponen bisnis, mulai dari Go-shop hingga advertising. Dengan model bisnis jangka panjang, Arya meyakini, Telkomsel akan meraup keuntungan ke depan. Hal ini didasari dengan adanya 2,5 juta driver Gojek yang berpotensi menjadi pelanggan Telkomsel.

"Hitung saja berapa setahun bisnis Telkomsel jika 2,5 juta driver pakai Telkosmel dengan pengeluaran pulsa sebesar Rp 50 ribu sehari. Total diperkirakan bisnis yang sudah berjalan itu sebesar 370 juta dolar AS atau hampir Rp 5 triliun bisnis Telkomsel di sana, itu info yang kami dapat," ujar Arya.

 

Arya menilai, kondisi ini jauh berbeda dengan model investasi saham yang dilakukan PT Asuransi Jiwasraya. Terlebih, lanjut Arya, selain Telkomsel, ada juga Singapore Telecommunications Limited (Singtel) yang merupakan pemilik saham GoTo.

"Tidak mungkin Singtel gegabah untuk masuk ke sana. Kemudian, pemilik GoTo banyak yang kuat-kuat, Google, Soft bank, mereka juga mengalami naik-turun. Tidak perlu khawatir sebab Telkomsel ada bisnis di sana, kecuali dia trading saham. Ini bisnis jangka panjang," kata Arya.

Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan, dinamika harga saham merupakan hal yang lazim terjadi terkait penurunan harga saham GoTo. Reza menyampaikan, harga saham bisa turun dalam namun bisa juga melonjak cukup tinggi, sesuai dengan kondisi pasar, baik itu global maupun regional.

Menurut Reza, naik turunnya harga saham dipercaya akan membuat potensi capital gain ataupun capital lost. ”Dinamika harga saham merupakan suatu yang lazim terjadi. Seperti misalnya tahun lalu, kami mencatatkan unrealized gain atas investasi GoTo sebesar Rp 2,5 triliun. Namun, kini bisa terjadi unrealized loss,” kata Reza.

Ketika Telkom Group mengambil keputusan untuk berinvestasi di suatu perusahaan, tidak semata-mata hanya mempertimbangkan aspek untung rugi semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek yang lebih besar luas lagi, seperti sinergi dalam upaya membangun ekosistem digital nasional yang lebih besar, salah satunya melalui investasi Telkom Group di GoTo.

Dengan investasi Telkom Group di GoTo, diyakini akan menciptakan kolaborasi dan sinergi yang sangat bagus. Merger Gojek-Tokopedia diharapkan makin memperkuat investasi Telkomsel di Gojek untuk menjadi solusi digital yang lengkap dengan nilai sinergi value yang cukup tinggi. 

"Telkomsel juga memberikan solusi kepada pengemudi dan merchant Gojek untuk meningkatkan engagement melalui penggunaan layanan digital connectivity dan platform advertising Telkomsel. Sehingga, dengan adanya program sinergi ini, kami berharap akan tercipta nilai tambah (value creation) yang berkelanjutan baik bagi Telkom, GoTo, dan Indonesia di masa depan," kata Reza.

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,50 persen membuat indeks seluruh saham global mengalami tekanan jual. Investor baik itu di Indonesia maupun global berbondong-bondong melepaskan sahamnya dan beralih mengonversi uangnya ke dolar AS. Saham yang banyak dilepas oleh investor saat ini adalah emiten di perusahaan teknologi.

Bahkan, Softbank melalui investasinya Vision Fund mencatatkan kerugian rekor kerugian 27 miliar dolar AS atau Rp 395 triliun akibat penurunan harga saham efek dari kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya, pekan lalu. Sahamnya pun ditutup anjlok 11 persen jika dibandingkan harga saham bulan lalu.

Saham perusahaan teknologi di Indonesia juga mengalami nasib yang mirip dengan investasi yang dilakukan oleh Softbank. Emiten bank digital, seperti Bank Jago (ARTO) dan market place seperti BukaLapak (BUKA) dan Gojek Tokopedia (GOTO) mengalami koreksi yang cukup dalam.

Meski mengalami koreksi, Reza meyakini, prospek industri digital di Indonesia masih cukup menjanjikan. Dengan penetrasi masyarakat akan layanan digital yang masih rendah, membuat potensi industri digital di Indonesia berpotensi untuk terus meningkat. 


Adopsi Teknologi, Kunci Sukses Bisnis FnB

Dengan teknologi yang membantu efisiensi, pelaku usaha dapat berfokus kepada strategi pengembangan.

SELENGKAPNYA

Jalan Terjal Transformasi Energi Jerman

Ketergantungan pasokan gas dari Rusia menjadi kendala rencana transformasi produksi energi listrik di Jerman.

SELENGKAPNYA

Wajib Masker Dilonggarkan

Pelonggaran wajib masker menjadi bagian program transisi dari pandemi menuju endemi Covid-19.

SELENGKAPNYA
×