ILUSTRASI Spanyol mulai menjadi bagian dari kejayaan Islam sejak awal abad kedelapan pada masa Kekhalifahan Umayyah. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

16 May 2022, 22:34 WIB

Sepak Terjang Abdurrahman ad-Dakhil di Andalusia

Abdurrahman masih berusia 22 tahun tatkala menyusun strategi untuk memasuki Andalusia.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Dalam sejarah, Andalusia merupakan wajah peradaban Islam di Eropa. Kawasan Semenanjung Iberia itu pernah menjadi tempat tumbuhnya kejayaan Muslimin selama 700 tahun. Masyarakat yang majemuk hidup dalam harmoni di sana, sementara mayoritas penduduk Benua Biru tertinggal dalam abad pertengahan.

Andalusia menjadi bagian dari kedaulatan Islam sejak Bani Umayyah menaklukkannya pada awal abad kedelapan Masehi. Karena itu, Iberia tidak terlepas dari dinamika yang terjadi di Damaskus, pusat kekhalifahan tersebut.

Tahun 749 menjadi momen nadir bagi Umayyah untuk selamanya. Raja daulah tersebut, Khalifah Marwan II tidak kuasa menahan gelombang kudeta. Para pemberontak berasal dari daerah Irak. Mereka mengibarkan panji-panji hitam dan bersatu di bawah bendera Revolusi Abbasiyah.

Dalam Perang Zab pada awal tahun 750, Marwan II gagal membendung pasukan Abdullah Abul Abbas bin Muhammad, ujung tombak Gerakan Abbasiyah. Raja ke-14 Bani Umayyah itu kemudian kabur dari kejaran musuhnya. Nahas baginya, ia tertangkap saat hendak menyeberangi Sungai Nil di Mesir. Pada 25 Januari 750, tokoh yang bernama lengkap Marwan bin Muhammad al-Hakam itu dieksekusi mati.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 15 Mei 2022. Peneguh Umayyah di Andalusia. - (Islam Digest/Republika)

Kematiannya tidak hanya menandakan akhir bagi rezim politik Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebab, Abdullah Abul Abbas serta pasukannya terus bergerak ke berbagai kawasan, termasuk Syam, Jazirah Arab, dan Irak. Mereka bertujuan satu saja: membasmi semua anggota keluarga Umayyah sampai tiada lagi yang tersisa.

Di Damaskus, seluruh sanak famili dinasti tersebut yang telah berusia dewasa dihabisi, berikut dengan 50 ribu penduduk setempat. Pembunuhan terhadap orang-orang Umayyah juga dilakukan di Makkah dan Madinah. Begitu pula dengan Mosul. Belasan ribu warga setempat dibantai.

Revolusi yang digelorakan Abbasiyah di timur memicu kekacauan yang merembet hingga ke Andalusia di barat. Para gubernur (waly) Muslim lokal saling berebut kekuasaan. Mereka berambisi kekuasaan walaupun hal itu berarti melancarkan pertempuran. Perang saudara pun menjadi tidak terelakkan.

Dalam situasi politik dan keamanan yang demikian kacau balau, sesuatu yang “menakjubkan” terjadi. Seorang bangsawan Umayyah berhasil selamat dari pembantaian yang digulirkan Revolusi Abbasiyah. Dialah Abdurrahman ad-Dakhil.

 
Seorang bangsawan Umayyah berhasil selamat dari pembantaian yang digulirkan Revolusi Abbasiyah. Dialah Abdurrahman ad-Dakhil.
 
 

Padahal, waktu itu balatentara Abul Abbas dan para pendukungnya begitu masif memburu dan mengeksekusi setiap orang yang terkait dengan Umayyah.

Terhindarnya Abdurrahman ad-Dakhil dari jangkauan Abul Abbas tidak hanya berarti keselamatan bagi dirinya seorang. Putra pangeran Mu’awiyah bin Hisyam itu bertekad meneruskan kelangsungan Dinasti Umayyah walaupun Damaskus telah jatuh ke tangan lawan.

Maka saudara Hisyam bin Mu’awiyah tersebut dengan susah payah melintasi sekujur Afrika utara untuk mencapai Andalusia. Pada akhirnya, ia berhasil meneguhkan kembali kekuasaan Umayyah di Kordoba—tepat pada 15 Mei, 1.266 tahun yang lalu.

Riwayat ringkas

Siapa dan bagaimanakah tokoh ini, yang sukses “menghidupkan kembali” Umayyah pada era Kekhalifahan Abbasiyah? Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) menuturkan, Abdurrahman ad-Dakhil lahir pada 113 H/731 M dan wafat kelak dalam usia 57 tahun.

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan. Secara nasab, sosok yang juga bergelar “Rajawali Suku Quraisy” (Saqr Quraisy) itu merupakan salah satu cucu khalifah ke-10 Dinasti Umayyah.

Menurut as-Sirjani, Abdurrahman ad-Dakhil berusia remaja ketika Revolusi Abbasiyah pecah. Dengan perkataan lain, dirinya telah akil baligh. Karena itu, putra pangeran Umayyah ini turut menjadi target buruan pasukan Abul Abbas.

Semula, Abdurrahman bersembunyi di Desa Dier Khinan, Provinsi Qansarin, Syam. Namun, jaringan mata-mata Abbasiyah kian menyebar. Ia pun diam-diam kabur ke salah satu dusun di pinggiran Sungai Eufrat. Tidak hanya keluarga inti, dirinya juga didampingi saudaranya, Hisyam.

Sesampainya di Irak, Abdurrahman jatuh sakit. Beberapa hari berselang, dusun tempatnya tinggal diserbu kerumunan yang mengusung panji-panji hitam—kontras dengan warna bendera Kekhalifahan Umayyah, putih. Menyadari dirinya menjadi target, ia segera melarikan diri dengan Hisyam. Istri dan putranya ditinggalkannya karena yakin para pemburunya itu tidak akan membunuh wanita dan anak-anak.

photo
Patung Abdurrahman ad-Dakhil di Granada, Spanyol. - (DOK PINIMG)

Pasukan Abbasiyah mengejar Abdurrahman dan Hisyam hingga tepian Eufrat. Keduanya lantas menceburkan diri ke dalam sungai itu. “Kembalilah kalian! Sungguh kami menjamin keselamatan Anda semua!” seru komandan penyerbu. Namun, para bangsawan Umayyah ini tetap berenang menjauh ke seberang.

Abdurrahman memiliki ibu kandung yang berasal dari Suku Berber, lokal Afrika utara. Ia pun menjadikan daerah Maghribiyah (Maroko) sebagai tujuan pelarian. Maka perjalanan yang panjang dan melelahkan dilalui diri dan saudaranya dari Irak, Syam, hingga Mesir. Keduanya harus berjalan malam hari, demi menghindari pantauan para informan dan spionase Abbasiyah.

Dengan sisa-sisa tenaga, keduanya tiba di Burqah (Libya). Di sini, Abdurrahman dan Hisyam mendapatkan perlindungan dari otoritas lokal yang tetap setia pada Umayyah. Lima tahun lamanya mereka tinggal di daerah sebelah sisi barat Mesir itu.

Dalam masa itu, Abbasiyah mulai mengokohkan kendali politik atas wilayah daulah Islam bagian timur. Walaupun kepala Abdurrahman masih dihargai—yakni menjadi seorang buron—pemburuan terhadapnya mulai mereda. Terlebih lagi, kawasan Afrika utara saat itu berada di luar jangkauan kontrol Abbasiyah.

photo
Semenanjung Iberia saat berada dalam kendali Daulah Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Dari Burqah, Abdurrahman dan saudaranya meneruskan perjalanan ke Qairawan. Kota yang kini bagian dari negara Tunisia tersebut dipimpin Abdurrahman bin Habib al-Fihri, sepupu pemimpin Andalusia saat itu Yusuf al-Fihri. Meskipun sempat menerima dengan tangan terbuka, Ibnu Habib al-Fihri akhirnya cemas.

Penguasa Qairawan itu sesungguhnya berambisi menguasai Andalusia dengan memerangi Yusuf al-Fihri. Kedatangan seorang trah Umayyah dikhawatirkannya akan menjadi kendala. Apalagi, seorang seperti Abdurrahman mungkin saja merasa berhak menguasai wilayah-wilayah yang telah dibebaskan oleh jihad Umayyah, semisal Andalusia dan bahkan seluruh Maghribiyah.

Bagaimanapun, Abdurrahman sudah mencium gelagat ini. Maka ketika Ibnu Habib hendak menemuinya, ia sudah melarikan diri ke Mudharib. Kawasan paling ujung utara Magribiyah itu dihuni Suku Nafzah, kabilah Berber yang menjadi tempat asal ibundanya.

Ternyata, di Mudharib pun ancaman masih membayanginya. Sebab, kaum Khawarij setempat sangat membenci kalangan Umayyah. Maka tidak ada pilihan baginya kecuali Andalusia.

Susun kekuatan

Abdurrahman masih berusia 22 tahun tatkala menyusun strategi untuk memasuki Andalusia. Menurut as-Sirjani, pertama-tama putra pangeran Umayyah itu mengutus budaknya, Badr, ke sana untuk mengamati situasi.

Saat itu, Semenanjung Iberia menjadi ajang rebutan gubernur-gubernur (waly) yang sudah tidak mengindahkan lagi kekuasaan (simbolis) kekhalifahan, baik itu Abbasiyah apatah Umayyah. Sebagian mereka bahkan muncul ambisi untuk mendirikan negara sendiri. Yang terkuat di antara para waly itu adalah Yusuf al-Fihri.

Informasi lain yang diperoleh dari Badr ialah, ternyata masih ada elemen masyarakat setempat yang mengharapkan tegaknya kembali kekuasaan Umayyah di Andalusia. Bagi mereka, stabilitas lebih nyata ketika Iberia masih dikendalikan gubernur-gubernur yang ditunjuk dan patuh pada Damaskus.

Maka dalam misi yang berikutnya, Badr membawa surat dari Abdurrahman kepada para simpatisan Umayyah. Isinya menyatakan maksud, dirinya hendak memasuki Andalusia, serta meminta dukungan dan bantuan mereka. Setelah itu, Badr mengirimkan seseorang ke Mudharib untuk mengonfirmasi bahwa inilah saatnya.

Begitu menerima kabar ini, Abdurrahman pun bersiap. Seorang diri, ia menyeberangi Selat Jabal Thariq dari pantai utara Maghribiyah. Tiba di pesisir Andalusia, sang bangsawan muda disambut Badr.

Kemudian, Abdurrahman mengajak para pendukung Umayyah untuk bermusyawarah. Setelah itu, ia juga mengajak sejumlah kaum Berber di Andalusia selatan untuk bersekutu. Begitu pula dnegan suku-suku Yaman.

 
Setelah itu, ia juga mengajak sejumlah kaum Berber di Andalusia selatan untuk bersekutu. Begitu pula dnegan suku-suku Yaman.
 
 

Mereka memiliki tokoh, yakni Shabah al-Yahshuby, yang tinggal di Sevilla. Maka Abdurrahman sendiri yang mendatangi pemuka Yaman tersebut. Usai bertukar pikiran, al-Yahshuby lalu keluar dan di hadapan kaumnya berbaiat kepada pemuda ningrat Umayyah itu.

Kekuatan politik dan persenjataan berhasil terkumpul. Hanya satu kendala bagi Abdurrahman untuk meneguhkan panji-panji Umayyah di Andalusia, yakni kekuatan Yusuf al-Fihri.

Sebelum menyatakan perang, ia terlebih dahulu bersurat kepada putra penakluk Tunisia Uqbah bin Nafi itu, meminta kesediaannya untuk berkoalisi. Apabila mau, nanti al-Fihri diberikan kedudukan sebagai salah satu pejabat penting. Ternyata, ajakan itu ditolak.

photo
Masjid Agung Kordoba, salah satu peninggalan Abdurrahman ad-Dakhil. - (DOK WIKIPEDIA)

Awal Itu Bernama al-Musharah

 

Abdurrahman bin Mu’awiyah, seorang ningrat-muda Umayyah, berhasil lolos dari pemburuan yang dilakukan kaum revolusioner Abbasiyah. Pada medio abad kedelapan Masehi, cucu Khalifah Hisyam bin Abdul Malik itu sudah sampai ke Semenanjung Iberia.

Di Andalusia, dia mulai menyusun kekuatan demi mengembalikan tegaknya daulah Umayyah.Yusuf al-Fihri, gubernur yang memenangkan perang saudara Andalusia beberapa tahun sebelumnya, menolak tunduk.

Akhirnya, kedua kubu bertemu di Pertempuran al-Musharah pada bulan Dzulhijjah 138 H/Mei 756 M. Menurut Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia// (2013), perang itu terjadi luar Kota Kordoba, basis kekuatan sang waly.

Abdurrahman—kala itu masih berusia 25 tahun—memimpin pasukannya dengan gagah berani. Di sisinya, terdapat para pemimpin lokal baik dari kalangan Berber maupun Yaman. Mereka bersekutu untuk meruntuhkan kekuasaan al-Fihri.

Basis pertahanan mantan gubernur Septimania itu terus digempur hingga koyak. Yusuf al-Fihri berhasil kabur sebelum pasukan lawannya menjebol dinding benteng Kordoba. Beberapa kelompok prajurit ingin mengejarnya, tetapi Abdurrahman mencegah.

“Janganlah kalian menghabisi musuh yang masih akan kalian harapkan persahabatannya. Biarlah mereka hidup agar kelak bersama mereka, kalian dapat menghadapi pihak yang lebih keras permusuhannya,” kata pemimpin muda itu.

 
Janganlah kalian menghabisi musuh yang masih akan kalian harapkan persahabatannya. Biarlah mereka hidup agar kelak bersama mereka, kalian dapat menghadapi pihak yang lebih keras permusuhannya
 
 

Maksudnya, ia tidak ingin permusuhan antarsesama Muslim terus berlarut di Andalusia. Sebab, negeri itu secara geopolitik “terkepung” oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang selalu berambisi mengusir Islam dari Eropa.

Demikianlah, kemenangan yang diraih tidak berujung pada pembantaian. Abdurrahman memperlakukan keluarga al-Fihri dengan baik. Yang menjadi fokusnya adalah pemulihan sosial-ekonomi usai dari palagan ini.

Al-Musharah menjadi awal baginya memulai riwayat baru bagi kedaulatan Umayyah di tengah masa Kekhalifahan Abbasiyah. Ia menjadikan Kordoba sebagai pusat pemerintahannya. Dalam awal periode kekuasaannya, ia berupaya mewujudkan stabilitas.

Sebagai contoh, tidak semua pemberontak langsung diperanginya dengan pertimbangan, antara lain, sesama Muslimin. Mereka dibujuk. Kalaupun masih bersikeras pula, barulah dihadapi dengan senjata.

Selama 34 tahun, Abdurrahman memimpin negerinya di Andalusia, yang lantas dinamakannya “Kekhalifahan Kordoba". Ia terus memulihkan kegemilangan Islam di Iberia.

Ada banyak pencapaian pada era pemerintahannya. Satu yang dapat dilihat hingga kini adalah keagungan Masjid Raya Kordoba.

Atas perannya yang berhasil memasuki (dakhala) dan menguasai kawasan Eropa tersebut, dirinya pun bergelar “ad-Dakhil".


Peneguh Umayyah di Andalusia

Sejarah mencatat sosok Abdurrahman ad-Dakhil. Kisahnya luar biasa mengukuhkan Daulah Umayyah.

SELENGKAPNYA

Cerita Jenazah di Tempat Sampah

para tokoh setempat kemudian menunjukkan lokasi tempat pembuangan jenazah. Orang-orang mengikuti Nabi Musa dari belakang.

SELENGKAPNYA

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

SELENGKAPNYA
×