Cover Islam Digest edisi Ahad 15 Mei 2022. Peneguh Umayyah di Andalusia. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

16 May 2022, 22:20 WIB

Peneguh Umayyah di Andalusia

Sejarah mencatat sosok Abdurrahman ad-Dakhil. Kisahnya luar biasa mengukuhkan Daulah Umayyah.

OLEH HASANUL RIZQA

Sejarah mencatat sosok Abdurrahman ad-Dakhil. Kisahnya luar biasa mengukuhkan Daulah Umayyah di Semenanjung Iberia. Dalam masa pemerintahannya, Andalusia kembali stabil dan berkembang.

Andalusia Hingga Abad VIII

 

Sejarah Andalusia adalah kisah tentang kejayaan Islam di Benua Eropa. Riwayat yang berlangsung 700 tahun lamanya itu bermula dari penaklukan yang dilakukan Bani Umayyah. Menjelang akhir abad pertama Hijriyah atau awal abad kedelapan Masehi, kekhalifahan itu telah menguasai seluruh Afrika utara.

Pemimpinnya saat itu adalah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Sang khalifah menempatkan Musa bin Nushair sebagai gubernur Ifriqiyah (Afrika utara). Ayahnya, Nushair bin Abdurrahman, dahulu merupakan pengawal pribadi Muawiyah bin Abu Sufyan, sang pendiri Dinasti Umayyah.

Pada masa al-Walid, banyak suku lokal di Ifriqiyah yang memeluk Islam atas kemauan mereka sendiri. Salah satu kelompok etnis setempat yang berislam adalah Berber Nafzah. Thariq bin Ziyad merupakan tokoh militer Muslim yang berasal dari suku tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Pada 710 M, Musa bin Nushair menunjuk Thariq sebagai pemimpin di Tangier, Maghribiyah. Kota di pesisir utara Maroko itu hanya berjarak 30 km dari pantai Semenanjung Iberia, Eropa selatan. Daerah tersebut juga bertetangga dengan Ceuta, sebuah kerajaan Kristen di Afrika utara yang dipimpin Raja Julian.

Beberapa waktu kemudian, Julian meminta bantuan Musa untuk melawan seorang bangsawan Gothik yang menguasai Hispania, Roderikus. Permintaan itu sesungguhnya mengawali rencana perluasan wilayah Islam ke Eropa selatan—sesuatu yang lama dicita-citakan Daulah Umayyah.

Hubungan antara Julian dan Roderikus ketika itu tidak akur walaupun sama-sama Nasrani. Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) mengatakan, permusuhan itu dilatari beberapa peristiwa. Di antaranya adalah pembunuhan yang dilakukan raja Hispania itu terhadap seorang sahabat Julian, Witizia.

Beberapa sumber juga menyebutkan, raja yang menguasai pantai selatan Spanyol itu pernah menodai seorang anak perempuan Julian. Sang pemimpin Ceuta lantas menaruh dendam kesumat atas kejadian tersebut.

Di luar situasi politik elitis, Roderikus juga tidak populer di mata rakyatnya. Menurut as-Sirjani, penduduk Hispania dijerat aturan pajak yang tinggi oleh raja Gothik tersebut. Padahal, mayoritas mereka hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan. Sementara itu, para penghuni istana, termasuk Roderikus sendiri, bergelimang kemewahan.

Karena itu, lanjut as-Sirjani, koalisi yang dibangun untuk melawan Hispania tidak terutama berkaitan dengan politik elitis. Dalam perspektif Umayyah, aliansi tersebut bertujuan membebaskan rakyat dari kezaliman penguasa. Misi tersebut juga dibingkai dalam rangka menebar maslahat Islam seluas-luasnya, termasuk ke Eropa.

 
Kabar terbentuknya persekutuan Umayyah-Ceuta itu disambut gembira mayoritas masyarakat Hispania.
 
 

Kabar terbentuknya persekutuan Umayyah-Ceuta itu disambut gembira mayoritas masyarakat Hispania. Mereka sudah muak ditindas seorang pemimpin yang semena-mena. Bahkan, sebagian warga lokal tidak cukup berpangku tangan. Orang-orang non-Muslim itu turut andil dalam pertempuran melawan rezim Gothik.

Pada awal 711 M, Musa memerintahkan pemberangkatan kapal-kapal perang dari Tangier menuju Iberia. Armada itu mengangkut sekira 500 pasukan, yang terdiri atas 400 prajurit dan 100 regu berkuda.

Sementara itu, Raja Julian mengerahkan delapan kapal plus empat unit infanteri. Pasukan koalisi yang dikomandoi Abu Zar’ah ini kemudian mendarat di pantai dekat Tarife. Dalam waktu relatif singkat, kota-kota penting di pesisir tersebut dapat dikuasai.

Melihat kesuksesan itu, Musa kian percaya diri untuk dapat mengalahkan seluruh kekuatan Hispania. Pada Juli tahun yang sama, sang gubernur lantas mengerahkan lebih banyak pasukan dari Magribiyah. Balatentara ini dipimpin Thariq bin Ziyad.

Tepat pada 19 Juli 711 M atau 28 Ramadhan 92 H, kedua belah pihak bertemu di Lembah Medina Sidonia. Delapan hari lamanya, pasukan Taric El Tuerto—sebutan Spanyol untuk Thariq bin Ziyad—memerangi balatentara Roderikus. Walaupun berjumlah lebih sedikit, Muslimin berjuang dengan gagah berani. Spirit mereka kian kuat usai dikobarkan pidato Thariq sesaat usai mendarat.

Pada akhirnya, Hispania menelan kekalahan. Roderikus kemudian menemui ajalnya dalam perang tersebut. Inilah akhir dari kesewenangan penguasa zalim itu dan sekaligus permulaan kedaulatan Islam di Andalusia—nama Arab untuk Semenanjung Iberia.

photo
ILUSTRASI Spanyol mulai menjadi bagian dari kejayaan Islam sejak awal abad kedelapan pada masa Kekhalifahan Umayyah. - (DOK WIKIPEDIA)

Situasi umum

Masa penaklukan Muslim di seluruh Andalusia berlangsung sekira tiga tahun sejak kemenangan Thariq bin Ziyad. As-Sirjani menjelaskan, selama empat dekade Kekhalifahan Umayyah memerintah kawasan Benua Eropa itu sebagai sebuah provinsi. Karena itu, masa itu dinamakan Periode Al-Wulat (para gubernur).

Gubernur pertama Andalusia adalah Abdul Aziz, putra Musa bin Nushair. Seperti ayahnya, ia memerintah dengan bijaksana dan visioner. Pada masa pemerintahannya, keamanan pada daerah-daerah perbatasan semakin ditingkatkan.

Dalam periode Al-Wulat, sebanyak 22 gubernur silih berganti memimpin Andalusia. Mereka rata-rata memerintah selama dua atau tiga tahun. Menurut as-Sirjani, para gubernur itu merupakan perpanjangan tangan khalifah, setidaknya sebelum era prahara pada 740-an. Raja Umayyah yang berkedudukan di Damaskus memilihnya masing-masing setelah menerima rekomendasi dari gubernur Ifriqiyah.

Secara umum, situasi rakyat Iberia cenderung membaik daripada dahulu ketika masa kekuasaan Roderikus. Kalangan sejarawan mencatat, mereka diperlakukan lebih manusiawi di bawah pemerintahan Muslim. Menurut as-Sirjani, para gubernur Umayyah setempat mencabut sistem kasta yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya di Andalusia.

 
Para gubernur Umayyah setempat mencabut sistem kasta yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya di Andalusia.
 
 

Kini, tidak ada pembedaan perlakuan antara kawula dan bangsawan. Khususnya di hadapan pengadilan, kedudukan semua orang setara. Bahkan, penguasa tidak memaksakan Islam sebagai agama yang harus dipeluk masyarakat lokal. Karena itu, penduduk setempat tidak melakukan pemberontakan kepada Umayyah walaupun secara kuantitas mereka berjumlah jauh lebih banyak daripada orang-orang Islam.

Kebebasan beragama dan praktik-praktik religi dilindungi di Andalusia. Umayyah membiarkan kaum Kristen dengan gereja-gereja mereka. Tidak ada pengubahan tempat ibadah Nasrani menjadi masjid kecuali apabila pihak Kristen setuju untuk menjualnya kepada Muslimin. Kalaupun mereka melakukannya, umat Islam tetap akan membelinya dengan harga yang tinggi.

Umayyah juga memperhatikan tegaknya peradaban melalui pembangunan pelbagai sarana dan prasarana fisik. Para gubernur membangun masjid, sekolah-sekolah, gedung-gedung pemerintahan, jalan raya, taman, serta saluran irigasi.

Sistem pengadilan juga jauh lebih baik daripada masa Roderikus. Setiap hakim akan menegakkan keadilan tanpa membedakan antara Muslim, Nasrani, dan Yahudi, serta bagaimanapun ras atau warna kulit seseorang.

 
Kebebasan beragama dan praktik-praktik religi dilindungi di Andalusia. Umayyah membiarkan kaum Kristen dengan gereja-gereja mereka.
 
 

Semula, Umayyah menetapkan Toledo sebagai pusat pemerintahan Islam di Andalusia. Namun, kawasan tersebut dinilai kurang strategis. Selanjutnya, Kordoba dipilih menjadi penggantinya. Kota yang dilalui Sungai Guadalquivir itu lebih dekat dengan pesisir selatan, yakni perairan yang kini bernama Selat Gunung Thariq bin Ziyad (Jabal at-Thariq) atau Gibraltar.

Sebaran permukiman di Andalusia cenderung menjauh dari area garnisun yang dibangun Thariq. Dalam memilih tempat tinggal, para pendatang lebih mempertimbangkan aspek ekonomi dan agraria, alih-alih pertahanan militer. Misalnya, orang-orang Arab yang kebanyakan berasal dari Yaman.

Mereka mempunyai tradisi bertani sehingga menyukai lokasi yang subur di Iberia selatan. Sebagian darinya juga menghuni kota-kota utama, semisal Kordoba, Zaragoza, dan Valencia. Adapun emigran dari suku-suku Berber umumnya menggembalakan hewan ternak. Karena itu, daerah-daerah di Iberia barat dan utara menjadi pilihannya.

Baik suku bangsa Arab maupun Berber Muslim hidup berbaur dengan penduduk lokal. Bahkan, pernikahan antarkelompok etnis juga marak terjadi. Akhirnya, Negeri al-Andalus memunculkan masyarakat dan budaya yang baru di Benua Eropa, yakni perpaduan antara corak Hispanik, Arab, dan Berber.

photo
Semenanjung Iberia saat berada dalam kendali Daulah Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Prahara

Periode Al-Wulat tidak selalu diwarnai stabilitas. Bahkan, pada tahun 740-an terjadilah perang saudara antarsesama bangsawan Arab yang berpengaruh di Andalusia. Prahara itu muncul terutama karena semakin lemahnya kontrol Damaskus atas provinsi di Benua Eropa tersebut. Kelemahan yang dipicu oleh pergolakan besar yang di kemudian hari memunculkan kekhalifahan baru: Abbasiyah.

Perang saudara yang mewarnai Al-Wulat berakhir dengan kemenangan Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. Semula, putra penakluk Tunisia Uqbah bin Nafi itu merupakan wali di Narbonne, Septimania, Prancis selatan. Gaya pemerintahannya ambisius dalam mempertahankan kekuasaan politik. Kelemahan Damaskus dilihatnya sebagai pintu masuk untuk menjadi penguasa tunggal di Andalusia.

Pada tahun 750, Damaskus tidak kuasa membendung pemberontakan. Pukulan yang paling krusial datang dari gerakan revolusioner Abbasiyah. Mereka terdiri atas kaum non-Arab (mawali) yang bersekutu dengan kubu politik Bani Hasyim, khususnya keturunan Abbas bin Abdul Muthalib.

Tokoh gerakan tersebut, Abdullah Abul Abbas bin Muhammad, berhasil menggalang kekuatan di Kufah. Pasukannya lalu menghadapi balatentara khalifah Bani Umayyah saat itu, Marwan bin Muhammad alias Marwan II, di lembah Sungai Zab pada Januari 750. Perang besar pun pecah.

Dalam pertempuran tersebut, sang raja Umayyah terlalu percaya diri. Yang kemudian terjadi, para prajurit Marwan II kocar-kacir karena dipukul mundur pasukan Abdullah.

 
Berbekal kemenangan dari Zab, gerakan Abbasiyah menyapu bersih sisa-sisa kekuatan Umayyah di Irak, Jazirah Arab, maupun Syam.
 
 

Berbekal kemenangan dari Zab, gerakan Abbasiyah menyapu bersih sisa-sisa kekuatan Umayyah di Irak, Jazirah Arab, maupun Syam. Ratusan anggota keluarga kekhalifahan itu dibantai tanpa ampun.

Dalam pelariannya, Marwan II tertangkap saat hendak menyeberangi Sungai Nil. Pada 6 Agustus 750 M, raja terakhir Daulah Umayyah tersebut lantas dieksekusi mati. Maka berakhirlah riwayat dinasti yang telah memerintah dunia Islam selama nyaris satu abad itu.

Namun, tidak semua bangsawan Umayyah bernasib tragis. Seorang di antaranya kelak membuka jalan bagi lahirnya “Kekhalifahan Umayyah II” di Andalusia. Dialah Abdurrahman ad-Dakhil.


Cerita Jenazah di Tempat Sampah

para tokoh setempat kemudian menunjukkan lokasi tempat pembuangan jenazah. Orang-orang mengikuti Nabi Musa dari belakang.

SELENGKAPNYA

Masjid Al Rawdah, Pesona New Gothic Nan Unik

Bicara tentang toleransi, lokasi Masjid Al Rawdah menyimbolkan hal itu.

SELENGKAPNYA

Panggilan Hati Claudia Theresia untuk Berislam

Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?

SELENGKAPNYA
×