Walaupun tampak sederhana, Masjid Induk Amerika menyimpan sejarah panjang tentang dakwah Islam di Negeri Paman Sam sejak abad ke 19. | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

08 May 2022, 20:52 WIB

Masjid Induk Amerika, Tertua di Seluruh AS

Masjid ini didirikan melalui inisiatif kaum imigran dari Suriah dan Lebanon.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Setiap negara-bagian di Amerika Serikat (AS) memiliki karakteristik tersendiri. Iowa, misalnya, merupakan lumbung pangan Negeri Paman Sam. Daerah yang beribu kota di Des Moines itu berjulukan “Food Capital of the World.” Ia juga disebut sebagai “Tall Corn State” karena menjadi penghasil jagung terbesar di seluruh AS.

Produktivitas pangan Iowa ditunjang oleh tanahnya yang subur. Secara geografis, negara bagian ke-29 AS itu dilalui berbagai sungai. Hal itu mendukung sistem irigasi yang berjalan baik di sana.

Kesuburan tanah Iowa mengundang kaum imigran untuk berbondong-bondong datang. Di antara mereka adalah para pendatang Muslim. Kehadiran umat Islam di sana berawal dari pemukiman di kawasan Cedar Rapids.

photo
Masjid Induk Amerika merupakan masjid tertua yang masih berdiri hingga kini di Amerika Serikat. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada abad ke-19, imigran Muslim yang mula-mula bertempat tinggal di sana berasal dari wilayah Turki Utsmaniyah, khususnya Syam. Orang Islam pertama yang menempati Cedar Rapids adalah seorang Suriah, Tom Bashara, serta dua orang Lebanon, yakni Charles dan Sam Kacere. Mereka semua tiba di Iowa sekira periode 1880-an atau 1890-an.

Para Muslimin tersebut bermata pencaharian sebagai petani. Tatkala Cedar Rapids semakin ramai, sebagian mereka dan anak keturunannya membuka usaha niaga. Hingga dua dekade berikutnya, komunitas Muslim itu cukup mapan di tengah masyarakat Iowa walaupun jumlahnya tidak lebih dari 20 orang.

Memasuki abad ke-20, perkembangan umat Islam di Cedar Rapids semakin kentara. Sebagian dari mereka mulai bekerja di luar ranah agraria, semisal berdagang atau menjadi buruh harian. Geliat perekonomian mereka membuat kota tersebut dan umumnya negara-bagian Iowa kian maju. Hal itu lantas menarik minat orang-orang luar untuk berimigrasi ke sana.

Sebelum Perang Dunia II pecah, komunitas Muslim Iowa telah berbaur dengan identitas Amerika yang majemuk. Populasi mereka pun semakin banyak walaupun tidak pernah menjadi kelompok agama mayoritas di negara bagian tersebut.

Seiring dengan pertumbuhan jumlah warga Muslim, kebutuhan akan fasilitas yang memadai pun kian jelas. Pada 1934, para tokoh Islam setempat mulai merencanakan pembangunan pusat keislaman di Cedar Rapids. Pelbagai ikhtiar kemudian dilakukan.

photo
Bagian kubah Masjid Induk Amerika atau The Mother Mosque of America di negara bagian Iowa. Permukaan kubah itu menyajikan syiar Islam tentang tauhid - (DOK MOTHERMOSQUE)

Pada akhirnya, cita-cita kolektif itu mengejawantah. Dengan dana infak yang digelontorkan para warga Muslim di Iowa dan AS umumnya, fondasi awal lantas dibangun. Muslimin setempat berhasil membeli sebidang lahan di Gang 1335, Jalan Northwest Nomor 9, Cedar Rapids.

Setelah beberapa tahun konstruksi dilakukan, pada 15 Februari 1934 berdirilah masjid di atas tanah tersebut. Tempat ibadah Muslimin itu dinamakan sebagai Masjid Induk Amerika atau The Mother Mosque of America.

Hingga kini, bangunan tersebut berstatus sebagai masjid tertua yang berdiri di AS. Usianya sudah melampaui 88 tahun. Memang, bila dilihat secara hitung-hitungan belaka, Masjid al-Sadiq di Chicago dan Masjid Jalan Powers di Brooklyn, Kota New York, masih lebih tua.

Namun, keduanya bukanlah bangunan yang sejak semula dimaksudkan sebagai tempat ibadah Muslimin. Sebelum menjadi sebuah masjid, baik al-Sadiq maupun Jalan Powers adalah bangunan yang berfungsi tertentu.

Kondisi Masjid Induk Amerika dalam sejarahnya mengalami pasang dan surut. Pada 1971, sebuah masjid yang lebih besar, yakni Islamic Center Cedar Rapids, berdiri tidak jauh darinya. Muslimin lokal kemudian menjual Masjid Induk Amerika itu kepada calon pembeli. Namun, si pembeli tidak begitu memanfaatkan asetnya dengan baik. Selama dua dekade, bangunan bekas tempat ibadah Muslim itu cenderung terabaikan.

photo
Bagan yang menunjukkan sejarah Masjid Induk Amerika atau Mother Mosque di Cedar Rapids, Iowa, AS. - (DOK IOWAADVENTURER)

Akhirnya, pada 1991 Dewan Masjid Iowa sepakat untuk membeli kembali bangunan Masjid Induk Amerika. Proses jual beli berlangsung lancar dan tuntas. Setelah itu, takmir dibentuk dan bertugas perdana untuk merestorasi fisik masjid tersebut.

Bagi masyarakat Muslim Iowa, nilai Masjid Induk Amerika tidak dilihat dari aspek fisik semata. Ada banyak jejak sejarah di sana. Misalnya, pada Juni 1952 masjid tersebut berhasil mengumpulkan para perwakilan umat Islam dari seluruh kawasan Amerika Utara. Di tempat ibadah ini, mereka pernah berkumpul untuk kemudian membentuk Federasi Asosiasi Islam-AS dan Kanada.

Bagaikan mata air di tengah padang rumput, itulah nuansa yang ditawarkan Masjid Induk Amerika. Cedar Rapids merupakan salah satu area yang tidak seramai pusat kota. Alhasil, keberadaan masjid tersebut menambah suasana damai dan tenang di sana.

Penampilan Masjid Induk Amerika memang tidak ubahnya rumah warga biasa dengan ukuran yang lebih luas. Ruangan utama yang difungsikan sebagai tempat shalat terletak satu level di atas permukaan tanah. Untuk sampai ke sana, seseorang perlu menapaki anak tangga.

Tangga utama masjid tersebut berwarna hijau. Begitu pula dengan kubahnya yang terkesan simpel dengan lambang bulan sabit pada pucuknya. Pada sisi depan kanopi yang menaungi tangga tersebut, ada tulisan yang menandakan nama tempat ibadah ini.

Guratan yang bernada dakwah tampak pada permukaan sisi bawah kubah, yakni terjemahan dua kalimat syahadat dalam bahasa Inggris. Adapun teks berbahasa Arab ikrar agung tersebut berada persis di atasnya, yakni sisi lengkung kubah itu.

Pada Juni 2008, Masjid Induk Amerika sempat dilanda banjir. Pihak takmir sempat kesulitan untuk menyelamatkan puluhan mushaf Alquran dan buku-buku yang tersimpan di lemari lantai dasar. Namun, kini antisipasi diadakan lebih baik.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, masjid tersebut juga mengadakan beberapa kali acara donasi sosial. Dengan begitu, masyarakat Iowa pada umumnya juga merasakan manfaat dari keberadaan fasilitas ibadah Muslimin itu.


Kiat Syaiful Islam Al Payage dalam Menjaga Spirit Ramadhan

Menurut Syaiful Islam Al Payage, Ramadhan menjadi momen untuk menumbuhsuburkan semangat beribadah.

SELENGKAPNYA

KH Muhammad Idris, Mursyid Pejuang dari Boyolali

Kiai Idris yang pernah menuntut ilmu di Haramain ini memimpin tarekat Syadziliyah.

SELENGKAPNYA

Berkah Mengurus Orang Tua

Islam mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tua.

SELENGKAPNYA
×