H Syaiful Islam Al Payage, ketua Majelis Ulama Indonesia Papua | DOK REP MAHMUD MUHYIDIN

Hiwar

08 May 2022, 09:34 WIB

Kiat Syaiful Islam Al Payage dalam Menjaga Spirit Ramadhan

Menurut Syaiful Islam Al Payage, Ramadhan menjadi momen untuk menumbuhsuburkan semangat beribadah.

Idul Fitri 1443 Hijriyah telah telah lewat. Tentunya, Ramadhan tahun ini pun ikut berlalu. Selama sebulan penuh, umat Islam menjalani hari demi hari dengan menjalankan banyak amalan.

Menurut H Syaiful Islam Al Payage, Ramadhan menjadi momen untuk menumbuhsuburkan semangat beribadah. Sebab, selama bulan suci pahala dari amal kebajikan yang dikerjakan seorang Mukmin akan dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala.

Maka dari itu, alangkah baiknya bila girah tersebut tidak hilang begitu saja sesudah Ramadhan. Spirit bulan suci hendaknya terus tertanam dalam diri setiap Mukmin. “Setelah Ramadhan, semangat ibadah kita harus tetap berlanjut. Kalau bisa, malah lebih bagus lagi,” ujar alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo tersebut.

Lantas, apa saat tips yang dapat diterapkan untuk merawat spirit beribadah itu agar tetap tinggi hingga bulan-bulan berikutnya? Apa saja hikmah yang dapat dipetik dari amalan-amalan khas bulan suci?

Untuk menjawabnya, berikut hasil wawancara yang dilakukan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua itu, beberapa waktu lalu.

Bagaimana menjaga semangat beribadah agar tidak menurun?

Dalam sebuah hadis yang masyhur, Nabi Muhammad SAW menjelaskan, posisi keimanan seseorang cenderung fluktuatif atau naik-turun. Iman manusia tidak seperti imannya para malaikat. Ketika sedang taat kepada Allah, imannya akan terus stabil.

Rasulullah SAW juga menyatakan, iman akan menjadi loyo ketika ketaatan kepada-Nya tidak lagi istikamah. Maka dari itu, perlu stimulus agar iman tidak menyusut. Nabi SAW mengajarkan sejumlah tips. Pertama, berusahalah sekuat tenaga untuk menjaga ketakwaan. Caranya dengan melaksanakan perintah Allah SWT sesuai kadar kemampuan dan menjauhi segala larangan-Nya.

 
Iringilah perbuatan yang buruk dengan yang baik. Sebab, kebaikan akan mampu menghapus perbuatan yang buruk.
 
 

Kedua, iringilah perbuatan yang buruk dengan yang baik. Sebab, kebaikan akan mampu menghapus perbuatan yang buruk. Artinya, upaya kembali ke jalan agama. Misalnya, berusaha konsisten menghadiri kajian-kajian keislaman atau majelis-majelis taklim. Kemudian, shalat di awal waktu dan rutinkan berzikir, bertobat kepada Allah.

Ketiga, yang paling penting adalah bergaul dengan orang-orang yang punya akhlak baik. Dengan begitu, iman tidak menjadi loyo atau rusak. Jadi, sikap selektif dalam kehidupan itu sangat dianjurkan dalam Islam. Itu agar diri terus berada dalam kebaikan sampai akhir hayat.

Saat Ramadhan lalu, girah beribadah begitu tinggi. Apa saja saran Anda untuk rutinitas pasca-bulan suci?

Setelah bulan puasa berlalu, ibadah yang pertama-tama mesti dijaga adalah shalat. Sebab, Nabi SAW menekankan, Islam dibangun di atas lima fondasi, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Nah, kelima fondasi itu distabilkan oleh satu, yaitu shalat.

Rasulullah SAW juga menjelaskan, amalan yang pertama kali dihisab Allah pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya seseorang baik, amal haji, puasa, dan lain-lain akan menjadi ringan untuk dihisab. Pentingnya shalat juga ditegaskan dalam sebuah hadis, shalat adalah tiangnya agama. Barangsiapa yang berpegang teguh mendirikan shalat, ia pada hakikatnya meneguhkan agama ini.

Selain menjaga shalat, adakah amalan lain yang perlu diperhatikan?

Selama Ramadhan, kita berpuasa wajib. Puasa pun melatih diri untuk lebih berempati. Saat bulan suci, kita juga wajib mengeluarkan zakat fitrah. Dalam sebuah hadis dijelaskan, amalan puasa Ramadhan digantungkan di antara langit dan bumi atau tidak diangkat menuju Allah kecuali dengan zakat fitrah. Ibadah itu pun berkaitan dengan hablum minannas (hubungan antarsesama manusia).

Maknanya, itu menjadi simbol bahwa ibadah-ibadah sosial sangat dianjurkan oleh Allah. Karena itu, saya berharap setelah Ramadhan ini kita semua dapat mempertahankan pengamalan ibadah sosial. Dalam hadis juga diterangkan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Nabi SAW juga menjelaskan, mayoritas orang nanti masuk ke surga Allah dengan dua hal. Pertama, ibadah ketakwaannya. Kedua, ibadah sosialnya. Jadi, harus ada kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Makanya, usai Ramadhan kesalehan pribadi agar tetap dipertahankan dan juga merawat kesalehan sosial.

Bagaimana cara menjaga semangat bederma agar tetap lestari setelah Ramadhan?

Yang pertama, kita harus berprinsip, memberi dan menolong adalah suatu pancingan yang akan bisa mendatangkan rezeki yang lebih besar dari Allah. Itu yang harus ada dalam diri kita setiap waktu, termasuk setelah Lebaran.

Pepatah mengatakan, harta jangan ditaruh di hati, tetapi di tangan. Artinya, rezeki yang Allah titipkan kepada kita, terutama yang berupa harta, diarahkan agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.

Salah satu contoh amal adalah berzakat. Zakat secara terminologis memiliki arti ‘bertambah.’ Mengapa bisa bertambah? Bukankah akibat dari memberi adalah berkurangnya jumlah harta? Inilah yang menjadi spirit. Membantu, bersedekah, berinfak, bermanfaat kepada orang lain—itu semua harus menjadi karakter setiap Muslim dan Muslimah.

Apa saja hikmah zakat fitrah menurut Anda?

Pertama-tama, kita mesti memahami bahwa ibadah yang dilakukan secara baik akan memunculkan tazkiyatun nufus atau pembersihan jiwa. Orang yang tidak pernah berpikir akan nilai-nilai sosial, maka mungkin akan bisa diambil langsung (kenikmatan-kenikmatan) oleh Allah.

Misalnya, ketika orang itu tidak pernah sedekah, ia bisa terkena penyakit kanker, strok, atau sakit permanen. Akibat sakit itu, mungkin hartanya diambil melalui pengobatan di rumah sakit yang berbiaya sangat mahal. Artinya, “zakat” yang semestinya ia tunaikan itu diambil langsung oleh Allah. Maka keengganan berzakat menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.

Kedua, ada yang dikenal sebagai tazkiyatul amwal, pembersihan harta. Jadi, Allah menitipkan rezeki orang-orang mustahik di dalam harta kita. Ketika orang itu menyalurkan (mengeluarkan zakat), secara tidak langsung ia sedang membersihkan hartanya.

Ketika terjadi pembersihan, rezekinya akan terus akan mengalir. Ibaratkan air. Kalau wadah air kita tutup rapat, tidak pernah ada pembuangan. Maka suatu ketika luapannya akan menjadi petaka. Namun, ketika ada saluran keluar atau pembuangannya, air itu akan mengalir seperti biasa.

Syiar Ramadhan tahun ini terasa lebih semarak lantaran pandemi Covid-19 mulai mereda. Apa saja pelajaran yang bisa dipetik?

Saya teringat sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. Ada dua nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Namun, kadang kala manusia tidak menyadari bahwa kedua nikmat itu sangat vital. Apa saja itu? Mereka adalah nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan atau waktu. Ketika keduanya diangkat, yang lain-lain akan runtuh satu demi satu.

Jadi, hadits ini sebenarnya menegur manusia, terutama yang sering lalai terhadap mengingat kedua nikmat tersebut. Mungkin, selama ini kita diberi kesehatan, tetapi ibadah yang kita lakukan malah kurang.

 
Mungkin, selama ini kita diberi kesehatan, tetapi ibadah yang kita lakukan malah kurang.
 
 

Maka dengan meredanya pandemi Covid-19 ini, kita akhirnya menyadari betapa pentingnya kesehatan. Dengan keadaan yang sehat, kita bisa beribadah kepada Allah dengan lancar dan baik.

Mungkin, sebelum wabah virus korona orang-orang cenderung asal-asalan dalam menyemarakkan Ramadhan. Misalnya, ogah-ogahan shalat tarawih, berpuasa, atau mengaji Alquran. Maka dengan adanya (wabah) itu, mereka menyadari, hal-hal yang selama ini biasa dilakukan itu adalah sesuatu yang sangat vital, sangat dibutuhkan.

Karena itu, kita harus betul-betul menggunakan nikmat sehat dan nikmat kesempatan yang Allah berikan. Caranya dengan memperbagus amal ibadah dan akhlak kita. Tetaplah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.

Apa saja tantangan yang mesti dilalui umat Islam pasca-Ramadhan tahun ini?

Yang pertama, bagaimana memperkuat rasa persaudaraan sesama umat Islam. Saya di Papua juga selalu mengimbau masyarakat agar perbedaan politik, pendapat, suku, bahasa, dan lain-lain jangan sampai memecah belah persaudaraan Muslimin. Sebab, umat ini sudah terikat menjadi satu dengan “Laa ilaaha illa Allah.” Sesungguhnya, orang Mukmin itu bersaudara sehingga perlu saling tolong menolong dan saling menghargai.

Kedua, bagaimana membangun persaudaraan antarsesama anak bangsa. Saya tidak mau mendengar lagi kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Kalau meminjam bahasanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya tidak butuh mengetahui agamamu. Yang saya butuh adalah nilai-nilai kemanusiaan yang engkau tunjukkan.

Karena itu, bangsa Indonesia jangan sampai terpecah-belah. Itu adalah tantangan yang besar—menjaga persatuan. Mudah-mudahan, setelah Ramadhan ini kita semua bisa meningkatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah SAW. Dan juga, rasa persatuan dengan sesama umat, sesama anak bangsa.

Banyak sekali problematika keumatan yang dibenturkan dengan berbagai anasir. Itu juga menjadi tantangan agar kita memperkuat persaudraan antar kita. Ya meskipun ada tantangan, peluang-peluang juga ada. Kembali lagi ke diri kita masing-masing.

 

photo
ILUSTRASI Dakwah Islam di Bumi Cendrawasih. - (DOK REP YASIN HABIBI)

Dai dari Bumi Cendrawasih

 

Dalam dunia dakwah di Tanah Air, Ustaz H Syaiful Islam Al Payage cukup populer sebagai seorang mubaligh dari Indonesia timur. Ulama yang bernama asli Elimus Payage itu lahir di Papua, 4 April 1979. Ayahnya merupakan seorang pendeta lokal, Simon Payage.

Ustaz Syaiful Islam Al Payage mengenal Islam sejak masih anak-anak. Ia mulai tertarik mendalami agama tauhid sejak berkenalan dengan seorang pengusaha Muslim di Papua, yakni Haji Baharuddin. Sebagai seorang Muslim, merantau ke luar Bumi Cendrawasih, pilihannya lalu jatuh pada Provinsi Jawa Timur. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sukorejo, Situbondo, menjadi tempatnya menuntut ilmu.

Lembaga tersebut didirikan seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH R As’ad Syamsul Arifin. Di sana, Ustaz Syaiful Islam diangkat anak oleh KH Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin. Dengan tekun, tahap demi tahap dilaluinya. Akhirnya, perantau dari Papua itu sukses meraih gelar sarjana.

“Saya merasa semua guru yang ada di Sukorejo itu memang memberikan inspirasi, baik itu Kiai Fawaid, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Cholil As’ad Syamsul Arifin, KH Afifuddin Muhajir, dan Kiai Musirin juga,” ujar ketua MUI Papua itu mengenang perjalanan hidupnya, baru-baru ini.

 
Saya merasa semua guru yang ada di Sukorejo itu memang memberikan inspirasi, baik itu Kiai Fawaid, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Cholil As’ad Syamsul Arifin, KH Afifuddin Muhajir, dan Kiai Musirin juga.
 
 

Secara spesifik, dirinya juga belajar kepada Habib Hasyim Kamal bin Abdul Assegaf, khususnya mengenai nilai-nilai dan metode dakwah. Lulus dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Ustaz Syaiful Islam pada 2007 sempat bertolak ke Hadhramaut, Yaman. Di sana, ia belajar di Darul Musthofa, lembaga pendidikan yang masyhur, di bawah asuhan al-‘Alim al-Alamah Habib Umar bin Hafidz. Hingga tahun 2008, sang dai berhasil menyelesaikan studi S-2.

Kini, mubaligh yang pernah menjadi peserta acara “Dakwah TPI” itu sibuk mengisi agenda kajian dan majelis taklim di berbagai daerah, khususnya Papua. Menurut dia, pengalaman Ramadhan 1443 H/2022 M ini cukup berkesan.

“Alhamdulillah, saya keliling dakwah kemarin (Ramadhan tahun ini). Yang pasti, menyampaikan risalah nabi kita Rasulullah Muhammad SAW, dengan prinsip beliau yakni Islam rahmatan lil ‘alamin,” ujar Ustaz Al Payage.

 


KH Muhammad Idris, Mursyid Pejuang dari Boyolali

Kiai Idris yang pernah menuntut ilmu di Haramain ini memimpin tarekat Syadziliyah.

SELENGKAPNYA

Berkah Mengurus Orang Tua

Islam mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tua.

SELENGKAPNYA

Onrust: Dari Westerling ke Kartosuwirjo

Pemimpin DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam melalui perjuangan bersenjata itu dihukum mati di Onrust pada 1962.

SELENGKAPNYA
×