Satbravo 90 Kopasgat menjaga WNI dari Ukraina setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (4/3). | Dok Dispenau

Narasi

05 May 2022, 08:00 WIB

Operasi 42 Jam Evakuasi WNI di Ukraina

Sembilan personel Satbravo 90 Kopasgat terlibat pengamanan proses evakuasi WNI di Ukraina.

OLEH ERIK PURNAMA PUTRA

 Masyarakat dunia dihebohkan dengan invasi Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2). Hal itu sontak mengagetkan masyarakat seluruh dunia. Pemerintah Indonesia pun merespons cepat situasi itu dengan berusaha mengevakuasi seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina.

Misi rahasia penyelamatan WNI Ukraina di bawah kendali Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) pun disusun secara matang. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dilibatkan dalam satuan tugas (satgas) pengamanan dalam misi kali ini.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa memerintahkan Satuan Bravo 99 Komando Pasukan Gerak Cepat (Satbravo 90 Kopasgat) untuk mengawal penjemputan WNI di Ukraina. Komandan Satbravo 90 Kopasgat Kolonel Pas Dedy Agung langsung menyiapkan sembilan personel terpilih sebagai satgas pengamanan di dalam pesawat. Tim dipimpin oleh Mayor Pas Efendi Hermawan, selaku komandan satgas.

“Dari Panglima TNI memerintahkan Satbravo dari matra udara, karena evakuasi ini kan menggunakan pesawat. Kami menjadi main body,” kata Efendi di Markas Satbravo 90 Kopasgat, Rumpin, Kabupaten Bogor, Kamis (28/4).

photo
Satbravo 90 Kopasgat menjaga WNI masuk pesawat di Bandara Bucharest, Rumania. - (Dok Dispenau)

Pada Jumat (25/2), tepatnya pukul 08.00 WIB, tim Satbravo 90 Kopasgat dikontak untuk berangkat ke Markas Besar (Mabes) TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Panggilan dadakan membuat satgas pengamanan harus lekas bersiap. Hal itu lantaran jarak Markas Satbravo 90 Kopasgat ke Mabes TNI paling cepat membutuhkan waktu 90 menit.

Menurut Efendi, Jenderal Andika semula dijadwalkan memberi pengarahan pada pukul 10.00 WIB. Namun pengarahan akhirnya dilakukan oleh Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen Syafruddin. “Kita dituntut kesiapan, karena ada pendadakan. Tapi kalau kita sudah siap semua. Kita langsung berangkat dan sampai sana bisa tepat waktu,” ucap alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) 2004 ini.

photo
Sembilan personel Satbravo 90 Kopasgat yang terlibat evakuasi WNI di Ukraina saat ditemui di Markas Satbravo 90 Kopasgat, Rumpin, Kabupaten Bogor, Kamis (28/4/2022). - (Erik Purnama Putra/Republika)

Tim Satbravo pun langsung mengikuti pengarahan yang juga dihadiri Komandan Komando Pasukan Operasi Khusus (Dankoopsus) TNI Mayjen Joko Purwo Putranto, dan perwakilan Badan Intelijen Strategis (Bais), Asisten Intelijen (Asintel), dan Pusat Kesehatan (Puskes) TNI. Sejak saat itu, kata Efendi, seluruh personel Satbravo 90 menetap di barak Koopsus TNI, Cilangkap.

Setiap harinya, personel melakukan koordinasi bersama pejabat Kemenlu dan seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang terlibat evakuasi WNI di Ukraina. Selama di Mabes TNI, Efendi bersama delapan anak buahnya melakukan simulasi pengamanan melalui tactical floor game (TFG). Tujuan agar agar semua personel bisa memahami tugas di lapangan dan tahu apa yang dikerjakan selama proses evakuasi WNI berlangsung.

Semula, menurut Efendi, tim akan diberangkatkan pada Ahad (27/2). Namun, karena situasi di lapangan belum memungkinkan serta ada WNI di Ukraina yang terjebak perang di Kharkiv, sehingga proses penjemputan diundur. “Kita memonitor terus perkembangan,” ucapnya.

Ketika akhirnya perintah mengevakuasi WNI sudah turun, satgas pengamanan seketika meninggalkan Mabes TNI menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten pada Senin (1/3/2022) malam WIB. Pesawat berangkat menjemput WNI di Ukraina ketika hari sudah memasuki Selasa (2/3) dini hari WIB. Proses evakuasi diputuskan menggunakan pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-200 yang bisa memuat lebih 200 penumpang.

Efendi menuturkan, proses evakuasi sempat mempertimbangkan menggunakan dua pesawat TNI AU, namun kapasitasnya yang terbatas membuat pemerintah memilih menggunakan pesawat sipil. Hal itu lantaran data awal, ada 162 WNI yang harus dievakuasi dari Ukraina.

"Makanya setelah itu diputuskan kita menggunakan pesawat yang lebih besar, karena bisa langsung ke sana (Jakarta ke Bucharest)," kata Efendi.

Ketika sudah mengangkasa, kata dia, pemerintah dalam perkembangan terbaru memutuskan agar pesawat transit di Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Arab Saudi. Langkah itu dilakukan untuk koordinasi terakhir dan membaca situasi terbaru di Bucharest demi kelancaran proses evakuasi.

photo
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang telah berhasil di evakuasi dari Ukraina mengikuti pelepasan PMI dari Ukraina ke Daerah Asal di Kantor BP2MI, Jakarta, Senin (7/3/2022). - (Prayogi/Republika)

Rencana awal, pesawat hanya singgah di Madinah selama sejam. Namun, karena video conference dengan KBRI Ukraina, Rumania, Polandia, dan Rusia, diputuskan kebijakan baru. Sebanyak 12 WNI yang positif Covid-19 ditinggalkan di ibu kota Rumania untuk menjalani perawatan sampai sembuh.

Alhasil, pesawat Garuda Indonesia transit sampai dua jam lebih di Madinah sampai akhirnya diterbangkan menuju Bucharest. “Pesawat itu sebenarnya bisa direct. Tapi, sebelum menuju sasaran itu kita pastikan dulu keamanan, jangan sampai kita dari sini langsung ke sana ternyata ada perubahan situasi. Kita tunggu clear,” ujar Efendi.

Pesawat pun tiba di Bandara Henri Coanda, Bucharest pada Rabu pukul 15.10 waktu setempat atau 20.10 WIB. Efendi menyebutkan, otoritas bandara hanya memberi waktu terbatas untuk proses evakuasi seluruh WNI. Proses evakuasi WNI hampir berbarengan dengan militer Turki dan India yang juga mengevakuasi warga negaranya. Ternyata, pelaksanaan evakuasi tidak berjalan dengan mudah hingga membutuhkan waktu sekitar lima jam.

Dia menyinggung beberapa kendala teknis, seperti harus menunggu kucing ras Ukraina milik WNI yang melewati pemeriksaan karantina maupun memastikan seluruh WNI yang dipulangkan ke Indonesia negatif Covid-19. Khusus untuk kucing itu dibawa WNI yang ikut kontes di Kyiv, Ukraina. Sehari menjelang kepulangan ke Tanah Air, WNI tersebut terjebak di negeri itu lantaran seluruh penerbangan ditutup akibat serangan Rusia.

Efendi menjelaskan, penumpang yang beragam mulai bayi usia satu tahun hingga orang lanjut usia juga membuat petugas butuh kehati-hatian dalam menjaga psikologis penumpang yang baru meninggalkan arena perang di Ukraina.

“Awalnya di Bucharest. kita dikasih waktu 2,5 jam. Kemudian ada ya itu, termasuk nunggu kucing dan perkembangan situasi Covid sehingga kita proses evakuasi menjadi lebih lama,” tutur Efendi.

Setelah melalui pemeriksaan ketat, satgas pengamanan mencatat akhirnya hanya 80 WNI yang dipulangkan ke Indonesia. Termasuk juga tiga warga Ukraina yang ikut diterbangkan ke Jakarta, karena memiliki hubungan keluarga dengan WNI. Sejak keberangkatan, transit di Madinah, hingga di Bucharest, menurut Efendi, Satbravo 90 hanya berkutat di pesawat. Paling ujung mereka keluar memeriksa WNI ketika ingin masuk ke pesawat di garbarata.

Di dalam pesawat, satgas pengamanan dibagi dua tim dengan posisi duduk di belakang dan di depan, yang sudah diatur sedemikian rupa. Pun dengan tempat duduk WNI juga diatur agar semua ditangani petugas dengan baik. Akhirnya, pesawat Garuda Indonesia meninggalkan Bucharest pada pukul 20.23 waktu setempat. 

Terpaksa berpisah

Efendi memiliki kisah haru tentang salah seorang WNI yang berstatus suami harus terpaksa berpisah dengan istrinya yang dinyatakan positif Covid-19. Akhirnya, sang suami yang merupakan ayah dari dua balita terbang lebih dulu ke Indonesia.

photo
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang telah berhasil di evakuasi dari Ukraina berada dalam bus usai mengikuti pelepasan PMI dari Ukraina ke Daerah Asal di Kantor BP2MI, Jakarta, Senin (7/3/2022). Sebanyak 26 PMI dipulangkan ke daerah asal usai tiba dari Ukraina dan telah menjalani isolasi sejak 3 Maret lalu. - (Prayogi/Republika)

Adapun sang istri yang dua buah hatinya masih memerlukan air susu ibu (ASI) terpaksa berpisah sementara waktu karena harus menjalani perawatan akibat aturan pandemi Covid-19 yang berlaku di Rumania. Dia menerangkan, ibu tersebut dipulangkan dalam kloter kedua evakuasi WNI.

“Jadi yang akhirnya bisa pulang ke sini hanya bapak dan anak. Padahal anaknya masih balita kedua-duanya,” kata Efendi.

Orang itu sampai menitikkan air mata ketika bercerita ke Efendi lantaran terpisah dengan istrinya. Padahal, dia menambahkan, keduanya sudah melalui hari-hari melelahkan ketika harus meninggalkan Kyiv ketika Ukraina sudah berperang dengan Rusia. Setelah delapan jam melalui perjalanan darat menuju perbatasan Moldova, kata Efendi, pasangan suami istri itu sempat lega, karena sudah membayangkan bisa pulang ke Tanah Air secara bersama-sama.

Apalagi, ketika keduanya bersama WNI lain sangat senang ketika akhirnya bisa tiba di Bucharest, Rumania. Sayangnya, otoritas berwenang tidak bisa memulangkan seluruh WNI begitu saja. Menurut Efendi, hal itu lantaran Ukraina termasuk negara aman dan pemerintahan berjalan normal. Sehingga aturan penanganan pandemi Covid-19 masih berlaku.

 
Orang itu sampai menitikkan air mata ketika bercerita ke Efendi lantaran terpisah dengan istrinya. 
 
 

“Pak, saya itu perjuangannya sangat menegangkan sekali. Gimana kami dari rumah menuju titik kumpul kedutaan di daerah Kyiv, yang kami dengan segala situasinya kami menuju. Alhamdulillah kami menuju Moldova sampai Buchares, Rumania saling menyemangati. Tapi begitu, sampai Bucharest, istri saya dinyatakan positif Covid-19, akhirnya istri saya tinggal. Ini yang bikin saya sedih,” ujar Efendi menirukan percakapan dengan WNI tersebut.

Komandan Tim 2 Satgas Pengamanan Kapten Pas Kurniawan Adi Subakti mengaku, misi evakuasi WNI merupakan pengalaman pertama baginya. Dia merasa senang mendapatkan kepercayaan dari pimpinan terlibat dalam misi membawa pulang WNI di Ukraina hingga tiba di Indonesia dengan selamat.

“Kita melakukan operasi itu membutuhkan persiapan sangat matang. Sebelum kita melakukan evakuasi, kita rapat konsinyering kita membahas apa yang harus dilaksanakan evakuasi WNI Ukraina secara detail. Siapa harus berbuat apa, dan harus paham. Sehingga ketika di lapangan tidak ada keraguan lagi,” kata Kurniawan.

Menurut dia, pemulangan WNI di Ukraina menuju Indonesia berlangsung lancar dan tanpa hambatan. Hal itu lantaran semua personel yang tergabung dalam satgas pengamanan selalu melaksanakan komunikasi dan koordinasi di dalam pesawat sejak keberangkatan hingga kepulangan WNI. Yang unik, baginya adalah baru kali ini mengalami penerbangan terlama karena selama puluhan jam berada di dalam pesawat.

photo
Sejumlah WNI dievakuasi dari Lviv di Ukraina menuju Rzeszow, Polandia, Senin (28/2/2022). - (Kemenlu RI)

“Ini pengalaman menyenangkan bagi saya, karena suatu ini naik pesawat terlama ya ini, 34 jam di dalam pesawat,” kata Kurniawan.

Efendi menambahkan, jika 34 jam merupakan waktu perjalanan pesawat di udara dari Jakarta transit di Madinah dan menuju Bucharest. Begitu pula waktu kepulangan menempuh rute yang sama. Jika dihitung dengan waktu transit di Madinah selama dua jam lebih dan proses evakuasi di Bucharest yang akhirnya memakan waktu lima jam lebih maka operasi kemanusian yang dilakukan Satbravo 90 totalnya menelan waktu 42 jam. "Dengan berhenti itu 21 jam, 42 jam total, dengan transit di Madinah. Dan di Bucharest itu kan kita di dalam terus," kata Efendi.

Komandan Satbravo 90 Kopasgat Kolonel Pas Dedy Agung mengapresiasi para personel yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik dalam mengamankan evakuasi WNI Ukraina di Bucharest. Dia pun bangga prajurit Satbravo 90 bisa profesional dan menjaga nama baik satuan dalam bertugas.

Keterlibatan dan kehadiran personel Satbravo 90 Kopasgat dalam operasi WNI di Ukraina, kata Dedi, juga menunjukkan bahwa dengan profesionalitasnya, siap digerakkan dalam waktu singkat kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apapun.

“Sesuai dengan nama Bravo yang mempunyai pengertian terbaik menunjukkan tugas dapat diselesaikan dengan tuntas dan memberikan dharma bakti terbaik,” kata Dedi.


×