Patung yang menggambarkan suasana Observatorium Ulugh Beg pada masa jayanya. Raja Dinasti Timuriyah itu membawa Samarkand ke era kemajuan. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

24 Apr 2022, 07:17 WIB

Ulugh Beg dan Julukan Sang Pangeran Bintang

Hasil riset yang dilakukan Ulugh Beg tidak berbeda jauh dengan data modern.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Dalam peradaban Islam, para saintis Muslim mendorong perkembangan ilmu falak. Sumbangsih mereka turut membuka jalan bagi astronomi modern. Salah seorang perintis disiplin keilmuan tersebut adalah Ulugh Beg.

Uniknya, penyusun kitab tabel perbintangan Zij-I Sultani itu tidak sekadar ilmuwan, melainkan juga pemimpin politik. Ia lahir sebagai seorang bangsawan Dinasti Timuriyah, kerajaan yang berjaya di Asia tengah pada kurun abad ke-14 dan 15. Walaupun cukup singkat, cucu Timur Lenk itu pernah memimpin negeri tersebut pada 1447-1449 usai perebutan kekuasaan dengan sesama elite.

Tokoh yang lahir dengan nama Mirza Muhammad Taraghay itu merupakan gubernur Transoxiana atau Bilad Ma Waraa an-Nahr (harfiah: daerah antara dua sungai) yang berpusat di Kota Samarkand. Ia mengemban jabatan itu ketika bapaknya, Shah Rukh, menjadi raja Timuriyah pada 1405-1447.

Seperti sang ayah, Ulugh Beg sangat mendukung tumbuhnya ekosistem intelektual. Pada 1420, ia mendirikan pusat pengamatan astronomi di Samarkand. Observatorium Ulugh Beg, demikian namanya, merupakan lembaga riset falak terbesar dan terbaik di seluruh dunia pada masanya.

photo
Patung-diri Ulugh Beg di Samarkand, Uzbekistan. Penguasa yang hidup pada abad ke-15 itu juga merupakan ilmuwan yang cemerlang. - (dok pixahive)

Konon, kompleks penelitian itu dibangunnya untuk menandingi kehebatan Observatorium Maragha di Azerbaijan timur, yang pernah dikunjungi sang gubernur Transoxiana tatkala dirinya masih anak-anak. Kompleks Observatorium Ulugh Beg terdiri atas beberapa struktur. Bangunan utamanya berbentuk bundar.

Area di sana yang menjadi tempat pengamatan benda-benda langit berupa setengah bola besar. Diameternya sekira 46 meter dan terdiri atas tiga lantai. Totalnya mencapai ketinggian 30 meter dari permukaan tanah.

Pada saat berdiri, bangunan Observatorium Ulugh Beg memiliki dekorasi yang indah dan megah. Temboknya berlapiskan marmer. Lantainya berhiaskan mosaik yang berkilauan. Inilah salah satu bukti pencapaian arsitektur terbaik pada masa Wangsa Timuriyah.

Keindahan berbanding lurus dengan kecanggihan. Sumbu yang menghubungkan titik utara dan selatan bangunan utama tersebut ditempati sekstan raksasa dengan radius 40 meter. Alat yang dipakai untuk mengukur sudut astronomis itu tergolong canggih pada masanya.

Sebagian skala instrumen tersebut berada di celah panjang, yang menyerupai lorong bawah tanah dengan lebar 70 sentimeter. Tiap benda itu diarahkan untuk mengambil sudut satu derajat, peneliti dapat membaca posisi matahari atau benda-benda langit lainnya dengan presisi yang tinggi.

photo
Celah yang dahulu menjadi tempat adanya sekstan raksasa. Dahulu, sisi kiri dan kanan lengkung itu dilapisi marmer dan dekorasi indah. - (DOK WIKIPEDIA)

Para ilmuwan yang mengabdi di sana tentunya tidak hanya mengandalkan alat tersebut. Masih banyak instrumen lainnya yang dipakai mereka. Sebut saja, astrolab, kuadran, dan sudut paralatik. Hasil penelitian mereka dicatat dalam naskah-naskah yang tersimpan rapi di perpustakaan Samarkand. Karya yang lebih sistematis dihadirkan dalam bentuk tabel astronomi yang dinamakan zij.

Nama itu diambil dari bahasa Persia yang berarti ‘tali’ atau ‘benang.’ Istilah zij, yang dimaknai sebagai ‘bagan’, merujuk pada susunan benang dalam kegiatan menenun, tetapi polanya cenderung seragam. Hasilnya seolah-olah menampilkan bentuk baris dan kolom, seakan-akan tabel yang siap diisi data.

Pada abad pertengahan, para astronom Muslim memanfaatkan data dari zij untuk melakukan hisab atau perhitungan sebelum menentukan awal dan akhir bulan kamariah. Alat itu juga dipakai guna memprediksi kedatangan gerhana atau juga memastikan arah kiblat.

Dari Observatorium Ulugh Beg, zij yang dihasilkan ialah Zij-I Sultani. Bagan itu memuat profil tidak kurang dari 994 bintang gemintang. Bahkan, katalog astronomi tersebut mengoreksi kekeliruan yang muncul pada pelbagai zij sebelumnya, seperti yang dibuat Ptolemeus, ahli perbintangan Romawi kuno.

Ulugh Beg mengangkat gurunya sendiri, Shalahuddin Musa bin Mahmud Qadiza Rumi, sebagai direktur observatorium besar yang dibangunnya di Samarkand itu. Ia juga menunjuk beberapa murid terbaiknya di Madrasah Samarkand selaku asistennya. Di antara mereka adalah Ali Qusyci, yang sukses meneliti rotasi bumi.

photo
Observatorium Ulugh Beg kini menjadi Museum Ulugh Beg di Samarkand, Uzbekistan. - (DOK Islamic Architecture Heritage)

Sayangnya, Observatorium Ulugh Beg tidak bertahan lama. Pusat riset ilmu falak itu turut menjadi sasaran amuk massa pada 1449. Kala itu, Samarkand dilanda kerusuhan yang dipicu agitasi dari para lawan politik Ulugh Beg. Secara ironis, raja kelima Dinasti Timuriyah itu ditangkap putra sulungnya sendiri, Abdul Latif, yang berambisi-buta kekuasaan. Bahkan, nyawanya tuntas di tangan orang suruhan anaknya itu.

Barulah ratusan tahun kemudian, tepatnya pada 1908 sisa-sisa Observatorium Ulugh Beg direstorasi para arkelog. Hingga kini, reruntuhan bangunan tersebut hanya tertinggal bagian fondasi dan galian yang dahulu menjadi tempat sekstan raksasa.

Pada 1970, pemerintah Kota Samarkand mendirikan Museum Ulugh Beg untuk merawat legasi ulama yang umara itu. Otoritas setempat juga menampilkan replika alat-alat astronomi yang pernah dipakai para ahli falak pada masa itu.

Meskipun berakhir tragis, Observatorium Ulugh Beg memiliki reputasi yang tak lekang oleh zaman. Lembaga itu diketahui masih menjadi rujukan bagi pembangunan pelbagai pusat pengamatan bintang-bintang di berbagai belahan dunia. Misalnya, Observatorium Uraniborg di Pulau Hven, Swedia (dahulu bagian dari Kerajaan Denmark), serta Observatorium Stierneborg yang berada di sebelahnya.

Keduanya berdiri pada pertengahan abad ke-16. Bukan hanya segi tampilan fisik. Peralatan dan sistem kerja yang berlaku di sana pun meniru institusi yang dibina sang astronom Muslim.

Peranan Ulugh Beg dalam memajukan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, diakui luas hingga era modern. Sejarah membuktikan, dirinya sukses menjadikan Samarkand sebagai “Baghdad Jilid Dua” pada masa menjelang senjakala Abad Keemasan Islam. Di sanalah berkumpul para cendekiawan dan ulama dari pelbagai penjuru dunia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains.

Kekaguman terhadap sang raja Timuriyah juga diungkapkan para ilmuwan Barat. Jean-Pierre Luminet, seorang ahli astrofisika asal Prancis, menggelari Ulugh Beg sebagai “Pangeran Bintang Gemintang.” Sebab, dalam penilaiannya, tokoh Muslim tersebut meletakkan fondasi bagi astronomi modern, termasuk yang dikembangkan oleh para saintis Eropa.

 
Pada 1830, seorang astronom Jerman Johann Heinrich von Madler dalam karyanya yang memetakan permukaan bulan, menamakan sebuah kawah di satelit bumi itu dengan nama Ulugh Beg.
 
 

Pada 1830, seorang astronom Jerman Johann Heinrich von Madler dalam karyanya yang memetakan permukaan bulan, menamakan sebuah kawah di satelit bumi itu dengan nama Ulugh Beg. Pada 1977, astronom Rusia Nikolai Chernykh juga menamakan sebuah asteroid dengan nama sang sultan.

Bahkan, baru-baru ini pada 2021 para arkeolog berhasil menemukan sebuah fosil hewan purba atau dinosaurus di Uzbekistan. Mereka memberikannya nama Ulughbegsaurus, sebagai bentuk perhormatan kepada pemimpin Timuriyah itu.

Apresiasi terhadap reputasi Ulugh Beg agaknya tidaklah berlebihan. Sebab, saintis Muslim tersebut pada masanya telah melakukan dan mendukung riset besar-besaran mengenai benda-benda langit. Hasilnya bahkan amat mendekati nilai yang ditemukan melalui penelitian modern dengan pelbagai instrumen yang tentunya jauh lebih canggih.

Misalnya, posisi dan orbit sejumlah planet yang diukur dari jaraknya dengan bumi. Alain Juhel dalam artikelnya yang terbit di jurnal The Mathematical Intelligencer (2007), merangkum catatan Ulugh Beg pada Zij-I Sultani.

Sang ilmuwan Muslim menemukan letak planet-planet berikut berdasarkan pengamatannya di observatorium yang dibangunnya di Samarkand abad ke-15: Saturnus/Zuhal (12 derajat 13’ 39’’), Jupiter/Mustary (30 derajat 20’ 34’’), Mars/Mirikh (191 derajat 17’ 15’’), Venus/Juhal (224 derajat 17’ 32’’), dan Merkurius/Attorid (53 derajat 43’ 13’’).

Bandingkanlah itu dengan data yang ditemukan para astronom modern masa kini: Saturnus (12 derajat 13’ 36’’), Jupiter (30 derajat 20’ 31’’), Mars (191 derajat 17’ 10’’), Venus (224 derajat 17’ 30’’), dan Merkurius (53 derajat 43’ 3’’). Sungguh sangat tipis perbedaan di antara keduanya.

Ulugh Beg juga memperhitungkan bahwa satu tahun terdiri atas 365 hari, 5 jam, 49 menit, dan 15 detik. Kalkulasi itu cukup akurat bila dibandingkan dengan temuan para ilmuwan modern.

 
Ulugh Beg juga memperhitungkan bahwa satu tahun terdiri atas 365 hari, 5 jam, 49 menit, dan 15 detik.
 
 

Zij-I Sultani menjadi bacaan wajib bagi para pemerhati bintang gemintang. Begitulah keadaannya bahkan sesudah Dinasti Timuriyah meredup dan tergantikan Dinasti Turki Utsmaniyah. Perpustakaan di kota-kota besar Islam, semisal Kairo, Damaskus, dan Konstantinopel (Istanbul), memiliki berbagai salinan kitab tersebut.

Benua Biru juga ikut tercerahkan oleh karya yang adalah hasil pengamatan Muslimin di Observatorium Ulugh Beg itu. Kitab tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-17. Sekira dua ratus tahun kemudian, edisinya dalam bahasa Prancis diterbitkan. Kemudian, terjemahan bahasa Inggris dipublikasi pada tahun 1917.

Di Tanah Air, seorang alim yang terinspirasi oleh Ulugh Beg adalah KH Muhammad Mansur. Ulama Betawi yang wafat pada 1967 itu merupakan salah satu pakar ilmu falak kebanggaan Indonesia.

Berdasarkan pembacaannya atas Zij-I Sultani, sosok yang akrab disapa Guru Mansur Jembatan Lima itu menyusun kitab falakiah yang monumental, yaitu Sullam an-Nayyirain fi Ma’rifati Ijtima’i wal Kusufain. Selain itu, ia juga menulis Khulasah al-Jadawil. Demikian keterangan dari Rakhmad Zailani Kiki dalam artikelnya, “Dua Hilal di Langit Betawi” (2011).

 

photo
Lukisan Ulugh Beg dan para muridnya. Tidak hanya observatorium, madrasah pun didirikannya untuk menunjang peradaban Islam di Samarkand. - (DOK PIXABAY)

Pencinta Puisi, Matematikawan Ulung

Tatkala memimpin Samarkand, Ulugh Beg tidak menyia-nyiakan kekuasaan dan waktu untuk mengembalikan wajah intelektualisme di kota tersebut. Ia mendirikan Madrasah di dekat alun-alun (registan) setempat.

Kompleks itu merupakan pusat studi yang menyerupai universitas modern. Di dalamnya, generasi muda ditempa dengan pelbagai ilmu pengetahuan dan sains. Bahkan, sang pangeran Timuriyah turut andil mengajari mereka.

VV Barthold dalam buku Four Studies on the History of Central Asia (1963) mengatakan, Ulugh Beg sejak muda sudah jatuh cinta pada dunia ilmu dan sastra. Memang, pada akhirnya cucu Timur Lenk itu mencurahkan perhatiannya yang begitu besar untuk perkembangan astronomi.

Namun, seperti dicatat dalam pelbagai biografi tentangnya, putra Shah Rukh itu juga menulis bait-bait syair pada waktu luangnya. Ia pun menggemari musik yang baginya adalah “matematika yang bisa didengar".

Kepakaran dalam bidang ilmu falak tentunya ditunjang dengan kepiawaiannya berhitung. Kajian matematika yang digelutinya mengenai trigonometri, yakni ilmu ukur mengenai sudut dan sempadan segitiga.

Dalam karyanya, Zij-I Sultani, Ulugh Beg menuliskan tabel sinus dan tangen yang begitu perinci. Di sana, ia memberikan gambaran dengan tingkat akurasi yang tinggi hingga delapan angka desimal. Kalkulasi yang dibuat dalam determinasi sinus itu digunakannya untuk menyelesaikan persamaan kubik dengan metode numerik.

Dalam perhitungannya, Ulugh Beg mendapati bahwa sin 1 = 0,017452406437283571. Adapun perkiraan yang benar adalah sin 1 = 0,017452406437283512820. Perhitungan sin yang ia dapatkan menunjukkan bahwa sang Pangeran Bintang—demikian julukannya—memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.

 
Perhitungan sin yang ia dapatkan menunjukkan bahwa sang Pangeran Bintang—demikian julukannya—memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.
 
 

Kehebatannya di dunia sains ternyata berbanding terbalik dengan kemampuannya berpolitik. Sesudah ayahnya wafat, Dinasti Timuriyah sempat terseret arus perebutan kekuasaan di kalangan elite. Ulugh Beg bertarung melawan keponakannya, Ala al-Daulah, untuk mengamankan takhta. Dalam sebuah pertempuran di Murghab, ia berhasil menang.

Namun, sisa-sisa pasukan al-Daulah tetap bergeming. Mereka bagaikan duri dalam daging semasa pemerintahan Ulugh Beg selaku raja baru Timuriyah. Saudara kandung al-Daulah, Abul Qasim, lantas memimpin pemberontakan.

Sebenarnya, Ulugh Beg dapat mengatasinya kalau riak-riak perpecahan tidak timbul dari lingkar terdekatnya. Tak disangka, putranya sendiri yakni Abdul Latif berbalik menentangnya.

Kedua kubu bapak dan anak itu berperang di tepi Sungai Amu Darya. Sempat mundur teratur ke Samarkand, Ulugh Beg akhirnya menyerah. Sang umara yang ulama itu lalu dibunuh oleh orang suruhan anaknya.


Ulugh Beg, Negarawan yang Ilmuwan

Ulugh Beg merupakan seorang penguasa dan sekaligus saintis yang cemerlang.

SELENGKAPNYA

Ummu Haram: Salehah di Darat, Syahidah di Laut

Ummu Haram meminta didoakan oleh Rasulullah agar bergabung dengan pasukan Muslim.

SELENGKAPNYA
×