Patung-diri Ulugh Beg di Samarkand, Uzbekistan. Penguasa yang hidup pada abad ke-15 itu juga merupakan ilmuwan yang cemerlang. | dok pixahive

Tema Utama

24 Apr 2022, 07:02 WIB

Ulugh Beg, Negarawan yang Ilmuwan

Ulugh Beg merupakan seorang penguasa dan sekaligus saintis yang cemerlang.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Abad ke-15 M, Dinasti Islam Timuriyah berjaya di Asia tengah. Pemimpinnnya, Ulugh Beg, bukan sekadar raja, tetapi juga saintis yang brilian. Namanya diabadikan menjadi kawah di bulan.

 

Di bawah pemerintahan Dinasti Timuriyah, Samarkand berkembang menjadi pusat keunggulan sains dan ilmu pengetahuan. Kota yang kini termasuk wilayah negara Uzbekistan itu bagaikan permata pada abad ke-15 Masehi. Kaum intelektual dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke sana, baik secara sukarela maupun “terpaksa".

Keterpaksaan mereka itu merupakan imbas dari gaya kepemimpinan sang pendiri Dinasti Timuriyah, Timur Lenk. Selama 35 tahun memimpin, ia telah menaklukkan berbagai daulah Islam di Asia tengah dan Asia barat. Di satu sisi, penguasa yang berdarah Mongol itu sering kali bertindak di luar batas kemanusiaan terhadap penduduk daerah-daerah yang didudukinya.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 24 April 2022. Ulugh Beg, Negarawan yang Ilmuwan. - (Islam Digest/Republika)

Namun, di sisi lain kebijakannya yang ditujukan kepada kelompok ulama, cendekiawan, sarjana, dan seniman setempat cenderung berbeda. Alih-alih dihabisi, mereka “hanya” diminta untuk hijrah ke Samarkand.

Bila tidak mau, kaum terpelajar itu akan dipaksanya agar bersedia. Begitulah cara Timur Lenk menjadikan ibu kota kerajaannya ramai dengan pelbagai aktivitas keilmuan dan seni.

Hingga wafatnya pada awal tahun 1405, raja tersebut telah menguasai seluruh Asia tengah, Iran, Irak, sisi barat Anatolia, serta sebagian wilayah Kaukasus dan Afghanistan. Sesudahnya, Timuriyah sempat jatuh ke dalam kemelut politik. Penyebabnya adalah perebutan kekuasaan antar-elite.

Seorang bangsawan yang berhasil mengembalikan geliat intelektualisme di Timuriyah, khususnya Samarkand, adalah Ulugh Beg. Cucu Timur Lenk itu menjadi penguasa setelah mengalahkan keponakannya, Ala al-Daulah, dalam sebuah pertempuran di Murghab. Konflik itu terjadi usai kematian Shah Rukh, ayahanda Ulugh Beg, yang juga raja keempat Dinasti Timuriyah.

Pada masa bapaknya dahulu, Herat berstatus ibu kota. Sementara itu, Ulugh Beg sendiri menjabat gubernur kawasan Transoxiana yang berpusat di Samarkand. Kematian Shah Rukh kemudian memuluskan jalannya untuk menjadi penguasa tunggal seluruh Kerajaan Timuriyah.

 
Walaupun pendukung Ala al-Daulah terus merongrong pemerintahannya, Ulugh Beg tetap berfokus membangun negeri.
 
 

 

Walaupun pendukung Ala al-Daulah terus merongrong pemerintahannya, Ulugh Beg tetap berfokus membangun negeri. Sebagai seorang yang terdidik, ia memiliki cita-cita besar yang melampaui sekadar kemenangan atas lawan-lawan politiknya.

Visinya adalah menakhodai kemajuan peradaban Islam. Pemimpin yang telah berusia paruh baya itu tidak mau menyia-nyiakan legasi leluhurnya, yang telah mengumpulkan banyak kaum terpelajar dari negeri-negeri taklukan ke Samarkand.

Ulgh Beg pun tampil tidak hanya sebagai raja, melainkan juga saintis. Di luar kesibukannya memimpin negara, ia mencurahkan perhatiannya pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan astronomi.

Dunia mengenangnya melalui pelbagai karya tulis dan bangunan yang didirikannya demi kepentingan riset ilmiah. Ambil contoh, observatorium yang didirikannya di Samarkand merupakan yang terbesar pada masa itu. Dari sana, pelbagai penemuan penting dihasilkan.

Cinta ilmu

VV Barthold dalam buku Four Studies on the History of Central Asia (1963) menjelaskan, Ulugh Beg lahir dengan nama Mirza Muhammad Taraghay pada 1394 di Sultaniya—kini termasuk wilayah Provinsi Zanjan, Iran. Kelahirannya bertepatan dengan waktu ekspedisi militer yang dilakukan kakeknya, Timur Lenk, di daerah Persia.

Ayahnya adalah Shah Rukh, pangeran yang saat itu berusia 17 tahun. Adapun ibundanya merupakan seorang putri ningrat yang bernama Gauhar Shad. Dari kedua orang tuanya itu, ia mewarisi darah Mongol. Akan tetapi, seperti banyak keturunan Jenghis Khan yang menguasai Asia tengah, mereka secara budaya mengikuti orang-orang Turki.

Kabar lahirnya Muhammad Taraghay kemudian sampai ke telinga Timur Lenk. Sebagai luapan rasa gembira, pemimpin Dinasti Timuriyah itu membebaskan penduduk Persia di daerah yang sedang ditaklukkannya dari rencana eksekusi mati. Bahkan, mereka tidak diwajibkan membayar pajak atau uang tebusan.

photo
Samarkand mencapai masa keemasan sejak dipimpin Timur Lenk. - (DOK FLICK)

Saat masih berusia anak-anak, Taraghay bersama dengan sejumlah saudara tiri sempat tinggal beberapa tahun lamanya di istana musim dingin Timur Lenk di Qarabagh. Selama menetap di sana, putra Shah Rukh itu turut ambil bagian dalam berbagai kegiatan protokoler, semisal menyambut utusan negeri-negeri jiran.

Dalam masa itu, Taraghay lebih suka menghabiskan waktunya dengan belajar. Ia belum akil baligh tatkala Timur Lenk meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian, ayahnya berhasil mengatasi perlawanan lawan-lawan politik sehingga menjadi penguasa baru Timuriyah. Shah Rukh lantas memboyong keluarganya untuk hijrah ke Transoxiana. Kala itu, umur anak sulungnya masih 11 tahun.

Seiring dengan bertambahnya usia, Taraghay kian dihormati sebagaimana anak raja. Saat ia berumur 15 tahun, bapaknya memindahkan ibu kota ke Herat. Kemudian, ia diangkat menjadi gubernur Transoxiana yang berkedudukan di Samarkand. Daerah Transoxiana ketika itu dinamakan sebagai Negeri Antara Dua Sungai atau Bilad Ma Waraa an-Nahr. Sebab, letaknya secara geografis memang diapit Sungai Amu Darya dan Syr Darya.

Taraghay menyadari posisinya sebagai penguasa provinsi. Bagaimanapun, rasa cintanya saat itu lebih besar tercurah pada dunia ilmu, alih-alih politik. Lagipula, situasi Negeri Timuriyah kala itu cenderung stabil. Jarang terjadi perpecahan atau pemberontakan semasa bapaknya berkuasa. Maka putra Shah Rukh itu lebih berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas keilmuan.

 
Jarang terjadi perpecahan atau pemberontakan semasa bapaknya berkuasa. Maka putra Shah Rukh itu lebih berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas keilmuan.
 
 

 

Pemimpin muda itu belajar kepada banyak guru. Menurut Barthold, syekh pertama yang mengajarinya dasar-dasar keilmuan adalah Shalahuddin Musa bin Mahmud Qadiza Rumi. Tokoh tersebut dijuluki sebagai “Plato pada masanya” karena petuah-petuahnya yang bijaksana dan sarat perenungan filosofis.

Atas saran Qadiza, Taraghay kemudian menuntut ilmu kepada Ghiyath ad-Din Jamsyid bin Mas’ud. Alim dari Kota Kashan itu menekuni bidang matematika dan astronomi. Kuat dugaan, rasa cinta sang gubernur Transoxiana terhadap dua disiplin tersebut bermula dari didikan sang guru.

Namun, ada pula riwayat yang menyebutkan, kecintaan Taraghay alias Ulugh Beg tersebut berawal dari kunjungannya saat masih kecil ke Observatorium Maragha. Tempat penelitian itu berlokasi di Maragha, sebuah kota yang kini menjadi bagian Provinsi Azerbaijan Timur, Iran.

Di sana, terdapat banyak instrumen untuk mengamati dan menghitung peredaran benda-benda langit. Kala itu, observatorium tersebut dipimpin seorang saintis kenamaan, yakni Nashiruddin Tusi. Di kemudian hari, Ulugh Beg akan meminta bantuannya untuk membangun observatorium termegah di Samarkand.

Dirikan madrasah

Sebagai gubernur, Taraghay mendapatkan simpati dari masyarakat luas. Mereka merasa nyaman dipimpin seorang yang begitu mencurahkan perhatian pada pencerdasan umat. Sang pemimpin pun diberi gelar “Ulugh Beg". Dalam bahasa Turki, artinya adalah ‘pemimpin agung'. Belakangan, titel itu melekat seolah-olah menggantikan nama lahirnya.

Saat berusia 25 tahun, Ulugh Beg membangun institusi pendidikan yang begitu lengkap di Samarkand. Kompleks itu dinamakannya Madrasah Ulugh Beg. Secara arsitektur, bentuk bangunan tersebut menyerupai alun-alun atau registan kota setempat.

Jangan samakan istilah madrasah itu dengan yang dipahami orang-orang masa kini khususnya di Indonesia. Madrasah Ulugh Beg lebih menyerupai kampus modern yang terdiri atas beragam fakultas.

Di dalamnya, para guru mengajarkan ilmu-ilmu, baik yang bersifat ukhrawi-keislaman maupun umum. Tentunya, disiplin ilmu astronomi dan matematika diajarkan dengan baik di sana. Bahkan, Ulugh Beg sendiri merupakan salah seorang dosen setempat. Begitu unggulnya sistem pendidikan tersebut, sang gubernur kemudian membangun madrasah-madrasah serupa di Bukhara.

photo
ILUSTRASI Kawasan registan atau alun-alun di Samarkand. Kota ini sudah menjadi rebutan para kaisar dunia sejak abad ketiga sebelum Masehi. - (DOK WIKIPEDIA)

Ada banyak murid Ulugh Beg. Yang terkemuka di antara mereka adalah Alauddin Ali bin Muhammad. Antara guru dan murid tersebut begitu dekat. Dalam sebuah tulisannya, Ali mengisahkan bagaimana Ulugh Beg melakukan perhitungan astronomi yang rumit sembari menunggangi kuda.

Khususnya sesudah Observatorium Ulugh Beg berdiri, sosok yang akrab disebut Ali Qusyci itu turut andil dalam riset astronomi di Samarkand. Ia juga ikut menyumbang tulisan dalam ensiklopedi yang dihimpun gurunya, Zij-I Sultani.

Sebutan zij berarti kitab yang berisi katalog nama dan profil bintang-bintang yang diamati para ilmuwan Muslim. Zij-I Sultani termasuk istimewa karena berhasil mengoreksi kekeliruan pada berbagai zij yang muncul sebelumnya.

Salah satu hasil penelitian kolaboratif yang dilakukan Ali Qusyci membuktikan secara empiris rotasi bumi. Tentu, pencapaiannya itu terwujud berkat dukungan Ulugh Beg. Kelak ketika Dinasti Timuriyah akhirnya runtuh pada paruh kedua abad ke-15, Qusyi mengabdi pada Kesultanan Turki Utsmaniyah di Konstantinopel.

photo
Patung yang menggambarkan suasana Observatorium Ulugh Beg pada masa jayanya. Raja Dinasti Timuriyah itu membawa Samarkand ke era kemajuan. - (DOK WIKIPEDIA)

Pengamat langit

Kontribusi Ulugh Beg bagi perkembangan ilmu pengetahuan tidaklah setengah-setengah. Begitu menjadi penguasa di Transoxiana, ia secara bertahap membangun pelbagai fasilitas riset dan studi sains. Salah satunya yang paling masyhur adalah Observatorium Samarkand.

Observatorium Ulugh Beg berdiri pada 1420. Konon, sang gubernur Transoxiana mendirikan pusat penelitian astronomi itu karena terkesan akan Observatorium Maragha yang disambanginya kala masih belia. Karena itu, dalam membangun infrastruktur ini ia meminta bantuan sainstis utama Maragha, yakni Nashiruddin Tusi.

Pada masanya, itulah observatorium terbesar di seluruh dunia. Di sanalah para pengamat langit—termasuk Ulugh Beg sendiri—melakukan ragam penelitian. Mereka menyiapkan tabel-tabel astronomi matahari, bulan, dan planet-planet lain yang telah diamati dengan tingkat kecermatan tinggi.

Level akurasinya tidak berbeda jauh dengan hasil pengamatan astronom modern yang memakai berbagai teleskop canggih masa kini. Sampai abad ke-18, Observatorium Ulugh Beg masih merupakan sebuah institusi yang dihormati oleh kalangan pakar.


×