CEO Fath Institute, Ustaz Amir Faishol Fath. | DOK REP Putra M Akbar

Hiwar

24 Apr 2022, 04:58 WIB

Ustaz Amir Faishol Fath, Raih Berkah Bulan Alquran

Tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan, ia seperti tidak kebagian apa-apa.

Para ulama menggelari Ramadhan sebagai Syahr al-Qur’an. Predikat tersebut tidak hanya berarti bahwa Alquran diturunkan pada bulan nan suci ini. Dengan sebutan itu, mereka mengajak umat Islam untuk sebaik mungkin meningkatkan interaksi dengan Kitabullah.

Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi, Bogor, Jawa Barat, Ustaz Amir Faishol Fath, mengatakan, kemuliaan Ramadhan tidak terlepas dari Alquran. Ia pun mengimbau kaum Muslimin untuk berlomba-lomba membaca, mengkhatamkan, menghafal, serta merenungi ayat-ayat suci.

“Disebut Syahr al-Qur’an karena Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran,” ujar ahli ilmu tafsir Alquran itu.

Menurut Ustaz Amir, kesempatan di sepanjang bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan setiap Muslim untuk bisa lebih bersahabat dengan Alquran. Dai kelahiran Pulau Madura itu mengingatkan, salah satu rukun iman adalah mempercayai kitab-kitab Allah. Salah satunya adalah Alquran.

Lantas, bagaimana cara membuktikan keimanan terhadap Alquran? Lebih jauh lagi, bagaimana meraih keberkahan selama Ramadhan dengan Alquran? Kaitannya dengan malam Lailatul Qadar seperti apakah? Untuk menjawabnya, berikut wawancara yang dilakukan wartawan Republika, Muhyiddin, bersama dengan pemimpin lembaga Fath Institute of Islamic Research ini, beberapa waktu lalu.

Bagaimana pendapat Anda mengenai predikat Ramadhan sebagai Syahr al-Qur’an?

Ya, bulan suci Ramadhan disebut sebagai Syahr al-Qur’an. Sebab, Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 185, “Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur'aan.” Artinya, “Bulan Ramadan adalah yang di dalamnya diturunkan Alquran.”

Nah, menariknya, di dalam Alquran ketika menyebut tentang puasa Allah tidak memakai kata Ramadhan. Allah hanya menggunakan at-ta'rif, yang menunjukkan makna definitif bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah puasa Ramadhan.

Di situ, Allah cukup berfirman, “Kutiba 'alaikumush shiyam.” Namun, ketika Allah menyebutkan kata Alquran, langsung disebut-Nya Ramadhan, yaitu ayat ke-185 dari surah al-Baqarah.

Apa makna di balik perbedaan itu?

Ya, mengapa yang satu menggunakan kata Ramadhan dan yang lainnya tidak? Sebab, kalau puasa (wajib) semua orang sudah mengetahui bahwa pasti maksudnya adalah puasa Ramadhan. Namun, banyak orang yang tidak tahu bahwa Ramadhan adalah bulan Alquran.

Maka, seharusnya pada saat berpuasa otomatis seorang Mukmin mendekatkan diri dan bersahabat dengan Alquran. Jadi, pada bulan Ramadhan jangan hanya berpuasa. Sebab, seperti ditegaskan dalam firman-Nya, justru saat Ramadhan kita bisa meraih keberkahan dan meningkatkan rasa syukur ketika memperbanyak baca Alquran.

Itulah mengapa, pada penutup surah al-Baqarah ayat 185 Allah menyebutkan, “Wala ‘allakum tasykuruun.” Artinya, ‘agar kamu (Mukminin) bersyukur.’ Berarti, seorang dianggap mensyukuri nikmat Ramadhan ketika ia bersama Alquran. Inilah salah satu makna Ramadhan sebagai Syahr al-Qur’an.

Kesimpulannya, Ramadhan disebut Syahr al-Qur’an karena di dalamnya permulaan Alquran diturunkan. Kemudian, Ramadhan juga menjadi mulia karena Alquran. Seandainya Allah tidak menurunkan Alquran pada Ramadhan, maka bulan tersebut tidak akan semulia ini.

Apa saja bentuk kedekatan seorang Muslim dengan Alquran selama Ramadhan ini?

Ada beragam. Tentunya, salah satunya adalah ketika seorang Muslim mengkhatamkan Alquran. Saya kira, dengan begitu ia sebenarnya baru saja menjalankan salah satu kewajiban di antara sekian banyak (kewajiban) sebagai konsekuensi imannya kepada Alquran.

Kita tahu, rukun iman itu ada enam perkara. Di antaranya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Nah, di antara kitab Allah itu adalah Alquran.

Bagaimana konkretnya pembuktian iman itu?

Cara membuktikan iman kepada Alquran itu ada lima hal. Pertama adalah tilawah atau membaca. Kedua, al-hafzu yakni menghafal. Ketiga, al-fahmu, memahami. Keempat, al-amal yaitu mengamalkan pesannya. Yang kelima adalah ad-dakwah, yaitu mengajak orang kepada Alquran.

Jadi, membaca itu adalah salah satu dari kewajiban untuk membuktikan imannya seseorang kepada Alquran. Paham atau tidak paham, ketika ia membaca Alquran, otomatis akan langsung dihitung sebagai ibadah. Seperti disampaikan Nabi SAW, pembaca Alquran akan mendapatkan pahala per huruf (yang dibaca).

Jadi, itulah rahasia ibadah membaca Alquran. Dengan membacanya saja, itu sudah menjadi sesuatu yang sangat sakral, utamanya sebagai ibadah pada bulan Ramadhan ini. Makanya, para ulama, baik yang sibuk mengajar, memberi tahu kepada murid-muridnya untuk berhenti mengajar ketika sudah datang Bulan Alquran atau bulan Ramadhan.

Mereka meminta izin supaya bisa fokus kepada Alquran. Makanya, tidak heran kalau ada riwayat yang menyebutkan, Imam Syafii mengkhatam Alquran sebanyak 60 kali setiap Ramadhan.

Jadi, seperti itulah para ulama dahulu. Mereka benar-benar bersahabat dengan Alquran. Mereka fokus kepada ibadah tilawah atau membacanya. Adapun ibadah memahami atau mendalaminya itu biasanya banyak dilakukan di luar Ramadhan.

Apa saja hikmah tadabur Alquran?

Bagi orang yang sudah belajar bahasa Arab, mengerti ilmu tafsir dan fikih, maka setiap ia membaca Alquran otomatis juga akan melakukan tadabur. Maka, semakin ia banyak membaca Alquran, kian banyak pula mendapatkan ilmu baru. Aquran ajaibnya di situ.

Saya mengatakan ini bukan karena saya sudah selevel ulama. Namun, saya sering belajar ilmu tafsir Alquran. Saya itu setiap membaca satu halaman juga selalu menemukan hal baru dari Alquran. Menemukan makna baru yang belum pernah disadari saya sebelumnya.

Jadi, ketika membaca ayat-ayat tentang Ramadhan, misalnya, saya sebenarnya sudah membaca berkali-kali semua tafsirnya. Namun, saya selalu menemukan makna baru yang belum pernah saya temukan di tafsir.

Misalnya, ketika saya membaca surah al-Baqarah ayat 183 sampai 187 tentang Ramadhan. Saya menemukan, ternyata ini satu paket. Jadi, ayat ke-183 itu dibuka dengan “Kutiba ‘alaikumush shiyaam” dan ditutup dengan “La ‘allakum tattaquun.” Penutup ayatnya adalah tentang iktikaf, yang ditutup dengan “La ‘allakum yattaquun.”

Jadi, kegiatan puncak Ramadhan itu sebetulnya adalah iktikaf. Itu sudah satu paket dari Allah. Nah, inilah yang tidak pernah dibahas dalam umumnya buku-buku tafsir. Selama ini, yang dibahas hanyalah tentang “Kutiba ‘alaikumush shiyaam.”

Menurut Anda, apa tafsiran tentang iktikaf pada penutup ayat tentang Ramadhan itu?

Setelah saya merenungkan betapa indahnya Ramadhan, lalu mengapa iktikaf dibahas pada bagian penutup (ayat)? Sebab, berarti memang pada praktiknya Nabi Muhammad SAW pada 10 malam terakhir Ramadhan itu beriktikaf. Nabi SAW seumur hidupnya selalu beriktikaf pada bulan Ramadhan. Pada tahun Nabi SAW wafat, beliau juga beriktikaf 20 hari lamanya.

Ini yang belum pernah saya temukan di buku-buku tafsir manapun. Ini benar-benar dari hasil tadabur tadi, dan subhanallah ternyata iktikaf merupakan acara puncak Ramadhan. Makanya, Allah langsung tutup (ayat itu) dengan “La ‘allakum yattaquun,”yaitu agar kamu (Mukminin) mencapai puncak takwa.

Inilah yang namanya tadabur. Kita tidak sekadar membaca Alquran, tetapi juga mengulang-ulang pencarian makna dalam Alquran.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam juga selalu memperingati Nuzulul Qur’an. Apa saja nasihat Anda mengenai hal ini?

Tanggal turunnya Alquran memang menurut keterangan yang masyhur itu terjadi pada 17 Ramadhan. Sekalipun demikian, banyak kemudian pendapat-pendapat lain. Lalu, tanggal itu dihubungkan dengan turunnya Alquran pada Malam Lailatul Qadar.

Dari hasil penelitian saya dari melakukan tarjih, Alquran memang turun dua kali. Pertama, turun sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Itu terjadi pada malam Lailatul Qadar. Inilah makna ayat surah al-Qadr, “Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr.”

Adapun turunnya Alquran secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW, yang dimulai dengan surah al-Alaq ayat satu hingga lima itu, terjadi pada 17 Ramadhan. Setelah itu, kemudian turun surah al-Qalam. Giliran yang ketiga, turun surah al-Muzzammil. Adapun yang keempat adalah surah al-Muddassir.

Maka saya ingin mengajak teman-teman untuk mencoba merenungi proses turunnya Alquran ini. Perhatikan, ketika pertama kali diturunkan ada perintah untuk mencari ilmu, yaitu “Iqra’.” Kemudian, turun surah al-Qalam (menulis) yang menunjukkan bahwa ilmu itu harus ditulis.

Setelah itu, Allah kemudian menurunkan surah al-Muzzammil, yang mengandung perintah untuk qiyamul lail atau shalat malam. Setelah itu, barulah kemudian Allah turunkan surah al-Muddassir, yaitu perintah untuk berdakwah.

Adakah konsekuensi untuk seorang Muslim yang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan?

Ketika Allah berfirman, “Syahru Ramadhaanalladziii unzila fiihil Qur'aan,” maka Dia mengisyaratkan bahwa kemuliaan Ramadhan disebabkan oleh Alquran. Maka, ketika seseorang tidak membaca Alquran pada bulan Ramadhan, ia seperti tidak kebagian apa-apa selama bulan suci kecuali rasa lapar dan haus.

Karena itu, jika ingin puasanya lebih bermakna, harus bersama Alquran. Ketika seseorang bersama Alquran selama Ramadhan, ia telah bersungguh-sungguh memuliakan Ramadhan dengan Alquran. Itu sekaligus pula memuliakan dirinya sendiri sebagai ahlul Qur’an. Ia akan kebagian indahnya Ramadhan bersama Alquran.

Makanya ketika Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat ke-185, di situ Allah menutup ayatnya dengan  “Wala ‘allakum tasykuruun,” yaitu agar engkau (Mukminin) bersyukur. Jadi, seakan-akan Allah mengatakan bahwa kalau engkau ingin mensyukuri nikmat Ramadhan, bersahabatlah dengan Alquran.

Bahkan, berdasarkan hasil tadabur saya, malam Lailatul Qadar berkaitan dengan Alquran, yaitu “Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr.” Berarti, kalau kita ingin mendapatkan Lailatul Qadar, jangan lepas dari Alquran.

Maka, hendaklah kita menjadi ahlul Qur’an. Dalam hadis, dikatakan bahwa orang-orang atau keluarga yang bersama Alquran adalah istimewa dalam pandangan Allah. Mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan bonus Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar. Itulah hasil tadabur yang saya dapatkan. Semoga Allah memberkahi.

photo
Menurut Ustaz Amir Faishol Fath (tengah), Ramadhan merupakan momen utama bagi umat untuk meningkatkan interaksi dengan Alquran. - (DOK REP Putra M Akbar)

Ulama Ajarkan Khataman Tiga Kali

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Hadis itu rupanya menjadi prinsip hidup Ustaz Amir Faishol Fath. Keseharian dai tersebut tidak terlepas dari tadabur Alquran.

Menurut mubaligh kelahiran Pulau Madura itu, salah satu kenikmatan hidup adalah memiliki waktu untuk banyak-banyak membaca Alquran. Lebih lezat lagi apabila tadarus itu dilakukan dalam perjalanan dakwah.

“Sebelumnya, saya ke Bali, kemudian ke Yogyakarta, dan sekarang ke Depok. Alhamdulillah, saya setiap hari, baik di mobil atau pesawat dan lain-lain, selalu membaca Alquran semampunya supaya saya enggak putus (dengan Alquran --Red),” ujar Ustaz Amir kepada Republika, baru-baru ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan kini pakar ilmu tafsir itu memiliki agenda dakwah yang cukup padat. Namun, ia selalu menyempatkan waktu untuk mengaji. Ustaz Amir menargetkan dirinya dapat khatam Alquran sebanyak tiga kali. “Dan itu yang diajarkan oleh para ulama,” ucap CEO Fath Institute tersebut.

Ia menuturkan, pada zaman salaf terdapat ulama yang menamatkan bacaan Alquran sebanyak tiga kali. Lantas, seorang murid bertanya, mengapa khatam sebanyak itu. Sang alim pun menjawab, khatam Alquran yang pertama diperuntukkan bagi almarhum ayahnya. Khataman kedua untuk almarhum ibunya. Adapun yang terakhir untuk dirinya sendiri.

“Alhamdulillah di Ramadhan ini sesibuk apa pun saya juga berusaha mencapai seperti itu,” ucapnya.

Ustaz yang akrab disapa Abi Amir ini lahir di Sumenep, pada tahun 1967. Pernah mondok di Pesantren al-Amien Prenduan, Madura. Pendidikan tinggi ditempuhnya di International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan. Dari sana pula dirinya berhasil meraih gelar doktor bidang tafsir Alquran. Hingga tahun 2004, dirinya mengajar di kampus almamaternya itu.

Sejak 2005, Ustaz Abi Amir kembali ke Indonesia. Sempat menjadi dosen Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah, ia kemudian mengajar di STID Dirosat Islamiyah al-Hikmah Jakarta.

Selain sibuk berdakwah, pada Ramadhan tahun ini Ustaz Amir juga disibukkan dengan mengisi perkuliahan serta menulis karya di berbagai jurnal ataupun media massa. Pengasuh Pondok Pesantren Fath Sukawangi Bogor itu juga rutin membimbing para santrinya, khususnya dalam pengajian kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali.

“Karena kitab itu berisi pendidikan akhlak untuk membangun pribadi yang saleh dalam beribadah kepada Allah,” jelasnya.


Meningkatkan Syukur

Sebagai seorang Muslim, meningkatkan syukur adalah sebuah keharusan.

SELENGKAPNYA

Ummu Haram: Salehah di Darat, Syahidah di Laut

Ummu Haram meminta didoakan oleh Rasulullah agar bergabung dengan pasukan Muslim.

SELENGKAPNYA

Palestina Melawan Israel

Konflik Israel-Palestina akan terus terjadi selama AS dan UE menerapkan standar ganda dalam memperlakukan bangsa Palestina.

SELENGKAPNYA
×