ILUSTRASI Bangunan Madrasah Ulugh Beg di Samarkand. Dalam sejarah Islam, Kota Samarkand termasuk mercusuar peradaban yang gemilang. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

17 Apr 2022, 10:04 WIB

Samarkand Era Gemilang

Kota Samarkand menjadi pusat kekuasaan Dinasti Timuriyah pada abad silam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Pada 1333 Masehi atau sekira 732 Hijriyah, Ibnu Battuta mengunjungi Samarkand. Dalam catatan petualang asal Maroko itu, daerah tersebut digambarkannya sebagai “salah satu kota terbaik dan terbesar” di dunia Islam.

Bahkan, sang penulis Ar-Rihlah menganggap, kota yang terletak di kawasan Transoxiana, Asia tengah, itu adalah “yang terkemuka di antara mereka semua".

Pujian Ibnu Battuta bukan tanpa alasan. Sejak awal abad ke-14, Samarkand semakin menjadi kota yang sangat berbudaya dan makmur. Keadaannya jauh membaik apabila dibandingkan dengan kondisi pada 100 tahun sebelumnya, terutama usai diserbu balatentara Mongol yang dipimpin Temujin alias Jenghis Khan.

Waktu itu, dasawarsa awal abad ke-13, Samarkand menjadi bagian dari wilayah Khawarizma. Raja dinasti tersebut, Shah Muhammad II, memancing permusuhan bangsa Mongol dengan jalan membunuh para duta Jenghis Khan. Tak disangkanya, pasukan dari Asia timur itu sangat banyak dan kuat. Serbuan mereka tidak hanya menghabisi nyawa Shah Muhammad sendiri, tetapi juga seluruh riwayat Dinasti Khawarizma.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 17 April 2022. Telusur Sejarah Kota Samarkand. - (Islam Digest/Republika)

Pada era Jenghis Khan, rakyat Samarkand umumnya hidup terkekang. Sang khan agung menempatkan orang-orang dari luar kota tersebut untuk memimpin penduduk setempat. Mayoritas Muslim dibatasi hak-haknya dalam mengelola lahan pertanian.

Pada Agustus 1227, Jenghis Khan tutup usia. Sepeninggalannya, wilayah kekaisaran Mongol dibagi-bagi kepada keempat putranya. Asia tengah menjadi jatah bagi si anak sulung, Chaghadai. Ia termasuk kalangan elite Mongol yang terpengaruh budaya Turki. Mayoritas rakyatnya di Asia tengah memang berasal dari suku bangsa tersebut.

Antara permulaan dan medio abad ke-14, Samarkand terus berbenah. Kota tersebut semakin meneguhkan perannya sebagai salah satu simpul perdagangan yang sibuk di Jalur Sutra—rute komersiil yang menghubungkan antara Cina, India, Asia barat, dan Eropa. Bagaimanapun, kondisinya tidak steril dari pengaruh konflik politik dan bahkan militer yang melanda para pemimpin Mongol.

Pada dekade awal abad ke-14, wilayah yang diwarisi Chaghadai Khan terbelah menjadi dua, yakni horde barat dan timur. Antara tahun 1331 dan 1334, horde Chaghadai barat dipimpin Tarmashirin. Semula, raja tersebut beragama Buddha. Setelah memeluk Islam, namanya berganti menjadi Alauddin. Tidak ada keterangan yang pasti tentang alasannya berislam.

Lawan-lawan politiknya menuduh Tarmashirin alias Alauddin sudah terlalu hanyut dalam budaya Turki sehingga meninggalkan Mongol. Raja yang mualaf itu kemudian dibunuh keponakannya sendiri. Selama beberapa puluh tahun, horde Chaghadai barat tenggelam dalam kekacauan.

Pada 1361, horde Chaghadai timur mulai bersiap-siap. Negeri yang juga disebut sebagai Moghulistan --Moghul adalah penamaan Persia untuk ‘Mongol’—itu hendak menyerbu jirannya.

Pemimpinnya, Tughluq Timur, lantas berhasil memimpin pasukan dalam jumlah besar hingga wilayah Transoxiana. Ia tidak menemui perlawanan yang berarti sehingga mudah menguasai kawasan tersebut. Sejak saat itu, horde Chaghadai secara keseluruhan kembali bersatu di bawah sosok penguasa tunggal.

Dua tahun kemudian, Tughluq Timur meninggal dunia dalam keadaan Muslim. Dengan wafatnya raja Moghulistan tersebut, kelabilan politik kembali terjadi. Pada saat itulah, naik sosok pemimpin militer yang berdarah Turki, tetapi mengangkat panji-panji bangsa Mongol. Dialah Timur Lenk.

photo
Samarkand mencapai masa keemasan sejak dipimpin Timur Lenk. - (DOK FLICK)

Wangsa Timurid

Nama timur dalam bahasa Turki Chaghadai berarti ‘besi'. Adapun lenk bermakna ‘pincang'. Jenderal militer kelahiran tahun 1336 itu dinamakan Timur Lenk atau ‘Timur Si Pincang'.

Tidak ada penjelasan yang pasti perihal disabilitas fisik ini. Sebuah sumber menyatakan, kaki kiri lelaki itu memang tidak normal sejak lahir. Ada pula yang menyebut, ia mengalami luka parah pada kakinya saat sedang menggembala ternak ketika masih anak-anak.

Keluarganya berdarah Mongol, tetapi sangat condong secara kultural pada budaya Turki. Timur Lenk lahir di kawasan Transoxiana. Ayahnya, Taragai, mengepalai Suku Barlas, yang masih tergolong bangsa Mongol Muslim.

Oleh bapaknya, ia dididik untuk mengenal Alquran dan dasar-dasar agama Islam. Pada masa itu, pribadinya disebutkan ramah dan mudah bersimpati.

Meskipun cerdas, dunia kesarjanaan ternyata kurang menarik perhatiannya. Timur memilih berkarier di ranah militer. Ia pun bergabung dengan pasukan penguasa lokal, Amir Husein. Kemampuannya yang cakap membuatnya cukup mudah menapaki jenjang demi jenjang. Akhirnya, ia menjadi pemimpin tentara yang disegani.

Wilayah Transoxiana menjadi incaran Moghulistan. Sekitar tahun 1360, daerah tersebut akhirnya diserang Tughluq. Timur Lenk yang semula berpihak pada penguasa lokal, berbalik haluan menjadi pendukung raja Moghulistan tersebut. Hal itu terjadi setelah Tughluq berjanji akan mengangkatnya sebagai gubernur Transoxiana sesudah aneksasi usai.

Namun, Tughluq sempat berkhianat dengan menempatkan putranya sendiri, Ilyas Khoja, sebagai penguasa di Transoxiana. Bersama dengan para pendukungnya, Timur Lenk berhasil menghalau balatentara Ilyas Khoja. Pada 1363, Tughluq wafat. Timur Lenk perlahan-lahan naik sebagai penguasa de facto di kawasan tersebut.

 
Selama 35 tahun memimpin, Timur merebut berbagai wilayah di sekitar Laut Kaspia, lembah Sungai Ural dan Volga. Seluruh Persia hingga kawasan Irak utara dan bahkan Baghdad.
 
 

Selama beberapa tahun, ia berupaya mewujudkan stabilitas politik dengan pelbagai strategi. Bukan hanya mengatasi pengaruh Ilyas Khoja, tetapi juga Amir Husein. Setelah berhasil mengambil alih Negeri Chaghadai, ia mendeklarasikan berdirinya dinasti baru, yakni Timurid atau Timuriyah. Pada 1370, Samarkand ditetapkannya sebagai ibu kota kerajaan.

KZ Ashrafyan dalam artikelnya, “Central Asia under Timur from 1370 to the Early 15th Century” mengatakan, Timur dipandang luas saat itu sebagai pelindung syariat sekaligus pemimpin militer yang ditakuti. Ia menjuluki dirinya sendiri Syaifullah atau ‘pedang Allah'.

Selama 35 tahun memimpin, Timur berhasil merebut berbagai wilayah di sekitar Laut Kaspia, lembah Sungai Ural dan Volga. Seluruh Persia hingga kawasan Irak utara dan bahkan Baghdad berhasil dikendalikannya. Di sisi timur, ia berhasil menduduki daerah hingga perbatasan Pegunungan Hindu Kush.

Tidak jauh berbeda dengan para tokoh militer Mongol, Timur Lenk menerapkan taktik yang kejam. Sebagai contoh, serbuannya atas Isfahan. Rakyat setempat dan penguasa lokal enggan menyerahkan pajak pada Samarkand. Maka kota tersebut diserbunya. Sekira 200 ribu warga tempatan dibantainya.

photo
ILUSTRASI Dinasti Timuriyah mengawali fase Kota Samarkand sebagai pusat peradaban Islam. - (DOK PIXABAY)

Masa keemasan

Bagaimanapun bengisnya, Timur Lenk cukup visioner dengan tidak gegabah dalam menyapu suatu daerah. Saat melakukan penyerbuan, ia menghindari tindakan apa pun yang berpotensi merusak tempat-tempat ibadah serta pusat-pusat keilmuan, termasuk madrasah dan perpustakaan.

Kemudian, warga lokal yang berasal dari kalangan ulama, cendekiawan, ilmuwan, dan seniman dibiarkannya hidup. Mereka lantas diajak atau dipaksa hijrah ke ibu kota, yakni Samarkand. Dengan begitu, Timur menjadikan pusat kerajaannya bergeliat dengan pelbagai aktivitas keilmuan dan seni.

Semasa hidupnya, sang penakluk menjadi patron banyak ilmuwan dan seniman terkemuka. Sebut saja, sejarawan Ibnu Khaldun dan penyair Persia, Hafez. Kelak, para penerus takhta Dinasti Timuriyah juga mengikuti jejaknya dalam mendukung kemajuan sains dan seni di Samarkand.

Di antara mereka adalah Ulugh Beg, yang berkuasa pada periode 1411-1449. Cucu Timur Lenk itu berkontribusi besar bagi perkembangan astronomi serta ilmu matematika, khususnya pencarian tentang trigonometri. Pada masanya, terjadi pendirian banyak madrasah di Samarkand dan Bukhara.

 
Ulugh Begh berkontribusi besar bagi perkembangan astronomi serta ilmu matematika, khususnya pencarian tentang trigonometri. Pada masanya, banyak madrasah di Samarkand dan Bukhara
 
 

Timur Lenk meninggal pada Februari 1405. Ia dan anak keturunannya berjasa besar, antara lain, dalam mengangkat kebudayaan Persia dan Turki dalam konteks peradaban Islam di Asia. Kedudukan bahasa Persia menjadi mirip bahasa Arab.

Apabila dahulu, pada era Umayyah dan Abbasiyah, Arab menjadi bahasa pemersatu, kini peran itu diambil bahasa Persia. Kalau pada masa silam mercusuar peradaban yang terkemuka adalah Baghdad, kini fungsinya dimiliki Samarkand dan kota-kota sekitar, termasuk Bukhara dan Merv.

 
Pada masa itu, pasar-pasar setempat menjadi titik temu pelbagai komoditas dari Cina, India, Nusantara, dan sebagainya. Beragam produk seperti kulit, linen, rempah-rempah, sutera, dan batu mulia.
 
 

Dalam periode duo-penguasa ini, Timur Lenk dan Ulugh Beg, Samarkand berkembang amat pesat. Hampir separuh aktivitas perdagangan di Asia berputar di kota tersebut. Pada masa itu, pasar-pasar setempat menjadi titik temu pelbagai komoditas dari Cina, India, Nusantara, dan sebagainya. Beragam produk seperti kulit, linen, rempah-rempah, sutera, dan batu mulia mudah ditemukan di sana.

Kemajuan juga ditandai dengan pembangunan banyak monumen dengan nuansa yang megah dan indah. Sebagai contoh, Gur e Amir, yakni bangunan besar yang dimaksudkan sebagai kompleks kuburan bagi jasad Timur Lenk.

Konstruksi dengan kubah setinggi 30 meter itu di kemudian hari memengaruhi gaya arsitektur khas Mughal, seperti tecermin pada kompleks Taj Mahal di Agra (India) serta Taman Babur di Kabul (Afghanistan).

 

Observatorium Nan Legendaris

Nama lengkapnya adalah Muhammad Taragai Ulugh Beg. Dialah penguasa Dinasti Timuriyah dalam periode antara tahun 1447 dan 1449. Namanya dikenang luas tidak hanya sebagai raja, tetapi juga ilmuwan.

Cucu Timur Lenk itu berhasil menjadikan ibu kota negerinya, Samarkand, sebagai pusat peradaban Islam yang maju pada masanya. Perhatiannya tercurah besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Bukan hanya memfasilitasi para cerdik cendekia, peneliti, dan sarjana yang berkiprah di Timuriyah. Dirinya juga terlibat langsung dalam beberapa riset, khususnya dalam bidang astronomi dan matematika.

Sosok yang namanya diabadikan menjadi salah satu kawah di bulan itu memang menampilkan diri sebagai umara yang ulama. Ia mendirikan banyak madrasah, perpustakaan, rumah sakit, dan laboratorium di wilayah kerajaannya, khususnya Samarkand.

Salah satu legasinya yang paling berkesan adalah observatorium. Di sanalah tempat para saintis mengamati benda-benda langit dengan bantuan alat-alat, semisal teleskop atau teropong besar.

photo
Sisa-sisa kompleks Observatorium Ulugh Beg. Pada masanya, observatorium itu merupakan yang terbesar di dunia. - (DOK WIKIPEDIA)

Observatorium Ulugh Beg berdiri di Samarkand pada 1420. Pembangunannya bermula dari sebuah kunjungan yang dilakukan sang raja Timuriyah ke Observatorium Maragha.

Bangunan yang berlokasi di Maragha—sekitar Provinsi Azerbaijan Timur, Iran, kini—tersebut kala itu dipimpin seorang ilmuwan Persia, Nashiruddin Tusi. Pada waktu itu, observatorium tersebut merupakan yang paling lengkap dan terkenal di seluruh Eurasia.

Sesudah lawatan itu, Ulugh Beg menjadi sangat bersemangat untuk mendirikan bangunan serupa di Samarkand. Untuk itu, ia mengundang puluhan ahli astronomi dan pakar matematika dari berbagai penjuru dunia. Mereka diminta untuk merancang sebuah observatorium yang lebih hebat dari kepunyaan Negeri Maragha.

Hasilnya sangat menakjubkan. Dengan dukungan Nashiruddin Tusi, pusat penelitian fenomena langit itu tidak hanya dilengkapi berbagai perlengkapan yang paling canggih pada masanya. Di sana, terdapat pula perpustakaan dengan koleksi yang meliputi ratusan ribu buku.

Dengan meriset di sana, Ulugh Beg menghasilkan banyak karya ilmiah. Di antaranya adalah Zij-I Sultani, yakni tabel astronomi yang memuat gambaran serta deskripsi sekitar seribu bintang, serta pelbagai benda langit lainnya. Kitab itu terbit pada tahun 1437 dalam bahasa Persia.

Hingga abad ke-18, Observatorium Ulugh Beg masih menjadi satu institusi yang dihormati oleh pakar astronomi dunia. Sayangnya, kompleks ilmu pengetahuan itu sempat dirusak pada 1449 oleh sebuah kerusuhan lokal.

Jauh kemudian, tepatnya pada 1908 bangunan itu ditemukan kembali. Kini, yang tersisa darinya “hanya” bagian fondasi dengan beberapa konstruksi yang masih tegak berdiri.


Telusur Sejarah Kota Samarkand

Samarkand dikuasai pelbagai dinasti sebelum mencapai masa keemasan.

SELENGKAPNYA

Mengenal Limfoma Hodgkin

Jangan abai bila menemukan benjolan di tubuh Anda.

SELENGKAPNYA

Rusia: Serangan Kiev Kian Gencar

Kapal berpandu rudal milik Rusia, Moskva, dilaporkan tenggelam, Kamis (14/4).

SELENGKAPNYA
×