Cover Islam Digest edisi 17 April 2022. Telusur Sejarah Kota Samarkand. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

17 Apr 2022, 09:43 WIB

Telusur Sejarah Kota Samarkand

Samarkand dikuasai pelbagai dinasti sebelum mencapai masa keemasan.

OLEH HASANUL RIZQA

Terletak di Asia Tengah, Samarkand adalah salah satu mercusuar peradaban Islam. Kejayaannya pernah menandingi Baghdad sebagai pusat sains dan ilmu pengetahuan.

Kota Permata di Asia Tengah

Wilayah Transoxiana membentang antara Sungai Amu Darya dan Syr Darya di Asia tengah. Lembah nan hijau itu memiliki riwayat yang panjang, setidaknya sejak abad ketujuh sebelum Masehi (SM). Di sanalah lokasi munculnya beberapa kebudayaan silih berganti.

Salah satu kota terpenting di kawasan Transoxiana adalah Samarkand. “Permata dari Timur”, demikian julukannya, adalah sebuah mercusuar peradaban Islam yang gemilang pada masa lalu.

Antara abad ke-14 dan 15 M, para penguasa Muslim setempat sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Kaum cendekiawan dan ilmuwan dari pelbagai penjuru dunia didatangkan ke sana untuk saling berkolaborasi.

photo
ILUSTRASI Bangunan Madrasah Ulugh Beg di Samarkand. Dalam sejarah Islam, Kota Samarkand termasuk mercusuar peradaban yang gemilang. - (DOK WIKIPEDIA)

Jauh sebelumnya, kota yang terletak di Uzbekistan selatan itu pernah menjadi bagian pelbagai imperium dunia. Pada 329 SM, Iskandar Agung (Alexander the Great) menaklukkan Samarkand. Kota itu kemudian dinamakannya Maracanda.

Ketika Iskandar Agung masih hidup, kebanyakan penduduk lokal mengalami penindasan. Hasil pertanian dan peternakan mereka sering kali dirampas oleh para tentara. Sesudah kematian kaisar Makedonia tersebut, kota itu sempat berkembang dengan pengaruh budaya Yunani. Masa ini dikenal sebagai periode Helenistik dalam sejarah Samarkand.

Pada 260 M, tanah subur itu jatuh ke tangan bangsa Persia. Kekaisaran Sasaniyah menjadikannya pusat penyebaran kepercayaan Manikheisme. Agama tersebut meyakini, alam semesta tidak dikendalikan oleh kekuatan yang tunggal, melainkan perseteruan antara yang baik dan buruk.

Masing-masing direpresentasikan oleh tuhan dan setan. Para pengikutnya menghindari banyak hal, seperti memakan daging, meminum anggur, dan hubungan intim—bahkan untuk alasan meneruskan keturunan.

Memasuki abad keempat, suku-suku nomadik kian menyingkirkan orang-orang Persia di Samarkand. Pada abad keenam, daerah tersebut dikuasai konfederasi etnis Turki, khususnya usai Perang Bukhara pada 560 M. Dalam masa itu, ajaran agama Kristen Nestorian juga mulai memasuki kota tersebut.  

Pada abad ketujuh, Samarkand menjadi kota yang cukup heterogen. Penduduknya terdiri atas beragam umat agama-agama, seperti Manikheisme, Buddha, Kristen, Yahudi, dan Majusi. Yang terakhir itu dipeluk mayoritas warga setempat. Hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, belum ada tanda-tanda syiar agama tauhid sampai ke sana.

 
Hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, belum ada tanda-tanda syiar agama tauhid sampai ke sana.
 
 

Samarkand memasuki babak baru ketika penguasa Bani Umayyah menaklukkan wilayah tersebut pada awal abad kedelapan. Tepatnya pada tahun 710, pasukan yang dipimpin Qutaybah bin Abi Shalih Muslim berhasil merebut kawasan Transoxiana itu dari tangan orang-orang Turki. Sejak saat itu, kota tersebut berada di bawah kekuasaan Islam.

Sebagai penguasa baru atas Samarkand, Dinasti Umayyah tidak memaksa penduduk lokal untuk memeluk Islam. Qutaybah membiarkan warga setempat dengan agama masing-masing. Mereka hanya diwajibkan untuk membayar pajak, yang pada praktiknya juga cenderung lebih longgar dikenakan.

Sang jenderal Muslim juga tidak mendatangkan orang-orang Arab dalam jumlah besar ke sana sehingga menyingkirkan penduduk tempatan. Kaum Arab yang sampai ke Samarkand umumnya adalah tentara. Mereka tinggal di benteng-benteng yang didirikan Umayyah di tepian Sungai Zarafshan.

Pemerintah pusat Kekhalifahan Umayyah di Damaskus menginstruksikan pendirian berbagai fasilitas publik di Samarkand, semisal masjid, madrasah, jalan-jalan, serta sistem irigasi. Perlahan namun pasti, penduduk lokal berangsur-angsur memeluk Islam. Hingga runtuhnya wangsa tersebut, mayoritas warga setempat adalah Muslim.

Kota kertas

Pada tahun 750, Bani Umayyah tumbang dan digantikan oleh Abbasiyah. Sentra kekhalifahan pun bergeser. Tidak lagi di pesisir Mediterania, tetapi menjadi lebih ke arah timur, yakni Irak. Negeri tersebut merupakan jiran Asia tengah sehingga, cepat atau lambat, Samarkand menjadi bagian penting dari daulah Islam secara keseluruhan.

Abu Muslim al-Khurasani merupakan tokoh militer yang turut membuka jalan bagi munculnya Kekhalifahan Abbasiyah. Sesudah Revolusi Abbasiyah sukses, sosok yang berdarah Persia itu kemudian tinggal di Samarkand. Dinding benteng yang mengelilingi kota tersebut dibangun atas instruksinya.

Antara bulan Mei dan September 751, Abbasiyah menghadapi ancaman dari negeri Cina, yaitu Dinasti Tang. Kedua belah pihak bertemu dalam Perang Talas. Pada akhirnya, kekhalifahan Islam berhasil memenangkan pertempuran itu.

photo
Kertas yang kita kenal sekarang merupakan hasil rintisan dari kebudayaan Cina, yang lantas diadopsi peradaban Islam. - (DOK Wikipedia)

Dampak kemenangan tersebut bukan hanya pada level politik, tetapi kebudayaan umumnya. Sebab, pasca-Perang Talas terjadilah transfer teknologi yang luar biasa besarnya.

Ceritanya bermula dari sejumlah tawanan Tang yang ditahan pasukan Muslim. Mereka ternyata pandai membuat kertas dari bahan bambu dan serat kayu. Begitu mendengar kabar keahlian para tawanan itu, penguasa Abbasiyah kemudian membebaskannya dengan syarat, mereka mengajarkan orang Islam tahap-tahap memproduksi kertas.

Sebelumnya, orang-orang Arab telah mengenal beberapa wujud naskah atau alas menulis. Sebut saja, papirus atau kulit hewan yang telah disamak. Akan tetapi, hasil kreasi bangsa Cina menghadirkan inovasi yang sama sekali baru pada masa itu. Kertas buatan mereka lebih halus dan awet.

photo
Cara peradaban Islam dalam mengadopsi teknik pembuatan kertas dari Cina menginspirasi hingga dunia modern. - (DOK WIKIPEDIA)

Berkat interaksi budaya dengan bangsa Cina, daulah Islam berhasil merintis pemakaian kertas secara masif. Raja Abbasiyah menjadikan Samarkand sebagai daerah pusat produksi kertas. Dari kota tersebut, kerajinan membuat kertas lambat laun menjadi industri.

Sempat ada kendala, yakni bahan baku bubur kertas sukar didapatkan. Pasokan bambu, kayu murbai (mulberry), dan cendana (sandalwood) tidak sebanyak ketika di Cina. Otoritas Samarkand pun memilih alternatif, yakni bahan baku semisal kain linen atau katun. Dengan begitu, produksi kertas secara besar-besaran memungkinkan terjadi.

 
Berkat interaksi budaya dengan bangsa Cina, daulah Islam berhasil merintis pemakaian kertas secara masif. Raja Abbasiyah menjadikan Samarkand sebagai daerah pusat produksi kertas.
 
 

Kuasa dinasti

Pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, Transoxiana memiliki seorang tokoh yang berpengaruh, yaitu Asad bin Saman. Putra Saman Khuda—bangsawan lokal yang akhirnya menjadi mualaf—tersebut cukup dekat dengan elite Baghdad. Bahkan, sang khalifah kemudian memberikannya sejumlah daerah kekuasaan di Asia tengah.

Wilayah yang diberikan Baghdad itu lantas dibagi-bagikan Asad kepada para putranya, yakni Nuh, Ahmad, Yahya, dan Ilyas. Keempatnya kemudian memerintah secara kolaboratif sepeninggalan bapak mereka. Sejak saat itu, dimulailah era Dinasti Samaniyah sebagai salah satu vasal di bawah Kekhalifahan Abbasiyah.

Samaniyah menjadikan Samarkand sebagai ibu kota. Hingga akhir abad ke-10, wangsa tersebut menghasilkan corak kebudayaan Islam-Sunni yang khas di sekujur Asia tengah. Bukan hanya Samarkand, kota-kota Islam lainnya juga bertumbuhan di wilayah kekuasaannya, semisal Bukhara, Nerv, Nishapur, serta Hulbuk.

Roman K Kovalev dalam artikelnya yang terbit pada Open Edition Journals (2019) menjelaskan, Samarkand era Samaniyah merupakan kota perniagaan internasional yang sibuk. Daerah tersebut menjadi salah satu simpul terpenting di sepanjang Jalur Sutra, yang menghubungkan antara Cina, India, Asia barat, dan Eropa.

 
Samarkand era Samaniyah menjadi salah satu simpul terpenting di sepanjang Jalur Sutra, yang menghubungkan antara Cina, India, Asia barat, dan Eropa.
 
 

Kota yang berjarak enam hari perjalanan darat dari Bukhara itu dihuni banyak orang. Menurut Kovalev, pada abad kesembilan jumlah penduduk setempat mencapai 500 ribu jiwa. Umumnya mereka bermata pencaharian sebagai pedagang. Tidak sedikit pula yang mengabdi di birokrasi atau menjadi tentara.

Abbasiyah menaruh perhatian besar pada perkembangan ekonomi Samarkand. Tidak mengherankan bila di kota berdiri tempat percetakan koin dirham resmi negara. Sejak saat itu, sirkulasi uang tidak lagi menemui kendala. Pasar-pasar bertumbuhan sehingga menambah pemasukan bagi Baghdad.

Sejak tahun 999, Samaniyah melemah. Pemerintahannya kemudian digantikan sejumlah dinasti secara berturut-turut. Mulanya, Wangsa Qarakhanid berkuasa sejak permulaan abad ke-11. Raja-rajanya berasal dari bangsa Turki yang mengalami islamisasi dari agama nenek moyangnya, tengrisme.

photo
ILUSTRASI Kawasan registan atau alun-alun di Samarkand. Kota ini sudah menjadi rebutan para kaisar dunia sejak abad ketiga sebelum Masehi. - (DOK WIKIPEDIA)

Sama seperti Samaniyah, para rajanya—yang disebut khan—menjadikan Samarkand sebagai pusat kekuasaan. Mereka juga menggenjot perekonomian kota tersebut yang sempat meredup akibat perang yang dikobarkan para elite politik era sebelumnya.

Tidak sampai satu abad, Qarakhanid pecah jadi dua, yakni belahan timur dan barat. Samarkand kemudian menjadi milik Qarakhanid Barat. Pemimpinnya, Ibrahim Tamgach Khan, membangun kota tersebut dengan pelbagai fasilitas umum yang mendukung peradaban Islam. Termasuk di antaranya adalah masjid jamik, madrasah, dan rumah sakit.

Sejak tahun 1210, Khwarizma berhasil mengakhiri riwayat Dinasti Qarakhanid. Meskipun berusia pendek, daulah Islam tersebut melanjutkan pembangunan pusat-pusat intelektual dan ekonomi di Asia tengah, Iran, dan Irak yang menjadi wilayah kekuasaannya. Berbeda dengan rezim-rezim sebelumnya, Samarkand kali ini tidak dijadikan sebagai ibu kota negeri.

photo
Patung Timur Leng di Asia tengah. Tokoh Muslim berdarah Turki ini menjadi pemimpin Mongol yang sangat disegani. - (DOK PIXABAY)

Khwarizma hanya bertahan selama satu dasawarsa. Pada 1220, dinasti tersebut diserbu balatentara Temujin alias Jenghis Khan. Serbuan bangsa Mongol itu mungkin saja tidak akan terjadi kalau raja Khwarizma menyambut ajakan diplomatik sang khan agung beberapa tahun sebelumnya.

Samarkand, Bukhara, dan Urgrench—ibu kota Khwarizma—hancur lebur disapu pasukan Temujin. Nyaris seluruh penduduknya dibantai dengan keji. Hingga abad ke-14, jantung kawasan Transoxiana itu belum bisa benar-benar pulih dari trauma yang ditimbulkan bangsa Mongol.

Bagaikan pohon tua, selama akarnya masih menancap dalam, maka kelak akan tumbuh membesar lagi. Itulah pula yang terjadi pada Samarkand. Kota tersebut akhirnya berkembang kembali dan bahkan mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Dinasti Timurid. Penguasanya, Timur Leng, merupakan orang Turki, tetapi memimpin dengan ketegasan militeristik bak bangsa Mongol.


Pameran Kaligrafi Jadi Syiar Lewat Seni

Seniman dari 26 negara mengikuti pameran kaligrafi di JIC pada 15-22 April.

SELENGKAPNYA

Lepas Subuh, Israel Kembali Serang Al-Aqsa

Sedikitnya 90 warga Palestina luka-luka akibat serangan militer Israel ke Masjid al-Aqsa.

SELENGKAPNYA

Rusia: Serangan Kiev Kian Gencar

Kapal berpandu rudal milik Rusia, Moskva, dilaporkan tenggelam, Kamis (14/4).

SELENGKAPNYA
×