IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika

Analisis

11 Apr 2022, 03:50 WIB

Kolak Sultan

Kenikmatan itu bisa datang dari kolak makanan pinggir jalan yang harganya tak seberapa.

OLEH IMAN SUGEMA

Selama Ramadhan ini kami selalu berbuka dengan kolak. Ragam kolak seperti labu, pisang, caruluk, dan biji salak sudah menjadi menu utama setiap Ramadhan.

Kebiasaan kami ini tentu tak jauh beda dengan keluarga lainnya. Kalau tak sempat bikin sendiri, tinggal beli di pinggir jalan saja. Harganya pun sangat terjangkau, Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per bungkus. Satu bungkus cukup untuk dimakan berdua orang dewasa.

Seperti biasa, kami makan berlima di atas meja makan. Saya, istri, dan tiga anak saling berbincang sambil menikmati santapan. Tak ada pembicaraan istimewa, hanya seputar makanan dan Zoom yang hari itu harus kami lalui.

Tapi pembicaraan kemudian berbelok ke pemberitaan di televisi. Ada beberapa ‘sultan’ yang ditangkap polisi terkait dugaan penipuan melalui platform digital. Para sultan jadi-jadian ini tak segan-segan memamerkan kekayaan yang luar biasa jumlahnya. Ada rumah besar, mobil sport yang sangat mahal, pakaian yang super mahal, dan lain sebagainya.

 
Yang jadi persoalan adalah pamer kekayaan tersebut digunakan untuk memancing korban dengan skala besar. 
 
 

Yang jadi persoalan adalah pamer kekayaan tersebut digunakan untuk memancing korban dengan skala besar. Dengan sengaja cerita sukses ‘auto sultan’ direkayasa untuk mengesankan bahwa untuk jadi kaya itu mudah. Tinggal follow saja mereka. Otomatis nggak nyampe setahun Anda sudah menjadi miliarder atau triliuner.

Cerita orang ingin cepat kaya dengan cara yang mudah bukanlah fenomena baru. Dulu, orang pelihara tuyul atau babi ngepet untuk bisa kaya mendadak. Beberapa tahun lalu banyak orang tertipu dengan investasi di kebun dan instrumen keuangan yang menjanjikan hasil ratusan persen.

Ada juga yang pernah silau dengan penggandaan uang berjubah keagamaan. Kalau dulu yang jadi tuyul itu adalah makhluk halus, sekarang tuyulnya itu adalah algoritma komputer.

Intinya sih sama saja. Masih banyak dari kita yang tergiur dengan penghasilan yang tak mungkin kita capai dengan bekerja keras sekalipun. Tinggal ongkang-ongkang kaki. Duit datang sendiri, dikumpulkan oleh si tuyul.

Lalu bermimpi bisa foya-foya, naik mobil mewah, naik jet pribadi keliling dunia dan sebagainya. Crazy rich jadi impian yang betul-betul bikin orang jadi gila alias gelap mata.

Bercita-cita jadi orang kaya adalah hal lumrah. Tapi mimpi di siang bolong berharap kaya mendadak dalam sekejap, Anda harus siap-siap ditertawakan orang. Orang yang sok jadi sultan itu memamerkan kekayaan dengan maksud agar Anda masuk perangkap mereka.

 
Bercita-cita jadi orang kaya adalah hal lumrah. Tapi mimpi di siang bolong berharap kaya mendadak dalam sekejap, Anda harus siap-siap ditertawakan orang. 
 
 

Satu dua kali Anda dibiarkan mendapatkan keuntungan supaya Anda semakin bernafsu. Selanjutnya, tuyul algoritma disiapkan untuk menggerogoti duit Anda secara tidak sadar. Begitu anda rugi besar, baru di situlah Anda menyadari sudah tertipu. Uang ludes, mimpi pun hilang.

Yang dimanfaatkan oleh para tuyul algoritma itu adalah psikologi orang yang selalu tergesa-gesa ingin kaya. Dalam bisnis yang normal, tidak ada rumus kaya mendadak.  Kalau ada cara super kilat menjadi kaya, mana ada orang yang mau kerja atau berbisnis. Teman saya bilang, if it is too good to be true, then it is not true. Untuk apa kita percaya kepada hal yang tidak mungkin terjadi?

Di tengah pembicaraan mengenai sultan ini, tiba-tiba si bontot yang berusia sepuluh tahun nyeletuk: "Nih aku sudah jadi sultan." "Emang kenapa nak?" tanyaku.

Dia dengan santainya menjawab: "Ini nih kolak sultan banget." Dan kami semeja, tertawa semua. Dasar anak kecil. Semua makanan yang menurut dia enak disebut makanan sultan. Tak peduli apakah itu mahal atau murah.

Alhamdulillah, ya Allah, kami sudah diingatkan dengan kolak yang super nikmat ini. Di kala berpuasa menahan lapar dan dahaga seharian, akhirnya kami mendapat kenikmatan luar biasa dari kolak biji salak. Makanan sederhana, tetapi rasa sultan.

Hari ini kami mendapatkan pelajaran luar biasa dari puasa yang seharian kami jalani. Kenikmatan itu bisa datang dari makanan pinggir jalan yang harganya tak seberapa. Kenikmatan bisa datang dari seteguk air ketika haus. Kenikmatan luar biasa juga bisa timbul dari satu biji kurma. Itulah esensi kenikmatan berbuka.

 
Untuk mendapatkan kenikmatan bukan terletak pada jumlah emas bergunung-gunung yang Anda miliki.
 
 

Untuk mendapatkan kenikmatan bukan terletak pada jumlah emas bergunung-gunung yang Anda miliki. Bukan pada makanan, pakaian atau benda-benda mahal. Kenikmatan itu terletak pada cara kita mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Kalau sesuap kolak biji salak kita syukuri, maka itulah kenikmatan tertinggi yang kita dapatkan saat itu. Tak peduli apakah saat itu kita sedang berada di rumah mewah dengan makanan yang berlimpah atau sedang berbuka hanya dengan kolak itu saja. Kolak itu menjadi kolak sultan, ketika kita memaknainya sebagai makanan yang penuh kenikmatan.

Dari peristiwa ini saya baru sadar bahwa kenikmatan itu ada di mana-mana dan bagi siapa saja. Saya baru saja sadar bahwa nikmat itu bisa didapatkan oleh siapa pun, baik itu yang berpendapatan rendah, menengah atau super kaya sekalipun.

Nilai kenikmatan terletak pada cara mensyukuri nikmat itu sendiri. Bisa jadi, teman-teman kita yang bergaya sok sultan malah sedang mencari-cari kenikmatan yang tak kunjung mereka peroleh. Kalau kita masih bermimpi untuk mendapatkan kenikmatan yang tak kunjung kita peroleh, bukankah itu berarti kita tidak pernah mengalami nikmat?

Lantas nikmat apa lagi yang kita dustakan? 


Erick, Pesantren, dan Ekonomi Islam

Maka, pertemuan dan “penyatuan” itu membuka peluang pada aksi ekonomi Islam selanjutnya.

SELENGKAPNYA

Shaum dan Kemanusiaan

Berbagi kebahagiaan dengan sesama memegang peran penting dalam visi kemanusiaan.

SELENGKAPNYA

'Terbit Paling Bertanggung Jawab di Kasus Kerangkeng Manusia

Penyidik menetapkan Terbit sebagai tersangka dalam kasus kerangkeng manusia.

SELENGKAPNYA
×