Petani memilah biji kopi di Gunung Betung, Bandar Lampung, Lampung, Rabu (16/3/2022). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa dalam 10 tahun terakhir, industri kopi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifika | ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Teraju

10 Apr 2022, 06:00 WIB

'Raja' Tumbang karena Hama

Kopi Indonesia pernah merajai pasar dunia di masa lalu. Menyerah karena karat daun.

OLEH SIWI TRI PUJI B

Merebut kembali kejayaan masa lalu sebagai produsen kopi nomor satu di dunia, mungkinkah? Pertanyaan ini menyeruak dalam diskusi "Indonesia dalam Pusaran Arus Industri Kopi Dunia", sekaligus peluncuran buku Absolute Coffee karya peneliti kopi Prawoto Indarto, pertengahan bulan lalu.

Jauh sebelum kopi Brasil dan Vietnam mendominasi pasar kopi dunia, Indonesia adalah rajanya. Kopi terbaik yang membanjiri pasar Eropa semua berasal dari Jawa. Tak heran di masa lalu, Java menjadi nama lain kopi kualitas nomor satu.

“Banyak yang tidak menyadari bahwa pulau Jawa memiliki peran dominan penyebaran awal kopi arabika varietas L.typica ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke benua Amerika dan wilayah di kepulauan Karibia,” jelas Prawoto. Sekitar lima per enam perkebunan kopi dunia menggunakan benih kopi yang dikembangkan di pulau Jawa.

Jawa ada dalam pusaran utama industri kopi dunia sejak awal. Gubernur Belanda di Malabar (India) mengirimkan bibit kopi arabika (Coffea arabica) dari Yaman kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta ) pada tahun 1696. Bibit pertama gagal karena banjir di Batavia. Pengiriman bibit kedua dikalukan pada tahun 1699. Tanaman tumbuh dengan bagus, dan pada tahun 1711 ekspor pertama dikirim dari Jawa ke Eropa oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda, mencapai 2000 pon yang dikirim pada tahun 1717.

 

Pada kurun itu, sekitar 90 persen perdagangan kopi di Amsterdam pada tahun 1726 berasal dari pulau Jawa. Tak hanya itu, setengah dari tiga perempat peredaran kopi dunia juga berasal dari Jawa.

Kopi yang tiba di Amsterdam dijual dengan harga tinggi. Kopi bersama komoditas lain dikirim ke Eropa dari pelabuhan Batavia (sekarang Jakarta ). Pada abad ke-18, kopi Jawa dijual seharga 3 gulden per kilogram, setara dengan beberapa ratus dolar AS per kilogram saat ini. Indonesia adalah pemasok kopi terpenting di dunia selama periode ini dan baru pada tahun 1840-an kopi Brasil mulai masuk ke pasar kopi dunia.

Perdagangan kopi sangat menguntungkan bagi VOC, dan bagi pemerintah Hindia Belanda yang menggantikannya pada tahun 1800. Namun hasilnya tak dinikmati para petani Indonesia yang dipaksa menanamnya dari tahun 1830 hingga sekitar tahun 1870 di bawah sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel.

Kopi, bersama dengan gula dan nila, adalah salah satu tanaman utama yang diproduksi di bawah sistem kolonial yang sangat eksploitatif ini. Cultuurstelsel diaplikasikan pada kopi di wilayah Preanger (Jawa Barat), serta di Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan wilayah Minahasa (Sulawesi Utara). Sistem korup ini diabadikan melalui sebuah novel berpengaruh karya Eduard Douwes Dekker (nama penanya Multatuli ) pada tahun 1860 berjudul Max Havelaar.

Pada pertengahan tahun 1870-an Hindia Belanda memperluas daerah penanaman kopi arabika di Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Timor. Di Sulawesi kopi diperkirakan ditanam sekitar tahun 1850. Di dataran tinggi Sumatera Utara kopi pertama kali ditanam di dekat Danau Toba pada tahun 1888, disusul di dataran tinggi Gayo (Aceh) dekat Danau Laut Tawar pada tahun 1924. 

photo
Petani memilah biji kopi di Gunung Betung, Bandar Lampung, Lampung, Rabu (16/3/2022). - (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Namun, bencana melanda pada tahun 1876, ketika penyakit karat kopi, Hemileia vastatrix memusnahkan sebagian besar kultivar Arabika Typica. Jawa, pada kurun itu, kehilangan potensi ekspor sebanyak 120 ribu ton. Pedagang panik, rantai pasok kopi dunia pun terguncang.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengambil langkah mendatangkan kopi liberika sebagai pengganti arabika pada Oktober 1876. Tanaman liberika yang berasal dari Republik Liberia, pantai Barat Afrika, itu diuji tanam di Kebun Raya Bogor. Tapi uji coba dan penggalakan penanaman kopi Liberika tak berlangsung lama karena faktor rendeman yang rendah. Kopi liberika gagal berkembang di Indonesia.

Pada 10 Juni 1900, pemerintah Hindia Belanda kembali mendatangkan varietas baru: kopi robusta (Coffea canephora). Kopi ini didatangkan dari L’Horticole Coloniale milik Belgia yang membuka kebun di Kongo, Afrika. Bibit tanaman kopi dari Belgia itu dikirim ke Jawa dengan kapal SS Gedeh milik Amsterdam Lloyd. Bibit itu sampai di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 10 September 1900.

Dari 150 bibit, kata Prawoto, tujuh bibit mati. Setelah berhasil diuji coba di dua balai penelitian itu, bibit robusta ditanam di tiga perkebunan kopi di tenggara Malang: Sumber Agung, Kali Bakar, dan Wringin Anom. "Hasil uji coba menyebutkan robusta aman dan layak sebagai pengganti arabica dan liberika di Indonesia," tulis Prawoto.

photo
Dampak Kopi pada Ekonomi Dunia - (Mint)

Daerah bernama Harjokuncaran dan Bangelan, kata Prawoto merupakan episentrum pengembangan benih tanaman kopi robusta pertama kali di Indonesia. "Hasil uji coba tanaman kopi robusta di balai penelitian di dua tempat itu telah mengubah arah industri kopi Indonesia, dari produsen kopi arabika menjadi produsen robusta dunia," kata Prawoto. Dua balai penelitian itu adalah Proefstation Midden en Ost Java yang dilakukan oleh Dr A.J. Ultee di Harjokuncaran dan Governement Proeftuin Bangelan, Malang.

Dimana kopi robusta pertama dibudidayakan? "Malang, tempat yang sekarang lebih dikenal sebagai Kota Apel," kata Prawoto.  Perkebunan kopi sebelumnya telah ada di sana sejak 1832. Afdeling (wilayah administratif setingkat kabupaten) Malang pernah menjadi penghasil kopi arabika terbesar di Jawa Timur: menghasilkan 143 ribu pikul kopi atau 10 kali dari Besuki (Banyuwangi dan Jember).

Samual Cramer dalam buku A Review of Literature of Coffee Research di Indonesia (1957), menyatakan keberhasilan uji coba itu menggerakkan pembukaan perkebunan-perkebunan baru. Di Jawa, hasil produksi kopi robusta meningkat pesat dari sekitar 650 ton pada 1909 menjadi 25 ribu ton pada 1915 dan 44 ribu ton pada 1916. Sejak itu sebagian besar tanaman kopi di Hindia Belanda didominasi kopi robusta.

 

photo
Pekerja mendinginkan biji kopi usai proses penyangraian di salah satu tempat produksi bubuk kopi Rumoh Aceh di Desa Miruek, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Aceh, Senin (21/2/2022). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.)

Dari riwayat ini, kata Prawoto, Malang menjadi titik penting dalam mata rantai sejarah perjalanan kopi Indonesia. "Makanya, menjadi sangat ironis, ketika saya datang ke Harjokuncaran, petani kopi di sana masih mengeluhkan sulitnya mengurus indikasi geografis produk mereka. Padahal di tempat itu kopi robusta pertama berhasil diuji coba di Indonesia, kemudian berkembang ke mana-mana," ucapnya. "Malang adalah ibu kota kopi robusta Indonesia."

Kembali ke pertanyaan mungkinkah merebut kejayaan masa lalu sebagai produsen nomor satu kopi dunia? Tentu sangat mungkin, katanya, asal semua pemangku kepentingan bekerja sama mewujudkannya. ***

Berkaca dari Vietnam 

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa Vietnam saat ini adalah produsen kopi terbesar kedua di dunia dan pengekspor kopi robusta nomor satu di dunia. Dengan melihat fakta bahwa 40 persen kopi yang diproduksi di dunia adalah robusta, maka posisi Vietnam dalam rantai pasok kopi dunia sangat diperhitungkan. 

Vietnam adalah salah satu negara pertama yang menanam dan mengkomersialkan kopi secara terencana. Diperkenalkan oleh pendeta Kristen Prancis pada tahun 1800-an, negara ini mengembangkan beberapa perkebunan kopi yang sangat besar pada waktu itu. Awalnya, varietas arabika yang dibudidayakan, antara lain bourbon dan catuai. Pada tahun 1908, kopi robusta diperkenalkan dan ditanam di daerah pegunungan yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja.

photo
Produsen Kopi Dunia - (Mint)

Selain karet, kopi menjadi komoditas pertanian utama dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian negara. Namun, perang saudara berkepanjangan di abad ke-20 berdampak negatif terhadap perekonomian, termasuk komoditas kopi. Semua sumber daya dialokasikan kembali untuk melayani upaya perang. 

Ketika perang Vietnam berakhir pada tahun 1975, negara ini menemukan bahwa kebijakan ekonomi yang disalin dari Uni Soviet tidak membantu apa pun. Pertanian kolektif terbukti menjadi bencana. 

Pada tahun 1986 Partai Komunis putar haluan dengan menempatkan pertaruhan besar di sekor perkebunan: kembali menitikberatkan pada kopi.Produksi kopi kemudian tumbuh antara 20 hingga 30 persen setiap tahun pada 1990-an. Industri ini sekarang mempekerjakan sekitar 2,6 juta orang, dengan kopi ditanam di setengah juta kebun plasma masing-masing dua hingga tiga hektar. 

Langkah ini terbukti di kemudian hari mengubah ekonomi Vietnam. Pada tahun 1994 sekitar 60 persen orang Vietnam hidup di bawah garis kemiskinan, sekarang kurang dari 10 persen. Orang Vietnam memang meminumnya - terkadang dengan susu kental, atau dalam cappuccino yang dibuat dengan telur - tetapi sebagian besar ditanam sebagai tanaman ekspor.

photo
Anggota komunitas kedai kopi menyeduh kopi untuk dibagikan secara gratis kepada pedagang saat perayaan Hari Kopi Nasional di Pasar Rakyat Klojen, Malang, Jawa Timur, Jumat (11/3/2022). - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.)

Kini Vietnam memproduksi lebih dari 1,6 juta metrik ton kopi per tahun. Ini adalah dua pertiga dari produksi Brasil – yang adalah 2,5 juta metrik ton – dan dua kali lipat dari saingan ketiganya, Kolombia. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Vietnam menjadi pengekspor kopi robusta terbesar di dunia. 

Produksi tumbuh 20 sampai 30 persen pada 1990-an dan masih terus berkembang saat ini. Industri kopi Vietnam mempekerjakan hampir 3 juta orang dan membantu setengah juta petani mendapatkan keuntungan mereka di lahan kecil, satu hingga tiga hektar. 

Sementara sejumlah besar warga Vietnam kini mencari nafkah dari kopi, beberapa menjadi sangat kaya karena bisnis kopi. Salah satunya adalah Dang Nguyen Vu, alias Ketua Vu, yang didapuk Forbes sebagai salah satu orang terkaya di Vietnam, dengan nilai kekayaan 100 juta dolar AS. 

Pemilik jaringan distribusi kopi Vietnam ini sekarang berencana untuk mendirikan rantai internasional kedai kopi bergaya Vietnam. "Kami ingin membawa budaya kopi Vietnam ke dunia. Ini tidak akan mudah, tetapi tahun depan kami ingin bersaing dengan merek besar seperti Starbucks," katanya. 

Tak main-main, selain mempopulerkan gaya meminum kopi ala Vietnam -- dengan alat tersendiri yang memadukan kopi dan susu kental manis -- ia mulai membanjiri banyak kota di AS dengan kedai khasnya itu. "Jika kita dapat mengambil dan memenangkan pasar AS, kita dapat menaklukkan seluruh dunia," ujarnya, seperti dikutip BBC.


Jokowi: Setop Wacana Perpanjangan Jabatan Presiden!

Survei menunjukkan rakyat menolak usul elite politik yang menginginkan penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi.

SELENGKAPNYA

Memuliakan Tetangga

Allah SWT menyuruh kita berbuat baik kepada tetangga yang jauh maupun dekat.

SELENGKAPNYA
×