Ketua Umum Pimpinan Pusat al-Irsyad al-Islamiyyah KH Faisol Nasar bin Madi. | DOK IST

Hiwar

10 Apr 2022, 03:25 WIB

Latih Ketakwaan dengan Puasa

Berpuasa mendatangkan banyak hikmah pada diri pelakunya.

Selama Ramadhan, umat Islam wajib melaksanakan ibadah puasa. Dalam Alquran disampaikan bahwa amalan tersebut bertujuan takwa.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat al-Irsyad al-Islamiyyah KH Faisol Nasar bin Madi, berpuasa mendatangkan banyak hikmah pada diri pelakunya. Ketakwaan yang menjadi tujuan shaum pun dapat dipahami dalam dua perspektif, yakni hubungan vertikal antara seorang hamba dan Tuhannya maupun horizontal, yakni sesama insan.

“Pada akhirnya, dengan berpuasa diri kita juga menjadi terbiasa disiplin dalam menjalani rutinitas. Utamanya, disiplin dalam melaksanakan ibadah,” kata dosen UIN Jember tersebut.

Maka dari itu, ia mengajak segenap kaum Muslimin untuk tidak menyia-nyiakan Ramadhan. Jadikanlah momen sebulan penuh ini untuk melatih diri agar kian bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Lantas, bagaimana caranya meneguhkan niat puasa dengan tujuan takwa? Apa saja ibadah yang pelu dibiasakan dan lebih dihayati? Berikut petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan sosok wakil ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember itu, beberapa waktu lalu.

Alhamdulillah, kita kembali menjumpai Ramadhan. Bagaimana Anda memaknai bulan suci ini?

Berjumpa dengan bulan suci Ramadhan adalah sebuah kenikmatan. Alhamdulillah, sebagai Muslim kita hendaknya mensyukuri setiap rahmat dan nikmat dari Allah SWT. Termasuk pada saat ini, kita kembali bisa berjumpa dengan Ramadhan.

Artinya, kita masih diberi nikmat usia sehingga perjumpaan itu menjadi memungkinkan. Seperti yang kita tahu, tidak sedikit saudara-saudara kita yang sudah meninggal lebih dahulu pada masa puncak pandemi Covid-19 yang lalu.

Maka alangkah baiknya bila kesempatan yang amat baik ini kita maksimalkan. Sebagai seorang Muslim yang memiliki dosa-dosa, kita hendaknya juga menjadikan momen bulan suci untuk banyak-banyak memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Istighfar, dan meningkatkan rasa takut kepada-Nya.

Kemudian, sebagai makhluk sosial kita hendaknya meningkatkan empati selama bulan Ramadhan ini. Empati berarti merasakan seperti apa yang dirasakan orang lain, khususnya mereka yang kurang beruntung secara ekonomi.

Apalagi, situasi perekonomian di Indonesia maupun dunia umumnya saat ini agak merosot. Belum pulih dari terpaan pandemi. Banyak orang di sekitar yang membutuhkan uluran tangan kita.

Sebagai warga negara, mari kita bangun kebersamaan di bulan Ramadhan ini. Maka lengkaplah perbaikan yang kita lakukan. Secara vertikal, memperbaiki hubungan hablu minallah, yakni kepada Allah. Kemudian, memperbaiki hubungan secara horizontal, yakni antar sesama Muslimin dan bangsa secara keseluruhan.

Ibadah yang khas Ramadhan adalah berpuasa. Apa saja berkah yang dapat diraih seorang Muslim dari amalan tersebut?

Untuk diketahui, dengan berpuasa seorang Muslim dapat meningkatkan rasa takutnya kepada Allah. Perasaan itu akan mendorong seseorang untuk selalu taat kepada-Nya, baik dalam keadaan tidak ada siapapun di sekitarnya maupun tatkala terang-terangan.

Sebab, dalam melakukan ibadah puasa seseorang mungkin bisa berbohong kepada orang lain. Namun, ia tidak mungkin bisa berdusta kepada Allah. Maka shaum Ramadhan dapat melatih diri kita agar senantiasa takut kepada-Nya.

Selain itu, puasa juga bisa meningkatkan empati atau rasa sayang kepada pihak-pihak yang memerlukan bantuan kita. Dengan begitu, kita terlatih atau terdidik menjadi manusia Mukmin yang saling sayang-menyayangi.

Dengan puasa ini, kita juga menunjukkan persamaan atau kesetaraan antara yang miskin dan yang kaya; antara yang berkedudukan tinggi dan rakyat biasa. Semuanya memiliki kewajiban yang sama.

Pada akhirnya, dengan berpuasa diri kita juga menjadi terbiasa disiplin dalam menjalani rutinitas. Utamanya, disiplin dalam melaksanakan ibadah. Sebab, dalam amalan shaum itu sendiri ada waktu-waktu, seperti sahur dan berbuka puasa.

Itulah yang bisa membiasakan kita untuk hidup disiplin. Bahkan, dari segi kesehatan puasa juga bisa menjadi terapi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dalam Alquran, dijelaskan bahwa orang-orang Mukmin wajib berpuasa untuk tujuan takwa. Apa maksudnya?

Surah al-Baqarah ayat 183 itu menjelaskan tentang kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan. Amalan ini (dilakukan) agar Mukminin menjadi manusia yang bertakwa. Manusia yang bertakwa itu adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul SAW. Juga memenuhi (meyakini) Rukun Iman yang enam itu.

Dalam konsep lain, ciri-ciri orang yang bertakwa itu ada beragam. Misalnya, apabila seseorang mendengar asma (nama) Allah disebutkan, maka bergetarlah hatinya. Apabila dibacakan ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah, maka bertambah tebal keimanannya.

Selain itu, orang yang muttaqin juga tidak pernah putus asa dalam menghadapi masa depan. Ia selalu optimistis, baik sebagai pribadi maupun warga bangsa. Nah, kita pun harus optimistis bahwa masa depan akan lebih cerah dari saat ini, asalkan diri selalu berupaya taat kepada Allah SWT. Jadi, manusia yang bertakwa itu dipastikan mempunyai rasa tawakkal yang tinggi.

Intinya, apabila proses ibadah puasa dilakukan seorang Mukmin dengan baik, kemungkinan ia bisa mencapai derajat takwa itu. Dengan bekal keimanan yang tinggi dan melaksanakan puasa dengan benar secara syariat, maka output-nya adalah menjadi manusia yang bertakwa.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, puasa adalah perisainya orang-orang Mukmin. Apakah maknanya?

Salah satu hikmah puasa ini juga dapat menumpulkan atau mengendalikan hawa nafsu. Karena itu, Nabi SAW memberikan nasihat antara lain kepada anak-anak muda yang belum memiliki kemampuan untuk menikah. Mereka dinasihati agar berpuasa. Dengan begitu, ada tameng bagi mereka untuk tidak terbawa hawa nafsu birahi, misalnya.

Jadi, puasa itu adalah perisai dari segala bentuk maksiat. Dengan berpuasa, kita bisa mengontrol nafsu. Puasa juga merupakan perisai yang dapat melindungi pelakunya dari ucapan dan perbuatan yang tidak baik.

Nabi SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Jika kamu puasa, janganlah berkata keji dan jangan bertindak bodoh. Jika seseorang menantangmu atau mencacimu, ucapkanlah, 'aku sedang berpuasa’.” (HR Imam Malik).

Selama Ramadhan, umumnya Muslimin mengalokasikan lebih banyak waktu untuk beribadah sunah. Bagaimana hal itu dapat melatih diri mereka agar terbiasa bertakwa kepada-Nya?

Ya, puasa pada sebulan penuh Ramadhan ini memang menjadi jenjang latihan bagi setiap Mukmin. Riyadhah (latihan) untuk memperbaiki segala hal yang terkait dengan hubungan hablu minallah dan hablu minannas atau hubungan antarsesama manusia. Sebab, Allah menjanjikan selama Ramadhan ini pahala yang berlipat-lipat bagi pelaku amal kebajikan.

Dari situlah, umat Islam memacu diri mereka untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Amalan sunah pun dikejar (untuk dilaksanakan), semisal shalat tarawih, mengaji Alquran, dan lain-lain. Begitu pula dalam menjalankan ibadah sosialnya, seperti bersedekah. Walaupun ibadah-ibadah ini sunah, itu bisa melatih diri agar semakin terbiasa dalam ketaatan kepada Allah.

Ibadah-ibadah sunah itu hendaknya tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga bulan-bulan setelahnya. Misalnya, gemar bersedekah. Itu bisa diteruskan sesudah bulan suci usai. Sebab, sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan secara istikamah. Tidak apa-apa sedikit, tetapi sering.

Dalam Ramadhan, terdapat kewajiban menunaikan zakat fitrah. Menurut Anda, bagaimana amalan yang bernilai sosial itu dapat meningkatkan ukhuwah Islamiyyah?

Pertama, memang menjadi kewajiban kita sebagai Muslimin untuk mengeluarkan zakat fitrah. Ibadah zakat ini sebagai kewajiban untuk membersihkan harta kita. Ibaratnya tubuh, ini dapat membersihkan darah kotor. Dalam Alquran, Allah SWT juga menegaskan bahwa dalam harta manusia beriman ada bagian milik orang-orang yang miskin.

Jadi, di harta kita ini memang ada bagian orang-orang fakir dan miskin yang harus kita keluarkan. Dengan begitu, harta kita dapat bersih. Selain itu, zakat pun sebagai jalan penolong bagi orang-orang yang nasibnya kurang baik. Jadi, memang amalan tersebut memiliki fungsi sosial. Apalagi, di tengah kondisi ekonomi sekarang.

Lalu mengapa zakat fitrah harus dikeluarkan sebelum shalat Idul Fitri? Sebab, untuk dipastikan bahwa semua umat Islam sudah kenyang perutnya. Jangan sampai pada saat hari yang penuh suka cita itu ada kesenjangan.

Yang satu tertawa, sedangkan yang lainnya menangis. Jadi, zakat itu menciptakan harmoni di tengah umat. Pada akhirnya, ia meningkatkan rasa persaudaraan sesama Muslimin (ukhuwah Islamiyah).

Berkaitan dengan organisasi yang Anda pimpin, bagaimana program Ramadhan yang dicanangkan al-Irsyad al-Islamiyyah pada tahun ini?

Program Ramadhan yang kami canangkan secara semarak dilakukan melalui cabang-cabang al-Irsyad. Menjelang Ramadhan pun, kita sudah melakukan pelbagai event. Misalnya, bagi-bagi sembako di Cirebon (Jawa Barat) ataupun Jember (Jawa Timur).

Ada pula agenda kegiatan filantropi pada pertengahan Ramadhan ini, yakni dengan mengundang anak-anak yatim piatu. Mereka diundang untuk berbuka puasa bersama dan kemudian menerima sejumlah santunan.

Dalam menjalankan program dakwah selama Ramadhan, masing-masing masjid yang dibina oleh al-Irsyad juga menyelenggarakan ibadah shalat tarawih. Intinya, terus memakmurkan masjid. Di luar tarawih, ada pula majelis pengajian serta ceramah-ceramah keagamaan. Itu terus disemarakkan hingga nanti pelaksanaan Idul Fitri.

Jadi, di masjid-masjid itu setiap hari pasti ada kegiatannya, seperti kuliah Subuh, kuliah menjelang Maghrib, dan juga usai shalat tarawih. Adapun penceramahnya tidak hanya dari al-Irsyad. Kami pun mengundang tokoh-tokoh, nasional maupun lokal, dari organisasi lainnya, semisal Muhammadiyah atau NU (Nahdlatul Ulama).

photo
KH Faisol Nasar bin Madi mengajak segenap kaum Muslimin untuk memanfaatkan momen Ramadhan dengan sebaik-baiknya. - (DOK IST)

Al-Irsyad Terus Tingkatkan Amal Usaha

 

Hampir lima tahun lamanya KH Faisol Nasar bin Madi memimpin al-Irsyad al-Islamiyyah. Sejak Muktamar ke-40 pada 2017 lalu, dirinya mengemban amanah sebagai ketua umum organisasi masyarakat (ormas) Islam tersebut.

Dalam sejarah, al-Irsyad al-Islamiyyah termasuk yang tertua di antara ormas-ormas Islam se-Indonesia. Fokus perhatian gerakan ini terletak pada bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Berdiri sejak tahun 1332 H atau 1914 M di Jakarta, lembaga tersebut terus berkiprah di tengah umat hingga kini dan nanti.

Kiai Faisol Nasar mengatakan, selama ini al-Irsyad terus menfokuskan dakwahnya untuk mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. “Semua dakwah kita dengan bekhidmat. Kita tidak sibuk menvonis pihak lain atau menyesatkan orang lain, misalnya,” ujar akademisi UIN Jember itu kepada Republika baru-baru ini.

Selama empat tahun kepemimpinannya, al-Irsyad telah melakukan banyak hal. Umpamanya, membangun seribu rumah bagi korban terdampak gempa di Lombok, NTB. Dengan dukungan dari masyarakat setempat, seluruh hunian itu bisa rampung dalam kurun waktu satu tahun.

Tidak hanya di sana, al-Irsyad juga turut menyalurkan bantuan sosial di daerah-daerah lain yang terdampak bencana.

 
Visi al-Irsyad yang pertama bagi saya adalah meningkatkan amal usaha. Al-Irsyad kalau bisa harus mengejar ketertinggalan dari ormas-ormas
 
 

Ke depannya, menurut Kiai Faisol, ormas ini bervisi meningkatkan lagi jumlah amal usaha. Dengan begitu, perannya dapat lebih meningkat untuk kebaikan bagi umat dan bangsa.

“Visi al-Irsyad yang pertama bagi saya adalah meningkatkan amal usaha. Al-Irsyad kalau bisa harus mengejar ketertinggalan dari ormas-ormas semisal NU (Nahdlatul Ulama) atau Muhammadiyah,” ucap alumnus University of Malaya itu.

Al-Irsyad al-Islamiyyah akan menggelar Muktamar ke-41 di Purwokerto, Jawa Tengah, pada November 2022 mendatang. Segala persiapan sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu dengan antara lain membentuk panitia lokal dan nasional.

 


Jangan Remehkan Batuk Pilek

Batuk dan pilek merupakan keluhan yang paling sering dialami pada anak.

SELENGKAPNYA

Anak Memberikan Nafkah untuk Orang Tua, Wajibkah?

Bagaimana hukumnya jika anak memberikan nafkah kepada orang tua, apakah wajib?

SELENGKAPNYA

Awal Mula Muslim Indonesia Menunaikan Shalat di Tanah Lapang

Comite Lebaran berhasil mendapat izin mengadakan shalat di Tanah Lapang Singa.

SELENGKAPNYA
×