Dai asal Madura, Ustadz Fauzi Palestin. | DOK IST

Hiwar

03 Apr 2022, 03:42 WIB

Ustadz Fauzi Palestin, Madrasah Bernama Ramadhan

Di antara hikmah berpuasa adalah supaya manusia mengetahui kelemahan dirinya.

Beruntunglah mereka yang masih mendapatkan kesempatan untuk kembali berjumpa dengan Ramadhan. Inilah bulan suci yang selalu dirindukan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW dan seluruh Mukminin. Hati suka cita menyambut kehadirannya.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Ustaz Fauzi Palestin mengatakan, kegembiraan itu dilatari banyak hal. Pertama-tama, seperti dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, pada bulan ini pahala kebajikan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang lebih berlipat-lipat ganda.

Kemudian, ada banyak amalan yang “khas” Ramadhan, semisal puasa wajib, shalat tarawih, meraih Lailatul Qadr, dan zakat fitrah.

Menurut Ustaz Fauzi, pada hakikatnya sebulan penuh Ramadhan adalah sekolah bagi setiap Muslim. Karena itu, bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah ini kerap dijuluki syahrul madrasah atau syahrut tarbiyah.

“Ramadhan memang tidak hanya menjadi syahrul ‘ibadah (bulan semarak beribadah), tetapi di dalamnya juga terdapat nilai-nilai pendidikan atau tarbiyah,” kata dai asal Pulau Madura tersebut.

Bagaimana mempersiapkan diri pada awal bulan suci agar sukses lulus “madrasah Ramadhan”? Apa saja kriteria kelulusan itu? Untuk menjawabnya, berikut ini petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syaichona Cholil Bangkalan, Jawa Timur, itu, beberapa waktu lalu.

Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, wajib maupun sunah, selama bulan suci Ramadhan?

Pertama, teguhkan niat. Ini bisa dimulai dari (bulan-bulan) sebelum Ramadhan. Karena itu, kita diajarkan untuk berdoa. Sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Asakir, dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali. Ia berkata bahwa jika hendak menyongsong bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berdoa, “Ya Allah, pertemukan bulan ini dengan kami dalam keadaan aman, iman, keselamatan, Islam, sehat yang prima, kebal dari penyakit, dan pertolongan untuk shalat, puasa, dan membaca Alquran” (Tarikh Dimasyq).

Kedua, perbanyak menuntut ilmu-ilmu agama. Misalnya, fikih ibadah puasa. Dengan begitu, kita dapat memahami syarat, rukun, kesunahan, hingga hal-hal yang membatalkan puasa. Sebab, ibadah seseorang tidak akan bernilai manakala tanpa didasari ilmu agama yang benar. Orang mau masak saja harus ada ilmunya, apalagi ini urusan ibadah.

Artinya, semangat beribadah harus seiring dengan kesadaran berilmu, sesuai tuntunan Islam. Maka, penting sekali bagi para dai untuk tidak sekadar menyampaikan fadhailul ‘amal (keutamaan amal) kepada jamaahnya. Mereka pun harus memberikan bimbingan berkenaan dengan ilmu, yakni fikih ibadah.

Ketiga, usahakan jaga kesehatan agar prima. Tubuh yang sehat itu dibutuhkan untuk optimalisasi puasa Ramadhan serta berbagai macam kebaikan kala bulan itu, semisal shalat tarawih, tadarus Alquran, dan sebagainya. Mengapa kesehatan perlu dioptimalkan? Ramadhan itu hadir satu tahun sekali.

Sayang sekali jika bulan suci hadir, tetapi kondisi tubuh kita tidaklah prima. Dalam haddis riwayat Imam Muslim, Nabi SAW juga menyampaikan, Mukmin yang kuat atau prima lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.

Di antara banyak sebutan untuk Ramadhan adalah syahrul madrasah atau bulan pendidikan. Bisa dijelaskan maknanya?

Ya, Ramadhan memang tidak hanya menjadi syahrul ‘ibadah (bulan semarak beribadah), tetapi di dalamnya juga terdapat nilai-nilai pendidikan atau tarbiyah. Ibarat dalam dunia pendidikan, bulan suci Ramadhan tak ubahnya madrasah bagi kehidupan manusia.

Apa saja yang ditempa di dalamnya? Pertama-tama adalah kejujuran. Seperti yang kita ketahui, sepanjang siang Ramadhan kita diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Saat berpuasa, semua tidak ada yang mengetahui kecuali diri si pelakunya dan Allah SWT.

Ketika seseorang shalat, ia bisa diketahui secara zahir oleh orang lain melalui gerakan-gerakannya. Zakat juga demikian. Sangat mudah untuk mendeteksinya.

Dari sini, dapat dimaknai bahwa ibadah puasa bisa berfungsi sebagai madrasah kejujuran. Kejujuran penting bagi kehidupan bersama. Itulah pangkal segala kebaikan. Sebaliknya, ketidakjujuran menjadi pangkal segala kerusakan dalam konteks apa pun, termasuk berbangsa dan bernegara.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Nabi SAW menyebutkan, “Hendaklah kalian menjadi pribadi yang jujur. Sebab, sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.

Jika seseorang menjadi pribadi yang jujur dan berusaha untuk jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah dari kalian perbuatan dusta. Sebab, sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang gemar berdusta dan berupaya untuk berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Bagaimana dengan nilai-nilai yang lain?

Ya, puasa juga menjadi madrasah untuk menempa nilai-nilai jihad atau perjuangan serta kesabaran. Seorang ulama Mesir, yaitu Syekh Ali al-Jurjawi, pernah menyebutkan, di antara hikmah berpuasa itu adalah supaya manusia mengetahui kelemahan dalam dirinya. Tidak makan dan tidak minum membuat dirinya menjadi lemah. Maka hilanglah rasa sombong yang melekat pada diri seorang insan.

Pada saat yang sama, manusia juga memiliki tanggung jawab, baik di tengah keluarga, masyarakat, maupun umat. Entah dirinya sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, atau apa pun itu. Memenuhi tanggung jawabnya dalam kondisi berpuasa bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Butuh kesabaran dan semangat perjuangan yang luar biasa.

Maka bagi orang yang berpuasa, ia tidak hanya bergembira saat berpuasa. Suka cita pun akan dirasakannya, insya Allah, kelak tatkala dirinya berjumpa dengan Allah Ta’ala. Perjuangan ini bisa dimaknai dari dua sisi, yaitu meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Rasulullah SAW mendidik umatnya agar memperbanyak amalan sosial, terutama kala bulan suci?

Beliau memang semakin dermawan pada saat Ramadhan. Kedermawanannya digambarkan melebihi sejuknya angin sepoi-sepoi. Maka dari itu, Ramadhan pun dapat dimaknai sebagai madrasah kepedulian.

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dan mempersering berbagi. Umpamanya, memberikan sajian takjil kepada yang mereka berpuasa. Itu tidak harus dengan budget yang besar.

Bahkan, Nabi SAW mengajarkan, berbagilah walau hanya dengan satu buah kurma. Sebab, yang paling mendasar dari anjuran beliau bukan lah perkara pahala, tetapi lebih kepada melatih diri untuk suka berbagi. Mudah peduli. Terlibat selalu dalam urusan sosial kemasyarakatan.

Apalah arti atau nilai seorang manusia jika hanya memperjuangkan hidupnya sendiri, tanpa ada rasa peduli untuk berbagi? Memberikan takjil setiap hari merupakan bentuk madrasah kepedulian. Diri ditempa untuk menjadi pribadi yang gemar memberi. Kepedulian tidak hanya mendekatkan kita pada sesama manusia, tetapi juga insya Allah membuat dekat dengan surga, amin.

Apa saja kriteria lulus dengan gemilang dari 'madrasah Ramadhan'?

Jawabannya sederhana. Seorang Muslim menjadi terbiasa berada di lingkungan yang positif. Misalnya, ia sering mengikuti kajian-kajian keislaman di berbagai kesempatan. Maka Ramadhan menjadi kesempatan yang sangat besar baginya.

Ketika semangatnya mulai kendor, lingkungan dan kajian itu akan banyak membantu untuk lebih memompa semangatnya lagi dalam beribadah, mencari ilmu-ilmu agama, serta melakukam berbagai kebajikan.

Ada ungkapan yang membagi Ramadhan ke dalam tiga bagian. Setiap bagian terdiri atas 10 hari dengan masing-masing keutamaan tertentu?

Saya membaca, itu dimuat di dalam kitab Syuabul Iman karya Imam Baihaqi. Bunyinya, “Bulan Ramadhan awalnya adalah rahmat. Pertangahannya adalah maghfirah. Akhirnya adalah terselamatkan dari neraka.” Hemat saya, bagus sekali itu dibuat rujukan sebagai penyemangat tatkala bulan suci Ramadhan.

Kini masih awal Ramadhan. Amalan apa saja yang hendaknya dibiasakan agar diri dapat meraih rahmat itu?

Selain berpuasa, mendirikan shalat tarawih, dan memberikan takjil, bulan Ramadhan itu identik dengan momen turunnya Alquran. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 185. Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Maka untuk meraih kesempurnaan amalan pada bulan Ramadhan, tentu kita dapat sering-sering dan memperbanyak membaca Alquran. Ulama pada zaman dahulu memberikan contoh yang sangat luar biasa dalam mengkhatamkan Alquran di sepanjang bulan suci.

Misalnya, Imam Syafii. Dalam sebulan itu, sang imam khatam Alquran 60 kali. Zuhair al-Marwazi khatam 90 kali selama Ramadhan. Ali bin Nashir setiap malam khatam satu kali. Nah, bagaimana dengan kita?

Adakah tips atau kiat untuk menjaga semangat beribadah agar tidak kendor selama sebulan penuh Ramadhan?

Semangat kadang kala di atas, kadang di bawah. Umumnya manusia memang begitu. Imannya kadang bertambah tebal. Namun, tidak jarang pula berkurang atau menipis. Hal itu pernah disinggung Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya.

Dan, menurut para ulama, semisal Ibnu Syakir, ada kalanya kadar iman itu bisa meningkat. Caranya dengan melaksanakan ketaatan. Namun, iman bisa berkurang kadarnya ketika melaksanakan maksiat.

Maka, agar selalu konsisten, saran saya adalah jangan beri sedikitpun potensi kemaksiatan dalam kehidupan kita. Sebab, hal itulah yang bisa menjadi petaka awal, yakni  kendornya ketaatan kepada Allah selama kita menjalani bulan Ramadhan.

photo
ILUSTRASI Pada siang hari Ramadhan, di Indonesia sudah menjadi tradisi bagi warung-warung makan untuk memasang tabir. Menurut Ustadz Fauzi Palestin, hal itu adalah satu contoh toleransi. - (DOK REP FAKHRI HERMANSYAH)

Rawat Toleransi Kala Bulan Suci

Indonesia merupakan negeri yang majemuk. Ustaz Fauzi Palestin mengatakan, keberagaman di Tanah Air hidup melalui sikap tepa salira. Toleransi antarumat beragama, misalnya, itulah yang menjiwai kerukunan.

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syaichona Cholil Bangkalan itu menuturkan pengalamannya pribadi. Dalam sebuah rihlah dakwah di Bali beberapa waktu lalu, ia menemukan wujud toleransi yang ditunjukkan kaum Muslimin setempat. Kebetulan, saat itu mubaligh tersebut sempat melalui hari raya Nyepi di Pulau Dewata.

Ternyata, sepanjang hari itu masjid-masjid setempat tidak mengaktifkan pengeras suara luar. Bahkan, masjid yang berlokasi di dalam lingkungan yang 100 persen Muslimin pun melakukan hal yang sama.

“Itu dalam rangka toleransi atau menghormati hari besar umat Hindu,” ujar Ustaz Fauzi Palestin kepada Republika baru-baru ini.

Becermin pada laku toleransi Muslimin di Bali, maka sikap tenggang rasa pun seyogianya mengemuka di sepanjang Ramadhan. Inilah bulan yang sangat dinanti-nantikan kaum Muslimin. Sejak subuh hingga maghrib setiap harinya, mereka mengamalkan kewajiban berpuasa.

Ustaz Fauzi mencontohkan kebiasaan warung-warung tutup atau tidak menampakkan sajian masakannya pada siang hari Ramadhan. Menurut dia, tradisi itu juga menjadi sebentuk toleransi. Hal itu pun dianjurkannya agar dilakukan di tengah lingkungan yang mayoritas Muslim.

“Inilah etika beragama yang mesti kita pahami bersama. Insya Allah dengan saling menghormati, harmoni beragama, berbangsa dan bernegara tetap terpelihara secara baik,” kata dai yang sedang menempuh studi doktoral itu.

Ia menambahkan, dalam kitab Ianatut Thalibin, membuka warung makan pada siang hari Ramadhan jelas tidak boleh. “Illat (sebabnya), karena membuat orang yang berpuasa terdorong untuk membeli makanan tersebut. Kecuali buka warung makannya sore hari menjelang buka puasa. Ini maksudnya berjualan untuk buka puasa, maka boleh,” ucap Sekretaris MUI Jawa Timur ini.

Apabila muncul kontroversi seputar perkara itu, ia menyarankan semua pihak mengikuti kebijakan pemerintah, daerah maupun pusat. Masyarakat diharapkan dapat legawa, misalnya, ketika ada edaran resmi dari otoritas setempat sepanjang itu bertujuan kemaslahatan. “Sesuai kaidah ushul fikih, yaitu ketika pemerintah sudah memberi kebijakan, maka selesailah perselisihan itu,” katanya.

 


Syarat Suami Agar Dapat Menjatuhkan Talak ke Istri

Hukum cerai dalam Islam diperbolehkan tapi bukan sesuatu yang disukai Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Islam Jalan Hijrah Mario Rajasa

Alasan Mario menjadi mualaf karena kecintaannya pada sosok Nabi Isa AS.

SELENGKAPNYA
×