IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika

Analisis

21 Mar 2022, 03:45 WIB

Perang Lagi, Resesi Lagi?

Resesi ekonomi global bisa terjadi kalau perang berlangsung lama, dan ekonomi dijadikan senjata untuk saling menekan.

OLEH IMAN SUGEMA

Kini situasi ekonomi global dihadapkan pada kemungkinan terjadinya resesi akibat perang Ukraina versus Rusia. Padahal, dunia baru akan bangkit dari resesi akibat pandemi Covid-19. Dunia kemungkinan menghadapi double hits: resesi akibat Covid-19 dan perang.

Kata “kemungkinan” harus digarisbawahi karena memang resesi akibat perang tersebut belum terjadi, dan saya tidak sedang melakukan prediksi. Saya hanya berusaha untuk menguraikan, mengapa resesi itu bisa betul-betul terjadi dan setiap negara harus secara hati-hati menyikapi setiap perkembangan. Kalau tidak terjadi, ya syukur alhamdulillah.

Ada faktor yang akan menyebabkan resesi akan terjadi atau tidak, yakni hasil akhir dari perang dan berapa lama perang akan berlangsung. Yang dimaksud dengan hasil akhir adalah apakah perang tersebut akan diakhiri dengan perang nuklir atau berakhir dengan perdamaian. Kalau berakhir dengan perang nuklir, resesi dunia sudah pasti terjadi.

Mungkin sebagian dari kita masih percaya bahwa perang nuklir tidak akan terjadi. Namun, perlu diingat bahwa sebagian besar pemimpin NATO tidak menduga serangan ke Ukraina tidak akan pernah terjadi.

 
Mungkin sebagian dari kita masih percaya bahwa perang nuklir tidak akan terjadi. Namun, perlu diingat bahwa sebagian besar pemimpin NATO tidak menduga serangan ke Ukraina tidak akan pernah terjadi.
 
 

Kalau mereka sejak awal percaya bahwa Rusia akan melaksanakan ancamannya, tentu para elite NATO dan Ukraina akan secara sadar mengindahkan ancaman. Perang ini berawal dari hal yang sepele, yakni salah perhitungan atau miscalculation.

Salah perhitungan berikutnya semoga tidak akan pernah terjadi karena bisa menimbulkan katastropik yang luar biasa, yakni perang nuklir. Harap diingat perang ini terjadi karena Rusia menganggap bahwa Ukraina adalah batas terakhir (red line) yang tidak boleh dilewati oleh NATO.

Selama 30 tahun terakhir, NATO terus bergerak semakin ke timur. Apa nggak stres tuh Rusia? Emang ribuan hulu ledak nuklir itu diarahkan ke timur dengan tujuan bukan Rusia? 

Dari sejak awal Rusia menganggap perang ini adalah tentang NATO versus Rusia, bukan sekadar Ukraina versus Rusia. Sialnya, Ukraina sekadar dijadikan alat untuk menyampaikan pesan saja bahwa Rusia tidak mau kehilangan eksistensinya sebagai negara adidaya di bidang militer.

Perlu juga kita paham bahwa selama seribu tahun terakhir ini, baik Eropa barat maupun timur merupakan wilayah yang sarat dengan perang antarnegara. Karena perang, batas-batas negara sering kali berubah.

 
Perlu juga kita paham bahwa selama seribu tahun terakhir ini, baik Eropa barat maupun timur merupakan wilayah yang sarat dengan perang antarnegara. Karena perang, batas-batas negara sering kali berubah.
 
 

Sejarah sudah membuktikan, kawasan ini sering kali gagal menciptakan perdamaian. Tidak ada bukti sejarah bahwa berbagai bangsa di benua tersebut cinta damai.  Sistem pertahanan di Rusia ataupun NATO memang sejak awal didesain untuk selalu siap konfrontasi. Hampir bisa dipastikan perang dunia berikutnya terjadi di wilayah itu.

Kalau terjadi salah perhitungan lagi, miliaran jiwa manusia di Eropa dan Amerika Utara menjadi taruhannya. Sayangnya, semakin hari semakin jelas tanda-tanda salah baca arah angin.

Barangkali kita terlalu naif untuk berharap, perang ini akan diselesaikan secara cepat melalui jalur diplomasi. Yang sekarang, berkembang justru kipas-kipas yang bisa menyulut perang bertambah lama dan semakin luas.

Perang kata-kata adalah awal dari kerumitan berikutnya. Sanksi politik ataupun ekonomi sudah terbukti di wilayah mana pun bukan merupakan instrumen yang efektif untuk menghentikan perang atau konflik.

Kalaupun kelak tidak terjadi perang nuklir, resesi ekonomi global bisa terjadi kalau perang berlangsung lama, dan ekonomi dijadikan senjata untuk saling menekan. Tanda-tanda bahwa perang akan berlangsung lama semakin nyata.

 
Kalaupun kelak tidak terjadi perang nuklir, resesi ekonomi global bisa terjadi kalau perang berlangsung lama, dan ekonomi dijadikan senjata untuk saling menekan.
 
 

Bantuan militer ke Ukraina dalam berbagai bentuk mulai terang benderang. Sanksi ekonomi semakin hari semakin mengalami eskalasi dan semakin tidak kohesif. Negara yang diuntungkan dengan kenaikan harga migas, tentunya akan mengedepankan sanksi migas. Inti dari argumen saya adalah ketika kepentingan ekonomi dijadikan landasan maka siap-siap saja aspek kemanusiaan akan terabaikan.

Kita sebagai sebuah negara yang jauh dari kepentingan militer dan ekonomi terhadap dua negara yang sedang berperang itu, sialnya harus siap-siap dengan dampak ekonomi yang tak kenal batas negara. Walaupun perang berlangsung jauh di sana, kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas lainnya mulai dirasakan oleh seluruh dunia.  Resesi global semakin tampak di depan mata.

Idealnya, memang semua negara berupaya untuk menghentikan perang tersebut secepatnya. Menjadi kepentingan kita sebagai sesama umat manusia untuk mencegah perang berkelanjutan dan semakin luas.

Namun, kesadaran itu harus dimulai dari bangsa-bangsa di benua Eropa. Kita mungkin hanya bisa jadi penonton. Walaupun tidak terjadi Perang Dunia III, tanda-tanda akan adanya resesi global semakin dekat. 


×