Anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH A Juraidi. | DOK IST

Hiwar

20 Mar 2022, 03:21 WIB

KH A Juraidi, Antara Dua Metode Hilal

Imkanur-rukyat pada dasarnya merupakan sintesis antara rukyatul hilal dan wujudul hilal.

Penetapan awal bulan Hijriyah erat berkaitan dengan kepastian puasa Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan Idul Adha. Anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH A Juraidi mengatakan, dalam menentukan awal bulan Qamariah selama ini ada dua metode yang populer, yakni wujudul-hilal (hisab) dan rukyatul hilal.

“Tapi ada satu lagi metode, yakni imkanur-rukyat  atau ‘kemungkinan hilal terlihat',” ujar mantan direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag) itu.

Menurut wakil Ketua Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) ini, antara kedua metode yang lebih populer itu sebenarnya dapat dijembatani. Dalam arti, kriteria-kriteria dapat disepakati sehingga masing-masing penggunanya bisa menemukan kesamaan pandangan.

Bagaimana perbedaan-perbedaan dalam tiap metode penentuan hilal itu dapat ditemukan titik temunya? Apakah adanya unifikasi metode kemudian mengimplikasikan nuansa persatuan Islam (ukhuwah Islamiyah)? Untuk menjawabnya, berikut petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan dosen pascasarjana IAIN Salatiga tersebut, beberapa waktu lalu.

Mengapa penetapan awal bulan Hijriyah menjadi penting untuk diperhatikan umat Islam?

Penetapan awal bulan Hijriyah sangat penting bagi umat Islam karena terkait dengan pelaksanaan ibadah. Tidak hanya Ramadhan, tetapi juga misalnya Syawal atau Dzulhijjah. Masing-masing berkaitan dengan tanggal Idul Fitri dan musim haji, khususnya prosesi wukuf di Padang Arafah yang berlangsung selama tanggal 9 Dzulhijjah serta Idul Adha pada 10 Dzulhijjah.

Khususnya di negara-negara mayoritas Muslimin, seperti Indonesia, tanggal hari-hari besar itu tidak hanya mengenai ibadah, tetapi juga sosial-budaya. Menyambut datangnya Ramadhan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, itu terkait erat dengan tradisi yang sudah mengakar di tengah masyarakat kita.

Kalau dari sisi negara, momen-momen Lebaran, misalnya, itu juga menjadi penting dalam mengatur ketersediaan pemenuhan barang-barang yang melonjak permintaannya. Ketersediaan pangan dan pengaturan transportasi, pada saat musim mudik, itu juga harus diperhatikan negara.

Apa yang dimaksud dengan hilal dalam menentukan awal bulan Hijriyah?

Hilal berarti bulan sabit atau bulan yang terbit pada tanggal 1 bulan Kamariah. Pentingnya hilal disebutkan dalam Alquran. Misalnya, surah al-Baqarah ayat 189. Artinya, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang al-ahillat (bulan sabit). Katakanlah, ‘Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji'.”

Pada tempat yang lain di Alquran, Allah juga menjelaskan, yakni dalam surah Yunus ayat lima. Artinya, “Dialah (Allah) yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).”

Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah SWT menciptakan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, yakni menerima pantulan sinar matahari. Mereka semua beredar pada porosnya.

Untuk bulan, ia tampak dari wujud awal yakni bulan sabit yang sangat kecil, kemudian semakin hari terlihat semakin besar, hingga bulan purnama. Lantas, ia mengecil kembali hingga tak terlihat. Semua itu ada manzilah-manzilahnya untuk dipelajari dan dijadikan bahan perhitungan dalam penetapan waktu untuk beribadah dan mengetahui bilangan tahun.

Penentuan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, misalnya, sering kali menimbulkan perbedaan. Mengapa demikian?

Di Indonesia, setidaknya ada tiga metode yang berkembang dalam menetapkan hilal atau awal bulan Hijriyah. Ketiganya adalah metode wujudul-hilal (hisab), rukyatul hilal, dan imkanur-rukyat atau “kemungkinan hilal terlihat".

Perbedaan antara metode hisab dan rukyat beberapa kali berujung kepada perbedaan dalam mengawali bulan puasa dan berhari raya. Ya meskipun tidak selalu berbeda. Artinya, beberapa kali pula ada persamaan awal Ramadhan dan Idul Fitri, misalnya, di antara kedua pemakai metode tersebut.

Yang jelas, perbedaan yang ada di tengah masyarakat haruslah dapat dikelola dengan baik oleh negara. Dengan demikian, perbedaan itu tetap dalam suasana saling menghormati. Tidak sampai mencederai persatuan dan kesatuan bangsa.

Bisa Anda jelaskan tentang metode wujudul-hilal?

Metode ini berarti menetapkan adanya hilal berdasarkan pada perhitungan atau hisab secara matematis dan astronomis. Artinya, asal secara perhitungan, maka hilal dianggap sudah ada. Maka ditetapkanlah itu sebagai awal bulan. Tidak dipersoalkan, berapa derajat ketinggiannya, misalnya.

Metode ini berlaku dengan dua prinsip, yaitu konjungsi telah terjadi sebelum matahari terbenam. Istilahnya, ijtima’ qablal-ghurub. Kedua, bulan terbenam setelah matahari terbenam atau moonset after sunset.

Kelebihan metode ini adalah, hilal atau awal bulan Kamariah sudah bisa diumumkan kepada masyarakat jauh-jauh hari sebelum datangnya. Di Indonesia, metode ini dipilih oleh organisasi-organisasi Islam, seperti Muhammadiyah serta beberapa kelompok masyarakat Muslimin lainnya.

Bagaimana dengan metode rukyatul hilal?

Metode ini mendasarkan pendiriannya pada hadis. Bunyi hadis itu, “Berpuasalah kamu jika melihat hilal, dan berbukalah (maksudnya: rayakanlah Idul Fitri) apabila kamu melihat hilal.”

Maka berdasarkan sabda Rasulullah SAW itu, pihak yang menggunakan rukyatul hilal dalam menentukan awal bulan Kamariah mengharuskan melihat hilal.  Melihat itu baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik, seperti teleskop.

Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Sebab, hilal hanya tampak setelah matahari terbenam. Intensitas cahaya hilal sangat redup dibandingkan dengan cahaya matahari. Ukurannya juga sangat tipis.

Maka tidak perlu heran. Biasanya, masyarakat lama menunggu hasilnya. Terlebih lagi di Indonesia yang memiliki mathla’ yang berbeda-beda antara Indonesia bagian timur, tengah, dan barat. Hilal pada umumnya akan terlihat pada ketinggian di atas dua derajat. Di bawah itu, sulit untuk dilihat, bahkan bisa dikatakan tidak mungkin bisa dilihat.

Medote rukyat di Indonesia dipakai oleh ormas-ormas, seperti Nahdlatul Ulama dan beberapa kelompok masyarakat Muslimin lainnya.

Apa yang menjadi kekhasan metode ketiga, imkanur-rukyat?

Nah, kalau metode imkanur-rukyat, ini merupakan penggabungan antara metode wujudul-hilal (hisab) dan rukyatul-hilal. Artinya, kedua metode di atas bisa dipertemukan dengan menyepakati kriteria-kriteria.

Misalnya, hilal atau awal bulan ditetapkan dengan ketinggian minimal tiga derajat. Jika kurang dari tiga derajat, maka belum bisa ditetapkan sebagai awal bulan. Jika sudah tiga derajat ketinggian hilal, maka kemungkinan dilihat sangat besar sekali probabilitasnya.

Secara teori, imkanur-rukyat pada dasarnya merupakan sintesis antara rukyatul hilal dan wujudul hilal. Dalam pandangan para ahli astronomi, teori ini relatif lebih baik dari pada teori-teori lainnya apabila semua pihak dapat menyepakatinya. Jadi, wujudul hilal sebagai informasi, sedangkan rukyatul hilal sebagai laku konfirmasi.

Bagaimana peran pemerintah dalam menjembatani perbedaan-perbedaan metode hilal itu?

Hal ini yang dicoba dilakukan oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag). Kebetulan, saya pernah menjabat sebagai direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag. Salah satu tugasnya ialah berkaitan dengan penetapan awal bulan Kamariah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Sebab, semua itu menyangkut pelaksanaan ibadah umat Islam yang harus mendapatkan pelayanan dan fasilitasi dari negara.

Saya kira, Kemenag melihat adanya celah untuk menyatukan perbedaan antara metode hisab dan rukyat. Karena itu, ada upaya-upaya dalam menyamakan pandangan para pakar hisab rukyat yang terdapat pada masing-masing ormas Islam. Kemudian, usaha menyatukan (unifikasi) kalender Hijriyah melalui pembentukan Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Badan ini memiliki anggota- anggota dari berbagai ormas Islam yang ada di Tanah Air.

Kriteria penetapan awal bulan dengan ketinggian hilal minimal tiga derajat telah menjadi kesepakatan. Itu dari Seminar Internasional Fikih Falak yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 30 November 2017. Hasilnya kemudian dikenal dengan sebutan Rekomendasi Jakarta 2017.

Itu juga sebagai pelengkap kriteria yang sudah ada sebelumnya, yaitu Kriteria Istambul Turki Tahun 2016, dengan melakukan modifikasi kriteria elongasi minimal 6,4 derajat, tinggi minimal tiga derajat, dengan markaz kawasan barat Asia Tenggara.

Masyarakat tentu berharap, semoga kesepakatan kriteria bisa terwujud di antara para pimpinan ormas Islam. Dengan begitu, awal puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha bisa seragam pelaksanaannya di Tanah Air.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ahmad Juraidi (ahmad.juraidi)

Unifikasi Kalender Hijriyah, Mungkinkah?

Mewujudkan persatuan umat Islam dapat dilakukan dalam beragam cara. Salah satunya melalui penyatuan kalender Hijriyah. Anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH  A Juraidi mengatakan, unifikasi kalender tersebut cukup penting saat ini.

“Upaya mewujudkan kesatuan kaum Muslimin secara global melalui unifikasi kalender Islam. Manfaatnya bisa meminimalkan perbedaan dalam pelaksanaan ibadah,” ujar Kiai Juraidi kepada Republika, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, wacana penyatuan kalender Islam secara internasional sebenarnya sudah atau sedang berjalan. Di level Asia Tenggara, upaya unifikasi tersebut telah dibahas dalam forum Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Berkaitan dengan penetapan awal bulan Kamariah di negara-negara anggota MABIMS, terdapat kesepakatan yang berlaku sejak tahun 1998. Isinya adalah bahwa awal hilal ditetapkan berdasarkan hisab hakiki tahkiki dan rukyat, serta menggunakan kriteria pergantian bulan dengan tinggi hilal minimal dua derajat. Kriteria lainnya adalah umur bulan delapan jam serta sudut elongasi tiga derajat.

“Jadi, di kawasan Asia Tenggara khususnya negara-negara anggota MABIMS sudah ada kesepakatan untuk penyatuan kalender Hijriyah,” ucap dia.

 
Di kawasan Asia Tenggara khususnya negara-negara anggota MABIMS sudah ada kesepakatan untuk penyatuan kalender Hijriyah
 
 

Kendati demikian, menurut Juraidi, muncul juga pendapat yang terkesan pesimistis untuk penyatuan kalender Islam Internasional. Di antara alasannya, tempat (mathla') masing-masing negara berbeda dan sangat jauh.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk menyatukan kalender Islam. Menurut Juraidi, Kementerian Agama (Kemenag) sudah membentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang anggotanya terdiri atas utusan ormas-ormas Islam. Turut bergabung di dalamnya adalah MUI, Lapan-BRIN, Boscha, BMKG, dan sejumlah pakar ilmu astronomi.

Namun, hingga saat ini upaya-upaya untuk mewujudkan kalender Islam yang terunifikasi hingga kini belum berhasil. Sebab, belum adanya kesepakatan kriteria. Pihak yang menggunakan metode hisab atau wujudul hilal tetap bertahan dengan pendiriannya. Yakni, penetapan bulan baru asal secara hisab sudah ada hilal, tidak peduli berapa pun derajatnya.

“Sementara metode rukyatul hilal, mesti melihat hilal tersebut secara langsung dengan mata telanjang maupun mengunakan alat seperti teleskop. Umumnya, hilal bisa dilihat dengan ketinggian di atas dua derajat,” jelas Juraidi.

Dalam menetapkan, tambah dia, pemerintah mengakomodir kedua metode tersebut melalui sidang itsbat yang dipimpin menteri agama. Untuk itu, harus menunggu laporan hasil rukyat dari berbagai titik di seluruh wilayah Tanah Air.

“Masalahnya Indonesia sangat luas, dibagi dalam tiga zona, waktunya berbeda sampai dua jam. Hal inilah yang sering dipertanyakan oleh masyarakat, terutama dari wilayah Indonesia timur yang terpaksa lebih lama menunggu hasil sidang Itsbat.”


KH Yasin Yusuf, Singa Podium dari Blitar

Keempat pemanah yang akan menyakiti Kiai Yasin tampak diam seperti patung.

SELENGKAPNYA

Muskaan Khan Simbol Perlawanan Larangan Jilbab India

Berkat aksi Muskaan, jutaan perempuan Islam di India tak gentar menggunakan jilbab setiap hari.

SELENGKAPNYA

Natalia Arwitasari dan Islam Jalan Hidup

Keputusannya berislam datang dari kesadaran terdalam, tanpa bujukan atau paksaan siapapun.

SELENGKAPNYA
×