Sejumlah santri mengaji Alquran menggunakan penerangan lilin dan lampu minyak di masjid Pondok Pesantren Baitul Mustofa, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Selasa (4/5/2021). | Maulana Surya/ANTARA FOTO

Islamia

17 Mar 2022, 09:45 WIB

Sains, Tauhid, dan Pengetahuan Intuitif

Relevansi pengetahuan intuitif, berdasarkan pemikiran Imam al-Ghazali, dalam bentuk tiga aspek.

OLEH KHOLILI HASIB; Direktur InPAS, Dosen Pascasarjana IAI Dalwa Bangil

Di antara problematika kajian sains hingga kini, dalam konteks epistemologi, adalah sains masih belum bisa bertemu dengan intuisi. Hal ini dapat dipahami karena sains memang berkembang dari paradigma empirisme dan rasionalisme. Sedangkan intuisi dinilai merupakan pengetahuan yang abstrak, gaib, dan tidak bisa diukur. 

Kecuali itu, para ilmuwan cenderung skeptis dengan pengetahuan intuisi dan mengabaikannya dalam pengkajian sebagai sumber pemerolehan ilmu pengetahuan. Ilmu yang bertumpu pada pengalaman spiritual tentu saja sulit dipahami oleh akal biasa.

Di sisi lain, pengetahuan intuitif yang berupa kasyaf, ilham, ladunni dalam tasawuf cenderung lebih ditafsirkan kepada  hal-hal yang mistik, gaib, serta dikaitkan dengan menebak sesuatu benda yang tidak tampak kasatmata. Pengetahuan seperti ini bisa dikatakan masih sangat minim dikaji dalam konteks ilmiah, akademik, bahkan dalam ranah sains alam.

photo
Sejumlah anak menunjukkan hasil mewarnai Kaligrafi Arab saat ngabuburit Taman Pendidikan Al Quran di Dukuhan Nayu, Banjarsari. Solo, Jawa tengah, Selasa (20/4/2021). - (Maulana Surya/ANTARA FOTO)

Bagaimana mungkin sains dan pengetahuan intuitif ini bisa bertemu? Maka itu, pemikiran Imam al-Ghazali tentang pengetahuan alam dan intuisi dalam hal ini sangat relevan. Berangkat dari pemikiran Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof Al-Attas) bahwa sumber ilmu dan kebenaran dalam tradisi Islam adalah indra lahir dan batin, akal dan intuisi, otoritas kabar shadiq (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, hal. 118), maka pemikiran intuisi imam al-Ghazali sangat relevan dalam menjawab isu ini.

Relevansi pengetahuan intuitif, berdasarkan pemikiran Imam al-Ghazali, dalam bentuk tiga aspek. Pertama, pengetahuan intuitif sebagai asas. Kedua, proses pemerolehan. Ketiga, sebagai aksiologi ilmu pengetahuan. 

Pertama sebagai asas, maka yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali adalah sains bisa membawa kepada ma’rifatullah melalui pengintuisian.  Penjelasannya adalah begini, dalam Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Salikin, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa penghalang seseorang dari kebenaran (haq) itu adalah nafsu, hawa, setan, dan ambisi duniawi (Imam al-Ghazali, Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Salikin, hal. 7).

Ma’rifatullah merupakan puncak seseorang berilmu pengetahuan (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin jilid 1, hal. 86). Ma’rifatullah yang dimaksud bukan pada level fikih dan kalam, tetapi pada level shiddiqun. Agar seorang saintis sampai pada puncak itu tidak lain melalui jalan pengintuisian.

Makna tauhidullah secara sempurna tidak dicapai kecuali melalui jalan pengintuisian. Jika demikian, sesungguhnya tauhiddullah adalah induk ilmu pengetahuan. Yakni, tauhidullah sampai pada level shiddiqun.

photo
Sejumlah anak mengikuti Program Magrib Mengaji di Masjid Baetul Mutaqin, Kampung Munggangwareng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/rwa.)

Pengetahuan yang diperoleh melalui jalan pengintuisian, hingga pada puncak ma’rifatullah itu adalah berupa pengenalan dan pengakuan kepada kebenaran dan realitas tertinggi. Kebenaran dan realitas memiliki tingkatan. Ada kebenaran (al-haq) dan realitas (al-haqiqah) pada level yang dipahami oleh akal diskursif dan indra. Ada pula kebenaran dan realitas metafisik yang bersifat mutlak. Yaitu, Tuhan.

Jadi, melalui jalan pengintuisian pengkajian sains bisa sampai pada tingkat penemuan-penemuan metafisik tertinggi. Sejauh ini, pengkajian memang terbatas pada penemuan-penemuan fisik. Tetapi dengan jalan pengintuisian, jika seseorang memperoleh taufik dan rahmat dari Allah SWT, maka akan membuka (kasyf) peluang untuk mendapatkan penemuan metafisik, yaitu Allah SWT. Sehingga, menemukan, mengenal, dan mengakui Allah SWT dapat melalui ilmu sains. Tetapi sains yang berasas pengetahuan intuitif. 

Maka, ada dua jenis sains dalam hal ini, yaitu sains-empirical. Yaitu, sains yang lumrah kita kenal dan dikaji selama ini. Ada pula sains-transempirical, yaitu sains yang pengkajiannya menemukan dua realitas, yaitu menemukan realitas fisik dan menemukan realitas metafisik.

 Oleh sebab itu, relevansi kedua dari pemikiran Imam al-Ghazali adalah pengetahuan intuitif menjadi pelengkap dalam proses pemerolehan kebenaran dalam sains. Maka tahapan perolehan ilmu bisa lebih tinggi selain tahap rasional dan empirikal.

Akan tetapi, tidak berarti bahwa pada tahap pengintuisian atau tahap kerohanian yang tinggi, akal dan pengalaman empirik tidak berperan. Sebaliknya tetap berperan, tetapi dalam bentuk yang transendental/metafisik. Terjadi suatu bentuk kesatuan, yaitu di antara aspek rasional dengan aspek intelektual, juga antara aspek empirikal dengan berbagai pengalaman spiritual, seperti syuhud (penyaksian internal), dzauq, hudhur, dan lain-lain.

photo
Anak-anak mengaji sore di TPA Masjid Al Falah, Lendah, Kulonprogo, Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Dzauq merupakan rasa, yang dimaksud adalah merasakan kebenaran dan realitas yang mutlak. Jadi kebenaran bukan sekadar harus diketahui dan diamalkan, melainkan yang lebih penting lagi adalah kebenaran itu harus mampu dirasakan (dzauqiyah). Seorang hamba Allah yang sampai pada tauhid shiddiqun merupakan manusia yang bisa merasakan al-Haq dan al-Haqiqah yang sesungguhnya.

Prosesnya untuk sampai (wushul) ke level tersebut dapat melalu dua jalan. Pertama, jalan yang disebut Imam al-Ghazali sebagai "at-Ta’lim al-Insani" (human learning) dan kedua, jalan yang disebut "at-Talim ar-Rabbani" (divine learning) dalam Ar-Risalah al-Ladunniyah. Pada tahap divine learning, Imam al-Ghazali menjelaskan, ada seseorang itu langsung diberi oleh Allah, ada pula yang berproses. 

Pada jalan berproses, seseorang terlebih dahulu mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Pada pengumpulan ini, manusia belajar seperti biasa, membaca buku, diajar guru, dan lain-lain. Proses ini disebut human learning. Kemudian, pengetahuan yang banyak itu diseleksi mana yang paling bermanfaat hingga seseorang bertafakur terhadap pengetahuan yang telah ia peroleh.

Pada tahap ini, ia harus melakukan aktivitas penting, yaitu mujahadah (perangi hawa nafsu) dan riyadhah nafs (olah jiwa). Aktivitas ini yang menurut para sufi yang dapat mengundang taufik dan petunjuk Allah SWT. Jika Allah SWT menghendaki, seseorang itu akan dapat mendapatkan ilmu ladunni melalui pengilhaman. 

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ar-Risalah al-Laduniyyah bahwa ladunni yang dimaksud adalah sebuah pemahaman terhadap sesuatu yang sebelumnya dipelajari (pada tahap human learning). Petunjuk Allah itu berupa sebuah pemahaman terhadap realitas. Ternyata pemahaman terhadap kebenaran dan realitas ini bisa merupakan pemahaman realitas dan kebenaran bersifat rasional, tetapi bisa juga pemahaman terhadap realitas dan kebenaran yang bersifat spiritual.

 
Imam al-Ghazali menerangkan bahwa ilham dan kasyaf terjadi dalam sebuah potensi bernama bashirah.
 
 

Maka itu, di titik inilah penting untuk diketahui bahwa pengilhaman itu bisa dua tingkat, yaitu pengilhaman terhadap sesuatu yang fisik dan rasional, tingkat kedua pengilhaman berupa pemahaman terhadap Allah SWT dengan sempurna. Pengilhaman pada tingkat kedua itulah yang sesungguhnya yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali sebagai puncak seseorang berilmu pengetahuan.

Dari kerangka psikologis, datangnya pengetahuan intuitif – baik berupa ilham atau kasyaf – melalui indra luar dan indra dalam. Setelah indra dalam menerima sebuah makna pengetahuan dari luar, maka makna itu diolah oleh indra dalam. Pengintuisian dalam istilah Prof Al-Attas terjadi dalam qalb

Namun, Imam al-Ghazali menerangkan bahwa ilham dan kasyaf terjadi dalam sebuah potensi bernama bashirah. Dalam Misykatul Anwar, Imam al-Ghazali menyebut bashirah itu merupakan “mata” batin dalam qalb manusia. Tempat terjadinya pengintuisian itu ada dalam potensi jiwa yang bernama bashirah.

Oleh sebab itu, prasyarat sebelum seseorang mendapatkan mukasyafah ia harus melakukan oleh ilmu muamalah, yang di antaranya adalah membersihkan qalb. Sebab, di sinilah akan turun “cahaya” kebenaran itu.

Adapun ketiga dari segi aksiologi ilmu pengetahuan, maka pengetahuan intuitif itu melahirkan kepribadian seorang ilmuwan yang baik, beradab, dan rabani. Yaitu, ilmuwan yang mampu mereformasi ilmu pengetahuan dan saintis yang memperkuat akidah Islam. Melalui jalan ini, maka belajar tauhid itu dapat melalui belajar sains. Sehingga para pelajar yang belajar sains seperti pelajar yang belajar ilmu tauhid. 

 
Dalam konteks itulah, Islamisasi ilmu pengetahuan dapat menggunakan metode takhalli dan tahalli.
 
 

Kecuali itu, ada hal penting lagi dari segi aksiologis, yakni seorang saintis selayaknya seorang sufi juga. Dalam arti bahwa seorang sufi tidak terbatas seorang pengamal tarekat tertentu, tetapi seorang yang dinamis keilmuan dan amalnya, sebagaimana pernah ditulis oleh Wan Suhaimi Wan Abdullah, yaitu mereka yang tidak hanya mengamalkan ilmu syar’iyah, tetapi juga menguasai berbagai ilmu alam berdasarkan Islamic worldview. 

Ilmuwan dengan sifat demikian yang dapat menjaga alam semesta ini dengan baik dan benar. Sebab dalam pandangan ini, alam semesta merupakan “tanda” (ayat) Allah SWT. Jika alam ini dipahami sebagai tanda Allah SWT, tidak akan diperlakukan secara liar sesuai hawa nafsunya. Ia akan dijaga dan dikembangkan sebagai media ma’rifatullah. Mampu bersikap sikap membedakan dengan benar kedudukan sesuatu dalam sistem yang benar.

Dalam konteks itulah, Islamisasi ilmu pengetahuan dapat menggunakan metode takhalli dan tahalli. Takhalli meliputi dua hal, itu membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela dan membersihkan pikiran dari pemikiran-pemikiran yang keliru seperti sekularisme. Tahalli juga meliputi tiga hal, yaitu menghias hati dengan sifat-sifat yang terpuji, menghias perilaku dengan tindakan-tindakan beradab, dan ketika menginternalisasi pikiran dengan konsep-konsep dasar worldview Islam. 

Jadi, Islamisasi ilmu pengetahuan model Imam al-Ghazali itu adalah dengan pendekatan tahalli dan takhalli

Dengan demikian,  pengetahuan intuitif itu sangat mungkin dijadikan asas dalam sains. Pemikiran ini merupakan sumbangan penting Imam al-Ghazali terhadap kemajuan ilmu pengetahuan Islam. Wallahu a’lam bis shawab


Mendelegitimasi Ulama

Posisi ulama dalam struktur masyarakat Islam memegang peran yang sangat penting.

SELENGKAPNYA
×