Adiwarman A Karim | Daan Yahya | Republika

Analisis

14 Mar 2022, 06:28 WIB

Euforia Ekonomi Tahun 2022

Dinamika tahun 2022 juga akan diramaikan dengan aksi korporasi yang didorong dua hal.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Tahun 2022 merupakan tahun yang krusial karena dua hal. Pertama, karena pemulihan ekonomi setelah Covid. Kedua, karena dinamika yang akan terjadi akibat banyaknya agenda bangsa.

Semester pertama merupakan periode penyesuaian setelah hilangnya Covid pada bulan April ini. Semester kedua merupakan periode akselerasi pertumbuhan. 

Hilangnya Covid akan langsung disambut dengan lonjakan ekonomi akibat normalnya kegiatan ekonomi pada bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan tradisi mudik. Sektor transportasi, konsumsi, perdagangan ritel akan menjadi lokomotifnya.

Permintaan kredit otomotif akan melonjak menjelang mudik. Optimisme pasar akan menguat, persiapan haji akan menambah euforia pasar setelah istirahat panjang selama pandemi.

 
Hilangnya Covid akan langsung disambut dengan lonjakan ekonomi akibat normalnya kegiatan ekonomi pada Ramadhan, Idul Fitri, dan tradisi mudik.
 
 

Kebijakan fiskal akan kembali menjadi lokomotif pertumbuhan, diimbangi dengan kebijakan moneter menjaga stabilitas. Diperkirakan, pemerintah akan menerbitkan lagi beberapa instrumen surat berharga negara. Belajar dari masa pandemi, dapat diduga peran otoritas moneter untuk membeli surat berharga negara tersebut di pasar primer akan dilanjutkan.

Untuk menjaga inflasi akibat naiknya permintaan domestik dan naiknya perputaran uang, dapat diduga pula otoritas moneter akan menyiapkan instrumen operasi moneter untuk menyerap kelebihan likuiditas tersebut. Dengan strategi kebijakan “gas-rem” diperkirakan ekonomi akan tumbuh dan inflasi tetap terjaga.

Perry Warjiyo dan Solikin Juhro, masing-masing Gubernur BI dan Kepala BI Institute, dalam buku mereka “Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses” memudahkan ekonom untuk membaca arah kebijakan moneter. Jejak rekam panjang otoritas fiskal juga memudahkan ekonom mengantisipasi kebijakan pemerintah.

Frederic Mishkin, profesor Columbia University, dalam risetnya “Does Anticipated Monetary Policy Matter?” menjelaskan kemudahan pasar mengantisipasi kebijakan yang akan diambil oleh otoritas akan menambah efektivitas kebijakan tersebut karena pasar akan menyesuaikan tindakan mereka sesuai dengan kebijakan pemerintah.

 
Tahun 2022 ada beberapa agenda bangsa yang menyebabkan antisipasi tersebut tidak semudah sebelumnya.
 
 

Tahun 2022 ada beberapa agenda bangsa yang menyebabkan antisipasi tersebut tidak semudah sebelumnya. Pertama, pada semester pertama tahun 2022 akan ada pergantian pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Yang satu adalah otoritas, yang satu lagi adalah salah satu investor domestik terbesar.

Kedua, pada semester kedua tahun 2022 akan ada 101 kepala daerah yang terdiri dari tujuh gubernur, 76 kabupaten, 18 wali kota yang akan mengakhiri masa jabatannya. Ketiga, pada semester pertama tahun 2023, gubernur Bank Indonesia akan memasuki masa akhir jabatannya.

Dinamika tahun 2022 juga akan diramaikan dengan aksi korporasi yang didorong oleh dua hal. Pertama, kebijakan merampingkan BUMN, termasuk moratorium pendirian anak perusahaan BUMN. Dapat diduga aksi korporasi penggabungan usaha untuk meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis akan terjadi pada skala mega.

Kedua, amanat UU yang mewajibkan spin off lembaga keuangan syariah akan mendorong aksi korporasi berupa spin off, akuisisi, merger, konversi lembaga keuangan syariah. 

Selanjutnya, ada dua hal di bidang legislasi yang terkait ekonomi yang akan menambah dinamika. Pertama, RUU Reformasi Pengembangan dan Pengaturan Sektor Keuangan menambah besar kesulitan pasar mengantisipasi arah kebijakan ekonomi.

Alih-alih RUU tersebut memberikan kepastian arah, keputusan Mahkamah Konstitusi atas judicial review bahwa UU Cipta Kerja tidak sesuai konstitusi atau inskonstitusional bersyarat, malah menambah dinamika yang akan terjadi. Pasar mulai berhitung bila hal yang sama akan terjadi juga setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK) disahkan menjadi UU.

 
Telah ditunjuknya pimpinan IKN memberikan sinyal ke pasar tentang arah pembangunan ibu kota baru.
 
 

Kedua, UU Ibu Kota Negara (IKN) diduga akan menggeser titik pertumbuhan ekonomi ke Kalimantan. Telah ditunjuknya pimpinan IKN memberikan sinyal ke pasar tentang arah pembangunan ibu kota baru. Rencana pembangunan Kawasan Industrial Park Indonesia di Kalimantan Utara yang berbatasan utara dengan Negara Sabah Malaysia dan Negara Serawak Malaysia di sebelah barat memberikan perspektif ketahanan nasional dalam memahami UU IKN.

Rencana pembangun food estate di Kalimantan Tengah yang berbatasan selatan dengan Laut Jawa oleh Kementerian Pertahanan, bukan Kementerian Pertanian, menambah lengkap perspektif ketahanan nasional dalam memahami UU IKN.  

Keinginan Ukraina bergabung dengan Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengingatkan kita akan keinginan Kuba memasang rudal Uni Soviet di negaranya. Ukraina dan Kuba masing-masing terletak persis di serambi Rusia dan Amerika Serikat. Mudah diduga Rusia saat ini memerangi Ukraina sebagaimana dulu AS memerangi Kuba.

Perubahan kekuatan geopolitik, ekonomi, dan militer mendorong terjadinya shadow boxing di antara negara-negara adidaya melalui negara-negara proxy-nya untuk mencari keseimbangan baru.

Robert Bociaga, pengamat international affairs, dalam artikelnya “Borneo Exit: Independence for East Malaysia?” mengingatkan kita untuk selalu memahami perubahan geoplitik. Dalam perspektif ini, kita dapat memahami UU IKN dalam konteks yang lebih luas, yaitu ketahanan nasional.

 
Adanya berbagai dinamika ini menyebabkan berkurangnya kemampuan pasar mengantisipasi kebijakan pemerintah.
 
 

Adanya berbagai dinamika ini menyebabkan berkurangnya kemampuan pasar mengantisipasi kebijakan pemerintah. Stefania DíAmico dan Thomas King, keduanya periset Bank Sentral AS di Chicago, dalam riset mereka “What Does Anticipated Monetary Policy Do?” menguatkan kembali riset Frederic Mishkin.

Berkurangnya kemampuan mengantisipasi diduga akan mengurangi efektivitas kebijakan mendorong pertumbuhan ekonomi. Walaupun Covid-19 telah menjadi endemi, diduga diperlukan 18-24 bulan untuk kembali ke jalur pertumbuhan normal. Ini menjadi semakin menarik karena 24 bulan dari tahun 2022 adalah tahun 2024. 

Marwan bin Muhammad bin Marwan, bergelar Marwan II adalah pemimpin terakhir Bani Umayyah. Sebelum menjadi khalifah, Marwan telah menjabat sebagai Gubernur Azerbaijan.

Al-Musta'shim Billah adalah khalifah terakhir Bani Abbasiyah yang banyak bergantung kepada wazirnya, Muayidin Al Alqami Ar Rafidhi. Sultan Mehmed VI atau Mehmed Vahdettin adalah khalifah terakhir Turki Usmani. Kekhalifahan dibubarkan pada 3 Maret 1924.

 
Menjadi kuat secara ekonomi setelah Covid dan memahami perubahan geopolitik merupakan kunci keberhasilan membawa Indonesia ke posisi terhormat.
 
 

Ketiganya terlambat mengantisipasi dinamika perubahan kekuatan geopolitik yang diawali dengan melemahnya kekuatan ekonomi. Sebaliknya, munculnya Muawiyah RA sebagai khalifah pertama Bani Umayyah, munculnya Abu al-Abbas al-Saffah khalifah pertama Bani Abbasiyah, munculnya Sultan Osman I khalifah pertama Bani Turki Usmani, semua diawali dengan kekuatan ekonomi mereka.

Menjadi kuat secara ekonomi setelah Covid dan memahami perubahan geopolitik merupakan kunci keberhasilan membawa Indonesia ke posisi terhormat di dunia. Kita berikan ikhtiar terbaik, kita undang pertolongan dan keberkahan Allah, kita harumkan nama Indonesia, kita harumkan nama Islam.

Allah berfirman “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat amal kalian itu.“


Krisis Minyak Goreng di Lumbung Sawit Dunia

Kelas menengah mendominasi konsumsi minyak goreng nasional dalam jumlah signifikan.

SELENGKAPNYA

Sinergi ITB dan SBM

ITB dan SBM bisa melanjutkan sinergi, terus berinovasi bukan berseteru, menjadi katalisator inovasi pendidikan.

SELENGKAPNYA

Bekal Ketakwaan

Mari jadikan takwa sebagai landasan utama dalam mengumpulkan bekal menuju akhirat.

SELENGKAPNYA
×