IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

07 Mar 2022, 03:45 WIB

Antara Invasi Irak ke Kuwait dan Rusia ke Ukrania

Dengan invasi Rusia ke Ukrania, ingatan banyak orang kembali ke peristiwa global bernama Perang Dingin.

OLEH IKHWANUl KIRAM MASHURI

Beberapa pengamat Arab membandingkan perang Rusia-Ukraina sekarang dengan invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990. Ada kesamaan dan perbedaan. Persamaannya, mereka menyebut perang Rusia dengan Ukrania itu invasi.

Sama dengan ketika Presiden Irak Saddam Husein menyerang Kuwait. Kekuatan militer Rusia dengan Ukraina dan Irak dengan Kuwait juga tak seimbang. Kesamaan lainnya, Saddam Husein dan Vladimir Putin sama-sama orang kuat pada zamannya.

Irak dan Rusia juga mempunyai kekuatan militer paling ampuh di kawasan masing-masing, yang dianggap bisa membahayakan negara tetangganya. Apalagi, kedua negara dianggap mempunyai senjata pemusnah massal.

Namun, dalam kasus Irak, terbukti senjata massal tidak pernah ditemukan, yang sengaja dikarang Presiden George Bush dan pemerintahannya agar mempunyai alasan untuk invasi.

 
Padahal, menurut kolumnis Arab, Abdul Rahman al Rasyid, konflik militer Rusia versus Ukrania kini akibatnya bisa lebih dahsyat dari  PD II, apalagi invasi Irak Saddam Husein ke Kuwait.
 
 

Yang membedakan, dalam kasus Irak, AS langsung memimpin pasukan sekutu menginvasi Irak hingga negeri itu hancur. Saddam Husein ditangkap, diadili, dan dieksekusi mati. Bagaimana dengan invasi Rusia ke Ukrania?

AS dan NATO sejauh ini hanya menjatuhkan sanksi ekonomi. Mereka tampaknya sengaja menghindari kontak militer langsung dengan Rusia, dengan berbagai dalih, antara lain agar tidak terjadi Perang Dunia III (PD III).

Padahal, menurut kolumnis Arab, Abdul Rahman al Rasyid, konflik militer Rusia versus Ukrania kini akibatnya bisa lebih dahsyat dari  PD II, apalagi invasi Irak Saddam Husein ke Kuwait.

Perang kali ini bisa lebih lama, multifront, menggunakan senjata modern dan  canggih, dijalankan negara-negara yang memiliki senjata nuklir. Konflik kali ini bukan hanya membuat penderitaan panjang rakyat Ukrania, bisa lebih buruk dari yang terlihat sekarang.

NATO berkeyakinan, invasi Rusia ke Ukraina kali ini bisa jadi hanya permulaan. Mereka tidak tahu yang direncanakan Presiden Putin: Apakah Rusia akan menguasai kembali negara-negara pecahan Uni Soviet yang dulu pernah jadi bagian dari Uni Republik Sosialis Soviet?

 
Dengan invasi Rusia ke Ukrania, ingatan banyak orang kembali ke peristiwa global bernama Perang Dingin
 
 

Yakni, dengan alasan serupa ketika Putin menginvasi Ukrania atas nama sejarah, geografi, tanah, agama, ekonomi, melindungi keamanan nasional, menanggapi ekspansi NATO, atau tanggapan atas tekanan dari wilayah-wilayah separatis dan kelompok oposisi?

Dengan invasi Rusia ke Ukrania, ingatan banyak orang kembali ke peristiwa global bernama Perang Dingin. Pertanyaan berikutnya, apa kemungkinan langkah Rusia setelah Ukrania? Apakah Latvia, Lithuania, dan Estonia menjadi sasaran berikutnya?

Ada 15 negara yang memisahkan diri setelah Uni Soviet bubar. Barat memandang, rakyat di negara-negara itu berhak menentukan nasibnya sendiri. Sebaliknya, para kaum nasionalis Rusia seperti Vladimir Putih menganggapnya bagian dari Federasi Rusia.

Dalam pidatonya ketika Rusia menginvasi Ukrania, Presiden Putin menggambarkan peta politik penting untuk memahami situasi saat ini dan masa depan. Putin mengatakan, kepemimpinan Partai Komunis melakukan banyak kesalahan membuat Uni Soviet runtuh.

Kini negara anggota NATO menghadapi situasi sulit berhadapan dengan Rusia. Berkonfrontasi langsung merupakan hal yang selama ini dihindarkan. Namun, invasi Rusia menunjukkan perubahan peta politik yang menandai bahwa dunia kini telah berubah.

Karena itu, tak diragukan lagi dunia kini, kehilangan dua kekuatan penyeimbang. Terlepas dari berbagai kekurangannya, Blok Barat (AS dan sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet dan negara Eropa Timur) dalam waktu cukup lama menjadi penyeimbang, yang memastikan stabilitas di berbagai kawasan dunia.

Bagi banyak pengamat militer, invasi Rusia ke Ukrania tak mengejutkan. Apalagi, setelah Federasi Rusia menganeksasi Krimea pada 2014, disusul pengakuan kemerdekaan Donets dan Luhansk beberapa hari lalu. Ketiganya merupakan wilayah Ukrania.

 
Bahkan, rakyat di seluruh dunia pun akan menanggung akibat dari invasi Rusia ke Ukrania berikut sanksi ekonomi ke Rusia.
 
 

Langkah itu dibarengi pengerahan 100 ribu personel militer Rusia ke perbatasan dengan Ukrania, sebelum invasi ke Ukrania benar-benar dilancarkan. Yang menjadi kekhawatiran, bila invasi ini dibiarkan, Putin akan membuka front baru di negara lain.

Sejauh ini, AS dan sekutunya di NATO hanya menjatuhkan sanksi ekonomi. Mereka berharap, keunggulan senjata ekonomi dan keuangan melemahkan Moskow dan bisa memaksanya mundur dari Ukraina atau berdamai.

Namun, seperti kita tahu, sanksi ekonomi selalu gagal, terutama di negara-negara, seperti Rusia, Korea Utara, Suriah, dan lainnya, yang rezimnya bersedia menanggung akibatnya meskipun rakyat mereka semakin menderita.

Bahkan, rakyat di seluruh dunia pun akan menanggung akibat dari invasi Rusia ke Ukrania berikut sanksi ekonomi ke Rusia, berupa inflasi dan kenaikan harga komoditas vital, seperti gandum dan energi — gas dan minyak.

Pelajaran dari perang Rusia di Ukraina ini, kita berada di dunia seperti hutan, tempat hanya yang kuat, berkuasa, dan mandiri yang dihormati. Konsep kekuasaan bukan sepenuhnya militer, melainkan ilmiah, teknis, dan ekonomi.

Uni Soviet runtuh karena alasan ekonomi, saat itu kekuatan militernya terbesar kedua di dunia. 


IMF: Dampak Perang Rusia-Ukraina Sangat Serius

Hingga saat ini, perundingan Rusia dan Ukraina belum membuahkan hasil kesepakatan.

SELENGKAPNYA

Perang Informasi di Pusaran Konflik

Perang informasi untuk mengendalikan narasi tentang invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.

SELENGKAPNYA
×