Lukisan Rafaelo Sanzio yang menggambarkan para filosof Yunani dan filosof Muslim. | wikimedia commons

Islamia

18 Feb 2022, 03:45 WIB

Menelaah Urgensi Framework Kajian Filsafat Islam

Para filsuf Muslim telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat.

MUHAMMAD FAQIH NIDZOM, Mahasiswa Program Doktoral AFI UNIDA Gontor

Ada tesis umum di kalangan sarjana Barat dalam studi filsafat Islam, berikut argumen-argumen yang mereka kemukakan, yang menyebut filsafat Islam atau Arab adalah kelanjutan dan kebangkitan tradisi filsafat Yunani akhir, yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap diri mereka Muslim dan yang menulis dalam bahasa Arab, bukan Yunani dan Siria.

Pendapat seperti ini mengandaikan bahwa filsafat dan teologi Islam muncul dari gelombang Hellenisme, dan berimplikasi pada ruang lingkup kajian filsafat Islam.

Dalam Islamic Philosophy and Theology, Montgomery Watt memulai bukunya dengan pembahasan tokoh-tokoh filsuf Muslim peripatetik, seperti al-Kindī, al-Fārābi, Ibnu Sīnā, dan seterusnya, dari periode Umayyah dan diikuti oleh Hellenisme gelombang pertama dan kedua, yang diakhiri dengan periode modern. 

Senada dengan itu, Henry Corbin dalam Avicenna and the Visionary Recital menulis, “Arabic Philosophy began by al-Kindī, (to which one may also add, 'through the Greek translation') reach its height with al-Fārābi and Avicenna, suffered the disastrous shock of the criticism of al-Ghazāli and made heroic effort to rise again with Averroes. That is all.” Framework ini jelas mereduksi keseluruhan filsafat Islam menjadi sekadar Aristotelianisme Islam.

photo
Lukisan ilustrasi Ibn Rusyd. - (wikimedia commons)

Kritis atas framework studi 

Telah banyak sarjana Muslim yang melihat kerancuan framework tersebut, serta memberikan kritik tajam terhadapnya. Abdul Halim Mahmud, mantan grand syeikh al-Azhar yang ahli filsafat dan tasawuf, dalam buku at-Tafkīr al-Falsafi fil Islām melihat adanya  bias fanatisme (dalam  hal  ini Europasentrisme-Aristotelianisme) dalam studi mereka. 

Menurut dia, metode yang tepat dalam studi filsafat Islam adalah penelusuran terhadap tahapan tradisi berpikir dalam Islam, berikut perkembangannya, tanpa fanatik pada pemikiran tertentu. Abdul Halim memang melihat sendiri bagaimana Georgio de Santillana  mengajar di Mesir, dan menyatakan bahwa filsafat Islam sejak lahir dan berkembangnya dari filsafat Yunani murni. Padahal, dengan metode yang teliti akan kita dapati bahwa sesuatu disebut menjiplak atau mengekor kepada sebelumnya, mengandaikan setidaknya tiga syarat.

Pertama, adanya kesamaan atau kemiripan yang nyaris tanpa beda. Kedua, adanya bukti bahwa yang belakangan itu mengambil secara langsung dari sebelumnya, baik dengan cara berguru maupun mempelajari buku. Ketiga, yang belakangan tidak lebih superior dari yang ditiru.

Sebagai contoh, untuk menyebut beberapa hal yang diabaikan Santillana, Abdul Halim menyebut sosok Abū Dzar al-Ghifāri yang tanpa mengenal sosialisme Plato, tapi menjadikan zuhud sebagai manhaj dalam hidupnya. Para khalifah dan imam fikih yang tanpa bersinggungan dengan teori-teori dalam filsafat Yunani, mampu membangun metodologi rumusan hukum yang kokoh. 

 

 
Para filsuf Muslim telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat, yang tidak pernah dikembangkan oleh para filsuf Yunani sebelumnya. 
 
 

 

Oliver Leaman di bukunya An Introduction to Medieval Islamic Philosophy bahkan  mengidentifikasi qiyas sebagai  filsafat hukum atau prinsip penalaran dalam Islam dan menganggapnya sebagai awal dari filsafat Islam. Logika dan penalaran semacam ini mendahului bidang keilmuan lainnya karena ketika umat Islam keluar dari jazirah Arab, mereka menghadapi realitas sosial yang berbeda yang membutuhkan solusi rasional dan religius, yang melibatkan penggunaan Alquran, sunah, ijmā’, dan qiyās.

Metode berpikir ini, lanjut Leaman, tidak ada hubungannya atau dipengaruhi oleh logika Organon atau Aristotelian. Selain itu, tradisi kalam sebagai pemikiran spekulatif pertama dalam Islam, juga dapat dikatakan sebagai tradisi filosofis dalam Islam, karena dalam kalam seseorang dapat menemukan wacana tentang Tuhan, moralitas, alam semesta, ciptaan, pengetahuan, kehidupan duniawi, takdir, dan seterusnya. 

Jawaban atas wacana itu kemudian ditandai dengan munculnya kelompok- kelompok Khawārij, Syīah, dan Mu’tazilah dengan pendapat yang rasional-argumentatif (dalīl  ‘aqliy), selain merujuk ayat-ayat Alquran dan Hadis Nabi (dalīl naqliy). Pemikiran rasional dari hukum Islam dan kalam inilah yang turut berjasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan filsafat Yunani dalam tradisi intelektual Islam. 

Dalam kerangka ini, filsafat Yunani tidak dianggap sebagai asal mula filsafat Islam, tetapi merupakan pinjaman konsep, teori, dan metodologi yang dengannya, umat Islam dapat mengembangkan filsafat mereka sendiri.

Dalam ungkapan Michael Marmura, sebagaimana yang ia tuangkan dalam The  Encyclopedia of Religion, para filsuf Muslim tidak sekadar menerima ide-ide yang mereka terima melalui terjemahan, tetapi juga mengkritik, menyeleksi, dan menolak; mereka membuat pembedaan, memperhalus dan membentuk kembali konsep-konsep untuk merumuskan filosofi mereka sendiri. 

 

 
Metode berpikir ini, lanjut Leaman, tidak ada hubungannya atau dipengaruhi oleh logika Organon atau Aristotelian.
 
 

Meminjam istilah AI Sabra, proses inilah yang ia sebut apropriasi ilmu atau naturalisasi, untuk merujuk pada proses akulturasi dari sebuah ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku, kemudian ilmu menjadi terasimilasi secara penuh berdasarkan pandangan dunia (worldview) mereka atau agar sesuai dengan pandangan dunia Islam.

 

Adalah Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, yang dalam pidato guru besarnya berjudul "A New Framework for the Study of Islamic Philosophy: A Worldview Approach", menawarkan daftar isi studi filsafat Islam di perguruan  tinggi. Ia memulai dengan framework studinya, yang membahas pengertian atau definisi filsafat Islam dan penamaannya, asal usulnya, dan ruang lingkupnya.

Sebab, filsafat Islam adalah tentang membangun, mengevaluasi, atau membahas sistem pemikiran, yang terkait dengan masalah dalam menggunakan pendekatan ilmiah, terstruktur, metodologis, dan teoretis.

Usaha ke arah itu, misalnya, telah dilakukan Ali Sāmi Al-Nasyār, dengan karyanya Nasy’ah al-Fikr al-Falsafi fil Islām. Ia mengumpulkan studi tentang munculnya pemikiran filosofis dalam Islam, yang ia mulai dengan dengan Arab awal pra-Islam, menelusuri perbedaan antara Islam, Yudaisme, Kristen, dan filsafat Yunani.

Hal ini untuk melacak kreativitas filosofis dan munculnya filsafat Islam, serta faktor internal dan eksternal yang menyertainya, sekaligus menunjukkan peran faktor worldview dan proses asimilasi yang berlangsung. 

Apa yang 'Islami' dari filsafat Islam?

Merujuk ke tinjauan Ibrahim Madkour dalam buku Al-Falsafah al-Islāmiyyah: Manhaj wa Tatbīquhu, filsafat Islam itu bersifat “Islami” dilihat dari dua segi utama; dari segi masalah-masalah yang dibahas dan dari aspek konteks sosio-kulturalnya.

photo
Lukisan ilustrasi Ibn Sina. - (wikimedia commons)

Faktor pertama ini tampak pada perkembangan yang unik dalam filsafat Islam, akibat dari interaksi antara Islam sebagai agama, dan filsafat Yunani. Para filsuf Muslim telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat, yang tidak pernah dikembangkan oleh para filsuf Yunani sebelumnya. 

Dengan menelusuri karya para  filsuf, baik klasik maupun kontemporer,  kita akan lihat perincian tema dan isu baru  dalam  filsafat Islam tersebut, dan hingga kini terus berkembang. Di antaranya, problem utama yang berkaitan dengan eksistensi, seperti ashālah al-wujūd, wahdah al-wujūd, al-wujūd al-dzihnī,  ja‘l,  i‘tibārāt, al- ma‘qūlāt al-tsānawiyyah, taqaddum, hudūts, al-harakah al-jauhariyyah. 

Selain itu, terkait jiwa dan akal budi, para filsuf mengkaji al-nafs al-hayawāniyyah, tajarrud ‘aqlī, jismāniyyah al-hudūts wa rūhāniyyah al-baqā’, fā‘iliyyah bi al-taskhīr, ibthāl at-tanāsukh,, jawhar wa ‘ardh, quwā an-nafs, al-ba’ts fil barzakh, qā‘idah bāsith al-haqīqah. Termasuk  juga  kajian  tentang  ketuhanan  khas  filsuf  peripatetik,  seperti al’aql al-awwal, wājib al-wujūd, mumtani’ al-wujūd, ittihād al-‘āqil wa al-ma‘qūl, al- shuwar al-nau‘iyyah, dan seterusnya.

Tentu isu-isu itu tidak lahir di ruang hampa, tetapi adanya  proses epistemologis, pengaruh ajaran agama dan tradisi ilmiah yang mengitari para filsuf. Untuk itu, menjadi penting mengkaji suatu tradisi ilmiah dengan pendekatan yang holistik, seperti yang diusahakan oleh Alparslan Açıkgenç.

Dalam bukunya, Islamic Tradition in History, Alparslan membahas perjalanan epistemologi filsafat ini dalam suatu peradaban Islam, yang ia identifikasi sebagai epistemologi sejarah. Dalam arti, akan terjadi penerapan ganda epistemologi: pertama, pada kegiatan ilmiah, yaitu epistemologi filsafat; kemudian epistemologi filsafat ini diterapkan pada sejarah peradaban Islam.   

 

 
Pada tahap berikutnya, muncul ulama yang mampu mengklasifikasi dan menyistematisasi akumulasi ilmu yang ada. Dengan cara ini, akumulasi pengetahuan yang acak menjadi disiplin dan tertata dengan baik.
 
 

 

Hal ini memungkinkan kita menemukan jalan yang diambil oleh sejarah kebangkitan dan kemajuan ilmiah dalam peradaban Islam, yang diidentifikasi sebagai "proses ilmiah". Ketika proses sejarah ini berkembang, ia mengungkapkan karakteristik tertentu yang tecermin dalam sikap dan mentalitas para ilmuwan (filsuf), yang terlibat dalam proses tersebut.

Kumpulan dari mentalitas dan sikap ini bersama- sama dengan perilaku khusus yang ditunjukkan oleh para  ilmuwan ini merupakan kumpulan adat budaya dan kebiasaan, yang disebut “tradisi ilmiah”. Oleh karena itu, penting untuk menjelaskan sifat proses ilmiah dan mencoba untuk memahami proses tersebut mengarah pada sebuah tradisi.

Aplikasi dari epistemologi yang dikembangkan itu, lanjut Alparslan, menunjukkan epistemologi ilmu dalam peradaban Islam, yang pekembangannya ia bagi menjadi empat tahap proses ilmiah. Pertama, turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam. Kedua, adanya struktur ilmu pengetahuan dalam Alquran dan hadis.Ketiga, lahirnya tradisi keilmuan Islam, yang hasilnya adalah kelahiran disiplin ilmu- ilmu Islam, termasuk filsafat.

Tahap paling awal, yang ia sebut tahap masalah (problematic stage), terdapat intelektual Muslim klasik, seperti Muhammad ibn Hanafiyyah, Abān ibn 'Utsmān, 'Urwa ibn al-Zubair, Hasan al-Basri, Mujāhid ibn Jabr, Ibrāhīm Nakhā', Ghaylān al-Dimashqī, Wāsil ibn 'Atā', al-Awza'ī, Abū Hanīfa, Sufyān al-Tsauri, dan lainnya. Melalui karya- karya mereka terjadi akumulasi pengetahuan yang luar biasa, di mana generasi intelektual berikutnya mengalami kesulitan untuk mengejar pengetahuan. 

Pada tahap berikutnya, muncul ulama yang mampu mengklasifikasi dan menyistematisasi akumulasi ilmu yang ada. Dengan cara ini, akumulasi pengetahuan yang acak menjadi disiplin dan tertata dengan baik. Perkembangan baru dalam proses ilmiah Islam ini disebut tahap disiplin (diciplinary stage).

Dengan begitu, setiap bidang pengetahuan yang diklasifikasikan datang secara bertahap untuk mewakili bidang studi yang disebut "disiplin" atau "ilmu" dalam arti teknis (abad kedua dan ketiga Hijrah/700-950).

 

 
Aplikasi dari epistemologi yang dikembangkan itu, lanjut Alparslan, menunjukkan epistemologi ilmu dalam peradaban Islam, yang pekembangannya ia bagi menjadi empat tahap proses ilmiah. 
 
 

 

Di sini terjadi tahap penamaan ilmu (naming stage). Menjelang akhir abad ketiga melalui akumulasi lebih banyak pengetahuan ilmiah di berbagai bidang, pandangan baru dengan sikap khusus terhadap pengetahuan dan pembelajaran dengan mentalitas yang jelas itu  muncul sebagai tradisi ilmiah Islam, yang tidak hanya mengandalkan akal, tetapi juga wahyu.

Uraian Alparslan di atas, disimpulkan dengan baik oleh Prof Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai berikut,  “It may be aptly said that Islamic philosophy is Muslim philosophical works which was driven by their understanding of revelation that had projected  Islamic worldview and was subsequently developed into Islamic scientific tradition and enriched by Greek theories and methodologies by way of appropriation processes”.

Meminjam formulasi Syed Muhammad Naquib al-Attas, karena tidak ada ilmu yang bebas nilai, kita harus cerdas meneliti dan mempelajari kesimpulan- kesimpulan dan nilai-nilai yang melekat pada, atau disesuaikan dengan, presuposisi dan interpretasi sarjana orientalis, tak terkecuali dalam studi filsafat Islam.

Kita tidak boleh bersikap masa bodoh dan tanpa kritik menerima setiap tesis, teori ilmiah, atau filosofi yang baru tanpa terlebih dahulu memahami implikasinya dan menguji validitas nilai-nilai yang terselip di dalamnya.

Alparslan, sebagaimana diidentifikasi Meryem Ari dari Directorate of Religious Affairs Turkey, menawarkan kita telaah atas konsep-konsep kunci berikut: pengetahuan, objektivitas pengetahuan, objektivitas subjektif, redefinisi kata ilmiah, metode ilmiah, informasi, teori, sudut pandang ilmuwan, konteks filsafat, terminologi, proses

perkembangan filsafat dan tahapannya, struktur sosial yang dinamis, worldview, kecerdasan, kesadaran, intuisi, pematangan moral, kesatuan, dan hierarki wujud. Jadi, masih banyak agenda penelitian tentang filsafat Islam, bagi siapa pun yang concern terhadapnya.

Wallāhu A’lam. 


Islam dan Realitas Matematika

Dalam tradisi Intelektual Islam, matematika juga dipandang sebagai gerbang dari dunia indra menuju dunia pengertian.

SELENGKAPNYA
×