Masjid Kowloon di Hong Kong dilihat dari atas. Tempat ibadah Muslimin ini mampu menampung hingga 3.500 orang jamaah. | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

13 Feb 2022, 16:56 WIB

Menengok Islam di Hong Kong

Hampir separuh kaum Muslimin di Hong Kong adalah pekerja dari Indonesia.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Hong Kong berada di Cina daratan. Secara geografis, wilayahnya mencapai luas 1.104 km persegi. Areanya meliputi Pulau Hong Kong, Kowloon, Sai Kung, New Territory, Pulau Lantau, dan sekitar 260 pulau kecil di sekitarnya.

Pada masa kolonial, Hong Kong merupakan jajahan Britania Raya. Sejak berakhirnya Perang Candu, Inggris mengendalikan wilayah tersebut 99 tahun lamanya. Tepat pada 1997, teritori itu akhirnya “diserahkan” kepada Republik Rakyat Cina (RRC). Mulai saat itu, daerah administratif-khusus RRC itu menganut prinsip “satu negara, dua sistem".

Hong Kong memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi dibandingkan kota-kota lainnya di Asia Timur. Jumlah penduduk Hong Kong mencapai 7,5 juta jiwa, termasuk para migran yang berkebangsaan non-RRC.

Kowloon, misalnya, mempunyai tingkat kepadatan hingga 6.300 jiwa per km persegi. Menurut pemilahan suku bangsa, sebanyak 95 persen warga Hong Kong beretnis Tionghoa. Adapun lima persen sisanya berasal dari beragam kelompok etnis, termasuk Eropa, Asia Selatan, Indonesia, Filipina, dan Jepang.

Thomas Kwan Choi Tse dalam artikelnya, “Hong Kong—Pluralistic but Sparate Religious Education in A Multi-religious City” (2020), menjelaskan, ada beberapa umat agama atau kepercayaan religius yang signifikan di Hong Kong. Mereka adalah Buddha dan Taoisme (lebih dari satu juta penganut), Kristen Protestan (500 ribu orang), Katolik (389 ribu orang), Islam (300 ribu orang), Hindu (100 ribu orang), dan Sikh (12 ribu orang).

photo
Masjid Kowloon menjadi salah satu pusat syiar Islam terbesar di Hong Kong. - (DOK KOWLOON MASJID DAWAH COMMITTEE)

Sejarah dakwah Islam di Hong Kong bermula pada masa penjajahan Inggris. Awalnya, para pendatang Muslim di negeri-kota tersebut berasal dari India. Kebanyakan mereka berprofesi sebagai tentara pada kemiliteran Britania Raya.

Sejak pertengahan abad ke-19, semakin banyak tentara dan pengusaha Muslim tiba di Hong Kong. Mereka tidak hanya datang dari Asia Selatan, tetapi juga kawasan Tiongkok Daratan. Dengan bertambahnya jumlah populasi Muslim, pemerintah protektorat Britania Raya mengalokasikan tanah bagi tempat tinggal mereka. Penguasa juga mendukung berdirinya masjid-masjid serta kawasan permakaman Muslim.

Di antara kantong-kantong Muslim di sana ialah sekitar Distrik Wan Chai. Pusatnya adalah Masjid Wan Chai. Adapun masjid tertua di Hong Kong ialah Jamia Mosque yang berdiri sejak 1890 M.

Kaum Muslimin turut menggerakkan kehidupan ekonomi dan sosial lokal. Mereka juga mengadakan organisasi-organisasi sebagai medium mempererat silaturahim. Umat Islam Hong Kong secara historis diperlakukan terpisah dengan Muslimin RRC, umpamanya, dalam hal pengaturan haji.

photo
Para pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Kebanyakan PMI merupakan wanita Muslim. - (DOK KJRI Hong Kong)

Dari sekitar 300 ribu Muslim di Hong Kong, sekitar separuhnya merupakan orang Indonesia. Mereka tinggal di sana sebagai pelajar, mahasiswa, atau pekerja migran Indonesia (PMI). Nyaris seluruh PMI di salah satu pusat finansial dunia itu adalah perempuan.

Menurut penelitian yang dilakukan Ahmad Athoul Hasib (2020), dominasi Muslimin Indonesia itu berpengaruh terhadap corak dan karakteristik komunitas Islam di Hong Kong. Hasib menemukan, umat Islam Indonesia yang mukim di Hong Kong rata-rata memiliki ciri khas Nahdliyin. Termasuk kalangan PMI setempat, mereka kerap mengadakan kajian terjadwal. Sebutannya ialah jam’iyyah atau majelis taklim dengan sajian-sajian kegiatan yang selaras, semisal yasinan, tahlilan, shalawatan, ceramah, dan lain-lain.

Kaum PMI umumnya memiliki jatah libur sehari per pekan. Mereka lantas memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas yang disukainya. Di antaranya ialah berkumpul dengan sesama Muslimin dalam sebuah majelis ilmu, yang tersebar di berbagai kota yang ada di Hong Kong.

photo
Seorang jamaah Masjid Kowloon dalam acara open day mosque beberapa waktu lalu. Di Hong Kong, terdapat sekira 300 ribu orang pemeluk Islam. - (DOK KOWLOON MASJID DAWAH COMMITTEE)

Penelitian terkini ihwal kehidupan religi PMI di Hong Kong termaktub dalam “Negotiating Religiosity in A Secular Society: A Study of Indonesian Muslim Female Migrant Workers in Hong Kong” (2021). Riset yang dilakukan sejumlah akademisi UIN Syarif Hidayatullah itu mengkaji aspek-aspek religiusitas Muslimah yang bekerja sebagai PMI di kota-kosmopolitan tersebut.

Mayoritas PMI adalah wanita. Kebanyakan mereka merupakan pekerja dari Jawa Timur, salah satu provinsi yang terkenal kuat keislamannya. Sekurang-kurangnya, terdapat dua lokasi yang menjadi pusat keagamaan Muslimah PMI itu di Hong Kong, yakni Masjid Kowloon dan Masjid Ammar serta Pusat Keislaman Osman Ramju Sadick di Wan Chai.

photo
Masjid Ammar dan Pusat Keislaman Osman Ramju Sadick di Wan Chai, Hong Kong. - (DOK WIKIPEDIA)

Para periset menemukan, dari kedelapan responden jajak pendapat diketahui bahwa mereka tetap menjalankan ibadah Islam harian. Memang, beberapa dari mereka pernah mengalami intimidasi. Misalnya, seorang PMI dari Ponorogo mengatakan, “Saat saya pertama kali tiba (di Hong Kong), keluarga majikan terang-terangan bilang bahwa saya tidak boleh shalat di rumah mereka. Mereka juga mengancam akan memberhentikan kontrak kalau saya ketahuan shalat atau puasa.”

Seorang responden dari Blitar pernah mengalami kendala serupa. Majikannya sempat menganggap, ibadah shalat yang dilakukannya dapat menyita waktu kerja.

Namun, PMI itu tidak menyerah begitu saja. Dijelaskannya tentang makna ibadah bagi seorang penganut Islam. Setelah itu, si majikan membolehkannya ibadah, semisal shalat zuhur dan ashar, pada sela-sela waktu kerja.


×