Petugas kesehatan melakukan tes usap PCR kepada warga di Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Rabu (5/1/2022). | ANTARA FOTO/Fauzan

Kisah Dalam Negeri

29 Jan 2022, 03:50 WIB

Uji Usap pada Hari Kedua Bergejala

Gejala yang harus diwaspadai untuk varian omikron adalah rasa gatal di tenggorokan.

OLEH DIAN FATH RISALAH

Demam, sakit tenggorakan, batuk, dan pilek, menjadi gejala umum yang ditemui pada pasien yang terinfeksi Covid-19 varian omikron. Gejala terinfeksi omikron memang hampir tak berbeda dengan gejala akibat flu. Lantas, kapan kita harus melakukan uji usap antigen atau PCR untuk memastikan kita terkena Covid-19 atau hanya flu biasa?

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, Prof Taruna Ikrar mengatakan, pemeriksaan antigen atau PCR bisa dilakukan dua hari setelah merasakan gejala. Jika memang bukan flu, uji usap akan bisa mendeteksi jika seseorang terinfeksi Covid-19 varian omikron. “(PCR/Antigen) tunggu 2 hari, karena masa inkubasi varian omikron 3-5 hari,” terang Ikrar kepada Republika, Jumat (28/1).

Menurutnya, dengan segera melakukan tes PCR atau antigen, maka akan sangat bermanfaat bila memang terkonfirmasi Covid-19. Jika hanya bergejala ringan atau bahkan tidak bergejala, pasien bisa langsung melakukan mitigasi diri dengan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Ikrar mengatakan, gejala yang harus diwaspadai untuk varian omikron adalah rasa gatal di tenggorokan. Hal ini lantaran varian omikron yang lebih menyerang saluran tenggorokan yang menyebabkan rasa nyeri dan gatal yang jarang dirasakan oleh mereka yang terkena flu biasa.

Dokter sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam juga mengatakan, bila merasakan flu maka lebih baik melakukan tes PCR atau antigen. “Saat ini kalau pilek dan meriang cek PCR. Kasus harian sudah mencapai 10 ribu,” ujar dia.

Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, melakukan tes antigen dan PCR akan lebih baik bagi siapapun yang sedang merasakan gejala seperti flu. Terlebih, bila sebelumnya sempat melakukan kontak dengan orang banyak, maka tanpa menunggu waktu untuk bersegera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Kalau ada kecurigaan, misalnya, baru kontak dengan seseorang yang datang dari luar negeri, atau ada kontak dengan seseorang yang pernah kontak dengan pasien, atau baru menghadiri kerumunan banyak orang, baiknya langsung periksa PCR atau antigen,” kata dia.

Tjandra menambahkan, sehubungan dengan peningkatan kasus Covid-19, utamanya karena varian omikron, maka tentu perlu dilakukan antisipasi sejak dini. Dengan jumlah kasus yang sudah mulai meningkat, alangkah baiknya untuk pasien yang tanpa gejala atau asimptomatik dan tidak ada faktor risiko yakni bukan lansia, tidak ada komorbid dan lainnya agar dirawat di rumah. Namun, ada kriteria khusus rumah bila dijadikan tempat isolasi mandiri.

Pertama, tersedia ruang atau kamar yang sehat dan aman. Pihak keluarga juga menguasai bagaimana menangani pasien yang ada di rumah, penyediaan makan, kebersihan, dan lainnya. “Serta amat perlu ada dukungan moral dan sikap positif dari anggota keluarga dan kerabat,” ujar Tjandra.

photo
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di ruang unit kesehatan Sekolah Dasar Negeri 08 Duri Pulo, Jakarta Pusat, Jumat (28/1/2022). penyemprotan tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di lingkungan sekolah. - (Republika/Thoudy Badai)

Selain itu, harus dalam pengawasan dokter, baik puskesmas/klinik setempat atau dengan telemedicine. Pengawasan yang dilakukan adalah monitor ada tidaknya keluhan seperti demam, batuk, sesak nafas, sakit kepala, nyeri tubuh, diare, atau perburukan dari keluhan.

“Kemudian adalah monitor dengan alat, misalnya saja dengan thermometer yang relatif mudah didapat, atau lebih bagus lagi dengan oximetri untuk tahu saturasi oksigen di tubuh, atau mungkin alat tensimeter untuk mengukur tekanan darah. Monitor setidaknya dilakukan dua atau tiga kali sehari,” ujar Tjandra.

Untuk kebutuhan sehari-hari pasien juga harus tetap terjaga baik dan dijamin keamanannya. Makan dan minum yang baik, istirahat yang cukup, pakaian dan tempat tidur yang memadai, adalah faktor penting dalam masa penyembuhan. Selain itu, pola hidup sehat tentu harus terjaga. Termasuk berolah raga, menjaga kebersihan, dan mengelola kemungkinan stres dengan baik.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi mengatakan, untuk membedakan omikron dan flu biasa hanya dapat diketahui dari pemeriksaan PCR dan antigen. Jika pemeriksaan menunjukkan hasil positif, maka seseorang dapat didiagnosis dengan Covid-19. Jika tidak, besar kemungkinan adalah flu biasa. Untuk mengetahui varian virus korona yang menginfeksi perlu dilakukan tes PCR SGTF.


Presiden: Pemerintah Siap Hadapi Omikron

SatgasĀ  Covid-19 meminta Jakarta, Jabar, dan Banten menekan mobilitas masyarakat.

SELENGKAPNYA
×