Pelajar menjalani tes usap antigen di SMP Assalaam, Jalan Sasak Gantung, Regol, Kota Bandung, Selasa (25/1/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Teraju

30 Jan 2022, 04:56 WIB

Varian Omikron Bukan yang Terakhir

WHO mengatakan omikron tidak akan menjadi varian Covid-19 terakhir karena kasus global melonjak 20 persen dalam seminggu.

OLEH SIWI TRI PUJI

Lebih cepat menular memberi virus lebih banyak kesempatan untuk bereplikasi dan bermutasi. Inilah yang terjadi pada varian baru virus Covid-19, omikron. Penularan yang mudah dan cepat --meski disebut-sebut gejala yang ditimbulkan lebih ringan dari varian sebelumnya-- meningkatkan risiko varian lain akan muncul.

“Banyak yang menyebut bahwa omikron adalah varian terakhir, dan pandemi akan berakhir setelah ini. Ini tidak benar sama sekali,” kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis Covid-19 Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam konferensi pers pembaruan informasi tentang Covid-19 secara global.

Infeksi baru telah meningkat 20 persen secara global selama seminggu terakhir, katanya, dengan hampir 19 juta total kasus yang dilaporkan. Tetapi Van Kerkhove mencatat bahwa infeksi baru yang tidak dilaporkan akan membuat jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

Ia menyatakan, pandemi belum akan berakhir dalam waktu dekat ketika varian omikron mereda di beberapa negara. Sebab, tingkat infeksi yang tinggi di seluruh dunia kemungkinan akan menyebabkan varian baru saat virus bermutasi.

photo
Petugas kesehatan memeriksa data diri pelajar saat pelaksanaan tes usap antigen secara acak di SMP Assalaam, Jalan Sasak Gantung, Regol, Kota Bandung, Selasa (25/1/2022). Tes usap antigen untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 varian omikron di sekolah selama pembelajaran tatap muka. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Varian omikron memiliki sekitar 50 mutasi genetik, dan 36 di antaranya berada dalam protein spike yang sangat penting. Itu adalah bagian yang memungkinkan virus menempel pada sel manusia dan menginfeksinya.

Mutasi itu memainkan peran penting dalam ketidaktahuan terbesar tentang varian baru ini: seberapa mudah omikron berpindah dari satu orang ke orang lainnya? Seberapa besar kesakitan yang ditimbulkannya? Dan seberapa baik vaksin dan sistem kekebalan melindungi kita darinya?

Para ilmuwan mulai mengungkap misteri omikron; bahwa setiap spike pada permukaan virus korona terbuat dari tiga protein identik yang dipilin menjadi satu, membuatnya terlihat sedikit seperti kepala brokoli dengan tiga tangkai. 

Setiap tangkai memiliki tiga wilayah vital — domain pengikatan reseptor (receptor binding domain/RBD), domain terminal-N (N-terminal domain/NTD) dan situs pembelahan furin (furin cleavage site/FCS) — dan sebagian besar mutasi omikron berada di ketiga area ini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by WHOIndonesia (whoindonesia)

Mutasi adalah perubahan asam amino dalam genom. Jika mutasi cukup mengubah virus, maka akan menjadi varian baru. D614G, mutasi awal dari galur asli, kini hadir dalam semua varian yang paling mengkhawatirkan.

Mutasi diidentifikasi oleh posisinya dalam kode genetik dan asam amino yang dialihkan di sana. Dalam hal ini, asam aspartat (D) ditukar dengan glisin (G) pada posisi 614.

Ketika para ilmuwan pertama kali mengintip kode genetik omikron, mereka tahu bahwa beberapa dari 15 mutasi di area spike ini akan membuat koneksi virus ke sel lebih kuat. Sambungan yang diperketat akan memungkinkan omikron menyebar lebih mudah daripada pendahulunya.

Dan dugaan mereka benar adanya; omikron menyebar dengan cepat di banyak tempat, dan berbagai model menunjukkan bahwa dia dua hingga tiga kali lebih mudah menular daripada varian delta, dan terus melonjak angkanya di berbagai belahan dunia.

Van Kerkhove mengatakan, sekarang bukan saatnya untuk melonggarkan langkah-langkah kesehatan masyarakat, seperti pemakaian masker dan menjaga jarak. Justru langkah-langkah ini harus diperkuat untuk mengendalikan virus dengan lebih baik dan mencegah gelombang infeksi di masa depan ketika varian baru muncul. “Jika kita tidak melakukan ini sekarang, kita akan beralih ke krisis berikutnya,” kata Van Kerkhove.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreysus mengatakan infeksi baru memuncak di beberapa negara, memberikan harapan bahwa gelombang omikron terburuk segera berakhir.

Namun, Tedros mengatakan belum ada negara yang keluar dari kesulitan, memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan masih di bawah tekanan dari gelombang infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

WHO telah berulang kali memperingatkan bahwa distribusi vaksin yang tidak merata di seluruh dunia telah menyebabkan tingkat imunisasi yang rendah di negara-negara berkembang, membuat dunia rentan terhadap munculnya varian baru.

WHO telah menetapkan target untuk setiap negara untuk memvaksinasi 40 persen dari populasinya pada akhir tahun 2021. Namun, 92 negara belum mencapai tujuan itu.

“Saya mendesak semua orang untuk melakukan yang terbaik untuk mengurangi risiko infeksi sehingga Anda dapat membantu menghilangkan tekanan pada sistem layanan kesehatan di negara masing-masing,” kata Tedros. “Sekarang bukan waktunya untuk menyerah dan mengibarkan bendera putih.”

photo
Covid-19 yang tak henti bermutasi. - (sciforall.org)

Seberapa Efektif Vaksin Booster?

Virus Covid-19 memang terus bermutasi, tapi kabar baiknya, vaksinasi yang dilakukan di banyak negara saat ini masih mampu untuk melindungi banyak orang untuk tidak terinfeksi atau mencegah fatalitasnya. Menurut para peneliti Badan Keamanan Kesehatan Inggris, suntikan booster vaksin Covid-19 dapat menghentikan varian omikron.

Menurut laporan yang dimuat di situs berita BBC, risiko infeksi turun menjadi 70 persen sekitar dua minggu setelah suntikan ketiga vaksin Pfizer. Tiga bulan kemudian, risiko gejala Covid-19 turun sekitar 50 persen.

Namun, analisis penelitian terpisah menemukan bahwa perlindungan akan turun hingga 40 persen sekitar empat bulan setelah suntikan booster diberikan. “Kemanjuran vaksin melawan infeksi bergantung pada tingkat antibodi kita karena sebenarnya antibodi tubuh kitalah garis pertahanan pertama kita melawan SARS-CoV-2,” kata Jennifer Gommerman, pakar imunologi di University of Toronto, seperti dikutip NPR.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by SciForAll (sciforall)

Perlu diingat juga bahwa omikron sangat berbeda dari versi asli SARS-CoV-2. Jadi, vaksinasi lanjutan yang kita terima akan mendapat sedikit pukulan dalam hal seberapa baik antibodi kita dapat mengenalinya. Salah satu "kelihaian" omikron adalah bersembunyi dari deteksi radar antibodi tubuh kita.

Apakah cukup dengan booster ketiga? Tidak juga. Deseret News awal bulan ini melaporkan Israel merancang untuk memberikan booster keempat, walaupun studi pendahuluan di negara itu menyebut suntikan booster kedua -- alias suntikan vaksin keempat -- mungkin tidak sepenuhnya mampu menghentikan infeksi Covid-19.

"Suntikan vaksinasi keempat menciptakan antibodi yang mungkin tidak cukup untuk omikron," kata Gili Regev-Yochay, direktur Unit Penyakit Menular di Pusat Medis Sheba, seperti dikutip The Hill. “Kita tahu sekarang bahwa tingkat antibodi yang diperlukan untuk melindungi dan tidak terinfeksi dari omikron mungkin terlalu tinggi untuk vaksin, meskipun itu vaksin yang bagus."

Hal senada dikemukakan para ilmuwan WHO, terutama untuk vaksin booster bagi anak-anak dan remaja yang sehat. “Tidak ada bukti saat ini yang menunjukkan bahwa mereka memerlukan suntikan booster untuk melengkapi vaksinasi Covid-19 mereka," kata Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, Selasa (18/1) lalu.

Swaminathan mengatakan, kelompok penasihat WHO, Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE), akan bertemu untuk mempertimbangkan efektivitas vaksin booster. “Tujuannya adalah untuk melindungi mereka yang paling rentan, untuk melindungi mereka yang berisiko tinggi terkena penyakit ini. Mereka adalah para lanjut usia (lansia), yang memiliki gangguan kekebalan dengan kondisi yang mendasarinya dan juga petugas kesehatan,” kata Swaminathan.

Michael Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO, mengatakan bahwa badan tersebut masih belum mengetahui seberapa sering atau seberapa banyak dosis yang pada akhirnya dibutuhkan masing-masing orang sebagai suntikan booster.

“Saya pikir orang-orang memiliki ketakutan tertentu di luar sana bahwa booster ini akan menjadi seperti setiap dua atau tiga bulan sekali dan semua orang harus mendapatkannya. Kami belum memiliki jawaban untuk itu," kata Ryan.

Menurutnya, orang yang  sehat mungkin hanya membutuhkan dua kali suntikan vaksin, katanya, orang tua atau dengan gangguan kekebalan mungkin membutuhkan tiga atau empat kali suntikan.


×