Sejumlah pekerja melakukan pengawasan dan pemeriksaan operasional di area sumur panas bumi situs Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5-6, Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (30/7/2021). | ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/aww.

Ekonomi

15 Jan 2022, 03:52 WIB

PGE Bersiap Diri Melantai di Bursa

PGE tetap fokus bisnis dan optimalisasi potensi panas bumi sebagai sumber energi hijau.

JAKARTA  — PT Pertamina Geothermal Energi (PGE), anak usaha PT Pertamina (Persero) di bidang panas bumi, bersiap diri melantai di bursa. Saat ini PGE telah melakukan kajian dan melakukan persiapan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).

Coorporate Secretary PGE Muhammad Baron mengatakan, pihaknya sedang melakukan kajian dan persiapan menjelang IPO yang akan dilakukan. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan IPO PGE tuntas pada semester I 2022.

"Sehubungan dengan informasi IPO,  sedang melakukan kajian dan persiapan terhadap adanya sumber pendanaan melalui aksi korporasi tersebut," kata Baron kepada Republika di Jakarta, Jumat (14/1).

Namun sayangnya, Baron belum bisa memerinci kapan tepatnya IPO akan dilakukan dan seperti apa prosesnya. Sebab, hal ini merupakan kewenangan pemerintah sebagai pemilik saham. "Sebagai bagian dari keluarga besar BUMN, Perseroan percaya pemerintah akan mengambil langkah terbaik untuk bisnis geotermal ke depan," ujar Baron.

Baron mengatakan, upaya mencari pendanaan dari berbagai cara ini dilakukan perusahaan untuk mendukung perkembangan bisnis dan optimalisasi potensi panas bumi di Indonesia. 

Saat ini PGE tetap fokus terhadap perkembangan bisnis dan optimalisasi potensi panas bumi sebagai sumber energi hijau di Indonesia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pertamina Geothermal Energy (pge.pertamina)

Wakil Menteri BUMN II, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan, untuk memaksimalkan potensi pengembangan panas bumi atau geotermal, Kementerian BUMN berharap, IPO PGE dilakukan pada Juni 2022. "Insya Allah, PGE ini targetnya di semester I-2022 ini. Targetnya di registrasi pada Maret, IPO kemudian pada Juni, mungkin," ujar Pahala.

Saat ini, PGE mengelola 15 wilayah kerja dengan kapasitas 1.877 megawatt (MW). Dengan perincian, 672 MW dioperasikan sendiri dan 1.205 MW merupakan kontrak operasi bersama. Untuk meningkatkan pemanfaatan panas bumi, saat ini PGE mengembangkan teknologi baru dengan menggunakan binary cycle.

Pengembangan geotermal lewat PGE sejalan dengan upaya pemerintah yang terus meningkatkan penggunaan sumber daya Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Pemerintah bahkan sudah memiliki peta jalan (roadmap) terkait transisi energi yang tertuang dalam Grand Strategi Energi Nasional.

Di roadmap tersebut, EBT ditargetkan dapat mencapai 23 persen pada 2025 dan mencapai 31 persen pada 2020 dalam bauran energi. Dalam peta jalan itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan EBT hingga 20 gigawatt (GW) pada 2030 dengan kontribusi terbesar diproyeksikan berasal dari EBT.

photo
Petugas melakukan pengawasan pipa bertekanan tinggi di area sumur panas bumi situs Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5-6, Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (30/7/2021).  - (ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO)

Pahala berharap, salah satu energi yang paling mudah dikembangkan adalah penggunaan geotermal. Karena itu, BUMN diharapkan dapat mengoptimalkan geotermal di kawasan yang dikelola sendiri. Apalagi, saat ini baru 9 persen wilayah geotermal yang berproduksi dengan kapasitas 1.900 MW.

PGE siap bertransformasi menjadi perusahaan energi hijau kelas dunia pada 2030. Direktur Utama PGE Ahmad Subarkah Yuniarto mengatakan, perlu upaya keras dan sangat banyak untuk bergerak menjadi sebuah perusahaan green energy kelas dunia. 

Untuk itu, kapasitas pembangkit saat ini 672 megawatt (MW) akan ditumbuhkan menjadi 1.500 MW. Perusahaan juga berupaya menjadi perusahaan yang setara di global dengan pendapatan 1 miliar dolar AS pada 2030.

photo
Pekerja memperbaiki sumur KRH 4-1 saat proses pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (25/2/2020). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww. - (ANTARA FOTO)

“Kami ingin berkembang dan melakukan diversifikasi beyond geothermal energy dan mempunyai environment impact yang signifikan. Pada 2030 diharapkan kami bisa partisipasi dalam penurunan emisi lebih dari delapan juta ton per tahun,” kata Ahmad, beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad, tantangan pengembangan panas bumi adalah inovasi ke depan berupa beyond direct geothermal energy. Panas bumi bisa digunakan untuk katalis dekarbonisasi dan mencapai net zero emission pada 2060. “Kami yakin panas bumi bisa jadi game changer dalam transisi energi dan upaya percepatan transisi energi,” ujar Ahmad.

Pertamina mengalokasikan sekitar miliar dolar AS untuk investasi energi bersih pada kurun 2020-2024. Alokasi belanja modal untuk sektor engeri baru terbarukan (EBT) mencapai sekitar sembilan persen dari total investasi untuk tahun 2020 hingga 2024.


×