Relawan Rumah Zakat Indonesia menata air minum kemasan untuk korban erupsi Gunung Semeru saat pemberangkatan Truk Kebaikan Semeru di Balai Kota Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Ekonomi

15 Jan 2022, 00:05 WIB

Platform Digital Optimalisasi Kinerja Filantropi

Layanan donasi konvensional bisa dikemas dengan format baru.

Kegiatan pengumpulan dana masyarakat sebagai kegiatan sosial atau filantropi secara online terus berkembang di Tanah Air. Penggunaan platform digital tidak hanya dilakukan untuk menjaring lebih banyak donatur, tapi juga digunakan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi program filantropi.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menilai, saat ini mayoritas lembaga filantropi telah memanfaatkan layanan digital untuk meningkatkan penghimpunan dana. Para muzakki pun dapat menyalurkan zakat secara mudah baik melalui platform digital berbasis perbankan atau layanan fundraising. Seluruh terobosan ini dapat diakses masyarakat melalui ponsel masing-masing.

“Pemanfaatan layanan digital untuk penghimpunan dana yang dilakukan lembaga filantropi juga melalui marketplace yang di dalamnya menyediakan fitur donasi kepada lembaga filantropi, termasuk juga memanfaatkan layanan uang digital (payment gateway) yang menyediakan fitur pembayaran kepada lembaga filantropi,” ujar Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS Ahmad Juwaini ketika dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pemanfaatan layanan digital untuk penghimpunan dana semakin masif. Meski begitu, layanan tersebut tetap hadir bersama dengan layanan konvensional.

photo
Warga menunjukan laman resmi Baznas melalui perangkat telepon pintarnya saat akan membeli hewan kurban secara daring di Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/7/2021). Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyediakan layanan kurban secara online pada masa pandemi COVID-19, hal ini mengingat masyarakat diwajibkan menghindari kerumunan dan menjaga jarak agar tak terjadi klaster baru penularan virus. - (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)

“Layanan digital belum bisa menghapus layanan konvensional. Masih ada kelompok masyarakat yang secara kultur lebih menyukai pembayaran zakat secara interaktif langsung termasuk ada kondisi atau suasana yang lebih mendukung model fundraising secara langsung untuk mencapai optimasinya,” ucap Ahmad.

Pengamat ekonomi syariah Irfan Syauqi Beik menyampaikan, digitalisasi diharapkan bisa meningkatkan literasi dan meningkatkan pengembangan ekosistem zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf). “Dari sisi ziswaf, penggunaan teknologi digital bisa mengoptimalkan penghimpunan, distribusi, dan pengelolaan operasional zakat,” ucapnya.

Irfan mengatakan, kontribusi kanal digital terhadap pengumpulan zakat meningkat menjadi 24 persen dalam empat tahun terakhir. Ia memerinci, pada 2016 kanal digital baru berkontribusi sebesar satu persen dari total pengumpulan zakat. Nilai ini meningkat signifikan hingga 2020.

"Pada 2020 kita berkolaborasi dengan lebih dari 80 mitra digital untuk mengembangkan artificial infelligent dan kita juga mengembangkan augmented reality untuk donasi. Ternyata itu kontribusinya luar biasa terhadap pengumpulan zakat," kata Irfan yang pernah menjabat sebagai direktur distribusi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Tak hanya dalam pengumpulan dan penyaluran zakat, menurutnya, Baznas juga membuat aplikasi digital untuk mengembangkan usaha warung ritel dengan uang zakat yang terkumpul. Irfan mengatakan, digitalisasi dalam keuangan syariah termasuk pengelolaan zakat menjadi wajib karena generasi muda yang mendominasi penduduk Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi.

photo
Warga memperlihatkan voucher makan gratis saat acara Semua Bisa Makan di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Kamis (23/12). Baznas DKI Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengadakan kembali program Semua Bisa Makan yang merupakan aksi berbagi dan berdonasi untuk memberi makan kepada mustahik dengan target sebanyak 1.500 warung makan terberdayakan serta satu juta penerima makanan di seluruh wilayah DKI Jakarta. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Analis Tingkat 1 Jasa Keuangan Syariah KNEKS Bazari Azhar Azizi menilai, proses digitalisasi lembaga filantropi dapat dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, lembaga filantropi dapat berkolaborasi dengan perusahaan tekfin atau social crowdfunding untuk mengoptimalisasi penghimpunan dana.

“Selain itu, sembari berkolaborasi sudah selayaknya juga lembaga tersebut membuat situs atau aplikasi daring untuk mempermudah penghimpunan dana secara online,” ujarnya.

Kendati demikian, menurutnya, layanan konvensional tetap diperlukan untuk memfasilitasi muzakki, wakif, atau donor yang lebih nyaman untuk menyampaikan amanahnya kepada lembaga filantropi secara fisik. Akan tetapi, layanan itu bisa dikemas dengan format yang baru sehingga memberikan perbedaan.

“Misalnya, layanan konvensional atau fisik ditujukan bagi muzakki atau pendonor prioritas. Bisa juga layanan jemput bola zakat dan wakaf atau sedekah langsung ke tempat tinggalnya,” ucap Bazari.

photo
Warga memindai QR Barcode untuk membayar zakat di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Kamis (15/10). Masjid Agung Al-Azhar menyediakan fasilitas QRIS untuk mempermudah umat muslim menyalurkan zakat melalui aplikasi digital. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) bersama Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSMU) juga mendorong pengembangan ziswaf secara digital di Indonesia. Dukungan ini salah satunya terkait digitalisasi penyaluran ziswaf melalui platform JadiBerkah.ID.

CEO JadiBerkah.ID Rizqi Okto Priansyah mengatakan, platform tersebut mengusung konsep one stop donation guna mendukung terpenuhinya kebutuhan masyarakat dalam melakukan kegiatan penyaluran donasi secara daring.

“Kemudahan yang ditawarkan JadiBerkah.ID didukung dengan berbagai keunggulan yaitu transparansi transaksi dan penghimpunan, 50 pilihan program ziswaf, dan lebih dari 20 mitra penyalur ziswaf telah bergabung,” ujar Okto.

Tercatat per 25 September 2021, sebanyak 77 program dan 44 lembaga telah bergabung dalam platform JadiBerkah.ID. Total dana yang terkumpul sebanyak Rp 1,03 miliar dengan donatur sebanyak 1.775  orang.

“Dengan berbagai keunggulan platform JadiBerkah.ID diharapkan bisa mendukung kegiatan dan program ziswaf yang dilakukan oleh masyarakat. Penggunaan JadiBerkah.ID akan memudahkan masyarakat dalam melakukan donasi karena tersedianya berbagai pilihan ziswaf dan memiliki banyak pilihan program dari berbagai mitra,” ungkapnya.

Menurutnya, JadiBerkah.ID juga menawarkan kemudahan dalam melakukan pembayaran melalui berbagai kanal. Transaksi pun bisa dilaksanakan melalui gawai kapan pun dan di mana pun.

“Masyarakat juga lebih mudah untuk memantau kemajuan setiap program dan transaksi donasi serta status pembayaran. Khusus layanan wakaf, JadiBerkah.ID menyediakan akta wakaf dan sertifikat wakaf uang,” ucapnya. 

Digitalisasi dan Inovasi Wakaf Produktif

Pengelolaan wakaf produktif terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Optimisme di industri terlihat dari berbagai inovasi serta pengembangan, baik dari cara dan media penghimpunan serta sisi model atau skema program.

Anggota Dewan Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) Irfan Syauqi Beik mengatakan, geliat pengembangan wakaf terus mengemuka di berbagai sektor perekonomian. Semangat pengembangan juga muncul di sisi kampanye dan edukasinya.

"BWI juga terus mendorong pengembangan wakaf produktif ini dan bahkan telah menerbitkan katalog program wakaf produktif senilai total Rp 2,2 triliun untuk 14 proyek wakaf produktif," kata Irfan kepada Republika

Sisi administratif dibarengi dengan inovasi digital yang juga terus dikembangkan. Pengembangan platform digital untuk penghimpunan wakaf dilakukan bersamaan dengan meningkatkan layanan terhadap nazir dan masyarakat. Irfan mengatakan, membangun sistem yang terintegrasi juga merupakan aksi penting untuk memperkuat infrastruktur wakaf.

"Kita sedang dalam proses membangun ekosistem digital wakaf di Indonesia yang terintegrasi," kata Irfan.

Dari sisi pemanfaatan, diversifikasi aset tentu menjadi hal wajib demi kelanjutan kebermanfaatan.

Forum Wakaf Produktif (FWP) juga sepakat bahwa penghimpunan secara digital telah menjadi game changer. Ketua FWP Bobby P Manulang menyebut, porsi penghimpunan digital kini sudah mencapai lebih dari 50 persen.

photo
Warga membayar infak menggukan mesin layanan Zakat, Infak dan Shodaqoh Drive Thru yang terpasang di area Masjid Jami Al-I’thishom, Cilandak, Jakarta, Selasa (15/12). Layanan ZIS Drive Thru tersebut merupakan sebuah inovasi yang mempermudah warga membayar infak untuk membantu memakmurkan masjid. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Digital menjadi hal teknis yang semakin diburu oleh lembaga-lembaga filantropi dan nazir. Lembaga filantropi yang menyediakan layanan transaksi donasi secara digital akan mudah diakses. Sehingga, menjadi faktor kunci meningkatnya partisipasi donasi masyarakat.

Menurutnya, secara umum, penghimpunan wakaf memang agak menurun beriring dengan tingkat aktivitas ekonomi masyarakat akibat pandemi. Namun, hal itu tak terjadi pada Dompet Dhuafa, misalnya. "(Dompet Dhuafa) justru mencatat perolehan yang cukup signifikan, naik hampir 85 persen dibanding tahun sebelumnya," kata Bobby yang juga direktur Direktorat Wakaf Dompet Dhuafa.

Ia melihat, kemungkinan beberapa lembaga lain juga mengalami tren serupa. Hal tersebut terutama didorong oleh pengembangan sisi digital. Selain itu, ia melihat literasi masyarakat juga telah meningkat. Kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat kepada lembaga filantropi.

Direktur Keuangan Sosial Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ahmad Juwaini mengatakan, KNEKS mendorong sejumlah hal dalam pengembangan wakaf produktif. Termasuk fasilitasi pengembangan platform wakaf untuk kemudahan layanan dan integrasi data aset wakaf nasional.

Ahmad mengatakan, KNEKS juga terus memantau perkembangan industri dari waktu ke waktu. Ia melihat ada dorongan lebih kuat bahwa wakaf produktif harus melibatkan kegiatan investasi dan bisnis, baik investasi dan bisnis di sektor riil, maupun di sektor keuangan.

photo
Muzaki saat membayar zakat berupa uang kepada petugas di depan Masjid Al Azhar, Jakarta, Selasa (11/5). Panitia penerimaan pembayaran zakat fitrah Masjid Al Azhar membuka layanan pembayaran zakat, infak, sedekah dan wakaf secara drive thru selama 24 jam untuk memudahkan warga yang melintas maupun menggunakan kendaraan. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Di bidang sektor riil, perkembangannya pada bisnis kesehatan. Melalui pengelolaan rumah sakit dan klinik. Selain itu, pengelolaan gedung perkantoran, perdagangan, pengelolaan restoran, dan pengelolaan usaha pertanian serta perkebunan.

Di bidang sektor keuangan, perkembangan yang sekarang tumbuh adalah munculnya skema investasi wakaf produktif melalui pelibatan manajer investasi dan investasi melalui sukuk negara. Seperti diterapkan pada Cash Waqf Linked Sukuk.

"Hal tersebut tentu menggembirakan mengingat wakaf adalah instrumen yang sangat fleksibel sehingga bisa membawa kebermanfaatan lebih besar. Apalagi, saat ini penghimpunan wakaf masih jauh dari potensinya," ungkap Ahmad.

Per kuartal I 2021, wakaf uang yang terkumpul jumlahnya tercatat Rp 831,34 miliar, belum termasuk wakaf dalam bentuk aset. Sementara, potensi wakaf sendiri disebut-sebut mencapai Rp 180 triliun.


×