Ilustrasi suasana natal dan tahun baru tahun lalu. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Khazanah

25 Nov 2021, 09:26 WIB

MUI dan Ormas Islam Dukung PPKM Nataru

Rayakan libur Natal dan tahun baru secara sederhana bersama keluarga inti saja.  

JAKARTA — Dalam upaya mencegah gelombang ketiga wabah Covid-19, pemerintah akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di seluruh wilayah Indonesia saat libur Natal dan tahun baru 2022 (Nataru). Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah ormas Islam mendukung kebijakan tersebut.

Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan mengimbau seluruh masyarakat untuk mengikuti arahan pemerintah dan bekerja sama untuk menjaga stabilitas dan kondusivitas selama libur Natal dan tahun baru. “Intinya semua pihak wajib menjaga iman, imun, dan aman. Terus berikhtiar, doa, dan tawakal, serta mempraktikkan protokol kesehatan,” ujar dia kepada Republika, Rabu (24/11).

Buya Amirsyah pun mengingatkan masyarakat untuk selalu mendahulukan keamanan kesehatan dengan menghindari kerumunan dan kegiatan yang berisiko menjadi sumber penularan virus. Dia juga menyarankan agar perayaan Nataru dilakukan di rumah atau dengan anggota keluarga inti saja demi menghindari potensi lonjakan infeksi.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis, juga mengimbau masyarakat untuk bekerja sama menekan angka penularan Covid-19 sekaligus mencegah terjadinya gelombang ketiga wabah virus tersebut.

“Kita harus kerja sama, antarmasyarakat, pemerintah dan seluruh pihak, karena sejauh ini kita sudah dapat menekan angka penularan Covid dan relatif berhasil. Jangan sampai ada lonjakan infeksi lagi,” ujarnya.

 “Oleh karena itu, kebijakan pemerintah untuk menerapkan PPKM (saat Nataru) adalah upaya antisipasif, dan kita semua harus patuhi demi kebaikan semua pihak,” lanjut Kiai Cholil.

Dia juga mengajak masyarakat untuk merayakan libur Nataru secara sederhana dan hanya melibatkan anggota keluarga inti. Adapun mereka yang tengah merantau atau berada jauh dari keluarga, Kiai Cholil menyarankan agar menunda niatan mudik demi menghindari lonjakan infeksi Covid-19. 

Imbauan senada disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir. “Masyarakat mesti menahan diri tidak mudik, tidak bikin kegiatan-kegiatan atau pertemuan-pertemuan luring, rekreasi, dan sejenisnya yang masih bisa ditunda dan tidak menjadi kebutuhan utama," kata Haedar melalui pesan tertulis, Selasa (23/11).

Ia mengingatkan, pandemi belum berakhir meski kasus infeksi Covid-19 di Indonesia menurun. Karena itu, Muhammadiyah tidak bosan-bosan terus mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada dan seksama.

Apalagi menjelang Nataru, Haedar berharap masyarakat tidak terbawa suasana dan tetap mematuhi kebijakan Nataru yang telah dibuat pemerintah. Tak terkecuali aparat dan para birokrat, dia berharap semuanya mematuhi aturan selama Nataru tersebut.

"Jangan ada kekecualian dan pelonggaran," ujarnya.

Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) Ustaz Jeje Zaenudin juga mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir. Karena itu, ia mengimbau masyarakat mengurungkan niat untuk berlibur. "Kami mengharap dan mengimbau masyarakat agar tetap mengedepankan keselamatan dan kesehatan di atas hasrat dan keinginan berlibur Natal maupun tahun baru," kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum PB al-Washliyah KH Masyhuril Khamis mengatakan, masyarakat perlu mengikuti anjuran pemerintah selama liburan Nataru. Pada intinya, menurut dia, kebijakan pemerintah dimaksudkan agar bangsa Indonesia bisa lebih cepat kembali pada masa-masa yang new normal.

“Setiap apa pun kebijakan dilakukan tujuannya jelas, yakni agar masyarakat saling mendukung stabilitas kesehatan atau new normal," ujar Kiai Masyhuril.

Dia mengatakan, imbauan seperti ini juga berlaku pada perayaan Idul Fitri lalu. Rekomendasinya, yakni tetap memakai masker, tidak berkumpul, dan menjauhi keramaian. Menurut Kiai Masyhuril, selama untuk kebaikan bersama, masyarakat perlu mendukung kebijakan ini.


×