Petugas melakukan proses percetakan perdana mushaf Alquran Standar Indonesia di Unit Percetakan Alquran (UPQ) Kementerian Agama, Ciawi, Bogor, Selasa (25/10). UPQ yang semula bernama Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) akan kembali mencetak mushaf Alquran se | Republika/Edwin Dwi Putranto

Khazanah

25 Nov 2021, 09:20 WIB

Menag Jajaki Kerja Sama Pencetakan Alquran dengan Saudi

Kerja sama pencetakan Alquran akan menjadi bagian dari rencana pembangunan Islamic Center di Indonesia.

JAKARTA – Dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Arab Saudi, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas berkesempatan mengunjungi Kantor Percetakan Alquran terbesar di dunia, Mujamma’ King Fadh, di Madinah. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya menjalin kerja sama dalam percetakan Alquran.

Kehadiran Menag disambut Sekretaris Jenderal Mujamma’ King Fahd, Talal bin Razin al-Rehil, beserta jajarannya. Menag berharap, kerja sama penyediaan Alquran dengan Pemerintah Saudi bisa segera terwujud. Menurutnya, pembahasan awal sudah dibicarakan dengan Menteri Urusan Islam Dakwah dan Penyuluhan Saudi, Syekh Abdullatif bin Abdulaziz.

Kerja sama percetakan Alquran ini, kata dia, akan menjadi bagian dari rencana pembangunan Islamic Center di Indonesia. "Umat Islam Indonesia masih kekurangan mushaf Alquran. Jumlah penduduk Muslim Indonesia kurang lebih 215 juta, kami baru mampu menyediakan 200 ribu per tahun," ujar Menag Yaqut seperti dilansir laman resmi Kementerian Agama, Rabu (24/11).

Ia juga mengatakan, kerja sama pencetakan Alquran ini penting untuk menyediakan cetakan Alquran di Indonesia, dengan kualitas yang baik.

Talal bin Razin al-Rehil menyambut baik rencana kerja sama ini. Dia menjelaskan, setiap tahun Mujamma’ King Fahd dapat mencetak 18 juta eksemplar mushaf Alquran.

Ia mengatakan, proses pencetakan dan pentashihan Alquran dilakukan dengan sangat ketat. Dalam sistem keamanan, ada sensor terhadap kemungkinan salah cetak. "Sehingga, jika ditemukan kesalahan, maka mesin secara otomatis akan langsung berhenti. Untuk kualitas cetakan bisa tahan hingga 100 tahun," ucap Talal.

Dia menambahkan, Percetakan Alquran Raja Fahd seluas 250 ribu meter persegi tersebut mencetak Alquran dan terjemahannya ke berbagai bahasa. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Prof Hilman Latief bersyukur, kunjungan yang dipimpin Menag ini berjalan lancar dan diterima dengan baik oleh otoritas Saudi.

“Alhamdulilah dalam pekan ini kami, saya sendiri sebagai Direktur Jenderal Penyelenggaran Haji dan Umrah telah bertemu berbagai pihak," kata Hilman saat menjadi pembicara dalam sebuah simposium, Selasa (23/11).

Hilman mengatakan, banyak pihak yang ditemui delegasi yang dipimpin Menag. Pembicaraan dalam pertemuan itu di antaranya terkait isu terkini dan membahas program kerja antar lembaga Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

Dalam pertemuan dengan Kementerian Haji Saudi dibicarakan teknis pelaksanaan ibadah umrah dan haji. Menurut Hilman, pertemuan berjalan lancar dan diperoleh kepastian yang baik terkait umrah dan haji.

“Insya Allah dan Alhamdulilah kita sudah mendapatkan hasil diskusi dan hasil perbincangan yang sangat positif, sangat menggembirakan,” katanya.

Meski demikian, kata dia, masih banyak yang perlu dibahas secara detail terkait pelaksanaan ibadah umrah di masa pandemi agar dapat berjalan aman dan lancar tanpa terpapar penyakit. "Tentu saja kita paham bersama bahwa untuk pelaksanaan teknisnya masih perlu hal-hal yang sifatnya detail termasuk masalah kesehatan," katanya.

Pimpinan salah satu Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), yakni Taqwa Tours, Rafiq Jauhary menyambut baik kunjungan kerja Menag ke Arab Saudi untuk memperjuangkan kepastian umrah bagi jamaah Indonesia.

Menurut dia, Arab Saudi termasuk negara yang sangat memperhatikan data saintifik dalam menghadapi pandemi. Karena itu, dia berharap Kemenag mampu meyakinkan Pemerintah Arab Saudi bahwa Indonesia mampu menyelenggarakan umrah pada masa pandemi. Tunjukkan pula data bahwa kasus Covid-19 di Indonesia sudah melandai.

Rafiq juga berharap Pemerintah Indonesia dapat mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19, khususnya saat liburan Natal dan tahun baru. "Jika Indonesia kurang mengantisipasi sehingga terjadi lonjakan angka penularan, maka pasti Arab Saudi akan meninjau kembali pembukaan visa untuk jamaah umrah dari Indonesia," katanya.


×