Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Imam Besar Al Azhar Ahmad Muhammad Ath-Thayeb (kedua kanan) dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin (kanan) meninggalkan ruangan seusai pembuk | ANTARA FOTO

Khazanah

25 Nov 2021, 08:56 WIB

Perkuat Kampanye Islam Wasathiyah di Medsos

Islam wasathiyah itu murni dan mendorong tata kelola pemerintahan yang adil, bersih, penuh toleransi dan seimbang dunia-akhirat.

JAKARTA – Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menyelenggarakan pelatihan dai dan daiyah serta aktivis untuk kampanye Islam wasathiyah di media sosial (medsos). Hal ini menjadi upaya memperkuat kampanye Islam wasathiyah di medsos.

Ketua LHKI PP Muhammadiyah KH Muhyiddin Junaidi menyampaikan, pelatihan tersebut memberikan pemahaman secara komprehensif tentang perbedaan antara moderasi beragama dan Islam wasathiyah. Islam wasathiyah itu murni dan mendorong tata kelola pemerintahan yang adil, bersih, penuh toleransi dan seimbang antara kebutuhan hidup di dunia dan akhirat.

"Islam wasathiyah juga mendorong berbagai macam sifat yang positif, baik dalam hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan sesama makhluk beragama, juga antara warga bangsa. Jadi, ini berbeda dengan moderasi yang dipahami sebagian orang," kata dia kepada Republika, Rabu (24/11).

Menurut Kiai Muhyiddin, moderasi bisa saja diartikan mendorong tumbuh-kembangnya paham relativisme dan sinkretisme yang menganggap semua agama itu benar. Padahal, dia mengatakan, agama itu benar menurut penganutnya masing-masing. Karena itu, ia menekankan, ide moderasi jangan sampai mengorbankan aspek ibadah dan akidah.

Para peserta pelatihan, lanjut Kiai Muhyiddin, mendapatkan tambahan ilmu terutama yang berkaitan dengan penguatan aspek akidah dan kesiapan mereka menyampaikan Islam di era digital dengan cara mudah dan tepat sasaran. Mereka tidak boleh menjadi kader-kader yang lemah akidah dan kader yang cepat dipengaruhi oleh budaya liberalisme, konsumerisme, dan hal lain yang berbahaya bagi peradaban dan umat Islam.

“Materi yang disampaikan, pertama, mengenai bagaimana kita memahami konsep Islam wasathiyah di tengah pergolakan perubahan yang sangat dahsyat di era digital,” kata dia.

Kedua, Kiai Muhyiddin menuturkan, memberi pengetahuan agar bisa dengan mudah mendeteksi mana yang benar dan salah. Ketiga, memberi pemahaman bahwa kemajuan di bidang teknologi informasi tidak senantiasa memberikan dampak positif bagi umat manusia, tetapi juga ada dampak negatifnya.

Wakil Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia, Ismail Fahmi yang menjadi salah satu narasumber dalam pelatihan itu menyampaikan strategi agar konten Islam wasathiyah dari Muhammadiyah bisa menjadi arus utama di internet.

"Muhammadiyah posisinya masih di menengah, situs-situs (Muhammadiyah) belum sampai ke atas, kita fokus di sini bagaimana caranya agar narasi-narasi Islam wasathiyah dari Muhammadiyah jadi arus utama," kata Ismail.

Menurut dia, agar narasi-narasi dari Muhammadiyah menjadi arus utama maka harus mengikuti audien. Sebagaimana diketahui, audien di Indonesia banyak sekali dari kalangan milenial.

Ia menerangkan, kalau melihat pengguna media sosial dan internet di Indonesia, mayoritas dari kalangan milenial dan generasi Z. Mereka tidak bisa dilarang agar tidak mencari informasi tentang agama di internet. Mereka tidak bisa mencari informasi tentang agama dari gurunya langsung, karena dunia mereka sudah dunia internet.

"Jadi, yang dilakukan bukan meminta mereka untuk datang kepada para ulama, tapi kita mendekatkan dakwah dan ulama ke mereka, caranya kita harus siapkan dai digital itu akan menjadi semacam asisten atau membantu tokoh-tokoh dai (ulama) supaya ceramahnya bisa buat arus utama," ujarnya.

Ia mengatakan, dai digital diperlukan supaya ceramah para tokoh agama yang menyampaikan Islam wasathiyah bisa menjadi konten arus utama di berbagai platform media sosial. Informasinya bisa dibuat menarik dan durasinya pendek-pendek, agar disukai generasi milenial.


×