Potongan layar Film Yuni | Youtube

Geni

20 Oct 2021, 10:20 WIB

Film Yuni Melenggang ke Panggung Oscar

Kamila Andini membangun karakter Yuni sebagai seorang remaja yang dipaksa untuk dewasa tidak pada waktunya.

Yuni (Arawinda Kirana) seorang gadis remaja cerdas dengan mimpi besar. Dia pikir semuanya mungkin untuk tercapai hingga suatu hari dia dilamar oleh seorang pria yang hampir tidak dia kenal sama sekali. 

Yuni menolak lamaran tersebut, yang kemudian membuatnya jadi pembicaraan di kampungnya. Lamaran kedua datang. Yuni masih percaya dengan mimpinya, begitu pun dengan keluarganya. 

Tapi kali ini muncul sesuatu yang membuatnya semakin rumit. Sebuah mitos, tentang larangan menolak lamaran lebih dari dua kali, yang jika dilanggar, akan membuat si pelanggar tidak akan bisa menikah. 

Menghadapi semua tekanan ini, ada hal yang menjadi tempat pelarian Yuni, yaitu puisi dari kelas sastra yang diampu oleh guru kesayangannya, Pak Damar (Dimas Aditya). Lewat puisi, Yuni merasa bisa menghilang dan bersembunyi sejenak dari dunianya. 

Namun, pada suatu saat, Pak Damar datang ke rumahnya dan menjadi orang ketiga yang melamarnya. Yuni bingung. Apakah pernikahan harus selalu menjadi “kesepakatan”?

Film Yuni karya Kamila Andini terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Academy Award ke-94 tahun 2022, kategori the International Feature Film Award (ajang Oscar 2022). Film ini dipilih Komite Seleksi Oscar Indonesia (The Indonesian Oscar Selection Committe) karena diyakini memenuhi syarat yang ditentukan oleh panitia Oscar.

Film ini merupakan hasil produksi bersama Fourcolours Films dan Starvison. Menurut Ketua Pelaksana Seleksi Oscar Indonesia 2021 Deddy Mizwar, tim telah menilai film-film Indonesia yang secara administratif memenuhi persyaratan panitia Oscar Amerika. Tidak semua film yang ada, kecuali yang memenuhi syarat, ini prinsipnya. 

“Nanti kalau tidak memenuhi syarat, akan ditolak panitia Amerika. Kami menyeleksi secara administratif bisa masuk Oscar Amerika,” ujarnya dalam acara pengumuman dan konferensi pers virtual, Jumat (15/10).

Menurut Komite Seleksi Oscar Indonesia Hanung Bramantyo, film Yuni cukup layak, baik secara teknik penyutradaraan dan sinematografi. “Karena itu, kami menetapkan Yuni sebagai film pilihan dan berhak mewakili Indonesia dalam ajang Academy Award ke- 94 tahun 2022, kategori the International Feature Film Award,” kata dia.

Keputusan itu diambil dalam rapat terakhir komite 13 Oktober 2021. Komite Seleksi Oscar Indonesia yang dibentuk oleh pengurus Persatuan Perusahaan Film Indonesia ( PPFI) terdiri atas 13 anggota yang diketuai oleh sineas Hanung Bramantyo. Mereka adalah Alim Sudio, Tya Subiakto, Benni Setiawan, Widyawati, Chand Parwez Servia, Yudi Datau, Deddy Mizwar, Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, Ilham Bintang, Sentot Sahid, Tittien Wattimena, dan Zairin Zain. 

Komite mulai bekerja sejak September 2021. Di tengah pandemi, Komite Seleksi Oscar Indonesia tetap menjalankan fungsinya sebagai upaya bersama untuk menumbuhkan semangat. Tujuannya agar era pandemi  tidak menjadi kemunduran besar sinema Indonesia.

Komite Seleksi Oscar Indonesia mengkaji bahwa Yuni mampu membawa penonton menjadi sangat dekat dengan masalah remaja perempuan dalam usia akhil baligh di tengah perubahan zaman yang penuh paradoks. Baik itu dari masalah patriarki, religi, perempuan, seks, dunia kerja, maupun pendidikan. “Sebuah tema yang direlasikan dalam dunia sekolah, rumah, dan ruang publik akhil baligh dalam tuturan sehari-hari," ujar Hanung.

Sang sutradara, Kamila Andini, menggunakan cara tutur sederhana dan alamiah yang kekuatan utamanya tanpa upaya menggugat dan menghakimi. Dia mampu membawa isu-isu sensitif yang tidak mudah diangkat ke layar lebar . 

Demikian juga konsep visualnya, melahirkan pengalaman visual sehari-hari yang membawa penonton merasakan hidup di dalamnya. Semua itu ada gilirannya menjadi potret sosial yang membawa renungan  dengan bersahaja tapi mendalam.

Kamila berani dan mampu melakukannya dengan baik. Isu keseharian yang familier dan warna lokal yang kental serta prestasi yang telah dicapai di beberapa ajang festival internasional membuat film Yuni diyakini layak dan mampu bersaing dengan film-film dari negara lainnya di ajang Oscar. 

"Pertimbangan-pertimbangan tersebut membuat Yuni menonjol dibandingkan kandidat film lainnya,” kata Hanung.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kamila Andini (kamilandini)

Menurut Kamila Andini, film Yuni terinspirasi dari salah satu puisi terkenal karya Sapardi Djoko Damono berjudul “Hujan di Bulan Juni”, hujan yang jatuh pada musim yang tidak tepat. "Saya membangun karakter Yuni sebagai seorang remaja yang dipaksa untuk dewasa tidak pada waktunya," kata dia.

Remaja tersebut penuh mimpi, dengan media sosial saat ini yang menunjukkan dunia ada di genggamannya, tetapi yang harus dipikirkannya adalah menghadapi lamaran dan menikah. “Saya mendengar begitu banyak cerita tentang gadis remaja yang punya potensi dan prestasi, tapi harus gagal karena pernikahan dan saya merasa perlu untuk membicarakan isu ini,” kata Kamila menjelaskan.

Skenario Yuni ditulis oleh Kamila dan Prima Rusdi, diproduseri oleh Ifa Isfansyah, dan diproduksi oleh Fourcolours Films bekerja sama dengan Akanga Film Asia (Singapura) dan Manny Films (Prancis). Rumah produksi tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Aide Aux Cinémas Du Monde CNC Prancis, Infocomm Media Development Authority Singapura, Visions Sud Est Swiss, Program Pendukungan Film Indonesia untuk Distribusi Internasional Direktorat PMMB Kemendikbud Ristek Republik Indonesia, MPA APSA Academy Film Fund Australia, dan Purin Pictures Thailand.

Sejak 1987, Indonesia telah berpartisipasi mengikuti ajang Piala Oscar untuk kategori film fitur internasional terbaik, yang sebelumnya berjuluk kategori film berbahasa asing terbaik. Penghargaan diberikan setiap tahun oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences untuk film panjang yang diproduksi di luar Amerika Serikat (AS) yang sebagian besar berisi non-dialog bahasa Inggris. 

Academy Awards ke-94 akan berlangsung pada 27 Maret 2022 di Dolby Theatre di Los Angeles, AS. Ini adalah pertama kalinya sejak 2018 ajang tersebut akan berlangsung pada Maret.

Film fitur internasional didefinisikan sebagai film panjang fitur yang diproduksi di luar AS dengan dialog yang didominasi non-Inggris dan dapat menyertakan fitur animasi dan dokumenter. Film yang dikirimkan harus sudah dirilis secara teatrikal di negaranya masing-masing antara 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2021.

Batas waktu pengiriman adalah 1 November 2021. Daftar 15 finalis dijadwalkan akan diumumkan pada 21 Desember, dengan lima nominasi terakhir diumumkan pada 8 Februari 2022.

Tayang terbatas

Film Yuni tayang secara terbatas di bioskop Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta mulai 17-21 Oktober 2021, sebelum rilis secara resmi di bioskop pada Desember. Ini merupakan film panjang ketiga dari sutradara Kamila Andini yang ditulis bersama Prima Rusdi dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah dari Fourcolours Films dan Chand Parwez Servia dari Starvision.

Pemutaran khusus Yuni dilakukan di beberapa bioskop Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, yakni 17-18 Oktober di Cilegon XXI pukul 12.30 WIB, 19 Oktober di Citra XXI Semarang pukul 12.30 WIB, 20 Oktober The Park XXI Solo pukul 12.30 WIB, dan 21 Oktober di Jogja City XXI Yogyakarta pukul 12.30 WIB. Sebelum diputar di Indonesia, Yuni telah diputar perdana dan memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival (TIFF) 2021. 

Apresiasi yang diperoleh terhadap Yuni seolah tak ada hentinya. Film ini kemudian mendapat 14 nominasi di Festival Film Indonesia 2021. 

Kamila Andini juga dipilih sebagai nominasi untuk sutradara terbaik di Asia Pacific Screen Awards 2021 bersanding dengan Asghar Farhadi (Iran) dan Ryusuke Hamaguchi (Jepang). Dengan prestasi dan apresiasi yang beruntun tersebut, Yuni menjadi film yang ditunggu penayangannya di bioskop. Film ini akan tayang untuk masyarakat umum di bioskop Tanah Air mulai 9 Desember 2021.

Film ini diharapkan dapat ditonton oleh masyarakat luas sehingga menggugah kesadaran dan membuka dialog mengenai isu hak-hak anak, khususnya anak perempuan.

Produser dari Fourcolours Films, Ifa Isfansyah, menyebut film Yuni sudah melalui proses pengambilan gambar sejak sebelum pandemi Covid-19. Yuni merupakan proyek film yang disiapkan sejak 2017.


×